
"Ratuku, ayo kita turun." ajak Firdaus saat sudah sampai di depan sebuah butik yang lumayan mewah.
"Baik kak," angguknya patuh lalu turun dari dalam mobil.
Saat Miftah sudah keluar dan menutup pintu mobil baru ia melangkah untuk menghampiri Firdaus.
Mata Miftah yang tak sengaja melihat ke atas gedung toko yang bertulisan Nyonya Dahra menjadi terkejut dalam sesaat.
"Maaf kak, nama toko ini sama kayak nama mama! apa jangan - jangan toko yang pernah mama maksud itu ini kak?" tanyanya sambil menunjuk ke arah ukiran nama tersebut.
"Kamu ternyata cukup cekatan ya dalam hal apa pun," pujinya sambil menatap penuh senyuman ke arahnya.
"Ah! enggak juga kok Kaka... Tadi Miftah cuma gak sengaja doang kok liatnya," respon nya merendahkan diri.
"Iya deh... Ratuku ini memang rendah hati, makanya gak pernah suka kalau terlalu di puji." hiburnya dan Miftah jadi tersenyum.
"Yaudah lebih baik ayo kita masuk aja kedalam," ajak Firdaus sambil menarik tangannya.
Toko tersebut sangatlah luas dan ada banyak para pengunjung yang sibuk berjalan ke sana kemari untuk memilih baju yang pas di bawa pulang kerumah.
Para karyawan yang awalnya sibuk melayani pembeli saat melihat kedatangan Firdaus beberapa tampak tergesa - gesa untuk menghampirinya.
"Selamat datang tuan Firdaus, apa ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu dari mereka sambil menaruh satu tangan di dada dengan tubuh yang sedikit membungkuk.
"Ya! tentu saja, tolong carikan gaun pengantin yang paling bagus untuk calon istri saya." jawabnya sambil tersenyum tipis.
Tatapan mereka langsung tertuju pada Miftah yang sedang berdiri tepat di samping Firdaus.
Ada yang menatapnya dengan tatapan kagum, biasa bahkan sedikit kesal. Tapi mereka sadar diri akan status mereka sendiri yang hanya bertugas sebagai pelayan di toko mamanya Firdaus.
"Ayo nona Miftah ikut kami ke ruangan gaun pengantin," ajak pelayan satu sambil mengulurkan tangannya kedepan.
"Baiklah," responnya lalu berjalan mengikuti langkah kakinya sedangkan yang lain sudah sibuk kembali melayani para pembeli lainnya.
Seumur hidupnya Miftah belum pernah masuk kedalam toko gaun semewah ini, kecuali baju mewah biasa dan bukan untuk ke pesta.
"Nah nona! di sini terdapat 500 baju gaun yang beraneka ragam. Nona bisa memilih salah satu dari sekian banyaknya baju gaun yang ada di sini," tawarnya.
Miftah sampai terbatuk - batuk saat mendengarnya.
"Ya ampun! 500 baju gaun? yang benar saja," batinnya kaget bukan main.
__ADS_1
Pelayan yang melihat Miftah termenung sendiri dengan hati - hati mencoba menyadarkannya.
"Maaf nona, nona!" ucapnya sambil menepuk pundak Miftah berulang kali.
Miftah yang baru tersadar dari lamunannya hanya mampu tersenyum kikuk di hadapan beberapa pelayan itu.
"Aduh... Gimana ya! saya agak bingung kalau disuruh pilih salah satu dari 500 gaun yang ada disini," jujurnya.
Firdaus yang paham jika gadisnya sedang kesulitan memutuskan untuk membantunya memilih gaun yang pas di kenakan oleh mereka nantinya.
"Kalau enggak gini aja Ratuku! coba kamu minta mereka untuk mengeluarkan lima gaun yang sesuai dengan selera kamu, nanti kamu tinggal pilih aja deh salah satu." usul Firdaus yang sukses membuat mata Miftah berbinar sempurna.
"Wah... Ide yang bagus itu Kaka! Miftah gak nyangka ternyata Kaka selain tampan-" jedanya.
"Selain tampan apa ayo..." desak Firdaus penasaran.
"Hmmm... Kasih tau apa enggak ya..." godanya sambil mengetuk - ngetuk bibirnya dengan jari telunjuknya berulang kali.
