
Sejak tadi Miftah terus saja mendengar apa yang Zaldira ceritakan padanya dengan serius. Ia juga turut merasa sedih dengan apa yang ia katakan itu, dan sama sekali tak menyangka jika Zamrud sudah menembaknya.
Dalam hati ia merasa lega karna Zamrud akhirnya bisa tak lagi mencintainya, sebab Miftah benar - benar tidak merasa pantas untuknya.
Bukan berarti Firdaus pria yang buruk hingga ia mengatakan hal itu. Tapi ia hanya tidak merasa nyaman dengan orang yang sejak dulu sudah sangat baik padanya, tanpa pamrih ia malah membantunya meski pernah sakit hati dan Miftah tidak mau jika ia sampai tak bahagia ketika salah memilih pendamping sepertinya.
Jujur! sebenarnya Miftah juga masih memiliki banyak kekurangan dan ia termasuk perempuan yang mudah rapuh juga, tapi setelah ia melewati keadaan yang begitu pahit dari situlah ia bisa berubah menjadi seorang gadis yang kuat.
Sempat dulu tumbuhan terong yang ia tanam tak pernah mau tumbuh, sekali tumbuh jika pohonnya sudah lumayan besar ujung - ujungnya akan mati sebelum bisa di panen.
Namun meskipun begitu, kakek tidak pernah bosan mengingatkannya untuk terus berusaha sampai pohon tersebut bisa bertahan dan memberikan hasil sesuai harapan.
Miftah yang pada saat itu berniat untuk menyerah karna sudah puluhan kali gagal jadi terhalang saat salah satu pohon yang di tanamnya hidup hingga mengeluarkan banyak bunga.
Dari satu pohon itu tumbuhlah banyak buah terong yang sangat besar dan terlihat begitu licin, hingga rasa keingintahuannya jadi berkobar - kobar.
Ia mencoba mencari banyak cara agar bibit bisa tumbuh seperti itu lagi, hingga akhirnya pekerjaan itu membuat hatinya jatuh cinta dan tak bisa lepas menjadi seorang petani terong.
Kakek dan nenek jadi senang saat melihat raut wajah Miftah yang selalu tampak bahagia ketika kakinya sudah menginjak tanah kebun belakang rumah yang sedikit lembab.
Ia yang sempat melamun jadi terkejut saat Zaldira menegurnya.
"Kaka, Kaka kenapa bengong? apa cerita Zaldira membosankan ya?" tanyanya merajuk.
"Eh! enggak kok dek... Tadi Kaka hanya memikirkan jawaban untuk cerita adek tadi," jawabnya terpaksa berbohong sambil tersenyum Pepsodent.
"Ah Kaka... Yang benar?" selidiknya sambil memanyunkan bibirnya.
"Iya adek Kaka... Mana mungkin Kaka bohong sih sama kamu..." ucapnya meyakinkan.
"Oke deh kalau gitu," responnya mengangguk.
"Jadi gimana kak saran Kaka?" sambungnya.
"Saran Kaka sih lebih baik kamu kasih tau aja dek... Soalnya kalau mendadak takutnya dia malah kesal dan sedih sama adek... Jadi kayak merasa gak penting gitu... Karna adek kan akan meninggalkan dia," jelas Miftah.
"Iya juga sih Kaka... Kak Zamrud pasti sedih banget..." resahnya berkaca - kaca lalu menumpahkan bola kristal tersebut.
"Iya dek... Tapi kalau yang masalah kamu apa sempat datang atau tidak di acara pernikahan Kaka, itu gak papa dek... Karna kita kan bisa Vc aja nanti... Kaka gak akan memberatkan adek kok..." ucapnya sambil tersenyum.
"Iya tapi kan Zaldira juga ingin hadir langsung melihat acara ijab kabul dan bersalaman sama Kaka di pelaminan Kaka dengan kak Firdaus nantinya." sedihnya.
"Iya dek... Kaka juga tau kalau adek sangat menginginkan hal itu, tapi ketidakhadiran adek di acara Kaka kan bukan sepenuhnya kemauan adek, karna adek masih punya mimpi yang harus adek kejar." jelasnya.
__ADS_1
"Jadi adek gak perlu merasa tidak enak ya sama Kaka... Kaka cuma minta agar adek fokus sama masa depan adek... Itu aja Kaka udah senang kok tanpa hadirnya adek di acara Kaka nanti jika niatmu untuk kuliah di negri orang lain." sambungnya.
"Syukurlah kalau begitu, baik Kaka! adek akan fokus sama impian adek dan nanti juga akan berusaha berani mengatakannya pada kak Zamrud." putusnya.
"Oke dek," responnya sambil menyipitkan matanya.
Tiba - tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya.
Zaldira langsung meminta izin pada Miftah untuk mengakhiri Vc mereka malam hari ini.
Usai keduanya saling mengucap dan menjawab salam, baru ia bergegas untuk membuka pintu.
Tenyata yang mengetuk pintunya adalah ibunya.
"Eh ibu, ayo Bu masuk aja kalau mau." tawarnya sambil tersenyum.
