Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 59


__ADS_3

    Kini sampailah mereka disebuah gedung besar yang sangat indah, Miftah yang sudah tak tenang sejak dijalan tadi hanya mampu melamun sendiri.


Ia sangat tidak ingin jika mamanya hanya menghabiskan uang untuknya, tapi syukurlah. Ia jadi sedikit tenang karna tak hanya ia saja yang pergi sekarang.



     Setelah memarkirkan motor ditempat parkiran, mereka pun mulai masuk kedalam setelah lebih dulu memesan tempat lewat telpon sebelum berangkat oleh sang mama.


     "Ayo kita masuk," ajak sang mama dan mereka hanya mengangguk sambil menjawab "iya tante," sedangkan Miftah "baiklah ma."


     Sesampai didalam. Mereka disambut secara hormat oleh para pelayan yang memang sudah sangat mengenal sang mama, karna mama memang sering berkunjung kesini walau hanya sekedar berbincang dengan temannya itu.


     "Selamat datang nyonya," sambutnya sedikit membungkukkan badan.


     "Mari saya antar nyonya dan yang lainnya kemeja makan yang telah disiapkan oleh tuan saya," tawarnya lalu mereka mengikutinya.


     Diantara mereka hanya Zamrud yang terlihat biasa memandang kesekililing, karna ia sebenarnya juga sudah berapa kali ketempat ini, cuman karna kesibukannya ia jadi tidak banyak memiliki waktu untuk bermain walau hanya sekedar berkumpul dengan teman - temannya.


     Kebun burungnya yang sudah begitu luas membuatnya hampir kewalahan. Karna sekarang keluarga nya sudah memiliki banyak cabang kebun burung diberbagai tempat, meskipun jaraknya tak terlalu jauh tapi itu sudah cukup menguras tenaga Zamrud setiap harinya.


     Biasanya ketika ia masih belum dipercayakan sebagai orang yang mengurus kebun. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di lapangan basket bersama teman - temannya, bahkan grub basket mereka sudah berapa kali menang saat bertanding dengan lawan.


     Tak jarang ketika ia masih sekolah, pada hari olahraga banyak para siswi yang datang hanya untuk bersorak agar ia menjadi lebih bersemangat. Namun, bukannya tambah bersemangat Zamrud malah jadi kurang fokus saat mendengar suara bising mereka.


     Setelah berolahraga ia pun memutuskan untuk duduk sejenak sambil meminum minuman dinginnya.


     "Maaf kak! boleh aku bantu elapin keringatnya gak ?" tanyanya sedikit canggung sedangkan Zamrud hanya mengacuhkannya.

__ADS_1



     "Ya ampun... Zam - Zamku... Lo pasti capek banget ya... sini gue bantu elapin keringat yang ada di dahi lo ya..." tawar seorang gadis yang umurnya lebih tua dari gadis yang lebih dulu menghampirinya tadi.


     "Hei bocil! lebih baik lo pergi dari sini sana! Zam - Zam ini pacar gue! jadi... Mulai besok lo gak perlu menggangunya lagi! paham ?!!" sambungnya sedikit menggertak.


     Zamrud yang sudah merasa tidak nyaman langsung menepis kasar tangan sigadis yang masih sibuk mengelap keringat yang tak berhenti mengalir dari pelipisnya.


     "Lho! lo kenapa Zam? masak gue elap keringat lo aja gak boleh," ucap gadis itu sedikit memperjelas wajahnya karna merasa kecewa, tanpa pikir panjang Zamrud langsung menarik tangannya agar menjauh dari lapangan basket.


     Gadis yang umurnya terpaut lebih muda itu hanya menghentakkan kakinya ketanah beberapa kali.


     "Dasar wanita caper! umur lebih tua aja sombong," dengusnya sambil menumpahkan rasa kesalnya pada kain elap yang sudah ia genggam sejak tadi untuk membantu mengelap keringat Zamrud.


     Gadis yang ditarik hanya mampu mengolok gadis tadi "wlee... Makanya lu jadi cewek jangan sok kecakepan," hinanya merasa senang saat ditarik oleh Zamrud. Padahal ia tidak tau kalau Zamrud sedang berusaha memendam api kemarahan yang berkobar didalam dirinya.


     "Au! Zamrud! lo gak ada lembut - lembut nya ya sama cewek! sakit tau! kalau tangan gue nanti terkilir gimana?" protesnya.


     "Itu bukan urusan aye! yang aye minta sama lo sekarang cuma satu!" ucapnya dengan nafas yang menggebu - gebu.


