Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 142


__ADS_3

      🍆 Beberapa menit yang lalu 🍆


     "Assalamualaikum pa," ucap Miftah saat panggilan darinya telah di angkat.


     "Wa'alaikum salam nak... Ada apa?" tanya sang papa di sebrang telepon.


     "Ini pa... Miftah mau sampaikan amanah dari papa Firdaus," jawabnya.


     "Papa Firdaus? siapa itu nak?" tanya papanya tak kenal.


     "Oh iya! Miftah kan belum kenalin ke papa..." teringatnya sambil memegang dahinya, senyuman dari bibirnya pun ikut terpancar.


     "Ya udah gak papa putri papa..." responnya tersenyum.


     "Jadi gini pa! tapi sebelumnya Miftah mau kasih tau papa dulu, bahwa yang namanya Firdaus itu adalah calon suami Miftah nantinya." beritahunya.


     "Oh... Yang nanti bakal jadi imam kamu ya?" goda sang papa.


     "Iss... Papa... Miftah serius tau..." ambeknya.


     "Iya deh iya... Kan papa cuma mau bercanda sama putri papa, emang gak boleh ya?" tanyanya.


     "Boleh sih pa... Tapi ini kan lagi serius..." jawabnya sedikit kesal.


     "Baiklah - baiklah! apa?" responnya mulai bertanya.


     "Jadi papa Firdaus yang bernama Alterio ingin mengajak papa bertemu nanti malam," ucapnya.


     "Harus nanti malam ya sayang?" tanyanya lagi.


 


     "Iya pa... Tapi kalau papa gak sempat yaudah deh gak papa," jawabnya sambil memanyunkan bibir.


     "Hehe! enggak kok sayang... Papa akan usahakan pergi untuk putri papa yang tercinta ini ya... Biar mertuamu makin sayang sama kamu," goda papanya lagi.


     "Tuh kan! papa nih emang suka banget gombalin Miftah! apa lagi mama, itu udah kegiatan papa sehari - hari." peringatnya sambil tertawa ringan.


     "Yaudah... Tapi siapa yang kesiapa ini nak?" tanya papanya.


     "Papa Firdaus yang bakal jemput papa di dekat jalan, yang tak jauh dari rumah papa katanya." jawabnya.


     "Oh... Baiklah kalau begitu putriku..." responnya.


                         🍆 Saat ini 🍆


     Kini Askari sudah berjalan ke luar rumahnya, ia dapat keluar dengan aman tanpa perlu pusing menjawab pertanyaan dari istrinya yang sudah tidur dengan nyenyak.


     Dari kejauhan ia dapat melihat sebuah mobil berwarna hitam yang di kendarai oleh papa Firdaus.

__ADS_1


     Mobil itu adalah mobil yang sering di pakai oleh Firdaus kemana pun dia pergi.


     Askari sebenarnya agak ragu untuk menghampiri mobil hitam tersebut. Namun setelah mendapatkan panggilan dari ponselnya baru ia melangkah cepat untuk masuk ke pintu depan dekat papa Firdaus.


     "Huh! untung kamu menelpon saya tadi, karna saya sempat bingung untuk menghampiri mobil kamu." syukurnya lega.


     "Iya gak papa, salam kenal ya! namaku Alterio! papanya Firdaus." ucapnya sambil mengulurkan satu tangannya.


     "Oh iya! kalau saya Askari, salam kenal kembali." responnya sambil meraih uluran tangan tersebut.


     "Nama kita sama - sama A ya ternyata," ucapnya.


     "Iya kamu benar," responnya.


     Karna mereka adalah pria yang sama - sama asik, jadi bagian pengenalan antara satu dengan yang lainnya hingga jadi cocok tak perlu waktu lama.


     "Baiklah kita berangkat sekarang ya?" ucapnya.


     "Oh! tentu saja Alterio," responnya.


     Lalu mobil hitam tersebut tak lagi menepi di pinggir jalan yang ada disitu. Mereka sudah melaju bersama kendaran roda dua bahkan empat di jalan yang cukup besar.


            🍆 Sesampai di Restoran 🍆


     Alterio mulai mencari cara agar ia tidak perlu ikutan naik ke atas.


     "Baiklah," responnya tanpa ada rasa curiga sama sekali.


     Tanpa pikir panjang kini ia mulai mengikuti pelayan yang baru saja menghampirinya untuk di antar ke tempat yang sudah di pesan.


     Ia tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Ia hanya berjalan mengikuti kemana pun arah sang pelayan itu membawanya hingga tibalah ia di rooftop.