Ibunya jadi bingung ketika melihat perubahan sikap anaknya yang tadinya tampak terlihat seperti orang yang marah besar.
"Kamu gak lagi marah sama ibu dan ayah kan nak?" tanyanya sambil membelai pipi putrinya penuh kasih sayang.
Putri kecil mereka satu - satunya yang kini sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik dan tak lama lagi akan meninggalkan mereka.
Sebenarnya ini juga berat bagi dirinya dan suaminya, namun meskipun begitu mereka tetap harus kuat karena masalah biaya yang tidak mencukupi.
Lamunannya jadi pecah saat Zaldira menjawab pertanyaannya.
"Marah? enggak lagi kok Bu, Zaldira udah senang banget karna abis telponan dengan kak Miftah dan apakah ibu tau?" tanyanya bersemangat.
"Tau apa sayang?" tanyanya bingung sambil mengerutkan dahinya.
"Kak Miftah tiga hari lagi akan menikah Bu, Zaldira juga di undang untuk menghadiri acara kakanya yang akan di gelar dengan sangat mewah kemungkinannya." beritahunya.
Ibu Zakia sangat terkejut saat mendengar apa yang di katakan oleh putrinya itu, ia jadi bingung untuk meresponnya seperti apa nantinya.
Karna rencana penerbangannya akan di lakukan tiga hari lagi.
Ia benar - benar tidak ingin membuat putrinya bersedih karna tak bisa hadir di pernikahan Kaka yang sempat menjadi guru ngajinya juga dengan penuh keikhlasan tanpa meminta imbalan.
"Ibu," ucap Zaldira yang lagi - lagi membuat lamunan ibunya buyar dalam sekejap.
"Ibu kenapa bengong?" tanyanya sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Enggak apa - apa kok nak... Ayo kita ke ruang tamu dulu yah... Karna ayahmu juga ingin berbicara padamu," ajaknya sedikit menarik tangan putrinya.
__ADS_1
"Baik ibu, ayo!" angguknya yang kini sudah lebih dulu berjalan untuk pergi ke ruang tamu.
Ibunya hanya bisa menggelengkan kepala kesana kemari saat melihat tingkah anaknya itu.
Sesampai disana Zaldira bisa melihat jika ayahnya sedang duduk di sofa sambil menyeruput secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap lalu meniupnya kembali.
"Ayah!" seru Zaldira yang membuat ayahnya terkejut dan hampir menumpahkan kopi yang ada di tangannya.
"Ya ampun Zaldira... Hampir aja kopi ayah jatuh! akibat seruanmu itu putriku," resah ayahnya lalu menaruh dengan hati - hati diatas meja.
"Jadi ibu sama ayah ingin bicara apa lagi?" tanyanya tanpa berbasa - basi saat ibunya sudah duduk di samping suaminya, sedangkan ia duduk sendiri di atas sofa yang ada di hadapan mereka.
"Jadi begini Zaldira, dua hari lagi kamu kan lulus SMA, lalu besoknya kamu harus terbang terus ke negri yang di tinggali oleh pamanmu." jelas ayahnya.
"Iya yah! Zaldira paham, Zaldira pun tidak akan menolak karena Zaldira tau jika biaya kuliah itu tidaklah mudah, jadi selagi Zaldira memiliki kesempatan Zaldira tidak akan menyia - nyiakan nya demi kalian berdua." putusnya mantap.
Ibu dan ayah Zaldira sampai tak menyangka saat mendengar apa yang di ucapkan oleh putri mereka, mata mereka saja sampai berkaca - kaca di buatnya.
Istrinya yang teringat tentang hari pernikahan Miftah yang baru saja diberitahukan oleh putrinya langsung membisikkan hal itu pada suaminya.
"Benarkah? untung saja ayah belum membelinya tiket," senangnya.
"Ibu sama ayah kenapa? kok cuma ngomong berdua?" tanyanya penasaran.
"Zaldira sayang... Ada kabar gembira yang ingin ibu dan ayah beritahukan padamu," ucapnya sambil tersenyum.
"Apanya itu Bu?" tanyanya.
"Jadi kamu bisa berangkatnya di sore hari, hingga kamu gak perlu takut untuk gak dapat hadir di pernikahan orang yang sejak dulu sudah tulus menjadi guru mengajimu." jawab ibunya.
Zaldira sangat terharu saat mendengarnya, ia bahkan sampai membekap mulutnya dengan kedua tangannya sambil menahan senyuman tangisan haru yang tak lama lagi akan mengalir di pipinya.
"Alhamdulillah... Makasih banyak ibu, ayah! Zaldira sangat senang saat mendengarnya... Meskipun awalnya Zaldira udah coba mengikhlaskan, tapi Allah ternyata begitu baik ingin memberikan jalan untuk Zaldira." senangnya lalu bangkit dan berjalan kearah orang tuanya.
Acara pelukan erat pun terjadi dengan linangan air mata. Lidahnya tak pernah bosan mengucap rasa Syukur pada Allah, dan kini rasa cinta di hatinya untuk-Nya jadi semakin besar.
"Thanks ya Allah," batinnya sambil tersenyum.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
__ADS_1
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