
🍆 Di dalam Mobil 🍆
Zamrud sejak tadi sibuk memperhatikan Miftah di balik kaca kecil yang terletak di atas dinding kaca mobil depan.
Ia dapat melihat jika mata Miftah tampak begitu sembab, dengan Jilbab yang sedikit acak - acakan.
Sejak tadi ia hanya membiarkan Miftah mematung menatap pemandangan gelap malam yang hanya di sinari oleh lampu jalanan.
"Mif," ucap Zamrud memberanikan diri.
"Iya kak ada apa?" tanya Miftah sambil membalikkan tubuhnya ke arah Zamrud.
Ia mencoba memberikan senyuman manisnya kearahnya dan Zamrud tau jika Miftah sedang berusaha ceria di hadapannya sekarang ini.
"Mif... Aku tau tau kalau kamu sekarang sedang tidak bisa di bilang baik - baik saja, apakah kamu mempunyai sebuah masalah di malam pertama pernikahanmu hingga kamu harus pergi begitu saja?" ungkap Zamrud yang sejak tadi sudah sangat khawatir sekaligus penasaran dengan kepergian Miftah saat ini.
Miftah yang mendapatkan pertanyaan seperti itu oleh Zamrud hanya bisa menangis sejadi - jadinya untuk menumpahkan segala beban yang ia rasakan saat ini.
"Lho! kenapa kamu malah menangis Miftah?" pertanyaan konyol baru saja keluar dari bibirnya.
"Ya ampun Kaka... Apakah Kaka sadar? jika pertanyaan Kaka sebelumnya itu kembali membuatku mengingat puing - puing kejadian sebelum aku meninggalkan pantai tersebut," batinnya merasa resah.
Tanpa pikir panjang akhirnya Miftah memutuskan untuk memberitahukan hal ini kepada Zamrud karna ia juga butuh pelampiasan agar dirinya jadi sedikit tenang.
"Kak! aku sebenarnya benar - benar tak menyangka jika Firdaus, pria yang aku kira akan berubah ternyata itu hanyalah tipuan manisnya saja melalui lisannya."
"Ia sama sekali tidak mencintaiku kak, ia hanya menjadikanku objek agar ia masih bisa bertahan di perusahaannya jika ia berhasil menikahiku kak meskipun hubungan kami tidak bertahan lama."
__ADS_1
"Sore hari saat kami baru saja tiba, ia memberikan perhatian yang luar biasa dan tak pernah kudapatkan sebelumnya selain dari papa dan mamaku."
"Aku sampai sangat bahagia kak, perlakuannya begitu manis. Tapi sayang itu tak semanis kejujuran hatinya dalam merajut hal itu bersamaku."
"Hingga aku rela bahkan percaya untuk memberikan kehormatanku tanpa keraguan untuknya sekarang, tapi kenapa harus kenyataan pahit yang aku lihat saat hal ini telah terjadi? kenapa? aku tidak sanggup,"
"Kenyataan pahit yang seperti apa Mif?" tanya Zamrud.
"Aku-" ucapannya terhenti.
"Aku apa Mif? sudah katakan saja tidak apa - apa kok," pinta Zamrud yang masih fokus mengemudi hingga Miftah melihat kearahnya terlebih dahulu sebelum mengatakan hal yang selanjutnya.
"Aku benar - benar tak menyangka jika selama ini Firdaus juga sudah memberikan harapan pada seorang wanita yang merupakan ustazah di sebuah pesantren yang dulu menjadi tempatnya menuntut ilmu," sambungnya yang sontak saja begitu membuat Zamrud terkejut saat mendengarnya.
"Apa? benar - benar pria brengsek dia, makanya sejak awal aku sebenarnya kurang suka dengannya. Mulai sekarang saranku lebih baik kamu pergi menjauh dari tempat ini agar dia sadar akan kesalahannya akibat telah mempermainkanmu," saran Zamrud yang ikut terbakar api emosi.
Tapi tetap saja, ia kini sudah menganggap Miftah sebagai adiknya bahkan bagian dari keluarganya. Jadi mau bagaimana pun juga, jika ada yang sampai melukai Miftah entah itu batin atau fisiknya ia akan turut merasakannya juga.
