Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 47


__ADS_3

     Kini sebuah mobil hitam mewah sudah berhenti didepan sebuah bangunan yang tak kalah mewah, Firdaus yang melihat Miftah masih tertidur pun dengan pelan membangunkannya.


"Mif... Mif... Ayo bangun! kita sudah sampai ini," ucap Firdaus sambil menepuk tangannya pelan.


     Miftah yang mendengar suara Firdaus mulai berusaha membuka matanya yang terasa sangat berat.


"Iya Kaka... Ada apa?" tanyanya dengan suara parau lalu mengusap matanya berkali - kali sambil melihat kejendela.


     Firdaus hanya terkekeh ketika melihat ekpresi Miftah yang menurutnya sangat menghibur.


"Kita - udah - sampai - jadi - kita - udah - boleh - turun - paham?" jawab Firdaus patah - patah.


     "Sampai kemana emang? kita pergi kemana ya? Miftah lupa soalnya," ucapnya sambil menutup mulutnya yang menguap dengan telapak tangan.


"Kamu pasti ngelindur karna baru bangun tidur! ya udah keluar aja nanti kamu pasti tau sendiri, tapi sebelum itu kamu copotin dulu headsetnya dan berikan kembali padaku tak lupa dengan ponselnya sekalian." responnya sambil membuka pintu mobilnya lalu berjalan ke pintu belakang untuk membantu Miftah keluar.


     Setelah Miftah keluar dari mobil dan menyerahkan dua benda itu padanya Firdaus pun menyuruh dua orang bodyguard yang sedang berdiri diambang pintu untuk datang menghampirinya.


"Iya bos ada apa?" tanya bodyguard satu yang bernama sekar sedangkan bodyguard dua bernama Rangga.



"Sekar aku ingin kamu simpan mobilku kedalam bagasi dan kamu Rangga tolong kamu angkat koper yang ada dibelakang bagasi mobil lalu letakkan didepan pintu no tiga kamar lantai atas," jelasnya .


     "Siap bos," respon mereka lalu bergegas menjalankan apa yang telah diperintahkan, Miftah sampai terkejut dibuatnya.


"Ini rumah udah kayak hotel berbintang aja sampai ada bodyguard nya segala," batinnya.


     "Baiklah Ratuku, mari kita masuk agar kamu dapat bertemu dengan ibu dan ayah mertuamu." ajaknya lalu mereka pun mulai berjalan beriringan, pembantu yang melihat kedatangan Firdaus langsung bergegas membukakan pintu untuknya.


     "Selamat datang tuan muda, saya yakin yang disebelah anda pasti nona muda." sapanya dan Firdaus hanya berdehem.


Kemana mama dan papaku? apakah mereka ada didalam?" tanyanya.



"Ada tuan muda, mereka kini sedang berada diruang tamu seperti biasa untuk menonton tivi," jawabnya sambil menunduk sopan lalu langsung memandu mereka sampai ketempat yang diucapkan.


     "Assalamualaikum pa... Ma... Firdaus sudah pulang," ucapnya yang membuat kefokusan pasangan suami istri itu jadi beralih melihat kearah mereka.


"Firdaus!" seru sang mama sambil bangkit dari tempat duduknya begitu pun dengan suaminya.



     "Wa'alaikum salam..." jawab sang papa yang telapak tangannya kini sedang dicium oleh Firdaus setelah terlebih dulu mencium punggung tangan sang mama secara tiga kali sambil dibolak - balik, Miftah pun hanya mengikutinya lalu kembali berdiri sambil mensejajarkan dirinya dengan Firdaus.

__ADS_1


     "Masya Allah... Ini gadis yang sering kamu bicarakan itu?" tanya sang mama seakan tak terparcaya.


"Aku bicarakan? perasaan aku tidak pernah membicarakannya kecuali mama dan papa yang memulai duluan," batinnya tak terima dengan ucapan mamanya.



     Dengan rasa malas Firdaus pun menjawab dari pada terkena petasan sang papa.


"Iya ma... Perkenalkan namanya Miftahul Jannah," ucapnya.



"Subhanallah... Namanya bagus banget! sangat cocok dengan orangnya yang sangat cantik dan manis," puji sang mama senang lalu langsung mengajak mereka untuk duduk di sofa setelah mematikan tivi agar lebih fokus berbicara.


     Miftah yang mendapatkan pujian seperti itu hanya berusaha untuk menutupi rona yang ada dipipinya.


"Ya ampun... Calon mantu baru dipuji gitu aja pipinya udah merah," ucap sang papa ikut mengganggu Miftah.



     "Sudahlah pa... Ma... Jangan begitulah... Orang Miftahnya juga baru sampai," peringatan Firdaus.


"Iya - iya... Ada yang perhatian nih kayaknya," goda sang mama sambil mengedipkan sebelah matanya pada Firdaus dan Miftah hanya tersenyum bahagia karna seperti merasakan kembali kehangatan keluarganya dulu.


     "Miftah kamu kalau dirumah katanya suka tanam terong ya?" tanya mama memulai topik pembicaraan.



     "Lho... Kok panggilnya nyonya sih? panggil mama aja ya... Lagian kan sebentar lagi kamu bakal sah jadi mantu mama..." pinta sang mama sambil menepuk pelan lengan Miftah.


      "I - iya ma," respon Miftah sedikit terbata - bata.


"Sudah... Tidak perlu bersikap canggung begitu... Mama memang begitu karna beliau belum pernah merasakan punya anak perempuan jadi ia merasa sangat senang dengan kehadiran mu," jelas sang papa.


