Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 68


__ADS_3

     Tak lama lagi waktu ashar pun akan segera tiba. Miftah, Zaldira, Wahyu dan mama hampir saja selesai menaruh bibit disetiap tanah yang sudah dibuat menjadi bedengan oleh Firdaus dan Zamrud.


     Kini mereka hanya tinggal sebaris lagi, sejak tadi mereka sudah siap membuat lima buah bedengan panjang perorang.



     Entah kekuatan dari mana yang membuat mereka begitu kuat sampai melakukannya tanpa beristirahat sejenak.


     Miftah yang merasa tak enak mulai mengeluarkan suara setelah sejak tadi hanya diam sambil terus memerhatikan gerak gerik mereka.


     "Kak Zamrud! Kak Firdaus! ayo kak Istirahat aja dulu... Kalian pasti sudah sangat lelah... Karna sejak tadi terus menyangkul. Apa tidak lelah?" tanya Miftah merasa khawatir.


     "Cih! harusnya namaku dulu yang kamu sebutkan... Bukannya dia!" dengus Firdaus tak terima.


     "Sabar... Orang yang tak mudah dilupakan ya begini contohnya," sombong Zamrud sedikit memanas manasi Firdaus, ia hanya ingin tau seberapa besar rasa yang bersemayam di hati Firdaus untuk Miftah.


     "Kamu! aku sekarang benar - benar yakin! kamu pasti tidak hanya berlagak temenan dan saling anggap Kaka adik saja kan?" tanya Firdaus sambil menatap Zamrud tajam, lalu matanya kembali Fokus kearah tanah yang ingin dicangkulnya.


     "Hmmm... Gimana ya jawabnya! aku sih dulu sempat tertarik dengan calon istrimu itu... Lagian kami pun satu perkampungan! bahkan dulu saja sempat satu sekolah berseblahan... Cuma sayangnya dia itu nolak aku waktu aku menyatakan cintaku padanya," jelas Zamrud mulai menaruh bensin agar emosi Firdaus semakin meluap.


     "Hah! untungnya kamu ditolak! pasti kamu sakit hati dan hanya berusaha melupakannya kan?" tanya Firdaus lagi.


     "Itu pastilah! masak iya enggak sakit hati! berarti aku gak cinta dong sama dia," jawab Zamrud santai sambil terus menyangkul.


     "Makanya! udah tau cewek dingin kayak Miftah gitu! masih aja kamu tembak! toh! dianya pun gak suka bahkan acuh dengan perasaanmu," ledek Firdaus merasa puas dan senang saat mendengar cerita menyedihkan Zamrud dulu.


     "Oh! sorry ya... Miftah itu sama sekali gak acuh denganku, ia selalu menolak ku dengan cara halus hingga aku mampu melepaskannya dengan baik... Dan asal kamu tau! kalau masalah perhatikan aku sudah cukup banyak mendapatkannya! cuman jika menyangkut masalah hati itu bakal rumit, karna Miftah tidak mudah membuat pintu hatinya pada seorang pria," jelasnya.


     "Kenapa bisa begitu?" tanya Firdaus.


     "Aku juga bingung... Sejak dulu dia terkenal sebagai seorang siswi yang sangat pendiam dikelasnya, ia hanya menghabiskan waktunya dengan ponselnya, aku gak tau juga sih! intinya begitulah berita yang aku dengar dari teman - teman sekelasnya," jawabnya.


     "Setiap hari aku hanya melihat dia pulang dengan tangan yang memegang ponsel dengan sambungan headset yang masih terpasang ditempatnya, aku juga gak tau sesuatu apa yang membuatnya mampu terus melekatkan benda tersebut ditelinga nya," ceritanya lagi.


     "Oh begitu..." respon Firdaus.


     "Kaka!!! Kaka kok Miftah ngomong diacuhkan sih?" tanyanya sedikit dongkol dengan sikap Zamrud dan Firdaus.

__ADS_1


     Firdaus dan Zamrud sangat terkejut saat mendengar teriakan Miftah hingga mereka tanpa sadar sudah menghadap secara bersamaan.


     "Maaf - maaf!" hanya itu yang dapat mereka ucapkan sambil menggaruk tekuk mereka dan itu semua mereka lakukan secara bersamaan.


     Miftah hanya menghembuskan nafas pelan, berusaha menahan rasa jengkelnya agar tak ia tumpahkan.


     Akhirnya Zamrud dan Firdaus selesai menyangkul semua tanah sedangkan yang lainnya masih sibuk menanam bibit dibedengen yang tak banyak lagi.


     "Firdaus... Zamrud... Kalian sudah siap kan?" tanya sang mama dan mereka hanya mengangguk sambil menjawab "iya," lalu kembali mengelap keringat yang tak berhenti mengalir dari pelipis mereka.


     "Ya sudah sana mandi! abis itu istirahat sebentar sambil nunggu azan ashar," ucap sang mama merasa kasian setelah melihat muka mereka yang sudah merah kepanasan.


     "Oh iya Firdaus... Nanti tolong antarkan Zamrud ke satu kamar ya... Biar dia juga bisa membersihkan dirinya sendiri dan jangan lupa meminjamkannya salah satu pakaianmu untuknya," beritahu mama.


     "Oke ma..." respon Firdaus lemah, baru kali ini ia rela bekerja yang mana pekerjaan itu begitu banyak menguras tenaganya.


