
Di pagi hari yang cerah Fajar sudah siap dengan seragam sekolahnya, Miftah juga sudah meminta izin pada putranya untuk pergi sehari saja dengan Firdaus.
"Sayang... Ummi sama Abi mau ada urusan sehari ini, besok baru Ummi dan Abi pulang lagi. Fajar keberatan gak kalau Ummi tinggalin sama nenek dan kakek?" tanya Miftah sambil mengelus puncak kepalanya.
"Enggak kok mi, Fajar kan udah besar. Kalau Ummi benar - benar ingin pergi sehari atau dua hari juga gak papa kok." jawabnya hingga membuat Miftah merasa kasian kepada putra kecilnya itu.
Sejak dulu Fajar sudah biasa di tinggal olehnya di rumah tetangga dan bermain dengan temannya ketika pulang sekolah.
Tidak seperti anak kecil pada umumnya, pulang sekolah ia menaruh tas dan mengganti pakaiannya lalu sarapan apa yang ada di atas meja.
Beruntung meja makan tidak terlalu tinggi, jadi mudah baginya untuk menggapainya.
Selesai makan Fajar menaruh piringnya ke tempat kotor, karna wastafel agak tinggi ia memilih menarik kursi yang ada di meja makan baru menaikinya agar mudah menyalakan dan mematikan wastafel.
Ia benar - benar tidak ingin membuat Miftah merasa lelah, saat tak sengaja melihat Miftah menangis di malam hari Fajar jadi ikutan sedih.
"Ummi... Ummi kenapa nangis? Ummi jangan sedih ya... Kalau ada yang jahat sama Ummu bilang aja sama Fajar, biar Fajar marahin orangnya." ucapnya sambil menghapus air mata Miftah.
Miftah jadi semakin merasa kuat, demi Fajar ia rela bertahan dari rasa pahit akibat ujian yang sedang menimpanya saat ini dan berharap semoga kedepannya terbayarkan dengan hal yang begitu indah dari Sang Kuasa.
"Gak papa sayang... Ummi cuma lagi gak enak badan aja makanya nangis," elaknya.
"Ummi bohong, Fajar tau Ummi pasti lelah. Meskipun Fajar gak tau lelahnya karna apa, lebih baik kita tidur aja ya Ummi. Biar Fajar yang peluk Ummi supaya tenang," ucapnya yang entah belajar dari mana kata - kata tersebut.
Miftah sempat berpikir, apakah Allah yang sengaja menitipkan anak seperti Fajar untuk menyejukkan hatinya di kala ia benar - benar rapuh sebagai tanda sayang Allah yang begitu besar kepada Hamba-Nya termasuk dirinya.
Selesai makan barulah Fajar bermain bersama teman - temannya, tak lupa ia menutup pintu rumah seperti pesan Miftah yang tak pernah bosan ia ingatkan sebelum Fajar masuk ke dalam kelas.
Miftah tersenyum saat mendengar apa yang di ucapkan oleh putranya itu, ia lalu mengambil salah satu tangan putranya dan mengajaknya ke dalam mobil yang akan ia gunakan untuk pergi ke pantai bersama Firdaus nantinya.
Sesampai di depan mobil yang terletak di depan rumah, terlihat Rangga yang sejak tadi sudah bersiap - siap di pinggir mobil merah tersebut.
"Sayang... Ummi minta maaf ya karna Ummi sama Abi lagi gak bisa antarin Fajar ke sekolah pagi ini, Fajar perginya sama Om Rangga aja ya." beritahunya.
"Baik Ummi," responnya yang lebih dulu menyalami tangan Ummi dan Abinya yang baru saja keluar dari rumah.
Firdaus menggendong Fajar sebentar dan menaruhnya di depan Rangga, karna Fajar sangat suka duduk di bagian depan sebab lebih puas merasakan angin dan melihat jalanan langsung di depan mata tanpa ada penghalang apa pun.
"Assalamualaikum Ummi, Assalamualaikum Abi." ucapnya sambil tersenyum lebar.
"Wa'alaikum salam nak," jawab Firdaus.
"Wa'alaikum salam sayang... Belajar yang rajin ya..." sambung Miftah mengingatkan.
__ADS_1
"Baik Ummi, siap." responnya sambil mengacungkan satu ibu jarinya dan hal itu membuat Rangga ikut tersenyum melihat keceriaan Fajar yang tidak merajuk sedikit pun saat ingin di tinggal.
"Mas, yuk." ucap Miftah.
"Iya sayang," responnya lalu merangkul Miftah ke depan pintu mobil yang akan Miftah duduki di sampingnya.
