Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 81


__ADS_3

             🍃 Keesokan harinya 🍃


     Miftah yang sudah siap dengan pakaian hitam putihnya langsung keluar dari kamar dengan sebuah tas selempang tak lupa map yang berisi persyaratan untuk melamar pekerjaan sebagai mandor.


     Saat kakinya hendak menapaki anak tangga pertama tiba - tiba saja sosok yang membuatnya geram setengah mati semalam sudah ada dibelakangnya.


     Ia terus saja berjalan menapaki satu persatu anak tangga tanpa berniat  memalingkan wajahnya kebelakang.


     "Hei Ratuku! aku penasaran! kamu mau nyamar gimana sih? jadi makin cantik ya? perasaan itu malah membuat mu makin terlihat sama," komennya.


     Miftah masih saja berjalan tanpa menghiraukan pendapatnya.


     Tangannya tiba - tiba saja dicekal oleh Firdaus. Miftah hanya diam, ia malah bingung. Jika ia berbalik, pasti Firdaus tak hanya mengintrogasinya saja, ia pasti akan mengeluarkan undang - undang buatannya juga.


     Miftah masih terus meronta - ronta agar terlepas dari cekalan Firdaus.


     "Kaka! selamat Kaka udah buat aku banyak terbakar emosi! aku diam karna aku gak mau lagi adu mulut dengan Kaka! jadi plis... Kali ini aja! lepasin aku kak," pintanya memohon dengan mata sendu.


     Firdaus yang menyadari jika sikapnya sudah berlebihan perlahan - lahan mulai melonggarkan cekalan tangannya dari Miftah.


     "Sakit gak?" tanya Firdaus dan Miftah hanya diam sambil mengusap pergelangan tangannya yang sudah memerah.


     "Sudah! lupakan saja yah Kaka! ayo kita ke meja makan aja! aku gak papa kok! cuma merah sedikit," jawabnya lalu menarik tangan Firdaus untuk ikut berjalan bersamanya.


     Saat mereka hampir sampai keruang makan baru Miftah melepaskannya sebelum di lihat oleh mama dan papa karna ia tidak sanggup menanggung rasa malu jika digoda nantinya.


     "Lho! kok dilepas sih?" tanya Firdaus merasa kecewa.


     "Kak... Disana kan ada mama dan papa... Kaka gak mau kan kalau nanti kita digoda sama mereka..." ucap Miftah sangat lembut.


     Ia menatap teduh ke arah Firdaus, hingga membuat orang yang ditatap jadi merasa luluh dan tersentuh saat mendengar tuturannya.


     "Oke deh! terserah kamu aja," responnya balas menatap mata Miftah yang membuatnya ikut merasakan keteduhannya.


     Sesampai dimeja makan mereka duduk dengan tenang.


     "Eh! putra dan mantu mama udah datang," sambut sang mama sambil tersenyum ke arah mereka.


     "Iya ma," respon mereka secara bersamaan.


     "Hahaha! pagi - pagi udah kompak aja jawabnya," ucap sang mama hingga membuat Miftah dan Firdaus jadi saling tatap sebentar lalu kembali menatap lurus kedepan.


     "Oh iya sayang! dua hari ini kayaknya kamu kalau pakai baju pagi kayak resmi banget gitu," heran sang mama sambil menompang dagunya pada sebelah tangannya.


     "Hehe! iya ma! soalnya hari ini Miftah berniat untuk melamar kerja ma," jujurnya.

__ADS_1


     "Lho... Kamu mau kerja? kenapa gak ikut bisnis pakaian aja kayak mama... Meskipun karyawan mama udah banyak banget kalau cuma masukin kamu aja mama kan bisa," tawar sang mama dan Miftah hanya menggeleng sopan.


     "Gak papa ma... Lagian Miftah juga sudah menemukan pekerjaan yang sesuai dengan kepribadian Miftah selama ini," tolaknya secara halus.


     "Memangnya pekerjaan apa itu Miftah," tanya sang papa usai mengunyah sesendok makanannya.


     "Mandor panen pa," jawab Miftah.


     "Apa? mandor panen? apa kamu gak capek sayang? itu kan pekerjaan yang cukup berat! kamu pasti harus mengontrol para pekerja lainnya meskipun cahaya matahari sangat terik! terus kalau tiba - tiba hujan deras gimana? mama gak mau mantu mama sakit! lagian beberapa hari lagi kamu juga bakal menikahi putra mama... Dia kan CEO yang sangat kaya... Masak ia dia gak sanggup mencukupi semua kebutuhanmu! jadi jangan ambil pekerjaan yang berat lah sayang..." ucap sang mama panjang lebar.


     "Maaf ma... Bukannya Miftah gak mau terima pekerjaan yang mama tawarkan... Miftah kesana juga mempunyai sebuah tujuan... Jadi Miftah minta doa dari papa dan mama..." ucapnya.


     "Memangnya apa tujuanmu sayang?" tanya sang mama.