"Ya kasih taulah Ratuku... Masak iya enggak sih... Nanti Rajamu ini merajuk lho..." responnya sambil menaruh tangannya di sebelah pundak Miftah dengan wajah yang memelas bagai anak kecil yang meminta permen.
Tanpa mereka sadari para karyawan sejak tadi terus memerhatikan mereka sambil menahan rasa geli di hati yang ingin tertawa saking lucunya tingkah mereka.
"Ya yakinlah... Masak iya enggak sih... Kalau gak yakin ngapain juga aku langsung tanya ke kamu Ratuku..." resahnya.
"Iya deh iya Miftah percaya..." responnya hingga Firdaus dapat menarik napas lega.
"Jadi apa?" tanyanya lagi.
"Gak sabar banget sih!" geram Miftah lalu jadi terkekeh kecil setelahnya.
"Ya kan kamu tau sendiri kalau Rajamu ini masih dalam hal belajar tentang cara bersabar Ratuku..." responnya sambil memegang dahinya.
"Hadeh... Ada - ada aja Kaka ini," dengusnya dengan napas kasar.
"Ya maaf Ratuku..." responnya sambil menggaruk tekuknya yang tak gatal.
Lagi - lagi kini Miftah memilih untuk mengalah dengan Firdaus.
"Jadi sambungannya adalah... Selain tampan Kaka ternyata tidak bodoh," sambungnya sambil menatap ke arahnya.
"Hmmm... Jadi kamu selama ini mengira kalau aku itu bodoh ya Ratuku?" sedihnya mulai muram.
__ADS_1
"Eh! kata siapa? enggak kok Kaka..." responnya berusaha menjelaskan.
"Kamu jangan coba - coba bohongi Kaka ya..." ancamnya dengan tatapan tajam.
"Kaka ternyata terlalu serius! Miftah jadi males deh becanda sama Kaka," dengusnya bergegas meninggalkan nya untuk menuju ke arah Karyawan yang masih setia berdiri di tempat awal mereka masuk dan melangkahkan kaki ke dalam.
Buru - buru mereka bersikap biasa saja sebelum ketahuan menguping dan menonton adegan mereka sejak tadi.
Saat sudah sampai di hadapan mereka Miftah langsung menyebutkan beberapa ciri - ciri gaun yang ia inginkan.
Intinya ia menyukai gaun putih yang kembang dan tidak terlalu tembus pandang saat di pakai, karna ia benar - benar tidak rela jika salah satu anggota tubuhnya harus terlihat jelas nantinya.
Mereka yang sudah mendengar apa yang di pinta oleh Miftah dengan teliti bergegas mencari gaun yang di inginkan tersebut.
Tanpa menunggu waktu lama mereka yang dapat dengan mudah membayangkan gaun sesuai permintaan Miftah bergegas membawa kehadapannya dan Firdaus.
Mereka masing - masing membawa lima potong baju dan ada juga yang paling menarik minat Miftah, hingga akhirnya pilihannya jatuh pada gaun kembang panjang lengan dengan bagian bawah yang sangat kembang.
"Kaka Firdaus, bagaimana kalau aku pilih yang ini? apakah ini bagus?" tanyanya meminta pendapat darinya.
Firdaus yang sejak tadi hanya diam menunggu langsung menoleh ke arah gadisnya yang sedang berbicara padanya.
"Pilihan yang tepat Ratuku! sejak tadi pandanganku lebih banyak mengarah ke arah gaun itu juga, cuma aku tidak ingin langsung mengangkat suara karna takut kamu malah memilih pakaian sesuai keinginanku bukan dari keinginanmu." jawabnya.
"Wah... Berarti kita sehati dong kak," ceplosnya tanpa sadar lalu menyuruh mereka membungkus kan gaun itu untuk di bawa pulang.
Mereka mengangguk patuh sambil menjawab "baik."
"Kak! sekarang kita tinggal mencari pakaian pengantin untukmu," usul Miftah.
"Tidak perlu Ratuku! yang penting kamu sudah memilih gaun wanitanya, jadi mereka tinggal mencari pasangan dari gaun itu saja." responnya.
"Oh... Jadi gitu... Baiklah Kaka..." ucapnya sambil tersenyum lalu mereka pun keluar dari ruangan itu usai gaun mereka di kemas untuk menuju ke mobil tanpa perlu membayarnya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇
__ADS_1