
Matahari sudah hampir redup, Jannah baru saja keluar dari kamarnya usai melaksanakan Sholat Ashar sambil membawa sebuah koper berwarna ungu di sebelah tangannya.
Bibirnya tak berhenti merekahkan senyuman penuh kebahagiaan karna ia dan Firdaus berencana pergi berbulan madu di dekat pantai sambil menikmati ombak sore juga menyaksikan matahari terbenam.
Sang mama dan papa yang melihat mantu kesayangan mereka sudah tampak cantik dengan baju biru muda telah duduk di sofa ruang tamu.
"Kamu sudah siap sayang?" tanya sang mama.
"Alhamdulillah Miftah sudah siap ma," jawabnya.
"Oh iya! mama sama papa Miftah kemana ya ma, pa?" tanyanya sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
"Mama sama papa kamu masih berada di dalam kamar sayang... Entah apa yang mereka lakukan sejak tadi," jawab sang mama sambil menatap suaminya.
"Iya apa yang mama bilang benar Miftah... Jangan - jangan mereka-" ucapan sang papa jadi terpotong.
"Ekhem! jangan asal menduga - duga ya... Aku sejak tadi sedang menunggu istriku untuk berdandan dan itu membuatku hampir jenuh di dalam sana," keluh pak Askari.
"Oh... Papa udah bosen ya nungguin mama? mau kita keluar rumah sekarang dengan tampilan muka mama yang jelek tanpa make up?" geram sang mama.
"Eh! bukan gitu mama... Kan kita cuma mau ke supermarket untuk berbelanja beberapa hal sebelum pulang kerumah kita sendiri, jadi gak perlulah harus berdandan cukup menor begitu." protes suaminya.
"Hahaha pak Askari ada - ada aja, padahal Rosalia hanya berdandan biasa saja itu." ucap pak Alterio.
"Iya sih... Tapi yang paling lama itu mama benerin jilbabnya, udah buat gaya kayak gini malah di ganti gaya yang kayak gitu. Buat gaya yang kayak gitu malah di ganti lagi yang kayak gini. Ujung - ujungnya kan gaya yang waktu awal juga. Kan buang - buang waktu aja si mama," resah sang papa sambil memegang dahinya yang sedikit berdenyut.
"Ya namanya juga perempuan Askari... Aku juga suka jenuh sih waktu nungguin istriku," respon Alterio yang sontak saja mendapatkankan cubitan kecil di pinggangnya dari istrinya.
"Oh... Ternyata papa juga sama ya jenuh nungguin mama... Mama kan kalau dandan lama kan juga demi papa, biar gak malu jika Istrinya tampil cantik." protes Dahra yang sudah ikut - ikutan angkat suara.
"Iya deh iya..." pasrah sang papa yang tak ingin memperpanjang perdebatan.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian Firdaus pun akhirnya datang juga dengan Fahman dan juga Permata di belakangnya.
"Eh Permata, akhirnya kamu kelihatan juga setelah sejak kemarin hanya ambu lihat sebentar." ucap mama Miftah.
"Hehe iya maaf ya Ambu... Permata juga gak tau mau bilang apa juga... Soalnya bang Fahman dari kemarin ngajak Permata main terus," jujurnya.
"Ya ampun Fahman... Benar - benar ya kamu... Pergi ajak Permata kenapa gak kasih tau mama dulu hah? mama sampai khawatir dari kemarin, udah ma pulangnya selalu pas mau magrib." omel Dahra.
"Ya maaf ma... Namanya juga lagi bucin, kan gak lama lagi aku juga mau nyusul Kak Firdaus menikah." ucapnya enteng.
"Hadeh... Mentang - mentang sekarang kamu udah sukses dan punya uang banyak mau langsung ngebet nikah juga," respon sang mama sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Atu gak papa lah ma... Kan bagus itu kita bisa banyak nimang cucu, jadi gak sepi ini rumah nantinya banyak anak kecil." ucap sang papa yang sontak mendapatkankan anggukan penuh senyuman dari istrinya.
"Oh iya ya pa! papa benar juga, mama sampai gak kepikiran." respon sang Istri.
