Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 155


__ADS_3

     Di perjalanan pulang Miftah tampak mematung sambil menatap lurus ke depan. Entah kenapa hatinya jadi timbul sebuah perasaan ragu untuk menikah dengan Firdaus, sebuah kekhawatiran yang begitu menghantuinya.


     "Aku gak nyangka, tak lama lagi aku pasti akan di panggil dengan sebutan nyonya Miftah jika sudah menikah dengan Firdaus." batinnya.


     "Aku gak tau, kenapa perasaan ragu ini tiba - tiba saja muncul? padahal hatiku sempat sudah begitu yakin."


     "Aku gak tau, apakah rumah tangga kami nanti akan berjalan dengan baik."


     Bayangan - bayangan buruk terus saja menari - nari di dalam kepala Miftah yang matanya sudah mulai berkaca - kaca.


     Tanpa sadar satu tetes air mata sudah jatuh di atas jilbabnya hingga membekaskan tanda titik.


     Firdaus yang sejak tadi sibuk mengemudi jadi terkejut saat melihat Miftah yang sudah menangis tanpa suara di sampingnya.


     Hanya ada suara hatinya yang terus menerus menjerit untuk mengusir semua pikiran buruk hingga membuatnya begitu ketakutan.


     Di tinggalkan


     Di jauhkan


     Dan di acuhkan


     Lagi - lagi ia hanya menggeleng - gelengkan kepalanya kesana kemari.


     "Ra-ratuku! kamu kenapa Ratuku?" tanya Firdaus panik.


     Miftah seakan tuli dengan apa yang Firdaus ucapkan, pikirannya benar - benar kosong untuk saat ini.


     "Ratuku! tolong jawab aku, kamu sebenarnya kenapa?" tanyanya yang berusaha fokus menyetir dengan tatapan yang berulang kali melihat ke arah Miftah.


     "Ada apa dengannya? kenapa ia terlihat begitu sedih sampai menangis, apa sesuatu sudah terjadi padanya?" batinnya merasa cemas.


     Karna sangat khawatir akhirnya Firdaus memilih berhenti di tempat yang aman tanpa adanya kendaraan yang melaju dengan kencang.


     Miftah yang merasa jika mobilnya sudah berhenti berjalan jadi tersadar dari lamunannya.


     "Lho Kaka, apa kita sudah sampai?" tanyanya dengan suara serak tanpa melihat ke arahnya.


     "Belum," jawabnya.


     "Lalu? kenapa kita berhenti kak?" herannya.


     "Ratuku! aku tidak akan pernah bisa fokus menyetir jika kondisimu seperti ini..." jawabnya.

__ADS_1


     "Kondisi apa sih kak..? orang Miftah baik - baik saja," responnya berusaha menghapus air matanya.


     "Ratuku! kamu pikir Rajamu ini bodoh apa hingga mudah di tipu olehmu? yang benar saja," geramnya.


     "Tunggu! Miftah benar - benar gak ngerti apa yang Kaka katakan deh," resahnya.


     "Ratuku! tadi aku melihat ada banyak air mata yang jatuh dari pipimu, apa kamu pikir dengan cara kamu menunduk itu dapat membuatku tak mengetahui tangisanmu dalam diam itu?" beritahunya.


     "Iya Kaka benar, tapi aku menangis karna mataku kelilipan tadi dan sulit untuk di buka hingga aku harus terus menunduk." elaknya terpaksa berbohong.


     Firdaus hanya mampu menghembuskan napas kasar saat mengetahui jika Miftah hanya membohonginya.


     "Ratuku! aku tau kamu mungkin sedang memikirkan sesuatu yang mampu membuat mu bersedih, apakah kamu masih meragukan aku sebagai calon suamimu hingga kau tak ingin menceritakannya padaku?" tanyanya yang sontak saja membuat jantung Miftah berdengung sangat kencang.


     "Kenapa tebakannya benar sih?" batinnya merasa resah.


     "Kaka, aku tau Kaka sudah dewasa dan tidak mudah juga bagiku untuk menipu kaka." responnya.


     "Nah! itu kamu tau, lalu?" tanyanya sambil menatap dalam bola mata Miftah yang juga menatapnya.


     "Matamu saja sampai merah begitu, aku yakin banget pasti ada sesuatu yang sedikit memberatkanmu dan cobalah untuk menceritakannya padaku." pintanya.


     "Aku pasti siap kok untuk menjadi pendengar yang baik untukmu," ucapnya meyakinkan.