     Tapi ia bingung, kenapa suasana disana tampak sangat sepi dan ia juga melihat seorang wanita yang sedang duduk sambil memandang langit malam yang hanya disinari oleh sang rembulan.


     Jantungnya jadi berdebar tak beraturan saat wanita itu mulai mengarahkan pandangannya kedepan, mata mereka jadi saling bertemu.


     "Askari," ucap Rosalia tanpa berkedip.


     Hal itu juga sama dengan Askari, ia juga masih mematung sambil menatap sosok Rosalia yang ia rasa hanyalah sebuah kemustahilan.


     Pelayan yang melihat hal itu langsung paham dan memilih untuk meninggalkan mereka berdua tanpa berniat untuk menguping apa yang akan mereka bicarakan nantinya.


     Kini suasana terasa canggung.


     Dengan langkah pelan Askari mendekati meja makan yang terletak di depan Rosalia.


     Mereka tak lagi mengingat kehadiran Dahra dan Alterio untuk saat ini, karna rasa rindu telah membuat mereka lupa akan segala hal.


     "Mas," ucap Dahra.

__ADS_1


     "Iya Dahra! ini aku, aku bener - bener gak nyangka bisa ketemu kamu lagi disini." responnya senang.


     "Oh iya! bolehkan aku duduk di kursi yang ada di hadapanmu ini?" tanyanya.


     "Tentu! duduklah," jawabnya sambil mengulurkan satu tangannya ke arah kursi tersebut.


     "Ngomong - ngomong bagaimana keadaanmu sekarang Rosalia?" tanyanya lagi.


     "Alhamdulillah aku baik mas... Mas sendiri bagaimana?" jawabnya balik bertanya.


     "Alhamdulillah mas baik juga Rosa..." responnya sambil tersenyum dan ia membalasnya.


     Rosalia tampak berpikir sebentar, ingin mencoba jujur pada Askari tentang perasaannya bahkan kesalahpahamannya dulu.


     "Mas! aku minta maaf ya karna dulu sempat egois dan gak pernah mau dengerin apa yang kamu katakan hingga putri kita yang jadi korbannya," ungkapnya akhirnya.


     Askari hanya tersenyum menanggapinya sebelum membuka suaranya.


     "Gak Rosa... Kamu gak salah sama sekali, aku tau kok kalau ini itu bukan salah kamu karna penceraian kita terjadi karna jebakan." responnya.


     "Maksud mas apa?" tanyanya bingung.


     "Jadi suamimu itulah yang telah membuat pernikahan kita hancur Rosalia, ia sengaja mengadu domba kita untuk mendapatkan apa yang dia inginkan." jawabnya.


     "Jadi selama ini ulah mas Werdan?" kagetnya sambil membekap mulutnya dengan satu tangannya.


     Air matanya kini jadi ikut mengalir saking merasa sesak sekaligus tak percaya. Setelah apa yang telah di rampas oleh Werdan padanya hingga membuat hatinya retak, dan makin hancur berkeping - keping ketika ia tau bahwa perpisahannya dengan suami pertamanya akibat ulahnya juga.


     Askari hanya bisa menenangkannya dengan kata - kata, jika memeluk itu tidak mungkin sebab mereka bukan lagi sepasang suami istri.


     "Sudahlah Rosa... Lebih baik setelah kamu tau siapa suamimu yang sebenarnya, kamu harusnya lebih hati - hati dan berusaha mengubahnya." peringat Askari.


     "Aku gak bisa mengubahnya lagi mas... Aku menyerah jika untuk pria sepertinya, sikapnya benar - benar di luar batas kemampuanku mas!" resahnya masih berlinang air mata.


     "Jadi bagaimana keadaan hubungan kalian saat ini? apakah masih membaik?" tanyanya.


     "Hubungan kami sudah benar - benar buruk mas, bahkan putri angkatku juga sudah memberi tau padaku bahwa suamiku telah memiliki tiga kekasih." sambungnya.


     "Dua diantara mereka telah hamil anaknya dan orang tua sang wanita sudah meminta pertanggung jawaban agar anak mereka segera ia nikahi, tapi ia hanya mengabaikannya saja." ceritanya.


     "Jika sudah begitu sikapnya! memang pantas ia mendapatkan yang seperti itu," respon Askari ikut merasa kesal dengan sikap Werdan terhadap istrinya karna lebih banyak dia sia - siakan setelah apa yang ia dapatkan.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇

__ADS_1


__ADS_2