
Didalam kamar Miftah dan Permata sudah sangat panik, bagaimana tidak? Pintu kamar di dobrak berulang kali tanpa henti.
"Aduh Kaka... Gimana nih..." raut wajah Miftah begitu cemas.
"Kaka juga gak tau dek... Kayaknya itu bodyguard calon suami Kaka deh..." tebak Permata sambil memeluk Miftah dan Miftah juga balas memeluknya.
Sebenarnya Permata sama sekali tidak takut dengan Werdan, ia hanya takut dengan bodyguardnya yang sangat sangar.
Karna ia sempat melihatnya sebelum mereka sampai ke toko gaun.
Dan kini pintu pun sudah terbuka, sang bodyguard mulai mencari ke kiri dan ke kanan hingga saat ia menghadapkan pandangannya ke depan senyuman miring terukir jelas dari bibirnya.
"Ternyata dugaan bos benar! nona memang ada di rumah ini," ucapnya yang hendak mendekat dan itu membuat tubuh dua gadis itu bergetar.
Saat tangannya hendak meraih Permata, papa Firdaus langsung menahannya.
"Jangan berani kau sakiti satu orang pun di rumah ini," geramnya.
"Pergi! saya tidak ada urusan dengan anda," menatap tajam.
Dan saat itulah perkelahian yang cukup sengit terjadi.
"Miftah! cepat bawa perempuan itu ke tempat yang aman," perintah sang papa.
"Baik pa," lalu menarik tangan Permata untuk pergi dari situ.
Saat sudah di luar pintu, langkah kaki mereka jadi terhenti saat melihat ada puluhan bodyguard yang ikutan menaiki tangga.
Dari bawah terlihat sang mama yang masih bertarung dengan beberapa bodyguard hingga wajahnya sedikit lembam akibat sebuah pukulan lawannya.
"Aduh... Mereka pada naik lagi," ucap Permata bingung.
Miftah yang tak sengaja melihat kamar Firdaus memilih berlari kesana dan mengetuk pintu dengan kasar.
"Kaka... Kaka tolong buka pintunya Kaka! Miftah mau masuk," pintanya berulang kali.
Sedangkan Permata jadi semakin cemas saat bodyguard itu sudah berjalan mendekat.
Beberapa ada yang masuk untuk menolong rekannya yang sedang bertarung dengan papa, sisanya memilih untuk menangkap Permata.
Tak berapa lama kemudian Firdaus pun keluar dari kamarnya dan ia sangat terkejut saat melihat keramaian yang ada di luar.
"Akhirnya Kaka keluar juga," ucap Miftah merasa lega lalu bersembunyi di belakang punggungnya sedangkan Permata jadi terbawa juga.
"Lho! Ratuku, ada apa ini?" tanyanya bingung.
__ADS_1
"Mereka kesini untuk menangkap kak Permata kak..." jawabnya.
"Permata itu siapa?" tanyanya lagi masih merasa bingung.
"Udah Kaka jangan banyak tanya... Mendingan Kaka bantu kami... Kak Permata itu di samping Kaka..." jawabnya sambil menunduk ke arah orang yang di tanya.
Firdaus hanya melihat sekilas lalu bergegas untuk maju di hadapan mereka tanpa rasa takut sedikitpun.
"Hey! mau apa kalian ke sini hah?" tanyanya santai sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana panjangnya.
"Bukan urusanmu! urusan kami hanya untuk mengambil nona Permata kembali kepada tuan kami," beritahu salah satu dari mereka.
"Dengar ya! siapa pun yang sudah masuk dengan baik - baik di sini maka dia adalah tamu, jadi aku tidak akan pernah membiarkan orang lain merenggut ketenangan tamu yang datang ke rumahku ini." responnya serius.
"Kami tidak peduli! andaikan bodyguardmu bisa di ajak kompromi dan mengizinkan kami memeriksa rumah ini secara baik - baik, maka ini semua pasti tidak akan terjadi." ucap salah satu dari mereka sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Benar sekali itu," sambung yang lainnya serentak.
