
Disisi lain Werdan yang sudah panik karna Permata tak kunjung di temukan hanya mampu mengacak rambutnya kasar.
"Sial! sebenarnya kamu kemana sih Permata?" tanyanya kepada diri sendiri merasa geram.
Saat ia benar - benar ingin menumpahkan amarahnya pada sang supir, tiba - tiba salah seorang bodyguard dari sekian banyaknya yang sempat ia suruh mencari Permata menunda keinginannya.
"Maaf tuan," ucapnya dan Werdan hanya berbalik badan untuk menatapnya.
"Ada apa?" tanyanya sambil menahan emosi.
"Saya tadi tak sengaja melihat dari Cctv yang ada di rumah tuan, dan saat tuan masih sibuk berdebat dengan beberapa wanita saya melihat ada sebuah mobil berwarna biru dongker berhenti tepat di seberang mobil tuan." beritahunya.
"Lalu?" tanyanya lagi penasaran.
"Tak berapa lama kemudian keluarlah seorang pria dan menghampiri mobil tuan, ia terlihat sedang mengetuk pintu kaca mobil tuan." jawabnya.
"Jangan - jangan itu tempat Permata duduk," tebaknya.
"Sepertinya iya tuan, hingga akhirnya setelah mereka tampak berbicara beberapa detik nona muda keluar dan di tarik olehnya menuju mobilnya." terangnya.
"Kurang ajar! apa mungkin dia adalah pria yang sempat menolong Permata?" pikirnya.
"Ini tidak bisa dibiarkan! aku yakin banget jika permata di paksa pergi dengannya," geramnya.
"Awas saja kau nanti! aku pasti akan membuat perhitungan denganmu," ucapnya sambil menggertakkan giginya hingga membuat bodyguardnya jadi sedikit merinding.
"Hmm... Untung aku sudah punya nomor Permata, jadi aku dapat dengan mudah melacak keberadaannya." batinnya sambil tersenyum miring.
"Kamu! cepat bawa semua pasukan untuk ikut denganku," perintahnya.
"Maaf tuan, memangnya kita mau kemana?" tanyanya bingung.
"Kita akan merebut nona muda kembali karna telah di culik." beritahunya.
"Ikuti saja mobil saya," sambungnya.
"Baik tuan," ucapnya patuh lalu bergegas pergi setelah pamit terlebih dahulu.
"Hei kamu! cepat kendarai mobilnya," unjuknya pada sopirnya yang seperti tersetrum aliran listrik.
"Ba-baiklah tuan," ucapnya terbata - bata dan Werdan sudah lebih dulu masuk kedalam.
"Cepat kemudikan mobilnya! jangan membuang - buang waktuku!!!" gertaknya merasa sangat kesal.
"I-iya tuan," angguknya lalu bergegas masuk untuk mengemudikan mobil.
Didalam mobil Werdan menyerahkan ponselnya pada sopirnya.
"Maaf tuan untuk apa?" tanyanya cemas.
"Ambil dan ikuti saja arah map tersebut," jawabnya.
"Oh! siap tuan," responnya.
Saat mobil masih melaju Werdan menyempatkan diri untuk melihat kebelakang dan benar saja mobilnya sudah di ikuti oleh beberapa anak buahnya.
__ADS_1
Mereka memakai baju serba hitam, ada yang menggunakan motor bahkan mobil.
_________________________________
"Cklek,"
Bunyi pintu kamar mandi yang terbuka membuat Miftah menoleh ke asal suara dan terlihatlah Permata yang sudah berbalut anduk dengan rambut panjangnya yang ia biarkan terurai.
"Maaf dek... Apakah Kaka terlalu lama di dalam?" tanyanya merasa tak enak.
"Eh! enggak kok kak," jawabnya sedikit mematung melihat Permata.
"Rambut Kaka ternyata panjang ya... Sangat cantik," pujinya.
"Oh! iya dek... Soalnya Kaka ingin seperti ibu Kaka yang menyukai rambut panjang..." beritahunya.
"Oh... Jadi gitu," responnya sambil tersenyum.
"Iya dek..." balas tersenyum.
Miftah yang sudah tau jika Permata pasti ingin meminta baju langsung bangkit menuju lemarinya.
"Kak Permata," panggilnya.
"Iya dek, ada apa?" tanyanya sambil menghampiri Miftah.
"Kaka Miftah bingung pilih baju untuk Kaka... Kaka suka warna dan model seperti apa? soalnya ini banyak... Miftah aja kadang gak sempat pakai semua ini," jawabnya bingung meminta pendapat.
