
Matahari sudah naik semakin tinggi, cahaya teriknya makin lama semakin membakar apa saja yang diterpanya, tapi walau pun begitu hal itu tidak menjadi masalah sama sekali bagi dua orang wanita yang sedang menaiki sepeda motor.
Mereka masih saja asik bercanda tawa tanpa menghiraukan kaadaan sekitar, toh! mereka pun tidak menggangu orang lain dengan suara yang besar.
Saking asyiknya mereka sampai tak menyadari bahwa ada dua sepeda motor yang sejak tadi membuntuti mereka dari belakang hingga mereka sampai dirumah Miftah.
Saat Miftah turun dari motor ia hampir saja jatuh terjungkal saking terkejutnya saat mendapatkan tiga sosok manusia sedang berdiri dihadapannya dengan senyuman lebar.
"Astagfirullah... Kalian ini! bikin jantungku mau copot saja," dengusnya sambil merasakan denyutan jantung nya yang mulai berolahraga, lalu ia pun mulai melepaskan helmnya dan menaruhnya dikaca spion.
Sang mama yang baru saja memarkirkan motor dan menaruh helm digantungan stang juga ikut terkejut saat melihat penampakan yang lebih dulu di lihat oleh Miftah.
"Halo Kaka cantik! perkenalkan aku abangnya Miftah," ucapnya dengan seribu kepedean.
"Kaka! benar - benar deh! baru juga ketemu tapi PD mu masih aja gak ada obatnya," bisik Zaldira ditelinga Zamrud.
"Terlalu bersemangat aku! habisnya kakanya cantik banget," ucapnya sambil terkekeh pelan.
"Dasar! matamu itu memang harus disteples dulu kali yah," ucap Wahyu ikut mengangkat suara.
"Diem lu! aye lagi gak ada mood buat ledenin lu," tatapnya tajam.
"Terserah!" respon Wahyu yang memang sudah bodo amat dengan kelakuan temannya yang sudah berdarah daging itu.
Miftah hanya mampu memegang dahinya yang telah berdenyut pelan saking tak habis pikirnya dengan mereka yang ketika bertemu tidak jauh - jauh dari kata pertengkaran.
Miftah yang tak habis pikir mulai menarik tangan Zamrud untuk sedikit menjauh dari mereka.
"Mau kemana sayang?" tanya sang mama mencegah gerakan Miftah.
"Entar dulu yah ma... Miftah masih ada urusan dengan Kaka Miftah," jawabnya lalu langsung melanjutkan kembali keinginannya.
Ketika sudah dirasa sedikit jauh baru Miftah angkat suara.
"Kaka! Kaka tau gak itu siapa?" tanya Miftah sedikit kesal dengan sikap Zamrud.
__ADS_1
"Enggak," jawabnya singkat.
"Emangnya itu siapa?" sambungnya lagi tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Kaka... Itu adalah ibu dari calon suami Miftah... Namanya Firdaus," jelasnya dan Zamrud jadi terbelalak saking terkejutnya.
"Apa!" ucapnya tak percaya.
"Makanya itu Kaka jangan asal ceplok aja bilang Kaka - Kaka! beliau aja dirumah dipanggil nyonya sama asistennya, masak ia kaka main panggil sesuka hati menurut tebakan Kaka." omelnya.
"Iya - iya... Kaka salah..." mengakunya sambil menunduk.
"Udah gak usah murung gitu! entar kegantengan Kaka hilang," hiburnya sambil tersenyum.
"Aku hanya gak mau nanti Kaka malah nampak salting," jelasnya.
"Hmmm... Ya udah kalau gitu! lagian mukanya babyface banget sih," jujurnya dan Miftah hanya memaklumi saja karna apa yang dikatakan Zamrud memang benar.
"Tega kamu," respon Zamrud dan Miftah hanya tertawa lalu berlalu ketempat semula.
"Oh iya! perkenalkan ini Nyonya Dahra... Beliau adalah istri dari tuan Alterio," jelasnya yang membuat Zamrud jadi semakin terkejut.
"Pak Alterio! bukannya beliau adalah seorang pemilik perusahaan perkantoran yang sangat terkenal dikota ini?" pikirnya.
