Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 108


__ADS_3

  Sesampai di dapur Miftah langsung mengambil dua buah naga didalam keranjang yang ada diatas meja makan.


     Tak hanya buah naga aja disitu, tapi ada juga beberapa buah - buahan lainnya untuk cuci mulut setelah makan.


     "Eh non... Non mau buat apa dengan buah naga ini?" tanya sang bibi yang baru selesai mencuci piring.


     "Oh... Ini bi! Miftah mau buat jus buah naga buat kak Firdaus," ucapnya.


     "Non sama den Firdaus lagi pengen jus buah naga ya?" tanyanya lagi.


     "Iya bi!" responnya meskipun sebenarnya hanya Firdaus yang sangat menginginkan jus itu.


     "Kalau enggak non tunggu dikamar aja... Biar bibi yang buatin... Kan non baru pulang! pasti capek kan?" ucap bibi hendak mengambil alih pekerjaan yang ingin Miftah lakukan.


     "Gak papa bibi... Lagian buat jus kan gak lama... Kecuali Miftah masak," tolaknya lembut.


     "Serius non gak capek?" tanya bibi.


     "Ya seriuslah bi... Udah bibi tenang aja ya... Oh iya! gak lama lagi kan mau gelap bi, apa gak ada jemuran?" tanyanya pada sang bibi dan bibi yang mendengar apa yang Miftah katakan jadi terkejut.


     "Oh iya non! baju yang tadi pagi bibi cuci belum bibi angkat," ingatnya sambil memegang dahinya.


     "Kalau gitu bibi pamit dulu yah non... Kalau non butuh bantuan non bisa panggil bibi dibelakang ya..." beritahunya.


     "Iya bi," respon Miftah sambil tersenyum lalu mulai membelah buah naga tersebut.


     Kini tinggallah Miftah seorang diri didapur, setelah menaruh belender dan parutan besar baru Miftah mengeluarkan isi dari daging buah naga untuk di digiling.


     Saking fokusnya ia sampai tak menyadari kehadiran Firdaus yang sudah duduk memandangnya dimeja makan.


     "Astagfirullah," ucap Miftah terkejut dan alhasil cairan dari buah naga mengenai wajah Firdaus.


     "Ya ampun Ratuku... Kamu ini," ucap Firdaus lalu bangkit untuk menuju ke wastafel dan membasuh wajahnya yang terkena cairan ungu dari buah naga.


     "Maaf kak! maaf - maaf! lagian Kaka ngagetin aku aja deh... Udah dua kali aku terkejut dengan kehadiran Kaka yang tiba - tiba! Kaka ini sebenarnya hantu bukan sih," resahnya sambil menghembuskan nafas kasar.


     "Menurutmu apa?" tanya Firdaus sambil mengangkat sebelah alisnya.


     "Ya gak tau... Makanya aku tanya Kaka..." jawabnya kemudian mulai melanjutkan kembali kerjaannya yang sempat tertunda.


     "Kamu masih aja takut dengan Kaka," ucapnya sambil memegang dahinya dengan siku yang berpangku pada meja.


     "Kan emang Kaka serem kok kayak hantu," ucapnya yang tanpa sadar telah berkata jujur.

__ADS_1


     "Nah! tadi bilang jawabannya gak tau! tuh buktinya keluar sendiri dari bibirmu." Ucapnya sambil terkekeh pelan.


     "Hehe! udah abaikan saja lah kak, lagian mulut ini yang ngomong," ucap Miftah.


     "Ya kan kita berbicara pakai mulut bukan pakai telepati," jelasnya.


     "Iya - iya... Terserah Kaka... Malas berdebat aku," ucapnya.


     "Oke deh!" respon Firdaus dan memilih diam dengan kepala yang ia taruh diatas meja sebagai bantal sedangkan dua tangannya ia biarkan tergantung dibawah meja.


     Usai memisahkan isi dengan kulitnya Miftah lalu mengambil susu kental manis dan menuangkannya kedalam belender yang berisi buah naga setelah lebih dulu menaruh batu es yang telah dihancurkan didalamnya.


     Saat semuanya siap baru ia belender. Setelah ia rasa bahwa apa yang ada didalamnya benar - benar hancur, Miftah mulai mengambil gelas dan memasukkan jus tersebut kedalamnya.