"Suka - suka adek aja," responnya.
"Makasih banyak ya dek..." ucapnya.
"Sudahlah Kaka... Tidak perlu terlalu banyak berterima kasih pada Miftah..." pintanya.
"Baiklah," ucapnya patuh.
"Oh iya! Kaka udah makan siang belum?" tanyanya sambil mengangkat satu alisnya.
"Eh! gak usah repot - repot ya dek... Kaka belum lapar kok," jawabnya.
"Kaka ini... Masih saja sungkan sama Miftah... Gak papa kok..." ucapnya mencoba meyakinkan dan pada saat itu juga suara bising yang membuat Permata sedikit menundukkan kepala dengan pipi yang sudah bersemu merah karna menahan rasa malu.
"Tuh kan Kaka lapar," ucapnya sedikit terkekeh.
"Kalau gitu Miftah mau pamit untuk masakin sesuatu agar perut Kaka gak berbunyi lagi ya..." sambungnya sedikit bergurau.
"Kamu sangat baik dek... Kaka sangat senang bisa punya kenalan adek sepertimu," pujinya.
"Ah... Kaka bisa aja, gak juga kok kak." elaknya.
"Kenyataannya kan seperti itu... Kamu emang asli baik banget..." pujinya lagi.
"Kaka ini... Yaudah dadah Kaka," ucapnya sambil melambaikan tangan.
"Dadah juga dek..." balas melambai.
__ADS_1
Miftah yang sudah keluar mulai menutup pintu kamar lalu berjalan menuju ke dapur, sedangkan Permata kembali membuka lemari untuk memilih baju yang pas menurutnya dan tidak terlalu mewah.
"Dreeet... Dreeet... Dreeet..." suara ponsel Permata berbunyi ketika ia baru saja selesai memakai pakaiannya.
Saat permata melihat siapa yang menelponnya jantungnya jadi berdegup begitu kencang.
"Ya Allah! aku lupa kalau Werdan sudah mempunyai no Wa ku," batinnya.
"Gimana ini? aku angkat gak ya?" batinnya merasa panik dengan pandangan masih tertuju pada layarnya.
Saat ibu jarinya berniat untuk mengangkatnya tiba - tiba hatinya merasa ragu.
"Gak! aku gak mungkin membiarkannya mengetahui aku di mana," cemasnya.
"Lebih baik aku biarkan aja ponselku berbunyi agar dia tidak curiga," ucapnya memutuskan lalu mengecilkan volume suaranya ponsel sampai habis dan meletakkannya di bawah bantal tidur.
"Maafkan aku kak! aku gak bisa menikah denganmu karna kamu juga sudah mempermainkan hati tiga wanita, jika sekarang saja masih begitu aku gak tau apakah kamu mampu bertahan denganku saja di masa dengan nanti." resahnya lalu duduk di pinggir ranjang.
"Oh iya! aku belum menyisir rambutku," ucapnya sambil memegang dahinya dan memilih bangkit untuk duduk di meja rias yang terdapat sebuah kaca besar.
Ia mengambil sebuah sisir yang terletak di dalam sebuah plok yang ada di atas meja kecil itu.
"Tenang Permata... Tenang... Kamu harus mencoba menenangkan dirimu, semoga saja kak Werdan tidak dapat menemukanmu." harapnya sambil menarik napas dan menghembuskannya berulang kali.
Itu ia lakukan sambil menatap kaca rias, setelah merasa tenang baru Permata mulai menyisir rambutnya.
"Tok tok tok," suara ketukan pintu membuat Permata bergegas untuk membuatnya.
"Eh adek," ucap permata.
"Maaf ya Kaka udah harus membuat Kaka membuka pintu," responnya.
"Ya ampun... Ya gak papalah dek... Lagian adek masakannya kok banyak banget..." ucapnya terkejut saat melihat jejeran makanan yang terletak di atas nampan yang cukup besar.
"Gak papa Kaka... Kan sekali - kali," cengirnya.
"Kamu ini semangat banget ya..." ucapnya sambil terkekeh pelan.
"Iya dong... Untuk Kaka..." responnya sambil tersenyum lebar.
"Padahal baru juga ketemu," ucapnya sambil menggeleng heran.
"Tapi udah merasa nyaman kok Miftah sama Kaka," jujurnya.
"Alhamdulillah kalau begitu," responnya senang.
"Eh! ayo dong masuk," ajak Permata.
"Baik kak," angguknya lalu masuk kedalam dan Permata kembali menutup pintu.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
__ADS_1
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