     "Oh... Jadi begitu," respon Miftah yang kini sedang berusaha untuk menyesuaikan diri.


"Iya nanti kamu pasti akan sedikit keberatan karna mama bakal suka mengajakmu memasak bersama didapur atau pergi shopping," ucap sang mama sambil tersenyum lebar.


     "Miftah sama sekali gak keberatan kok ma... Malahan Miftah sangat senang karna bisa merasakan kembali kehadiran mama Miftah yang sempat hilang," ucapnya merasa terharu sekaligus senang dengan keramahan mama Firdaus yang kehebohannya sangat mirip dengan mamanya.


     Ia jadi teringat dulu saat ia masih duduk di bangku SD, setiap hari mamanya selalu minta ditemani memasak karna sang papa hanya ingin memakan masakan yang diracik langsung dari tangan istrinya.


     Tak jarang kadang ketika pulang sekolah sang mama ingin mengajak Miftah untuk menemaninya shopping tapi Miftah selalu saja tidak sempat karna usai pulang sekolah ia harus beristirahat sebentar untuk pergi mengaji bersama temannya nantinya.


     Tak jarang ia lebih sering pergi dengan sepeda bersama teman SDnya dari pada harus diantar dengan motor oleh pak satpam sebab jika ia pergi dengan sepeda menuju ke tempat mengaji itu dapat membuatnya jadi sekalian bermain dan bercanda tawa dengan temannya saat mereka saling berbagi cerita.

__ADS_1


     "Miftah kamu kenapa bengong aja?" tanya sang mama sambil melambaikan tangan dihadapan wajah Miftah hingga membuatnya terkejut.


"Eh! iya maaf ma... Tadi Miftah udah melamun," ucapnya sambil menahan rasa malu.


     "Udah gak papa... Gak usah tegang begitu dong... Santai aja kalau sama mama... Nanti jangan tegang kayak gitu lagi yah..." ucap sang mama menenangkannya.


"Baiklah mama," respon Miftah sambil menghadiahkan senyuman termanisnya sebagai tanda sayang.


    "Kamu suka memasak juga gak?" tanya sang mama memastikan.


"Suka juga sih ma! tapi Miftah kurang ahli..." jujurnya.



"Gak papa yang penting kan bisa dan mau belajar! kamu kan akan menjadi istrinya putra mama jadi mama akan mengajarkan kamu untuk memasak makanan kesukaan Firdaus biar dia bisa makin senang sama kamu," ucap sang mama sambil tertawa ringan.


     "Mama," tegur Firdaus.


"Santai aja Firdaus... Mama kan hanya ingin mengajarkan Miftah agar bisa menjadi istri yang baik untuk suaminya... Emangnya gak boleh ya?" ucap sang mama sambil menatap dalam kearah Firdaus.


     "Boleh sih... Tapi kan - " belum sempat Firdaus menyelesaikan ucapannya mamanya langsung saja menarik tangan Miftah untuk diajak memasak bersama didapur.


"Mif... Ayo temani mama masak untuk makan siang bersama," ajaknya dan Miftah hanya mengangguk tanda setuju lalu ikut bangkit dari tempat duduknya.


     "Ya ampun mama... Miftah kan baru sampai... Masak iya langsung diajak masak! kan dia pasti capek," heran Firdaus yang tak habis pikir dengan sikap mamanya yang sangat mudah menerima kehadiran orang yang belum pernah ia kenal sebelumnya.


     "Lah! emangnya kenapa? kamu lagi capek gak sayang?" tanya sang mama sambil tersenyum kearahnya.


"Hahaha enggak kok mama... Justru Miftah tadi udah banyak banget tidur, otomatis gak perlu istirahat lagi." jawabnya yang sontak saja membuat senyuman sang mama jadi semakin melebar.


     "Tuh kan! Miftah aja gak keberatan sama sekali jadi... Kami pergi dulu yah... Jangan marah ya sayang... Mama pinjam calonmu sebentar aja oke... Gak bakalan mama cincang kayak sayuran kok," goda sang mama dan Firdaus hanya mampu menghembuskan nafas kasar sambil melipat kedua tangannya dibawah dada.


     "Mama kedapur dulu ya sama calon mantu... Dadah sayang... Dadah papa..." ucap mamanya untuk terakhir kali sambil melambaikan tangan riang sebelum benar - benar pergi dari hadapan mereka untuk mulai memasak.


     "Terserah mama," responnya lalu mulai bangkit untuk melangkahkan kakinya menuju kamarnya agar dapat beristirahat karna punggungnya terasa sangat pegal dan sangat ingin direbahkan dengan nyaman diatas kasur empuknya.


     "Kamu mau kemana Firdaus?" tanya sang papa karna merasa tidak enak ditinggal sendirian.


"Firdaus istirahat lah pa... Emangnya Firdaus mau ngapain lagi?" jawabnya lesu.



"Yah... Padahal kan papa masih ingin berbicara dengan mu," respon sang papa kecewa.


     "Nanti kan bisa pa... Kalau ada waktu luang lagi... Karna sekarang Firdaus benar - benar lelah jadi harus berbaring dulu sebelum azan berkumandang nanti," jelasnya dan sang papa hanya mengangguk sambil berkata "ya sudah... Kalau begitu kamu istirahat aja sana," respon sang papa mengerti.

__ADS_1


     "Makasih ya pa... Kalau begitu Firdaus izin pamit kekamar duluan yah pa..." ucapnya.


"Baiklah," respon sang papa singkat lalu tanpa membuang - buang waktu Firdaus pun langsung bergegas menuju kekamarnya yang terletak di lantai atas.


__ADS_2