Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 18


__ADS_3

          Matahari sudah mulai redup. Miftah dan yang lainnya baru saja selesai membereskan rumah, kini mereka sedang beristirahat di sofa kecil diruang depan.



     "Hadeh... Kayaknya pinggang aku nanti malam mulai demo nih," keluh Wahyu.


"Apa? kamu gak ikhlas?" tanya Zamrud yang tepat ada dihadapannya.



"Hahaha enggak kok... Enggak... Paling ni pinggang minta demo untuk ngerjain lagi besok... Dia kan udah bucin sama rumah Miftah," elak Wahyu, sedangkan yang lainnya hanya mampu tertawa ketika melihat ekspresi nya yang sangat menggemaskan.


     "Aku udah cepek... Ditegangin lagi sama singa garong! apes banget kayaknya hari ini aku," batinnya sambil menggelengkan kepalanya kesana kemari.


     "Kaka kenapa?" tanya Miftah cemas.


"Ah! aku gak papa kok! Ini aku cuma kecapean doang..." responnya memaksakan senyuman sambil terus menunduk.



"Kaka! Kaka kalau ingin liat kak Wahyu jangan kayak gitu lah... Kan kak Wahyu nya jadi kasian," tegur Miftah.


     "Hahaha enggak kok... Kaka liatnya biasa aja... Cuma dia aja yang terlalu sensitif sama kaka," ucap Zamrud cengengesan.


"Kaka ini memang benar - bener ya!" geram Miftah.



"Zaldira, tolong bilangin bentar sama Kaka ini suruh jangan kayak gitu lagi! mungkin kalau kamu bilang mempan," saran Miftah.


     "Aduh... Kaka... Yang ada aku tuh nanti malah kena omel ples dibilang ini lah! itulah! sama kak Zamrud yang PDnya tingkat kuda laut," dengus Zaldira sambil memalingkan wajahnya kearah lain.


     "Lagian ya... Mana ada kamu bisa tenangin aku, yang ada kamu itu malah buat darah aku makin mendidih sampai meluap kemana - mana saking kesalnya." cibir Zamrud.

__ADS_1


     "Mulai lagi deh... Pusing ini kepala jadinya," ucap Miftah yang sudah kehabisan cara untuk membuat mereka tidak bertengkar lagi.


     "Hmm... Kalau lagi capek begini enaknya ngapain ya?" gumam Wahyu sedangkan Miftah yang mendengar gumamannya jadi merasa mempunyai ide kembali.


     "Aha! kak Zamrud! Kaka pintar masak kan?" tanya Miftah.


"Ya iya dong! aku kan emang cowok terhebat... Keren... Dan jangan lupa tampan." sombongnya.


     Semua yang mendengar ucapan Zamrud sampai merasa mual dibuatnya.


"Kenapa ekspresi kalian semua begitu? gak percaya? boleh... Aku akan buktikan bahwa masakanku itu lebih enak dari pada bubur ayam buatan asam amino itu," ucap Zamrud sambil melipat kedua tangannya dibawah dada.


     "Hei kak asam sulfat! aku udah diem ya! tapi kenapa Kaka sangat suka memancing hah? apa Kaka ingin menantang ku? benar - benar meragukan kehebatan ku ya? oke! kalau begitu aku akan menantang Kaka untuk lomba masak! jika kalah, maka dia harus mau menggembok mulutnya sendiri agar tidak suka mengejek yang lain siapa pun itu. Ples... Gak boleh suka memerintah apa lagi menindas! bagaimana?" tantang Zaldira yang sudah dikuasai oleh api kemarahan.


     "Boleh aja... Tapi bagiku kalau yang kalah dia harus menuruti apa kemauanku bagaimana?" usul Zamrud.


"Oke! aku gak takut," respon Zaldira yang sudah benar - benar yakin.


     "Baiklah, malam ini aku aja yang masakin deh!" ucap Miftah.


     "Apa kamu bilang? kamu tidak ada sangkut pautnya dengan ini," geram Zamrud sambil menatap nanar kearahnya.


"Apa? gak ada sangkut pautnya? hello... Apa kah tadi ketika saya berbicara kuping Kaka lagi melayang di udara? kan kalau aku yang menang Kaka gak boleh menindas yang lain siapa pun itu," tanya Zaldira kesal sambil balas menatap kearah mata Zamrud yang tadi sudah mengarah kearah Wahyu.


     "Oke oke oke! terserah kamu! ini bukan saatnya menjadi pahlawan, jika kemenangan belum kamu dapatkan! jadi aku masih bebas melakukan apa yang kuinginkan," jawab Zamrud acuh tak acuh.


     "Baiklah, perlombaannya akan kita adakan besok siang sedangkan pagi kita harus belanja dulu... Mau tidak mau malam ini aku harus tetap masak deh," resah Miftah.


     "Gak papa Kaka... Biar aku aja ya," tawar Zaldira.


"Beneran?" tanya Miftah tak percaya.


__ADS_1


"Jangan lah, nanti gak enak! biar aku aja yang masakin makanan sekali - kali buat kamu, karna dari kemarin kayaknya kamu kebanyakan makan makanan darinya takutnya nanti perutmu kenapa - napa lagi." sinis Zamrud.


     "Enggak kok... Masakan Zaldira emang enak..." puji Miftah.


"Au! rasa gak pernah, komen seenak jidatnya aja." dengus Zaldira.



"Bodo amat!" ucap Zamrud.



"Bodo amat kembali," balas Zaldira gak mau kalah.


     "Cih! walau pun kamu masak makanan ditumahku, aku tetap akan memakan makanan buatan mamaku bukannya kamu," ucapnya.


     "Udah... Udah... Ayo kita istirahat aja dirumahku. Alhamdulillah ada dua kamar jadi kamu dan Zamrud silahkan tidur dikamar depan sedangkan aku dan Zaldira dikamar belakang," ucap Miftah.


     "Atau lebih baik kalian pulang aja dulu, besok kembali dengan belanjaan aja. Kan lebih mudah, lagian orang tua kalian jadi gak cemas." saran Miftah.


     "Yasudah kalau begitu lebih baik aku pulang duluan ya Kaka... Sebelum hari mulai gelap," ucap Zaldira sambil tersenyum.


"Baiklah Kaka antar pulang aja ya..." tawar Miftah.



"Gak usah Kaka, aku bisa sendiri kok." tolaknya.


     "Udah kamu gak usah khawatir... Biar aku sama Wahyu yang antarin dia kembali sama bawa kemari lagi besok," ucap Zamrud.


"Alhamdulillah... Makasih ya Kaka," respon Miftah, sedangkan Zaldira mau tidak mau harus menyetujui karna isyarat tatapan darinya dan ia juga tidak mau jika sampai kak Miftah jadi harus repot - repot mengantarnya karna cemas.


     Setelah mereka masuk kedalam mobil, Miftah pun hanya mampu melambaikan tangannya kearah mereka dari teras depan rumahnya sambil mengucapkan terima kasih berulang kali karna sudah mau membantunya.

__ADS_1


    


__ADS_2