Seingatnya terakhir kali ia sering turun tangan sendiri saat bekerja ketika di Pesantren, palingan yang paling berat itu membersihkan halaman bersama - sama bahkan memindahkan sampah yang telah ditampung  ditong sampah sampai kepembuangan sampah.


     Firdaus berjalan dengan langkah gontai, ia benar - benar ling lung sekarang, Miftah yang merasa sangat tidak enak karena Firdaus mau melakukan itu untuknya langsung bergegas menghampirinya.


     "Makasih ya udah perhatian sama aku," senang Firdaus.


     "Kaka gak perlu berterima kasih... Harusnya kan Miftah yang berterima kasih karna Kaka sudah rela melakukan pekerjaan yang cukup berat dan tak pernah Kaka lakukan sebelumnya," jelasnya.


     "Iya," jawabnya singkat lalu kembali memberikan senyuman pada Miftah, Miftah pun membalas senyuman Firdaus sambil memandang bola matanya lekat.


     "Aku benar - benar senang Kaka... Karna kaka udah baik banget sama aku... Aku sekarang sudah sangat percaya bahwa Kaka memang sudah berubah dan tak seperti yang kukenal dulu... Aku harap Kaka benar - benar serius mencintaiku karena aku tidak mudah membuka hatiku untuk yang kedua kalinya," ucapnya panjang lebar.


     Firdaus terdiam saat mendengar ucapan Miftah, hatinya entah mengapa jadi merasa sakit dan sangat bimbang untuk saat ini, rasa cintanya dulu pada Jannah juga sudah mulai menipis, ia bingung dengan dirinya sendiri karna ia dan Jannah sudah terlanjur membuat perjanjian.


     Entah sudah berapa bulan sebelum penentuan hari pernikahannya disetujui, ia  memprivasikan statusnya. Ia dapat melihat status Jannah yang kini masih mengabdi di pondoknya sebagai seorang ustadzah.


     "Lho! kok Kaka melamun?" kejut Miftah.


     "Eh! enggak kok Ratuku... Rajamu ini tadi hanya diam karna merasa kelelahan," bohongnya.


     "Kaka pasti sedang mencoba membohongiku ya..? tapi sayang! Kaka malah membohongi orang yang salah karna aku mudah peka," selidiknya yang membuat Firdaus jadi tersetrum sesaat.

__ADS_1


    "Hehe! Kaka hanya memikirkan sesuatu saja Ratuku..." jawabnya jujur.


     "Apa? soal ucapanku tadi? lebih baik Kaka gak usah pikirkan kalau tentang sikap Kaka dulu... Karna kita tidak boleh terus - terusan melihat orang dari masa lalunya tapi lihatlah dari usahanya yang ingin menjadi lebih baik dari sebelumnya," jelasnya.


     "Iya... Makasih ya Ratuku..." ucapnya.


     "Sama - sama Kaka..." responnya.


     Miftah sebenarnya merasakan ada hal yang janggal dari Firdaus, tapi kali ini ia lebih memilih diam karna ia tak mau jika kejanggalan itu adalah sesuatu yang membuat Firdaus jadi merasa sangat sedih.


     Firdaus merasa sedikit lega karna Miftah tak terlalu mengorek pertanyaan yang tepat sasaran, untuk saat ini ia berharap Miftah tak banyak bertanya tentang masalahnya karna ia tak ingin Miftah terluka setelah mengetahui masa lalunya.


     Tanpa mereka sadari ternyata mereka sudah sampai didalam rumah, Firdaus pun menyuruh Miftah untuk kembali ketempat semula.


     "Kaka serius gak papa Miftah tinggalin sampai disini? apakah kepala Kaka masih merasa ling lung?" tanyanya merasa khawatir.


     Firdaus tersenyum. Ia menaruh sebelah tangannya diatas pundak Miftah.


     "Rajamu itu sudah tidak kenapa - kenapa lagi Ratuku... Jadi lebih baik kamu lanjutkan bantuin yang lainnya ya..." jawabnya.


     "Kaka serius?" tanyanya memastikan.


     "Ya serius lah... Masak enggak!" responnya sambil mencubit pelan hidung Miftah dan Miftah jadi tersipu dibuatnya.


     Mereka sangat terkejut saat melihat Zamrud yang sudah berdiri tegak dibelakang mereka.


     "Eh! ada kak Zamrud rupanya dari tadi dibelakang," ucap Miftah kikuk dan menjadi semakin malu.


     "Ngapain kamu dari tadi jalan dibelakang kami? kamu nguping ya?" tuduh Firdaus yang sebenarnya merasa salting.


     "Huh! terus aku harus berjalan beriringan dengan kalian gitu? melihat dan mendengar dengan jelas kata - kata dua insan yang saling jatuh cinta? males banget! berasa jadi nyamuk tau gak? lagian udah kayak gak ada kerjaan lain aja," responnya sedikit kesal dengan tuduhan Firdaus.


     "Yasudah... Maafin ucapan kak Firdaus ya kak Zamrud," ucap Miftah.


     "Iya," jawabnya singkat meskipun rasa kesal tak kunjung hilang.


     Akhirnya mereka pun berpisah setelah Firdaus mengajak Zamrud ikut bersamanya kelantai atas untuk langsung ke kamarnya saja dari pada harus naik turun, karna kamar kosong lainnya terletak di lantai bawah.

__ADS_1


__ADS_2