Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 95


__ADS_3

     "Kak! ini padahal kan malam! kenapa gak naik mobil aja sih?" protes Miftah setelah cukup lama hanya membisu.


     "Ya justru kalau malam itu cuaca gak panas... Jadi kita lebih leluasa nikmatin suasananya..." beritahunya.


     "Huh!" Miftah hanya menghembuskan nafas kasar.


     "Udah mau ngomong nih! masalah rona tadi udah selesai ya," godanya.


     "Sudah ah kak! jangan bahas masalah tadi lagi," protesnya merasa tak nyaman.


     "Iya deh iya..." patuhnya sambil menganggukkan kepalanya.


     Saat mereka hampir sampai ketempat tujuan, Miftah pun turun.


     "Kamu malam - malam ke Restoran mau ketemu sama siapa sih?" tanya Firdaus merasa curiga.


     "Ih... Kaka kepo banget sih... Udah mending aku mau dianterin sama Kaka sama kasih tau kemana aku mau pergi, tapi kenapa Kaka malah memberikanku pertanyaan hah?" resahnya.


     "Ya lagian kamu sejak tadi cuma bilang Restoran doang, dan Restoran yang kamu datangi sekarang memang terkenal sangat mahal... Apakah aku tidak bisa menyimpan sedikit rasa curiga? takutnya kamu mau kencan lagi," tebaknya.


     "Is... Kaka... Mana mungkin aku berani duain Kaka... Yang benar saja..." ucapnya.


     "Yang benar?" tanyanya.


     "Iya Kaka..." jawabnya.


     "Janji," ucapnya.


     "Maaf Kaka... Aku gak bisa janji... Karna aku gak tau apa yang akan terjadi kedepannya... Tapi aku hanya bisa pinta satu hal sama Kaka," ucapnya.


     "Apa itu," tanya Firdaus.


     "Kaka bisa percaya kan sama aku?" tanyanya sambil menaruh satu tangannya disalah satu pundak Firdaus, bibirnya juga tak luput dari senyuman.


     "Ya ampun... Manis banget senyumannya," batinnya.


     "Kaka... Kaka percaya kan sama aku?" tanyanya lagi.


     Firdaus masih mematung sambil menatap bola mata Miftah yang juga balas menatapnya.


     "Kaka!" serunya.


     "Eh! iya - iya! Kaka percaya kok sama kamu," jawabnya gelagapan.


     "Oke kalau begitu! jadi lebih baik kaka tunggu aku dikafe yang ada didekat sini ya..." beritahunya.


     "Oke Ratuku! tapi kalau urusanmu udah siap jangan lupa telpon Kaka ya..." peringatnya.


     "Siap Kakaku..." responnya.


     "Kalau begitu Miftah pamit dulu yah Kaka..." pamitnya.


     "Oke Ratuku... Semoga urusanmu lancar ya..." doanya.

__ADS_1


     "Amiiin ya Allah... Makasih banyak doanya kak..." ucapnya setelah mengadahkan tangannya lalu mengusapkannya pada wajahnya.


     "Aku pamit ya Kaka... Bye kak..." ucapnya sambil melambaikan tangannya.


     "Bye juga Ratuku..." responnya sambil membalas lambaian tangan Miftah.


     Sesampai didepan Restoran, Miftah kembali memperbaiki posisi kacamatanya yang sudah sedikit meluncur dari batasnya.


     Sebelum masuk iya sempat melihat sasaran yang sejak tadi ia cari - cari, siapa lagi kalau bukan sang nyonya.


     Ternyata, ia baru saja turun dari sebuah mobil hitam pekat setelah dibukakan pintu oleh sopir pribadinya.



     Terlihat jelas beberapa pelayan yang datang menyambutnya lalu mengantarkannya ke meja yang sudah dipesan olehnya.


     "Beginilah jika orang yang sangat terpandang datang ke Restoran," batinnya.


     Dengan cepat Miftah langsung melangkahkan kakinya untuk masuk lebih dulu sebelum sang nyonya.


      Para penjaga hanya mampu menatapnya dengan sorotan tanda tanya.


     "Apaan sih mereka liat aku gitu banget! walau pun pakaian ku gak mewah - mewah benget dengan gaya culun begini! tetap aja aku masih berduit kali," batinnya merasa risih.


     Terlihat kini sang nyonya diantar kelantai yang paling atas.


     "Huh! bakal ribet kalau begini ceritanya, pasti nyonya sudah menyusun kerangka secara detail. Hingga ia tidak mau sampai salah memilih jalan," batinnya mencoba berpikir jernih.


     "Ya Allah... Hamba mohon bantuan-Mu ya Rab... Tolong permudahkanlah urusan Hamba," batinnya merasa cemas.


     Tiba - tiba terdengar suara percikan air dari luar. Semakin lama suara percikan air tersebut terdengar semakin deras, hingga menimbulkan bunyi keciprat - keciprat dari atas ketika menyentuh tanah.


     "Ya Allah... Terima kasih," senangnya saat mengetahui jika hujan sedang turun dengan sangat deras.


