Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 45


__ADS_3

     Keesokan harinya Miftah seperti biasa sudah mulai sibuk dengan urusan kebunnya, untuk saat ia akan  berniat untuk berhenti menanam terong karena ia akan tinggal dirumah calon suaminya.


     Ia masih kepikiran kejadian semalam pasca dia menolak tawaran Firdaus tapi dia benar - benar merasa tidak enak setelah apa yang Firdaus berikan untuk membuatnya senang hingga ia memilih untuk tidak terlalu merepotkannya.


     Tiba - tiba Miftah mendengar suara telpon yang sangat besar dari rumahnya, ia pun segera bergegas menuju kesana untuk mengangkatnya.


"Halo," ucapnya.



"Assalamualaikum Ratuku! ini aku calon suamimu..." ucap suara dibalik telpon sambil terkekeh pelan.


     "Wa'alaikum salam Kaka! maaf Kaka memangnya ada apa? tidak seperti biasanya Kaka menelpon Miftah, palingan kan lewat cetan." herannya.


"Lah! emangnya kenapa? kan kamu udah mau jadi calon istriku! ya gak papa lah kalau kita telponan, iya kan?" responnya.


     "Iya sih Kaka... Ya udah ya Kaka Miftah mau lanjutin pekerjaan Miftah dulu oke," ucapannya.


"Kamu jadi lebih mementingkan kebun terongmu dibandingkan aku yang sudah datang dan berdiri didepan rumahmu untuk menjemput mu?" resahnya yang membuat Miftah sangat terkejut saat mendengarnya.


     "Apa? Kaka sudah didepan? apakah aku tidak salah dengar? Kaka jangan bercanda ya," kejutnya sambil bergegas menuju kedepan rumah setelah mematikan telpon dan benar saja Firdaus sudah berdiri disana dengan ponsel yang masih menempel pada telinganya lalu saat melihat Miftah ia pun langsung mematikannya.


     "Ya ampun Kaka... Secepat inikah?" tanya Miftah tak habis pikir.


"Kamu bilang ini cepat? hadeh... Ini udah jam berapa ratuku... Ini aja udah mau jam delapan... Kesepakatan kita kan jam tujuh," ucap Firdaus.


     "Perasaan Kaka gak pernah bilang sama Miftah kalau Kaka bakal jemput Miftah jam tujuh," pikirnya.


"Benarkah? hahaha, maafkan aku ya aku lupa." ucap Firdaus merasa malu.


     "Baiklah kalau begitu," respon Miftah yang mulai terkekeh saat melihat ekpresi Firdaus yang menurutnya sangat menggemaskan.


     "Ya sudah kamu siap - siap dulu sana! oh iya apakah barang - barangnya sudah kamu siapkan?" tanya Firdaus dan Miftah hanya menggeleng - gelengkan kepala.


"Ya ampun... Kamu ini kayak gak ada niatan sama sekali untuk pindah kerumahku," resahnya .


     "Emang enggak! aku udah nyaman disini dengan kebunku," dengus Miftah.


"Ya sudah lebih baik dari pada kamu merajuk, kamu cepat - cepat membereskannya ya." saran Firdaus.



"Baiklah! nah Kaka silahkan tunggu aku aja diruang tamu oke sambil nonton tivi," tawarnya.


     "Oke kalau boleh sih tolong buatkan aku segelas kopi biar gak terlalu jenuh," pintanya yang membuatmu Miftah jadi terdiam.

__ADS_1


"Kenapa wajahmu pucat begitu? apakah kamu tidak bisa membuat kopi?" tanya Firdaus.


     "Hahahaha bukan gitu Kaka... Aku hanya gugup aja kok karna aku belum pernah menyeduh kopi untuk pria selain kakekku," jawabnya.


"Dan papa," sambungnya dalam hati.



Sejak dulu ketika papanya menginginkan kopi selalu Miftah yang turun tangan membuatkannya walau pun dia masih SD.


     "Wah... Kalau begitu aku pria kedua dong setelah pria yang paling kamu sayangi! seperti nya aku sangat beruntung hari ini," goda Firdaus yang langsung membuat pipi Miftah bersemu merah.


     "Tapi - " belum sempat Firdaus menyelesaikan ucapannya Miftah pun langsung berkata "oh iya! aku masih mempunyai banyak kerjaan yang harus aku kerjakan ditambah lagi membuat kopi untuk kaka... Jadi kalau kita terlalu banyak bicara maka perkerjaannya akan telat juga selesainya," lalu beranjak pergi dari hadapan Firdaus.


     Firdaus yang paham dengan perubahan sikap Miftah hanya mampu terkekeh pelan lalu berjalan masuk menuju keruang tamu.


                     🍂 Di dapur 🍂


     Kini Miftah sedang berusaha menormalkan detak jantungnya yang berdegup begitu kencang akibat permintaan Firdaus, permintaan yang mampu membuatnya menitikkan air mata dengan mudah.


     "*Putriku kamu dimana sayang?" tanya sang papa.


"Iya papa aku disini... Ada apa papa?" tanyanya yang baru saja turun dari lantai dua.



     "*Hahah papa ini... Miftah tadi abis kerjain PR sekolah papa... Makanya agak telat turun," alasannya yang langsung diangguki oleh papanya tanda mengerti.


"Nah... Anak mama kan memang rajin," ucap mamanya membuka suara.



"Mama kan padahal mama juga bisa membuat kopi untuk papa kenapa harus Miftah yang selalu turun tangan?" tanyanya resah*.


     "*Mama juga gak tau... Papamu itu emang begitu... Terlalu manja sama anaknya," ucap sang mama merasa cemburu.