"Ya ampun ma... Pa. Orang mau nikah masak langsung ngebet banget punya anak, kita kan nikmatin masa pacaran dulu." protes Fahman yang sontak saja mendapat pukulan ringan di sebelah bahunya oleh Firdaus.
"Heh! mama sama papa cuma becanda tapi kamu malah serius banget," tegur Firdaus.
"Sudahlah Firdaus... Fahman sepertinya akhir - akhir ini jadi lebih sensi semenjak bucin, efek gak pernah merasakan jatuh cinta sih dulu... Pas ada yang dekat langsung di ajak sana sini... Tapi hebat juga ya Permata mampu membuat hati putra kita yang sedingin balok es jadi langsung cair kayak lagi di musim kemarau aja," ledek sang papa yang sukses membuat pipi Permata merona.
Fahman sebenarnya juga sama, namun ia sekuat tenaga menutupi ronanya itu hingga Firdaus hanya terkekeh saat melihat tingkah adiknya itu.
"Hahaha akhirnya kalian kena juga ya... Biasanya papa sama Mama itu paling hobi godaain Kaka sama Kak Miftah, sekarang malah berganti bukan untuk pengantin baru lagi... Bagus deh kalau begitu." girang Firdaus.
"Lah si Kaka gitu banget ya," resah Faham sedangkan yang lain hanya tertawa di buatnya.
Setelah berpamitan pada orang tuanya dan mertuanya Miftah pun melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam sebuah mobil yang nantinya akan mengarah ke pantai.
Kali ini Firdaus akan mengajak Miftah ke pantai yang sempat di kunjungi oleh ia dan sang papa beberapa Minggu yang lalu.
__ADS_1
Suasana di sana tampak sangat sejuk bahkan begitu indah meskipun agak mengerikan karna di penuhi oleh hiu pas di dasar laut.
🍆 Di dalam Mobil 🍆
Miftah sejak tadi tidak berani mengeluarkan suaranya, ia begitu gugup saat ini. Bagaimana tidak? tak lama lagi ia pasti akan menyerahkan kehormatannya pada pria yang kini sudah ia percaya menjadi imamnya.
Firdaus yang tau jika Miftah terlihat sangat gugup hingga tubuhnya menegang memilih mengangkat suaranya terlebih dahulu.
"Istriku," ucapnya.
Mendengar panggilan dari Firdaus membuat Miftah langsung menoleh ke asal suara dengan ekspresi terkejut.
"Eh! i-iya mas," responnya terbata - bata.
"Kamu kenapa? kenapa terlihat tegang begitu?" tanyanya yang sontak saja membuat Miftah semakin membisu.
"Miftah," panggilnya lagi setelah beberapa menit Miftah hanya mematung menatap jalanan yang ada di hadapannya.
"Eh!" lagi - lagi Miftah hanya terkejut sambil memberikan senyuman yang tampak begitu berat dari bibirnya.
"Sudahlah... Kamu tidak perlu tegang begitu, memang tujuan kita ke sini untuk menikmati malam - malam pernikahan kita. Tapi kalau kamu memang belum siap karna masih tersimpan keraguan di dalam hatimu untukku, aku tidak akan pernah mau memaksamu kok istriku." ucapnya menenangkan sambil memegang satu tangannya Miftah dan mengelus punggung tangannya dengan ibu jarinya.
Miftah sebenarnya juga tidak tau dengan dirinya, harusnya ia sudah bisa mengontrol dirinya agar tidak terlalu di kuasai rasa gugup saat sudah tidak ada lagi jarak yang membuatnya bisa berpisah dengan Firdaus untuk saat ini.
Namun mau bagaimana pun ini adalah hal baru baginya, yang memang belum pernah terjun ke dalam sebuah pernikahan yang membuatnya harus melakukan kewajibannya sebagai seorang istri untuk suaminya.
Akhirnya mereka pun sampai, Firdaus melepaskan genggaman tangannya pada satu tangan Miftah. Sebelum itu ia sempat memberikan senyuman ke arahnya dan mengecup dahinya singkat.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
__ADS_1
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