     "Arrrg... Pake acara hujan segala lagi," bisiknya dalam hati merasa geram dengan satu tangan yang sudah mengepal kuat.



     "Kalau begini mana bisa aku berbicara aman dengannya diatas sana," batinnya lagi.


     Miftah dapat melihat raut kekesalan diwajah sang nyonya dari jauh.


     "Maaf nyonya, sekarang Rooftopnya sedang tidak bisa dipakai," beritahu salah satu pelayan.


     "Bener banget nyonya... Kami minta maaf... Jika nyonya menginginkan lantai bawah semua juga sudah penuh..." Jelasnya.


     "Hadeh... Pertemuan ini pasti tidak akan mudah untuk dibatalkan! apa lagi Werdan sudah tak jauh lagi dari sekitar sini," pikirnya.


     "Ya sudah! lebih baik kalian siapkan meja dimana pun untuk saya dan satu rekan saya, kalau bisa ditempat yang agak pojokan." pintanya.


     "Baiklah nyonya! akan kami usahakan," jawab mereka.


     "Bagus! kalau begitu cepat cari," perintahnya.

__ADS_1


     "Baik nyonya," jawab mereka lalu pamit dari hadapannya.


     Tak berapa lama kemudian mereka pun kembali, lalu mengajak sang nyonya untuk ketempat yang sudah mereka temui.


     "Nyonya! kami sudah menemukan tempat yang pas untuk Anda," beritahu salah satu dari mereka sambil membungkukkan sedikit badannya.


     "Kalau begitu, sekarang antarkan aku kesana." responnya.


     "Baiklah nyonya," jawabnya patuh.


     "Harus aku ikutin nih!" batinnya, tapi saat Miftah hendak melangkahkan kakinya kearah sana ia sempat dicegah oleh seorang pelayan yang baru saja selesai mengantar makanan.


     Terlihat jelas sorot tak bersahabat dari wajahnya, ada ekperesi yang tak jauh beda seperti saat pertama kali ia menginjakkan kakinya kedalam gedung tersebut.


     "Maaf mbak! mbak sebenarnya datang kesini buat maling makanan apa mau mencuri harta benda pengunjung disini," tanyanya yang main asal tebak tanpa ada sedikit rasa sopan santunnya pada pengunjung hanya karna penampilannya.


     Miftah berusaha mengontrol emosinya, sebisa mungkin ia pancarkan senyuman yang terasa sangat berat untuk ia tunjukkan.


     "Kan cuma bisa senyum, saya sudah bisa nebak dari awal kalau mbak ini cuma orang yang kere kan?" tebaknya.


     "Kalau makin didiemin nih orang malah ngelunjak, baru jadi pelayan aja udah songong minta ampun! apa lagi jadi Manajernya! bisa habis para pekerja lainnya kena semprot mulutnya yang gak ada remnya sama sekali," batinnya merasa sangat kesal.


     "Oh iya! mendingan kamu pergi aja deh dari tempat yang super dzuper mewah ini! dari pada nanti kamu di usir secara tak hormat karna ketahuan mau maling nanti, kan yang ada kamu hanya akan merasa-" belum sempat pelayan itu menghabiskan ucapannya Miftah langsung menampar pipinya karna memang sudah tak dapat lagi menahan penghinaan tersebut.


     "Heh! aku peringatkan ya! orang yang tampil biasa aja, bisa jadi ia adalah orang yang memiliki harta kekayaan yang lebih banyak dari orang yang memperlihatkan kemewahannya. Karna ia hanya tak ingin menunjukkan - nunjuk," beritahunya.


     "Kurang ajar! kau berani melawanku," geramnya sambil mengepalkan kedua tangannya.


     Pelayan yang kini sudah meledak emosinya memilih ikut melayangkan tangannya kearah Miftah tanpa rasa takut sedikitpun, tapi saat tangannya hampir saja mengenai pipi mulus Miftah tanpa ia sadari seseorang datang lalu menahan gerakannya.


     Saat ia melihat siapa yang menahan tangannya ia hanya mematung sesaat, sedangkan Miftah yang kini sudah menundukkan kepalanya mulai mengangkatnya kembali perlahan.


_____________________________________


Hai kaka semuanya... 🤗


Makasih ya... Karna sudah mau mampir ke Novel kedua Star... 😇


"KEBUN TERONG SIGADIS NARSIS"


Star sangat berterima kasih bagi Kaka - Kaka yang sudah mau memberi Ranting, like, vote bahkan sampai membaca dan mengomentari karya star... 🙏😊


Star sangat senang hingga jadi lebih semangat... 😄


Dimana bulan disitu bintang 😀


Dimana gelap disitu terang 🤣


Terima kasih bila tlah datang 😆


Star beri ucapan salam sayang 😘


Oke... Sampai jumpa di part selanjutnya ya...

__ADS_1


Makasih untuk Kaka - kaka yang selalu hadir...


   🍃🍃🍃🍃🍃  🙏🙏🙏  🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2