
Saat Zamrud dan Zaldira turun barulah tamu undangan yang awalnya sempat terjeda untuk naik ke atas baru berani melangkahkan kaki mereka kembali.
Mata Miftah kini tertuju pada seorang gadis yang memakai baju gamis panjang berwarna abu - abu dengan renda berjalan ke arahnya.
Di belakangnya juga terlihat seorang gadis memakai baju sepotong berwarna coklat dengan gaya yang tak terlalu mencolok tapi tetap terlihat menarik. Tak lupa sebuah kaca mata yang memang menjadi ciri khasnya sejak dulu.
"Kak Viska! Kak Ning!" seru Miftah merasa girang bukan main saat melihat dua sosok Kaka yang sejak dulu selalu ada untuknya saat duka dan duka meskipun jarang bertatap muka.
"Ya Allah... Apa kabar kak Viska?" tanya Miftah.
"Alhamdulillah kabar Kaka baik dek..." jawabnya sambil tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu... Kalau kak Ning?" ucapnya yang kini pandangan matanya mulai menuju ke arah sang pemilik nama.
"Alhamdulillah Kaka baik sayang... Oh iya! tenyata ini ya calon suamimu itu? ganteng ya," puji kak Ning sambil tersenyum.
"Iya kamu benar, calon suami Miftah memang sejak awal sudah ganteng sih..." sambung kak Viska.
"Apa kamu sudah pernah bertemu dengannya sebelumnya?" tanya kak Ning padanya.
"Ya! kami pernah bertemu di rumah sakit," jawabnya.
"Memangnya siapa yang sakit? kamu?" tanyanya lagi.
"Eh! bukan," jawab Kak Viska cepat.
"Lho! terus siapa juga?" herannya.
"Jadi gini kak Ning, kami bertemu di rumah sakit akibat ibuku kemarin itu sempat terkena musibah, hingga akhirnya kami pun bertemu di sebuah ruangan dan ternyata Kaka ini adalah dokter khusus mamaku." jelas Firdaus tanpa di pinta.
Kak Ning yang sudah paham mulai mengangguk sambil berkata "oh... Jadi gitu... Baiklah aku paham," responnya.
Akhirnya setelah mereka berdua balik bertanya kabar pada Miftah dan berpelukan cukup lama beriringan dengan doa yang terus di bisikkannya tepat di telinga Miftah yang di tutupi hijab baru mereka turun dari panggung.
Suasana sudah tampak sepi karna beberapa pengunjung rata - rata sudah lebih dulu bersalaman sambil memberikan doa terbaik untuk sepasang suami istri ini.
"Kaka... Sudah agak sepi kayaknya ini ya... Kita duduk aja dulu yok, kaki Miftah sudah pegal banget dari tadi." ajaknya.
Bagaimana Miftah tidak pegal? tamu yang bersalaman tidak pernah ada jeda dari pagi sampai siang hari ini.
__ADS_1
Usai azan Dzuhur berkumandang barulah suasana sudah mulai tampak sepi karna mereka sudah pulang ke rumah masing - masing.
"Ya ampun Istriku... Kamu kenapa gak bilang dari tadi sih? kalau kaki kamu udah benar - benar pegal kenapa gak langsung duduk aja..." omel Firdaus.
"Gak enaklah Kaka... Ini kan hari - hari terbaik kita yang cuma sekali di rasai." responnya.
"Yaudah kalau gitu ayo kita duduk aja ya," ajak Firdaus.
"Iya Kaka... Makasih banyak ya..." angguknya yang kini sudah berjalan sedikit tertatih - tatih dengan sepatu kaca tingginya.
"Sama - sama istriku," responnya.
"Oh iya mas! sejak tadi apakah mas juga merasakan ada hal yang kurang?" tanya Miftah.
"Hal yang kurang? mas rasa enggak," jawabnya sambil mengerutkan dahinya.
"Tapi Miftah benar - benar merasa ada yang kurang sejak tadi mas... Cuma Miftah juga bingung itu apa," ungkapnya mencoba berpikir keras.
Hingga akhirnya jawabannya pun terjawab saat ada seorang pria yang naik ke atas panggung sambil membawa sebuket bunga di tangannya.
"Hai Miftah... Masih ingat aku kan?" tanyanya sambil tersenyum lebar.
"Ya ampun Kaka Wahyu... Pantas saja Miftah merasa ada hal yang ganjil dari tadi, ternyata itu Kaka toh! karna biasanya di mana ada kak Zamrud selalu ada Kaka. Kemarin Kaka juga gak hadir di wisudaan Zaldira soalnya," jawabnya yang kini sudah kembali bangkit tanpa memperdulikan rasa sakit yang masih terasa begitu berdenyut di telapak kakinya.
"Oh... Kemarin aku sibuk banget Miftah... Ada banyak pelanggan yang order burung di kebun Zamrud, sampai - sampai Zamrud mau tidak mau juga tidak bisa datang ke acara Zaldira." beritahunya.