     Miftah hanya diam, ucapan tersebut tiba - tiba terlepas saja dari bibirnya, ia sangat sulit memendam untuk saat ini.


     Firdaus yang melihat raut kemurungan dari wajah Miftah jadi ikut merasa cemas.


     "Ma... Lebih baik mama jangan menanyakan hal itu dulu deh!" jelas Firdaus.


     "Gak papa kak! Kaka kan juga tau kenapa, jadi tolong jelaskan ya kak..." pinta Miftah memohon.


     Bibirnya seakan membeku sesaat. Ia tak sanggup meskipun hanya sekedar mengatakan kalau ia hanya ingin mencari papanya.


     Firdaus mengangguk tanda setuju, lalu mulai menceritakan secara detail kejadian kemarin itu dan alasan ia ingin berkunjung kesana bukan untuk bertemu teman melainkan ingin mencari papanya yang sudah lama tak pernah lagi bertatap muka.


     Mereka jadi merasa sangat kasian, rasa geram bahkan sudah timbul dihati mereka.


     "Wanita seperti itu memang harus dikasih pelajaran! berani - beraninya ia ingin melukai mantuku," dengusnya sambil mengepalkan tangannya kuat.


     "Sabar ma... Sudah... Sudah..." ucap sang papa mencoba menenangkan istrinya yang sudah tersulut emosi.


     "Gimana mama mau sabar pa... Perbuatannya itu gak wajar lho..." responnya.


     "Ya namanya orang jahat ya gimana ma..." beritahu sang papa.


     "Ya udah deh!" ucap sang mama acuh tak acuh.


     "Oh iya sayang! kenapa kamu gak pake mata - mata mama aja buat menyelesaikan masalah kamu ini?" tanya sang mama.


     "Gak papa ma... Miftah hanya ingin berusaha mencari buktinya sendiri dengan cara menyamar supaya lebih tau seluk beluknya," jelasnya dan mama mau tidak mau hanya menyetujui saja keinginan Miftah tersebut.


     "Oke! kamu ingin terlihat gimana? culun apa makin cantik untuk menyamar hari ini?" tanya sang mama.


     "Miftah mau nyamar jadi orang culun aja ma! kalau bisa wajah Miftah dibuat kayak penuh bintik jerawat ma biar tampak jelek tapi memiliki kemampuan yang pas," jelasnya.

__ADS_1


     "Oke! kalau begitu mari kita capcus kekamar mama! mama akan menghias wajahmu agar tampak seperti apa yang kamu inginkan," tawarnya.


     "Benarkah ma?" tanya Miftah yang kini sudah berbinar - binar dibuatnya, rasa sedih tadi seakan - akan datang lalu lenyap dalam sekejap.


     "Ya iyalah sayang... Mama beneran... Masak iya bohongan! demi mantu mama yang cantik dan imut ini," pujinya sambil menempelkan sebelah telapak tangannya disatu pipi Miftah.


     "Makasih ya ma... Miftah bersyukur banget punya mertua sebaik mama..." responnya ikut memegang kembali tangannya sang mama yang sudah menyentuh pipinya.


     "Kamu gak usah ragu Ratuku! kalau masalah make up! mamaku jagonya," bangga Firdaus.


     "Bener banget putraku," respon sang mama yang merasa senang.


     "Eitsss..." tahan sang papa saat sang mama hendak bangkit untuk mendadani Miftah.


     "Ada apa sih pa..?" tanya sang mama merasa kesal saat ditahan.


    "Mama habisin dulu makanannya baru boleh beraksi! liat tuh! Miftah aja belum makan dari tadi akibat sibuk meladeni mama," peringat sang papa.


     "Iya deh... Yaudah kalau gitu! sayang... kita makan dulu yah! abis itu baru kita capcus kemeja rias mama," ucap sang mama.


     "Oke ma..." respon Miftah sambil tersenyum dan mama juga ikut tersenyum padanya.


     Kini ruang tamu terasa sunyi kembali, yang terdengar hanyalah suara dentingan garpu dan sendok yang terus terdengar begitu nyaring.


_____________________________________


Hai kaka semuanya... 🤗


Makasih ya... Karna sudah mau mampir ke Novel kedua Star... 😇


"KEBUN TERONG SIGADIS NARSIS"


Star sangat berterima kasih bagi Kaka - Kaka yang sudah mau memberi Ranting, like, vote bahkan sampai membaca dan mengomentari karya star... 🙏😊


Star sangat senang hingga jadi lebih semangat... 😄


Dimana bulan disitu bintang 😀


Dimana gelap disitu terang 🤣


Terima kasih bila tlah datang 😆


Star beri ucapan salam sayang 😘


Oke... Sampai jumpa di part selanjutnya ya...

__ADS_1


Makasih untuk Kaka - kaka yang selalu hadir...


   🍃🍃🍃🍃🍃  🙏🙏🙏  🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2