     "Apa? oh gue tau! lo pasti sekarang udah suka kan sama gue? lo udah tertarik kan sama gue? lo udah gak bisa pisah lagi kan dari gue? karna gue selalu memerdulikan lo kan? ya ampun... Ternyata usaha rintiful alias Rinta cantik gak sia - sia dong? hello... OMG! mimpi apa gue hari ini? akhirnya ketua basket terhebat jatuh hati pada gue juga," racaunya seorang diri sedangkan Zamrud hanya mampu terheran - heran melihatnya.



     "Heh! terumbu rapuh! lo jadi cewek gak ada malu - malunya yah aye tolak berapa kali! lo harusnya bersyukur karna aye masih punya hati sama lo, akibat aye gak pernah jelekin lu didepan orang lain." geramnya yang tangannya kini sudah mengepal kuat.


     Rinta. Gadis yang masih bertahan dengan seribu kepedeannya hanya mengibaskan rambutnya asal.

__ADS_1


     "Huh! lo pikir gue gak tau apa! lo selalu berusaha bersabar menghadapi tingkah gue karna bokap lo sedang bekerja sama dengan bokap gue kan? ngaku lo," dengusnya sambil menatap Zamrud tajam.


     "Kalau iya emang kenapa? masalah gitu buat lo?" tanyanya.


     "Ya masalah lah! gue maunya lo itu selalu nurutin apa kata gue! kalau lo masih berani abaikan gue. Lo bakal tau sendiri akibatnya," ancamnya sambil menunjuk Zamrud dengan jari telunjuknya tepat didepan wajahnya.


     Zamrud yang sudah habis kesabaran hanya mampu mencengkeram erat tangan gadis itu lagi, sedangkan ia kembali berusaha agar dilepaskan.


     "Apa? lo nanti ingin memberhentikan kerja sama antara perusahaan mereka demi keuntungan sesama hanya karna lo gitu? lo egois banget sih jadi anak! gak mau ngertiin bokap lu sendiri! dalam kerja sama itu bukan hanya pihak bokap aye saja yang mendapatkan keuntungan! tapi juga bokap lo! ingat itu," jelas Zamrud, baru ia melepaskan cengkraman tangannya dari gadis itu.


     "Suka - suka gue dong, mau egois apa enggak! lagian itu kan bokap gue, jadi gak ada urusannya sama lo! jika gue minta agar bokap gue membatalkan itu semua," ucapnya tanpa rasa takut sedikitpun.


     "Lo benar - benar wanita yang gak ada bersyukur nya sama sekali! lo udah aye baikin dan perduli kan tapi lo masih berani meminta lebih atas semua perbuatan aye," resahnya.


     "Asal lo tau! gara - gara lo peduliin gue begitu! gue jadi makin cinta sama lo," ungkapnya yang kini sudah mulai berkaca - kaca.


     "Serba salah kayaknya aye dimata lo! giliran aye acuh, lo malah bilang aye ini sombong dan gak perduli sama yang lain. Dan saat aye mencoba untuk memperdulikan orang lain termasuk lo! lo malah cemburu dan sekarang lo masih berani berkata bahwa itu alasan lo jadi makin cinta sama aye?" tanyanya tak habis pikir.


     "Sorry banget ya! sampai kapan pun aye gak bakal pernah cinta sama lo. Meskipun nanti dipaksa oleh bokap aye, aye tetap gak akan pernah mau menikahi wanita seperti lo! camkan itu baik - baik! dan ingat! mulai detik ini, aye memutuskan jarak diantara kita! tidak ada lagi rasa saling menghargai antara aye dan lo! aye - aye! lo - lo! paham? " aturnya.


     Lalu Zamrud pun melangkahkan kakinya untuk pergi dari hadapan Rinta, gadis yang membuatnya terpaksa rela melepaskan wibawanya demi kesenangannya belaka, agar orang lain merasa iri melihat mereka.


     Jika bukan karna bokapnya yang memintanya agar menjaga hubungan dengan baik dangan putri rekan bisnisnya, mungkin Zamrud sudah lebih dulu mengatakan hal seperti itu tepat dihadapannya.


     "Zamrud! meskipun lo menolak gue ribuan kali, gue akan tetap mengejar lo! sampai lo bisa menjadi milik gue seutuhnya! gue gak peduli mau hati lo itu tulus mencintai gue atau enggak! yang penting gue gak akan membiarkan lo menjauh! lihat saja nanti," pekiknya sedangkan Zamrud hanya acuh dan masih terus saja berjalan menjauh hingga lenyap dari pandangan mata Rinta.


     "Sial! kenapa aku jadi teringat kenangan buruk itu?" batinnya lalu berusaha mengontrol diri agar ekpresinya tak dapat dilihat oleh orang lain.

__ADS_1


     Setelah duduk di salah satu kursi yang letaknya tepat disamping Zaldira dan Wahyu ia hanya hanya terus menatap lurus ke depan tanpa menghiraukan mereka berdua yang kini sudah menatapnya dengan penuh rasa curiga.


__ADS_2