"Kok bilangnya nyonya sih sayang? kan mama udah pernah bilang sama kamu," komen sang mama tak terima.
"Iya ma... Itu kan cuma Miftah yang mama izinin... Yang lain mama juga panggilnya?" tanya Miftah.
"Ya enggak sih... Kan cuma kamu calon mantu mama... Jadi cukup kamu aja yang boleh! yang lain silahkan panggil tante Dahra aja," jawab sang mama.
"Baiklah! semuanya kalian bisa panggil mamaku dengan panggilan tante Dahra ya..." beritahu Miftah.
"Sip!" respon Wahyu sambil mengancungkan satu ibu jarinya.
__ADS_1
"Oke!" sambung Zaldira tak mau kalah sambil membuat jari seperti isyarat apa yang ia katakan sedangkan Zamrud masih sibuk dengan pikirannya.
"Kaka!" seru Zaldira hingga membuat Zamrud terkejut.
"Eh! bikin kaget aja kamu," resah Zamrud.
"Lagian Kaka sih! udah tau tadi kak Miftah lagi memperkenalkan! tapi Kaka malah bengong aja," dengus Zaldira.
"Sekarang Zaldira mau tanya! apa coba panggilannya?" ujinya sambil menatap tajam kearah Zamrud sedangkan orang yang ditatap hanya menyengir saja sambil menggelengkan kepala.
"Tuh kan! Kaka gak tau," responnya semakin geram.
"Sudah - sudah... Lebih baik mari kita masuk aja," ucap Miftah agar pertengkaran itu tidak semakin panjang.
Dengan perasaan dongkol Zaldira pun mulai melangkahkan kakinya hendak mengikuti Miftah dan juga Wahyu yang sudah lebih dulu menyusul, namun langkahnya terhenti saat Zamrud menahan tangannya.
"Enak banget kamu! abis ngomel main tinggalin aja!" ucap Zamrud sambil menatap sengit kearah Zaldira.
"Lha! emangnya kenapa kalau aku main tinggal - tinggal aja? toh Kaka pun ngeyel waktu dibilangin dari tadi! jadi aku gak peduli," responnya sambil menepis tangan Zamrud.
"Pokoknya aku gak peduli! jalan barengan! anggap aja itu untuk menembus kesalahan kamu yang membuat kuping aku hampir panas dengarnya," ucap Zamrud yang tatapan matanya tak lepas dari Zaldira.
"Hahaha! enak banget ya jadi Kaka! main atur sana atur sini! tapi sayang aku bukannya cewek yang mudah nurut sama laki - laki! apa lagi modelan Kaka! karena aku gak selemah apa yang Kaka pikirkan jadi jangan pernah mencegah gerakan ku lagi! mengerti?" dengus Zaldira.
"Oh! gitu yah? tapi aku gak peduli," responnya lalu kembali menggenggam tangan Zaldira dan menyeretnya untuk ikut berjalan bersamanya.
"Aduh!" rintihnya saat kakinya tiba - tiba saja di injak oleh Zaldira yang langsung saja berlari saat genggaman erat dari zamrud terlepas.
"Sudah aku bilang aku gak selemah apa yang Kaka pikirkan! tapi Kaka masih saja menganggapku remeh! jadi rasakan itu," ucapnya yang tanpa rasa takut sedikitpun akibat perbuatannya tadi lalu langsung bergegas pergi dari hadapan Zamrud yang masih merintih.
Ya bukan Zaldira namanya jika tidak memiliki kepribadian yang heboh dan bodo amat dengan pria, tak jarang ia terkenal dengan gadis yang pemarah dan sedikit sadis dengan lawan bicaranya jika masih berani mengganggu nya.
Itulah yang membuat para pria sedikit menghindar dan tak berani mencari masalah dengannya, yang ada mereka malah kena semburan maut dari bibir Zaldira hingga membuat kuping mereka sedikit panas.
Walau pun begitu tak sedikit pula yang masih caper terhadapnya, meskipun mereka tau Zaldira tak pernah sedikitpun merespon apa yang mereka perbuat di hadapannya.
__ADS_1
Ia sangat sering beradu mulut dengan pria yang kadang sangat ngeyel ketika diperingatkan hingga ia harus sedikit menggertak ketika berbicara sampai silawan terdiam dalam kekalahan.