Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 124


__ADS_3

Kini semua bahan - bahan sudah selesai Miftah masukkan dalam satu baskom dan ia tinggal memasukkan tepung dan beberapa bumbu kedalamnya tak lupa menaruh air secukupnya.



     Dan alhasil adonan bakwan pun sudah jadi dan Miftah hanya tinggal mengaduknya sampai rata sebentar sebelum masuk kedalam minyak goreng yang panas.



     "Mif! biar aku bantu taruh wajan sama minyak gorengnya ya," pinta Firdaus.


     "Boleh saja kak," responnya sambil tersenyum.


     Ia sangat senang dengan sikap Firdaus yang sangat perhatian kepadanya.


     "Gimana kak? sudah belum? soalnya adonannya udah rata nih," tanya Miftah.


     "Udah Ratuku... Coba kamu lihat! minyaknya pun sudah mulai panas nih," unjuknya pada wajan yang ada diatas kompor.



     "Wah... Ternyata Kaka udah nyalain kompornya tah?" tanyanya sambil tersenyum.


     "Udah dong... Masak di diemin aja," responnya balas tersenyum.


     "Kirain ma Kaka gak bisa... Takut kepanasan banget minyaknya," ucap Miftah sambil terkekeh pelan.


     "Ya masak panasin minyak di wajan aja gak bisa sih Ratuku... Asal kamu jangan suruh Kaka yang goreng... Itu baru salah... Nanti malah hangus lagi," jujurnya.


     "Hahaha Rajaku emang jujur banget ya..." gemas Miftah.


     "Ya iyalah... Masak suka bohong melulu," ucapnya.


     "Berarti dulu suka bohong dong," tebaknya sambil terkekeh pelan.


     "Ya ada sih... Kalau udah mudharat doang," responnya acuh lalu memilih duduk di meja makan.


     "Mau kemana?" tanya Miftah.


     "Mau duduk," jawabnya.


     "Gak mau liat cara gorengnya?" tanyanya sambil menuangkan adonan ke pinggir wajan beberapa buah sebelum benar - benar ia tumpahkan kedalam minyak.


     "Enggak ah! panas," jawabnya lalu mulai mengambil ponsel di saku celananya.


     "Ngapain tuh pagi - pagi buka hp," ucap Miftah sambil menyirami adonan bakwan yang masih menempel pada pinggiran wajan.


     "Main game," jawabnya yang kini sudah tampak serius.


     Miftah hanya menggeleng - gelengkan kepala melihat kebiasaan Firdaus yang tak akan pernah berhenti memainkan suatu permainan jika ia belum berhasil memenangkannya.


     Tanpa sadar karna saking asyiknya bermain game gerakannya jadi terhenti saat mencium bau bakwan yang sangat harum dan begitu menggugah selera.


     "Weh! udah siap aja nih," girangnya lalu hendak mencomot satu bakwan tapi di cegah oleh Miftah.

__ADS_1


     "Kaka... Sebelum makan lebih baik cuci tangan dulu..." nasehatnya.


     "Tapi kan Kaka gak pegang apa - apa dari tadi dan abis parut wortel langsung cuci tangan," elaknya.


     "Tapi kan bagusnya tetap di cuci dulu Kaka..." peringatnya lagi.


     "Iya deh..." ucapnya patuh lalu berhenti memainkan game nya.


     "Tumben udah off main game! apa udah menang?" tanyanya sambil mengangkat satu alisnya.


     "Belum," jawabnya singkat.


     "Terus kalau belum kok tumben udah berhenti aja," herannya.


     "Bakwanmu sungguh sayang kalau di lewati Ratuku... Aromanya aja udah membuatku was - was takut di habiskan olehmu," ucapnya sambil terkekeh pelan.


     "Kaka bisa aja," ucapnya sambil tersenyum.


     Oh iya Ratuku! gimana kalau kita makannya di sofa belakang rumah aja," usulnya.


     "Boleh juga kak! lagian udara diluar sana pasti sejuk banget," angguknya setuju.


     "Baiklah! kalau begitu mari kita kesana! biar Kaka aja yang bantu bawa bakwan terwenak mu ini yang telah di hias cantik pula kayak yang buatnya," gombalnya.



     Miftah lagi - lagi hanya tertawa saat mendengar penuturan dari Firdaus.


     "Ya ampun Kaka ini... Gombalannya gak pernah abis - abis ya udah kayak Choki - Choki," responnya.


     "Hadeh... Lelah Miftah," ucapnya sambil menghembuskan nafas panjang.