     "Kak... Terkadang setiap orang itu punya alasan untuk menangis, dan tak semua tangisan itu sanggup untuk di ungkapkan menjadi sebuah kata - kata apa lagi kalimat." responnya.


     "Jadi kau lebih memilih memendamnya saja Ratuku? hingga kamu hanya menanggung beban pikiranmu sendiri?" tebaknya dan Miftah mengangguk membenarkan.


     "Tapi kenapa Ratuku?" tanyanya sedih.


     "Aku tidak bisa mengatakannya pada Kaka, aku gak mau Kaka sampai sakit hati saat mendengarnya." jawabnya yang membuat Firdaus semakin penasaran.


     "Miftah! apa pun yang kamu katakan itu aku akan tetap berusaha untuk menerimanya, jadi lebih baik kamu ungkapkan saja supaya aku bisa merasa tenang." desaknya sambil menaruh satu tangannya di pundak Miftah.


     Miftah hanya melihat tangan Firdaus yang berada di pundaknya sebentar, lalu kembali menatap kearahnya.


     "Kaka serius mau tau?" tanyanya memastikan.


     "Iya Kaka seriuslah Ratuku," jawabnya mengangguk.


     "Aku harap Kaka dapat memahaminya setelah aku mengungkapkannya," ucapnya.


     "Akan aku usahkan Ratuku," responnya tak ingin memalingkan tatapannya dari wajah Miftah.

__ADS_1


     "Kak! jujur! disaat hari yang begitu membahagiakan bagi kita hampir tiba, aku sekarang malah merasa ragu dengan perasaanku sendiri kepadamu kak." ungkapnya.


     Tubuh Miftah kini sudah tampak bergetar tak karuan, lagi - lagi tangisan yang tak di undang jatuh di pipi indahnya tanpa bisa untuk di tahan.


     Ini adalah kali kedua Miftah merasa ragu akan perasaan nya sampai harus menangis di dalam mobil.


     "Ratuku! aku tau tak mudah bagimu untuk menerimaku seutuhnya berada di hatimu, setelah apa yang aku lakukan kepadamu dan aku juga mengakui jika perbuatanku saat itu benar - benar begitu keji." resahnya.


     "Tapi perasaan yang ada di hatiku ini untuk mu begitu nyata Ratuku," sedihnya.


     Ia kini mengambil satu tangan Miftah lalu menaruhnya tepat di tengah dadanya dan membiarkannya menempel beberapa saat.


     "Coba kamu rasakan! jantungku saat ini sedang berdengup begitu kencang saat aku sudah bersamamu, namun aku terus berusaha untuk bersikap tenang jika sudah berada dihadapanmu." jujurnya.


     "Apakah kau masih ingat kata - kataku saat kita sedang di dalam mobil beberapa minggu yang lalu?" tanyanya hingga Miftah hanya menggeleng.


     "Ya sudah lupakan," sambungnya tak ingin ambil pusing.


     "Ratuku yang cantik... Coba sekarang kamu dengarkan apa yang Rajamu ini katakan ya..." pintanya dan Miftah hanya mengangguk.


     "Aku harap kamu masih mau menerimaku dan tak berniat membatalkan rencana pernikahan kita ini, karna aku tulus ingin menghapus luka yang menganga lebar di hatimu itu." yakinnya.


     Miftah jadi terharu saat mendengar kata - kata Firdaus, tapi rasa gelisah itu masih saja enggan untuk pergi menjauh dari pikirannya.


     "Kaka-" jedanya.


     "Aku minta maaf ya karna udah buat Kaka cemas sama aku, aku tidak seharusnya membuat Kaka khawatir denganku. Entah kenapa suasana hatiku saat ini sedang sangat buruk kak... jadi aku masih agak sulit untuk mengontrolnya," ungkapnya menyesal.


     "Iya Kaka paham Miftah... Sekarang lebih baik kamu tenangkan saja dirimu ya... Kaka gak akan tanya alasanmu merasa ragu kepada Kaka secara detail." ucapnya menenangkan.


     "Makaksih banyak ya Kaka..." responnya sambil tersenyum.


     "Iya Ratuku... Gak masalah kok," senyumnya lalu kembali menyalakan mobil untuk lanjut mengemudi.


     "Jangan sedih lagi yah... Ayo senyum... Ratuku kan bukan gadis yang cengeng! apa lagi lemah," hiburnya lalu melajukan mobilnya kembali menuju ke rumah yang jaraknya sudah tidak terlalu jauh lagi.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇

__ADS_1


__ADS_2