"Kemarin dia datang dari hasil curi - curi waktu agar kerjaannya tak terbengkalai. Sebab jarang - jarang ada yang sekali pesan sampai ratusan ekor burung, hingga kami harus berusaha semaksimal mungkin untuk memasukkan burung ke kandang masing - masing sebelum di kirim." jelasnya.
"Pantas aja," respon Miftah yang mulai paham.
"Terus itu bunga untuk siapa? calon Kaka ya..." goda Miftah sambil menunjuk ke arah Wahyu yang kini tampak salah tingkah karna sebenarnya ia sudah lama menjomblo.
"Eh! enggak kok, ini bunga untuk kalian sebagai ucapan selamat dariku." responnya sambil memberikan sebuket bunga tersebut pada Miftah yang di terima dengan baik.
"Wah... Makasih banyak ya Kaka..." girang Miftah yang langsung menghirup aroma beraneka bunga warna warni yang masih hidup.
Saat Miftah sedang asyik - asyiknya menghirup aroma bunga yang begitu harum, tiba - tiba saja aktivitasnya jadi terhenti saat Wahyu mengajaknya dan Firdaus ke kebun terong yang ada di samping rumah mereka.
"Lho! buat apa kesana kak Wahyu? yang ada kebakar karna panas... Lagian semua orang rata - rata udah pada pulang kok," tanya Miftah merasa bingung.
"Siapa bilang mereka pada pulang Miftah... Orang semua yang hadir rata - rata asyik bermain di kebun Terongmu... Ada yang sibuk metik, berpoto bahkan menjadi tepat persembunyian bagi anak kecil lainnya." jelasnya hingga membuat Miftah penasaran lalu mengajak Firdaus untuk ikut dengannya ke sana.
__ADS_1
Miftah yang sudah tidak merasa malu lagi untuk langsung menggenggam tangan Firdaus mulai menyeretnya ke kebun dan Firdaus jadi tersenyum di buatnya.
Firdaus sangat senang dengan sikap Miftah yang tidak pernah sok malu - malu kucing dengannya, karna Miftah jika sudah cinta maka tidak akan pernah main - main dengan sasaran cintanya.
Langkah kaki Miftah dan Firdaus juga Wahyu yang sejak tadi hanya mengikuti dari belakang akhirnya berhenti juga di depan kebun yang memang betul - betul ramai.
Seorang Fotografer yang sejak pagi bertugas memotret Miftah dan keluarga besarnya sedang di sewa oleh semua orang untuk memotret mereka.
"Mif! kak Firdaus. Kayaknya cocok deh kalau kalian berpoto bersama di tengah - tengah kebun terong yang sedang berbuah lebat ini," usul Wahyu hingga membuat Miftah menunduk karna takut Firdaus menolaknya.
"Kenapa kamu tampak gak mau Miftah? benar - benar bagus lho... Tadi ada banyak banget yang berpoto di sini, para penjabat tinggi juga tidak absen." suruh Wahyu.
"Iya kamu benar Wahyu, kedengarannya memang sangat menarik. Jarang - jarang ada pengantin yang berpoto di kebun terong," pikir Firdaus sambil memijat dagunya.
Miftah sampai terkejut saat mendengarnya.
"Lho! tumben kak Firdaus kayak setuju gitu, biasanya kak Firdaus paling gak suka sama kebun terong hingga tega mencelakai ku dulu." batinnya jadi teringat kenangan pahit dulu.
"Yaudah kalau memang menarik langsung berpoto aja kak Firdaus," suruh Wahyu lagi.
"Baik, ayo istriku." ajaknya yang kini sudah bertukar jika tadi Miftah yang menggandeng dan menarik tangan Firdaus duluan sekarang malah sebaliknya.
Gerakan langkah kaki Firdaus sempat terhenti karna Miftah menahan tarikan Firdaus padanya.
"Lho, kamu kenapa?" tanyanya bingung.
"Kaka... Bukannya Kaka tidak menyukai kebun terong? kenapa sekarang malah ingin berpoto di sini?" bukannya menjawab Miftah malah balik bertanya.
"Kata siapa Kaka tidak suka hmmm?" selidik Firdaus.
"Ya kan dulu Kaka tidak suka sampai Kaka rela melakukan hal yang-" ucapan Miftah jadi terpotong.
"Sssttt.... Sudahlah istriku... Itu kan masa lalu yang tentunya sudah sangat berbeda dari sekarang, dulu aku memang tidak suka. Tapi sekarang, aku jadi cinta dengan kebun terong berkat dirimu." jelasnya hingga membuat Miftah terharu dan langsung memeluknya erat.
"Baik Kaka, aku percaya. Makasih banyaknya udah mau suka demi aku. Eh! maksudnya karna aku." bisiknya tepat di telinga Firdaus.
"Iya istriku... Apa pun demi kamu senang ya..." responnya lalu pelukan mereka terlepas.
Tak perlu menunggu waktu lama, kini mereka sudah berdiri di tengah - tangah kebun terong lalu bergaya sesuka hati hingga membuat orang lain sedikit iri dengan ke keromantisan mereka.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
__ADS_1
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