
"Alhamdulillah akhirnya sampai juga," ucap Zaldira senang.
"Tin... Tin... Tin..." bunyi suara klakson mobil mulai terdengar, membuat Zaldira yang baru saja turun dari motornya hampir saja melepaskan pegangannya.
"Siapa sih!" batin Zaldira kesal.
"Ya ampun Kaka nyebelin rupanya," dengus Zaldira saat sudah melihat kearah mobil merah yang tak lain dimiliki oleh Zamrud.
"Hei Kaka! ini bukan jalan raya tau! enak aja main tin... Tin.. aja! hampir aja motorku jatuh tau," omel Zaldira yang sudah kesal dengan tingkah Zamrud, sedangkan sang pelaku hanya terkekeh geli.
"Biasa aja kali... Orang Kaka cuma be.. can.. da..." cengengesannya.
"Gak ada becanda - becanda! dasar Kaka nyebelin! bye!" geram Zaldira lalu berlalu meninggalkannya untuk masuk terlebih dahulu kerumah Miftah.
Zaldira langsung menuju ke halaman belakang dan dilihatnya kak Miftah yang baru saja selesai merendam biji terong didalam air hangat.
"Assalamualaikum Kaka... Zaldira udah datang nih..." girang Zaldira.
"Wa'alaikum salam Zaldira... Lho! kok cuma sendiri? dua orang lagi mana?" tanya Miftah.
"Kaka nyebelin sama Kaka baik lagi diluar Kaka, belum masuk. Tadi aja Zaldira dikejutin sama Kaka asam sulfat yang nyebelin itu, sampai - sampai motor Zaldira mau jatuh Kaka karna gak pas pegang." adu Zaldira dengan wajah kembali merah bak sebuah tomat.
"Hahaha," tawa Miftah.
"Kok Kaka malah ketawa sih... Zaldira lagi kesel banget tau Kaka..." dengus Zaldira sambil menaruh tas yang penuh dengan belanjaannya dimeja dapur.
"Iya iya Kaka paham... Kak Zamrud emang gitu orangnya... Tapi kamu jangan sampai terlalu benci... Nanti kamu malah jadi bucin lagi," goda Miftah sambil terkekeh pelan.
__ADS_1
"Ih Kaka... Itu gak lucu tau... Amit - amit aku cinta sama Kaka nyebelin bin sok kayak gitu," resah Zaldira.
"Eis... Gak boleh gitu sayang..." peringat Miftah lembut.
"Iya - iya deh..." ucap Zaldira mau tidak mau ia harus mengalah agar kak Miftah senang.
"Oh iya Kaka, itu tadi berapa lama direndam?" tanya Zaldira penasaran.
"Oh ini..." tunjuk Miftah pada baskom yang airnya sudah ditiriskan, sedangkan Zaldira hanya mengangguk mengiyakan.
"Tadi abis dijemur sampai kadar airnya turun. Kaka rendam dulu deh dengan air hangat selama enam jam," jawab Miftah.
"lha! emang waktunya cukup kak? Ini kan baru jam sembilan" komen Zaldira.
"Hahaha, kamu memang pintar Zaldira... Ini sebenarnya bukan biji yang baru Kaka buat hari ini... Yang baru Kaka buat itu masih dijemur dibelakang sedangkan ini punya lama yang udah Kaka simpan sebelum disemai hingga akhirnya Kaka rendam dulu dengan air hangat dari jam empat pagi, kan sama aja udah enam jam." jelas Miftah lagi hingga membuat Zaldira tersenyum puas dengan jawaban yang membuatnya langsung mengerti.
"Dasar Kaka nyebelin gak sopan! bukannya Assalamualaikum dulu kek! ketok dulu kek! lah ini? main nyelonong masuk aja kedalam," geram Zaldira.
"Bukan urusanmu! ini pun bukan rumahmu! tuan rumahnya juga gak marah padaku kok," sengit Zamrud pada Zaldira.
"Sudah... Sudah... Kaka tapi apa yang dibilang oleh Zaldira betul juga tau... Kaka kan lebih tua, jadi harusnya lebih paham kan? jangan berikan contoh yang buruk lagi yah... Malu sama yang lebih muda tuh," nasehat Miftah.
"Iya adek..." goda Zamrud sambil menyipitkan sebelah matanya kearah Miftah hingga membuat Wahyu hanya mampu menggelengkan kepalanya kesana kemari sedangkan Zaldira hanya berdecih berulang kali sendiri.
"Hai asam amino! jangan cemburu ya..." ledek Zamrud.
"Aku benar - benar muak," ucap Zaldira yang sudah berapi lalu tanpa ampun langsung menjewer telinga Zamrud dengan sedikit berjinjit karna tinggi badannya tidak mendukung.
__ADS_1
"Masih berani meledekku apa tidak hah?" geram Zaldira dengan jari yang masih belum ia lepaskan dari daun telinga Zamrud.
"Ah! aduh... Ampun... Ampun... Iya.. Iya.. bener deh! bener... Saya gak gitu lagi," rintih Zamrud yang sudah merasa kewalahan.
"Sekali lagi kaka kayak gitu, aku pastikan besok daun telinga Kaka tidak dapat berdiri tegap lagi! paham!" geram Zaldira dengan langkah yang menepuk - nepuk lantai saking kesalnya hingga menimbulkan bunyi.
Zamrud dengan susah payah menelan salivanya saking tak percaya.
"Dia ternyata bisa berubah jadi monster juga yah," herannya.
"Kamu kalau ngomong kayak gak sadar aja sama diri sendiri," cibir Wahyu.
"Apa kamu bilang?" tanya Zamrud tak terima.
"Iya - iya gak jadi... Intinya kalau kamu berbuat masalah lagi sama Zaldira, kamu bakal mamam tu jurus monster jeweran mematikannya... Kalau aku ogah! makanya aku anteng aja," ucap Wahyu resah.
"Iya - iya. Yaudah sekarang lebih baik kita bantu Miftah dulu," saran Zamrud.
"Oke!" respon Wahyu sambil berjalan lebih dulu menyusul Miftah yang sejak tadi sudah pergi duluan kebelakang karna malas mendengar pertengkarannya dan Zaldira yang tak berujung.
"Oh lo mau ninggalin aye?" tanya Zamrud penuh penekanan.
"Hahaha enggaklah... Mana sini barang belanjaannya, biar aku bantu tarok keatas meja dapur." pinta Wahyu.
Bukannya dapat senyuman hangat Wahyu hanya mendapatkan semprotan.
__ADS_1
"Dari tadi kek!!!" gertak Zamrud lalu pergi meninggalkan nya setelah menyerahkan semua belanjaannya pada Wahyu.
"Naseb... Naseb..." ucap Wahyu sambil menggelengkan kepalanya. Lalu bergegas menaruh semua barang belanja ke atas meja dapur, kemudian ia bergegas melangkah menuju ke mereka dengan perasaan gondok yang ditahan.