Tak perlu menunggu waktu lama meraka akhirnya sampai di pantai tersebut, suasana dan keindahan yang terpancar dari pantai ini memang tak pernah berubah dari dulu.
Pantai ini sangat pintar membuat orang lain jadi merasa rindu terhadapnya.
"Mas, boleh enggak kalau Miftah jalan di atas pasir pantai ini tanpa alas? Miftah pengen mas," izinnya.
"Ini masih panas sayang... Nanti kulitmu kayak terbakar gitu, lebih baik nanti malam aja ya." larang Firdaus.
"Yah... Padahal Miftah pengen banget tau mas," ucapnya merajuk.
"Kalau mas bilang enggak ya enggak sayang," resah Firdaus khawatir.
"Yaudah kalau mas gak izinin Miftah ngambek nih, orang matahari di sekitar sini redup pun." ancamnya sambil melipat tangan di bawah dada, wajahnya ia palingkan ke arah lain.
Firdaus hanya mampu menghembuskan napas kasar baru membalas ucapan Miftah.
"Yaudah boleh, tapi di sekitar pohon yang teduh ini ya. Lewat dari itu gak boleh," aturnya penuh penekanan.
Cuuup
Sebuah kecupan mendarat sempurna di sebelah pipi Firdaus.
"Love you," sambungnya sambil terkekeh pelan lalu bergegas turun dari mobil dan membiarkan jari - jari kakinya masuk ke dalam pasir pantai yang sedikit kasar.
Firdaus jadi mematung sesaat, lalu ia kembali tersadar dan ikut turun dari dalam mobil.
Tangannya mulai mengambil benda pipih yang berada di saku celananya sambil memperhatikan Miftah yang sibuk bermain di atas pasir pantai.
"Dreeet... Dreeet... Dreeet..."
Suara dering ponsel mulai terdengar dan tak berapa lama kemudian panggilannya pun di angkat.
"Assalamualaikum, maaf ini siapa ya?" tanya seseorang di balik telpon.
"Wa'alaikum salam Om Anggara, masih ingat Firdaus gak?" tanyanya sambil tersenyum.
"Firdaus? maaf yang mana ya?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Ya ampun Om ini tega sampai lupa lagi sama Firdaus, udah kali ke tiga ini Firdaus berkunjung ke pantainya Om. Pertama kali sama papa Firdaus, pak Alterio." beritahunya.
"Astaghfirullah... Oh iya, maaf ya Om lupa lagi. Maklum Om udah berkepala lima, jadi wajar kalau sering pikun. Hehe," guraunya.
"Hahaha Om ada - ada aja nih, mana ada berkepala lima. Palingan tiga Om, lagian Om kan gak tua - tua kali Om. Sama kayak papa," tawanya.
"Hehe iya Firdaus, kan di ada - adain sama Om. Ngomong - ngomong kamu lagi ada di mana? sama istri kamu lagi ya?" tebaknya.
"Iya dong Om... Kami kan tidak bisa di pisahkan," candanya.
"Hadeh... Mulai bucin ples lebay ya kamu sekarang," responnya.
"Biasa itu Om, baru anak satu kan emang gitu." beritahunya.
"Apa? kamu udah punya anak? berapa tahun?" kaget Om Anggara.
"Lima tahun Om, ganteng pokonya kayak Firdaus." PDnya.
"Emang ya PD kamu itu gak berubah - ubah ya Firdaus, kesel Om sama papamu. Kebangetan udah punya cucu tapi Om gak di kabarin, harusnya kan cucunya dapat oleh - oleh minimal satu ekor hiu pasukan dari Om." guraunya lagi.
"Hahaha gak perlu repot - repot lah Om... Mana Om ini ada - ada aja lagi pakai acara kasih anak Firdaus ikan hiu paus, hadeh... Yang ada anak Firdaus yang di telan nantinya." responnya.
"Hehe, iya maaf Om cuma becanda," ucapnya.
"Jadi yang diving cuma kamu sama istrimu aja?" sambungnya.
"Ya iyalah Om... Masak anakku yang masih kecil ikut Om, atu kelelep." resahnya tak habis pikir.
"Oke, kalau gitu Om tunggu kamu di tempat biasa ya sekarang." ucapnya.
"Baik Om, kalau gitu Firdaus tutup duluan ya. Assalamualaikum," responnya.
"Wa'alaikum salam Firdaus, jangan lupa ya." peringatnya.
"Beres Om... Langsung meluncur pakai roket sekarang," candanya.
"Hehe iya - iya," responnya lalu panggilan pun berakhir.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
__ADS_1
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