Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 162


__ADS_3

     Sedangkan di meja makan mama yang sudah tampak jenuh menunggu putra dan mantu kesayangannya turun hanya mampu menumpahkan kekesalannya dengan mengetuk - ngetuk pinggiran piring menggunakan sendok.


     "Thing!


   


     "Thing!"


     "Thing!"


     Suara dentingan itu membuat sang papa sedikit terganggu setelah beberapa kali sempat berusaha mengacuhkan kelakukan istrinya yang tidak bisa sedikit pun jauh dari mantu kesayangannya itu.


     "Ma... Mama ngapain sih dentingan sendok berulang - ulang begitu? berisik tau ma," tegur sang papa yang baru saja selesai menghabiskan sarapannya dan membersihkan mulutnya dengan tisu.


     "Biarin aja pa! mama lagi kesel nih!" responnya dengan sikap dongkol.


     "Lah! kesel kenapa sih ma?" tanya sang papa heran.


     "Itu pa... Mama itu jenuh tau nunggu kedatangan Miftah, dia sama Firdaus dari tadi kok lama banget di atas ya? apa jangan - jangan mereka sedang melakukan sesuatu?" tanyanya mulai berpikir hal buruk.


     "Eiss... Mama ini ngomong apa sih ma..? mana mungkin mereka seperti itu... Selama ini papa lihat mereka sering berjaga jarak karena belum muhrim. Apa lagi Miftah yang tipikel wanita yang tidak mudah di sentuh oleh pria," jawab papanya meluruskan apa yang istrinya katakan.


     "Au ah! mama bete ini jadinya," dengusnya yang berhenti membuat suara dentingan di pinggiran piring.


     "Ma... Mama harus tau kalau putra kita itu sudah besar, dia pasti mempunyai urusannya sendiri begitu pun dengan Miftah. Masih mending mereka masih ada di dekat kita, meski tidak sering yang penting kan ada ma." nasehat papanya.


     "Ya tapi mama kesepihan papa, apa lagi semenjak kepergian buah hati tiga beberapa Minggu yang lalu. Mama aja masih tertekan berat pa... Dan menghilangkan rasa sakit itu dengan terus ada di dekat putra dan mantu kita." ungkapnya yang kini sudah berkaca - kaca.


     Tangannya terlihat jelas menggenggam sendok dan garpu dengan kuat di tangan kanan dan kirinya.


     Sang papa sangat terkejut saat mendengar penuturan istrinya, ia pikir istrinya sudah sepenuhnya mengikhlaskan kepergian anak mereka. Tapi nyatanya bayangan kesedihan itu masih saja menghantuinya selama ini dan di tutupi senyuman manis.

__ADS_1


     Papa mulai menggeser kursinya agar bisa lebih dekat dengan sang istri. Ia mengelus punggung istrinya yang kini sudah menangis terisak.


     Ia juga dapat merasakan bagaimana sakitnya kehilangan buah hati yang sudah lama mereka nantikan, tapi takdir telah berkata lain dan mereka tidak dapat berbuat apa - apa selain belajar mengikhlaskan.


     "Ma... Papa minta maaf ya udah buat maka sedih sampai nangis kayak gini, papa tau! berat bagi mama untuk melepaskan buah hati kita yang sangat ingin kita bopong agar menghilangkan rasa sepi di kehidupan kita saat anak - anak kita sudah lama tak bisa ada dirumah," ucapnya.


     "Mereka sejak dulu sudah merantau keluar negri untuk menimba ilmu. Berkat perjuangan dan kesabaran kita yang rela melepaskan mereka, akhirnya mereka bisa sukses di luar sana ma. Meskipun itu membuat kita jadi rindu berat terhadap mereka, tapi ini menyangkut masa depan mereka jika kita sudah tiada nanti." sambungnya yang membuat tangisan mama mereda.


     "Iya pa... Papa benar, mama memang salah terlalu mengatur mereka pa. Mama minta maaf pa," sedihnya yang kini sudah memeluk suaminya dan menenggelamkan kepalanya pada dada bidang suaminya.