Miftah hanya diam saat Zamrud mengatakan jika Firdaus adalah pria brengsek, jujur! tadi ia sempat mengatakan hal itu juga. Tapi kenapa hatinya masih saja menolak kata - kata kotor itu untuk Firdaus? ia sendiri masih sangat bingung sebenarnya.
"Miftah," panggil Zamrud karna belum juga mendapat responan dari nama yang di tanya.
"Oh! maaf kak, mungkin aku harus memikirkannya dulu." responnya akhirnya.
"Hmmm... Sepertinya kamu memang sudah cukup besar mencintai Firdaus, tapi Kaka juga gak akan membiarkan kamu hanyut begitu dalam pada pria yang sudah mempermainkan perasaan kamu bahkan di depan matamu sendiri sudah terbukti jika ia juga memberikan rasa pada wanita lain." geram Zamrud.
"Sudahlah kak, mungkin memang ini sudah menjadi nasibku sejak dulu. Merasakan pedihnya perpisahan orang tua akibat rasa iri dari orang lain. Dan sekarang perasaan ku juga dengan mudah di permainkan oleh pria lain. Benar - benar terbukti jika aku ini hanyalah seorang gadis bodoh yang mudah di jebak ke dalam lubang kejahatan orang lain." pasrahnya tak habis pikir.
__ADS_1
Zamrud yang tak sanggup lagi melihat betapa hancurnya Miftah sekarang memilih memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.
"Lho kak, kenapa Kaka malah berhenti?" tanyanya heran.
"Mif! untuk kali ini saja Kaka mohon sama kamu, cobalah untuk menjadi wanita yang tegar! wanita yang tak mudah di injak - injak harga dirinya oleh laki - laki. Sekarang coba kamu lihat dirimu, setelah kamu memaafkan perbuatan pria itu di masa lalu apakah balasannya setimpal di masa sekarang? tidak kan? lalu kenapa juga harus keraguan yang masih terselip di dalam hatimu untuknya. Sudahlah! belajarlah melupakan. Kamu pasti tidak mau kan jika harus membuat orang tuamu terus khawatir dengan sikapmu yang mudah pasrah seperti ini?"
Kata - kata bijak Zamrud keluar begitu saja sekarang, ia sungguh tidak bisa ikut berpikir jernih. Karna ia sudah tau luka apa yang Miftah alami sejak dulu, sampai ia baru saja bisa bangkit lagi malah di hantam dengan ujian kembali.
Miftah akhirnya berhasil sadar setelah mendengar kalimat Zamrud yang panjang kali lebar tapi benar - benar begitu bermakna kali ini.
Ia mencoba menarik napas dalam lalu mengeluarkannya kembali. Ia juga menutup matanya, mencoba menenangkan dirinya sebelum mengambil keputusan detik itu juga.
"Mungkin Kaka benar, kalau begitu aku akan mengambil keputusan yang tak pernah ku ambil sebelumnya. Aku ingin tinggal di sebuah pulau kecil yang jauh dari sini, di sana adalah tanah kelahiran orang tuaku dan memang belum pernah lagi aku kunjungi sebelumnya."
"Terakhir aku ke sana saat umurku masih berusia delapan tahun dan ada banyak teman yang selalu membuatku ceria meskipun tanpa kemewahan. Kami sering bermain di pinggir laut meski untuk sekedar mengumpulkan beberapa keong pasir yang ujung - ujungnya juga kami buang kembali," ceritanya usai mengambil keputusan.
Zamrud akhirnya dapat bernapas lega saat Miftah setuju dengan usulannya dan ia benar - benar tak menyangka jika pilihan Miftah itu benar - benar terletak di seberang lautan.
Pulau itu memang terkenal indah meskipun tidak terlalu banyak penduduk, namun masalah pendidikan atau apa pun sudah bisa di bilang lengkap bahkan hampir menjadi kota.
Karna merasa sudah menyelesaikan masalah untuk saat ini baru Zamrud menyalakan kembali mobilnya untuk membelah jalanan. Kini tujuan mereka adalah ke rumah orang tua Miftah, masalah barang - barang Miftah ia akan menyuruh Bi Ati yang membereskan semuanya hingga Zamrud hanya tinggal mengambilnya saja.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
__ADS_1
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