"Je... Sama anak aja begitu si mama! papa kak cuma ingin kopi buatan anak papa selagi Miftah masih kecil ma... Kalau putri cantik papa ini sudah besar apakah papa masih sempat untuk merasakan kenikmatan kopi bikinan anak papa? dia kan pasti udah sibuk," ucap sang papa menenangkan istrinya*.


     "*Iya deh iya..." respon sang mama sambil melipat kedua tangan dibawah dada.


"Ya udah mama sama papa jangan pada bertengkar ya... Miftah mau buatin kopi untuk papa dulu... Oh iya! apakah mama juga mau kopi?" tanya Miftah*.


     "*Mama gak mau kopi sayang... Tapi kalau kamu mau mama boleh dong diparutin es krim rasa coklat yang ada di kulkas," pintanya.


"Oke mama! oke papa! segelas kopi hangat dan sebuah es krim coklat akan datang..." ucapnya sambil membentuk tangan dengan isyarat oke*.

__ADS_1


     Lalu Miftah mulai berjalan menuju dapur untuk membuatkan apa yang papa dan mamanya pinta hingga akhirnya setelah selesai Miftah pun keluar sambil membawa nampan yang berisi apa yang dipinta oleh sang mama dan papa.




     "*Wah... Kayaknya enak nih es krim nya mama! papa jadi mau," ucap sang papa yang dengan jail mengganggu istrinya dengan cara memakan sesendok es krim.


"Is papa... Papa kak udah punya kopi... Ngapain juga harus makan punya mama sih? kesel jadinya! orang udah bagus dihias sama Miftah malah papa yang rusakin duluan! huh," ambeknya dan sang papa tanpa merasa bersalah malah terkekeh pelan setelah berhasil memancing emosi istrinya*.


     "Ya udah kopi papa untuk mama! papa makan aja itu es krim mama yang udah papa rusakin," ucapnya sambil menyeruput pelan kopi sang papa yang masih hangat dan papa hanya mampu menatap jengkel pada istrinya.


     "*Yah mama... Kan papa dari tadi kepingin kopi..." resahnya kecewa.


"Kesel gak? kesel gak? kesel lah masak enggak! nah mama juga kesel karna es krim mama udah duluan papa rasa," ucapnya puas sambil tersenyum penuh kemenangan*.


     Hingga akhirnya aksi rebut - rebutan pun terjadi hingga Miftah yang merasa terganggu saat menonton tivi pun menjadi kesal dengan sikap orang tuanya yang masih kekanak - kanakan padahal ditempat kerja mereka terlihat sangat tegas dan berwibawa.


     "Ma... Pa... Kan apa yang mama sama papa mau udah ada! kenapa masih bertengkar sih..." resah Miftah sambil memegang setoples keripik singkong yang sejak tadi dikunyahnya.


     "Ini nih papamu sukanya gangguin mama mulu... Ya mama balas lah," jawab sang mama sambil memberikan tatapan tajam pada suaminya sedangkan yang ditatap malah acuh saja sambil menikmati kopi buatan putrinya.


     "Mama mama papa papa! kalau udah tua aja kayak begini apa lagi nanti kalau udah jadi kakek nenek! pasti yang perang si gigi palsu karena orang yang punya giginya tak sanggup berperang lagi," lawak Miftah sambil menggeleng - gelengkan kepalanya kesana kemari dengan ekpresi yang sangat lucu hingga membuat mama dan papanya jadi tertawa terbahak - bahak karna ucapannya.


     "Hei, bikin kopi aja sampai harus nangis begitu! ada masalah apa kamu selama ini sama kopi?" ucap Firdaus yang langsung membuat wajan yang berisi air panas hampir jatuh dari genggaman tangan Miftah.


     "Is Kaka! Kaka kerjaannya ngagetin aja sih! untung aja gak tumpah ini air! kalau tumpah kulit Kaka pasti bakal terkelupas ples perih," dengusnya lalu mulai menuangkannya kedalam gelas .


     "Ya maaf! lagian Kaka kan cuma khawatir aja sama kondisi kamu itu kok, kalau lagi bahas masalah kopi jadi berubah begitu." pikirnya penasaran.


"Au! Kaka gak perlu tau! intinya suka - suka aku mau ada masalah apa aja sama kopi dan itu tidak ada urusannya dengan Kaka!" geramnya sambil menatap nanar kearah Firdaus.


     "Kan aku calon suamimu! jadi harus tau lah," responnya sambil mengaduk kopi yang telah diseduh dengan sendok.


"Kaka kan baru calon! jadi Kaka masih gak ada ada hak untuk mengetahui masalah pribadiku secara detail," dengusnya.



"Oh iya! karna kopinya sudah siap jadi Miftah mau kekamar untuk membereskan barang - barang sebelum berangkat, bye Kaka..." lambainya sambil berlalu dari hadapan Firdaus.


     Firdaus pun hanya membiarkan nya meskipun dirinya sendiri juga masih dihantui rasa penasaran yang sangat besar pada Miftah yang selalu saja menutupi apa pun kepadanya sampai sekarang kecuali cerita tentang pengalamannya semata.


     Setelah mengaduk kopinya, Firdaus pun memutuskan kembali keruang tamu untuk menonton film kartun lucu ditivi yang membuatnya tak pernah bosan dan sangat terhibur.


Siapa lagi kalau bukan film seorang koki didasar laut yang kerjaannya hanya tertawa dan menangis juga mengganggu tetangganya yang terkenal dengan tingkat ke emosialannya lalu saat dimarahi ia dan sahabatnya hanya tertawa cekikikan.

__ADS_1


__ADS_2