     Ia juga tak lupa memberi sedikit hiasan. Matanya jadi terpaku saat melihat Firdaus yang sudah tertidur karna menunggu, saking lelahnya ia sama sekali tak terganggu dengan suara berisik dari belender.



     "Kaka..." ucap Miftah sambil menggoyangkan pundaknya pelan.


     "Hmmm..." hanya itu responan Firdaus dengan mata terpejam.


     "Kaka kalau ngantuk tidur dikamar aja ya... Lagian jus naganya kan bisa diminum nanti aja oke..." pinta Miftah dan mau tidak mau Firdaus berusaha mengangkat kepalanya dari atas meja yang terasa begitu empuk padahal tidak sama sekali.


     Miftah dibuat terkejut olehnya yang tiba - tiba bangkit lalu sedikit membungkukkan badannya untuk mencapai minuman itu.


     "Hmm... Bukannya tadi Kaka ngantuk berat ya?" herannya sambil memijat dagunya.


     "Hehe! iya ya! tapi gak tau waktu liat jus ini kayaknya ngantuknya hilang," ucapnya sambil tersenyum.


     "Gimana rasanya kak?" tanya Miftah saat Firdaus sudah meminum sebanyak tiga tegukan.


     Firdaus mulai mengangkat satu tangannya hendak memberikan penilaian menggunakan ibu jarinya hingga membuat Miftah begitu gugup.


     "Good job," ucapnya sambil mengarahkan satu ibu jarinya tepat didepan matanya.


     "Syukurlah kalau begitu," responnya lega sekaligus merasa senang lalu mulai mengambil gelas satu lagi untuknya.


     "Ah..." ucap Miftah pelan.


     "Benar kak! enak rupanya, seger banget." sambungnya merasa puas dengan minuman buatannya itu.


     "Kalau begitu jika Ratuku punya waktu jangan lupa buatkan lagi ya..." pinta Firdaus sambil memasang tampang imut dan Miftah hanya terdiam lalu memalingkan wajahnya kearah lain.

__ADS_1


     "Kenapa wajahmu memerah hah?" tanya Firdaus pura - pura tak tau dengan tingkahnya.


     "Udah Kaka... Berhentilah membuatku tersipu, Kaka ini..." ucapnya tak habis pikir lalu kembali meminum jus buah naganya.


     "Saking hausnya kamu malah minum sambil berdiri," ucap Firdaus yang langsung menyadarkan Miftah.


     "Oh iya ya! maaf kak lupa, padahal kan gak bagus." ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


     "Iya deh... Gak papa kok." respon Firdaus yang masih asyik menikmati minumannya.


     Setelah jus buah naga yang dibuat oleh Miftah habis mereka pun mulai kembali kekamar.


     "Hmm... Sudah lama aku Hiatus. Lebih baik aku mau sibuk mengarang lagilah! itung - itung buat refresing," ucapnya.


     Sesampainya dikamar ia langsung mengambil ponselnya untuk membuka aplikasi Mangatoon dan seperti dugaannya karna sudah berapa hari tak sempat melihat notifikasinya sangat banyak.


     Sudah banyak yang menanyakan kapan ia akan up lagi dan ia hanya meminta maaf kepada mereka yang masih setia menunggu jalan ceritanya.


     Lalu ia keluar dari aplikasi tersebut menuju ke Fabula, aplikasi menulis yang sama sekali tidak memerlukan data hingga ia tak merasa khawatir sedikit pun akan jaringan yang tidak bagus.


Nanti ketika sudah selesai ia hanya tinggal menempelnya melalui layar Split agar lebih mudah.



Sudah dua jam ia menulis dan tanpa ia sadari azan magrib pun berkumandang hingga ia tak langsung memublikasikan ceritanya sekarang.


     Usai sholat dan mengaji baru Miftah kembali memegang ponselnya.


     Ia sangat bersyukur karna dapat menemukan aplikasi tersebut, aplikasi itu agak berbeda dengan aplikasi lain.


     Ketika selesai menulis maka babnya dapat terpisah - pisah dengan sendirinya, seperti catatan biasa cuma Miftah bisa mengetahui berapa kata yang ia tulis. 


Kini ia sudah menulis sebanyak lima bab karna ide yang ada dikepalanya kebetulan berjalan dengan sangat lancar.


     Selesai mengoreksi dan memublikasikan ceritanya azan Isya pun berkumandang dan ia melanjutkan ibadahnya kembali.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇

__ADS_1


__ADS_2