"Hmmm... Jadi apakah kalian sekarang masih berniat untuk mengambil gadis itu tanpa seizinku?" tanyanya sambil mengangkat satu alisnya dan memijit dagunya.
"Heh! untuk apa kami harus meminta izin kepadamu hah? emangnya kamu bos kami apa? yang benar saja," elak salah satu dari mereka.
"Oke! kalau kalian masih tak ingin mendengarkan ku maka kalian harus bertarung denganku," ucapnya sambil menatap kuku - kuku jarinya.
"Cih! siapa takut man," ledek mereka.
"Baiklah! akan aku kabulkan permintaan kalian yang sangat menginginkan bertarung denganku." sambungnya.
Tanpa ba bi bu Firdaus langsung menghajar mereka tanpa perlu mengeluarkan banyak tenaga.
Ia hanya menggunakan tangannya saja untuk menangkis serangan mereka.
"Kaka hati - hati!" seru Miftah cemas.
Firdaus tak sempat menjawab apa yang Miftah katakan.
Tanpa penunggu waktu lama para bodyguard sudah tumbang semua.
Beberapa yang berniat naik jadi bergetar dan memilih turun.
Bodyguard yang tergeletak di paling depan menjadi sasaran pertanyaan bagi Firdaus.
Ia menarik kerah bajunya hingga sang pemilik baju jadi berdiri meskipun masih lemas.
"Kalau kau masih ingin hidup, aku ingin kau katakan padaku ini ulah siapa." pintanya dan sang bodyguard hanya diam.
__ADS_1
"Hmmm... Kau tuli apa berpura - pura tuli sih? jawab!!!" gertaknya di akhir kalimat.
Orang yang di tanya hanya mampu menormalkan detak jantungnya.
"Masih diam juga ya," ucap Firdaus sambil menganggukkan kepalanya berulang kali.
"Rasakan ini!" ucapnya sambil memberikan tinjauan di perutnya hingga ia jadi memuntahkan darah segar.
"Segitu sayangnya kau pada tuanmu itu sampai kau rela menutup mulutku rapat - rapat, aku jadi penasaran bagaimana sosok tuanku tersebut." ucap Firdaus sambil menggenggam kedua tangannya di belakangnya punggung.
Miftah dan permata yang melihat itu jadi semakin bergetar dan mereka memilih untuk mengikuti Firdaus saja agar merasa aman.
Sebelum turun Firdaus lebih dulu menolong papanya yang masih bertarung dengan salah satu bodyguard.
Setelah sang bodyguard ambruk juga Firdaus langsung menarik tangan sang papa untuk turun ke bawah.
Kini mama sudah sendiri, tak ada yang menyerangnya lagi semenjak para bodyguard yang berkerja di atas habis jatuh tersungkur.
"Lho ma! kok wajah mama lembam sih?" cemas sang papa.
"Biasa pa... Kan namanya juga abis berkelahi," jawabnya santai.
"Ini gak boleh dibiarin, ayo papa bantu obatin." ajaknya sambil menarik tangan istrinya.
"Is papa... Orang mama gak ada apa - apa kok... Cuma lembam sedikit doang..." resahnya menolak.
"Mama ini masih aja ngeyel yah! udah ikut papa aja," geram sang papa lalu langsung membopong tubuh istrinya tanpa izin untuk ia bawa ke kamar.
Firdaus ternyata sejak tadi sudah keluar terlebih dulu karna tak sempat mendengar perdebatan orang tuanya.
Tatapan matanya tak sengaja bertemu dengan salah satu bodyguard yang tadi sempat memimpin beberapa bodyguard lainnya.
Miftah dan Permata yang sudah di luar langsung menjadi pusat perhatian Werdan yang masih ada di dalam mobil.
"Wah... Ternyata calon istriku benar ada disini," ucapnya lalu keluar dari dalam mobil.
"Kamu!" ucap Firdaus sambil menunjuk ke arah bodyguard tersebut.
Ada sebuah rasa kecewa yang bersemayam di hatinya untuk pria berbadan kekar itu, sedangkan sang pria merasa lebih terkejut lagi saat mengetahui sosok Firdaus yang menunjuk kearahnya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
__ADS_1
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