     "Syukurlah kalau mama sudah mengerti ma... Sekarang coba mama tenangkan diri mama dulu ya... Papa gak mau liat air mata mama lagi... Mama itu wanita yang kuat lho," puji suaminya yang kini sudah mengecup di umbun - umbun kepala istrinya.


     "Papa ngomong apa sih pa? mama itu gak kuat pa... Mama lemah pa... Mama masih belum bisa menerima takdir yang tidak sesuai dengan keinginan hati mama," keluhnya.


     "Ma... Wajar jika mama masih belum menerima, mama kan seorang ibu yang memang sudah lama bersama dengan calon bayi kita. Menjaganya setiap hari, dengan tidak memakan makanan yang membahayakannya... Hingga ia bisa berkembang menjadi sosok insan." hibur sang papa.


     "Mama yang lebih tau, bagaimana susahnya menjaganya hingga papa bisa mendapatkan kado terindah dari mama meskipun harus di lalui oleh jeritan perjuangan untuk membuat mereka bisa lahir ke dunia ini ma." sambung sang papa.


     "Makasih banyak pa... Udah selalu hibur nama selama mama sedih... Yang selalu bisa meminjamkan pundak papa untuk mama bersandar saat lelah dan tak pernah meninggalkan meskipun papa sudah tau kekurangan mama," ucapnya sambil mengadahkan kepalanya untuk menatap mata hitam pekat suaminya.


     "Sama - sama ma... Meskipun gak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Tapi saat sudah di pertemukan dengan pasangannya masing - masing, semua bisa di rasa seperti sempurna karena saling melengkapi segala kekurangan antara satu sama lain." responnya.


     "Iya papa benar, hidup mama akan lebih terasa indah jika bersama papa. Papa adalah pria terbaik yang sudah mama pilih dari dulu sampai sekarang dan semoga tak akan terganti selamanya," harapnya.


     "Amiiin ya rabbal a'lamin..." doa sang papa sambil mengelus rambut istrinya yang memang tidak memakai hijab jika sedang di dalam rumah.


     Saat pelukan meraka sudah terlepas baru Miftah dan Firdaus sudah sampai kembali ke meja makan.


     "Maaf ya ma, pa. Kami kembali agak telat," ucap Miftah sopan sambil tersenyum.


     "Iya sayang... Gak papa, sudah lanjutkan habiskan makananmu ya." respon mamanya sambil menunjuk ke arah piring Miftah yang masih tersisa nasi dan beberapa lauk pauk.

__ADS_1


     "Baik ma," angguknya.


     "Firdaus, kamu juga makan dong nak... Masak bengong aja." tegur mamanya lembut hingga membuat Firdaus sedikit terkejut di buatnya.


     "Kenapa mama dengan cepat bersikap lembut ya? bukannya tadi mama terlihat sangat marah padaku?" batinnya merasa heran.


     "Ah! sudahlah! yang penting mama udah gak marah lagi, dari pada nanti jadi kesal kembali jika aku bertanya." batinnya memutuskan karna tak ingin mencari masalah.


     Miftah sangat senang saat mama sudah berkata - kata lembut lagi dengan Firdaus.


     Tak terasa makanan mereka sudah habis dalam sekejap dan kini mata mereka jadi tertuju di satu titik saat mendengar suara langkah kaki yang datang menghampiri meja makan.


     "Maaf non Miftah," ucap Rangga sambil melihat ke arah Miftah yang tak jauh beberapa meter dari meja makan.


     "Iya kak Rangga ada apa?" tanya Miftah yang kini sudah bangkit dan bergegas menghampirinya.


     "Mari non ikut saya," ajaknya dan Miftah hanya menurut.


     Karna sedang ada sang nyonya dan papa Rangga jadi tak dapat memanggilnya Miftah sesuai permintaan dan Miftah pun memakluminya dari pada Rangga kena teguran nantinya.


     Saat setengah perjalanan menuju pintu keluar rumah Miftah jadi penasaran kemana Rangga ingin membawanya, hingga akhirnya langkah Kakinya terhenti di depan kebun Terong yang selama ini sudah lama tak ia kunjungi.


     Matanya jadi berbinar - binar saat melihat pemandangan yang tidak pernah ia duga sebelumnya akan berakhir seperti ini, ini jauh dari bayangan awalnya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇

__ADS_1


__ADS_2