     "Lha! lelah kenapa?" herannya.


     "Lelah mendengar kata - kata manismu hingga membuatku jadi ikut mencair hanya karna mendengarkan penuturanmu," jelasnya dan itu sontak membuat Firdaus membeku sesaat.


     "Gak nyangka ternyata Ratuku pinter gombel juga rupanya," ucapnya terkekeh pelan sambil menahan detakan jantungnya yang tak berhenti berolahraga.


     "Oh iya Ratuku! jangan lupa bawa saos ABC agar makin muantap," peringatnya.



     "Beres Rajaku..." respon Miftah yang kini mulai kompak dengan Firdaus.


     Sejak tadi mereka tidak pernah bertengkar lagi, hanya perselisihan kecil yang ujung - ujungnya juga mengundang tawa.


     Kini mereka sudah duduk di sofa belakang rumah.


     "Kak! air kolam renangnya jernih banget ya, berapa kali di bersihkan?" tanyanya.


     "Ya biasanya sehari sekali Mif," jawabnya.


     "Apa gak mubazir airnya?" tanya Miftah.

__ADS_1


     "Ya kan biar bersih aja... Itu pun ketika kolam renangnya di pakai... Kalau enggak palingan cuma dedaunan yang jatuh keatas genangan air aja," jelasnya.


     "Oh... Gitu..." ucapnya sambil mengangguk paham.


     "Lha! kalau kita ngomong doang kapan makannya ini," resahnya.


     "Hahaha sang Raja ternyata udah gak sabar ya..." ledek Miftah.


     "Ya lagian aku kan belum bisa makan kamu... Jadi lebih baik aku makan bakwan aja dulu," godanya hingga mendapatkan jitakan dari Miftah.


     "Aduh!" rintihnya.


     "Makanya jangan suka ngomong yang aneh - aneh napa! udah kalau mau makan ya makan aja... Itu pun susah," ucapnya garang tak lupa tatapan mematikannya.


     "Hehe! maafkan Rajamu ini lah Ratuku... Aku kan hanya bergurau..." ucapnya sambil memanyunkan bibirnya dan juga tingkahnya yang dibuat - buat imut.


     Tawa Miftah pecah karna merasa geli melihat ekspresinya.


     "Sudah - sudah! makan - makan," tawarnya sambil menggeser piring tersebut agar lebih dekat dengan Firdaus.


     Setelah menuangkan saos ABC dalam mangkuk kecil dengan tak sabar Firdaus langsung mencocolnya.


     "Mantap! enak! renyah! nikmat," senangnya lalu kembali mencocokkan bakwan dan menggigitnya.


     Miftah jadi ikut senang saat melihat ekpresi penuh kepuasan dari wajah Firdaus.


     "Ya ampun... Dicariin di kamar, ruang tamu, dapur! ternyata di sini kalian," ucap mama yang tiba - tiba datang dengan sang papa.


     "Wah... Ada bakwan tuh," girang sang papa lalu mengambil satu bakwan yang ada didalam piring untuk di cocok kedalam saus sebelum melahapnya.


     "Waw! ini lebih mantep dari bakwan buatan mama! renyahnya pas!" puji sang papa lalu sebuah jitakan mulai melayang kearahnya.


     "Oh... Gitu ya sama mama! bagus! nanti kalau papa merengek sama mama minta dibuatkan sesuatu buat aja sendiri," ambeknya lalu berjalan untuk masuk kedalam rumah kembali.


     "Eh! sayang... Papa hanya becanda lho..." rayunya lalu bergegas mengejar istrinya kembali.


     Tapi sebelum itu sempat - sempatnya papa mengambil satu bakwan pagi lalu mencocolnya kembali kedalam saos untuk ia bawa pergi mengejar mama.


     Firdaus dan Miftah hanya tertawa saat melihat tingkah mama dan papa yang tiada habisnya.


     "Alhamdulillah... Emang ni bakwan jatahku... Jadi tak ada siapa pun yang boleh memakan lebih," senangnya.


     "Je... Segitunya si Kaka," ucap Miftah sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.


     "Biarin aja," ucapnya acuh sambil mengangkat bahu.


     Kini mereka mulai menikmati bakwan dalam diam dan tanpa mereka sadari satu piring yang penuh dengan bakwan kandas dan yang lebih banyak menghabiskannya adalah Firdaus.


     Jika Miftah baru memakan lima potong bakwan berarti Firdaus sudah memakan sepuluh potong bakwan.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗

__ADS_1


Makasih udah mau like, komen, hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2