
Miftah yang berada di seberang merasa sangat terkejut dan sempat menurunkan ponselnya sesaat, lalu ia menaikkannya kembali.
Itu ia lakukan berulang kali dan kegiatan itu terhenti saat Jannah membuka suara terlebih dahulu.
"Jadi mbak sudah tau kan saya ini siapa? umur kita pasti tak beda jauh," ucap Jannah.
"Maaf sebelumnya, apakah benar kamu adalah wanita yang beberapa tahun lalu pernah aku berikan cincin di tepi pantai?" tanyanya serius.
"Iya benar, saya harap mbak mau mendengar apa yang saya katakan terlebih dahulu seperti kesepakatan kita sebelum saling berjanji." jawabnya.
"Ya ampun! bagaimana ini? kenapa tadi aku begitu bodoh main asal berjanji saja, aku tidak mau mengingkari janji apa pun yang sudah aku sepakati." batinnya merasa resah.
"Jadi bagaimana mbak? apakah saya sudah bisa berbicara dengan mbak?" tanyanya sopan.
"Mmmm... Baiklah," pasrahnya.
"Terima kasih mbak," responnya dan Miftah hanya diam.
Karna tak ingin berlama - lama akhirnya Jannah mulai menyampaikan apa yang menjadi tujuannya.
"Maaf sebelumnya mbak-" ucapannya terpotong.
"Sudahlah kamu cukup panggil saya Miftah," usulnya mengizinkan.
"Baik Miftah, mungkin kabar yang ingin aku sampaikan padamu kali ini sungguh tak ingin kamu dengar sama sekali. Tapi aku berharap kamu bisa menyimpulkannya dengan perasaanmu, bukan dengan rasa benci akibat masa kelammu." pintanya.
"Akan saya usahakan," responnya.
"Jadi begini Miftah, asal kamu tau waktu kamu kasih cincin itu ke aku Firdaus sama sekali tidak menggunakannya untuk langsung menikahiku. Butuh waktu sebulan untuk ia menenangkan dirinya, seminggu setelah itu baru ia meminta izin padaku untuk datang ke rumah."
"Seperti dugaanku, ia memang datang untuk melamar ku." beritahunya.
"Ya aku tau, dia kan dulu sebenarnya cintanya hanya sama kamu. Sedangkan aku cuma di jadikan benda penyelamat perusahaannya saja," responnya acuh.
"Tolong jangan di potong dulu ya... Biar kamu paham," pintanya memohon.
"Oke," jawabnya singkat karna cukup malas membahas kejadian kelamnya.
"Kau tau? Firdaus itu melamar ku bukan karna cinta, ia melamarku akibat janji yang dulu sempat kami buat."
"Mungkin saking yakinnya ia akan perasaannya dulu, sampai cepat mengambil keputusan. Tapi jodoh tak ada siapa yang tau kan? hingga hatinya jadi berpaling pada gadis lain."
__ADS_1
"Memang katanya gadis itu sempat di benci olehnya, karna ia benar - benar tidak menyukai gadis yang suka banyak berbicara di sosial media apa lagi dapat dengan mudah mengaturnya."
"Firdaus jika sudah marah ia bisa saja melakukan apa pun di luar kesadarannya, tapi perlu kamu ketahui Miftah kalau Firdaus itu hanya mencintai gadis itu seorang."
"Sadar tidak kalau gadis yang aku maksud tadi adalah kamu Miftah,"
"Kamu pikir selama kami menikah kehidupan rumah tangga kami akan sangat indah? tidak Miftah kalau kamu berpikir begitu kamu salah besar."
"Firdaus memang selalu memberikan kasih sayang kepadaku, ia berusaha bersikap layaknya seorang suami yang sangat bucin terhadap istrinya."
"Tapi di balik itu semua ia ternyata hanya berakting saja, ia tidak ingin menyakiti siapa pun."
"Dulu saja karna niatnya menikahimu ia sampai rela memprivasikannya statusnya dariku, dan tak pernah lagi menanyai kabarku."
"Miftah, semenjak Firdaus tau kalau kamu banyak membuat konten kebun terongmu bukan untuk bisnis mu semata, yaitu untuk memperlihatkan pada orang tuamu jika kamu bisa hidup tanpa mereka hingga mereka ingin menjemputmu meski tak mungkin."
"Ia jadi memahamimu, apa lagi kalian sudah lama tinggal satu rumah meski beda kamar."
"Jadi inti pembicaraanmu ini apa sebenarnya?" tanya Miftah sambil mengangkat satu alisnya.
"Tolong kembalilah kepada Firdaus, dia sangat membutuhkanmu. Dia benar - benar menyesal karna tak lebih dulu memberi tahumu masalah ini akibat takut kamu menjauh,"
"Maaf Jannah, sepertinya itu tidak mungkin," putusnya cepat.
"lho, kenapa? bisakah kamu memberikanku alasan?" tanyanya.
"Jannah, aku ingin bertanya padamu. Apa kamu sadar dengan apa yang aku lakukan sekarang? kamu pasti akan membuat perhatian suamimu jadi terbagi, dan akankah anakmu akan menerima semua itu?" ucap Miftah yang sudah tak habis pikir dengan tindakan Jannah yang cukup nekat ini.
"Hahaha," Jannah hanya tertawa.
"lho! kok kamu malah ketawa? apa ada hal yang lucu?" pikir Miftah sambil menaikkan satu alisnya.
"Aku hanya merasa jika kamu sudah terlalu berpikir jauh tentang hubunganku dan Firdaus Miftah," ucapnya sambil menunduk.
"Memangnya kenapa? kalian kan juga sudah lama berumah tangga mungkin, ini saja udah tahun ke lima. Masak iya kalian belum memiliki momongan," tanyanya merasa tak percaya.
"Kamu tidak tau Miftah, sudah lima tahun aku dan Firdaus tinggal serumah bersama sebagai sepasang suami istri. Tapi Firdaus tidak pernah menyentuhku, ia masih ragu melakukan hal itu akibat perasaannya yang masih tersimpan dalam untukmu." jelasnya hingga membuat Miftah begitu terkejut saat mendengarnya.
Tiba - tiba saja ia jadi teringat kisah papanya dan mamanya, saat berpisah. Sikap Firdaus ini benar - benar sama seperti papanya, meskipun papanya sudah menikahi wanita lain tetap saja ia tidak menyentuh wanita itu.
Bagaimana tidak? karna bayangan mamanya sangat kuat, dan berkat cinta juga papanya mampu menerima mamanya kembali meski sudah di sentuh oleh pria lain.
__ADS_1
Cinta, tak ada satu pun insan yang bisa menebak kehadirannya. Terkadang desiran yang datang tak semua mengarah kepada jodoh yang telah di tetapkan.
Ada yang hanya untuk mengajarkan hingga dapat mengambil pelajaran saja.
Jujur! sebenarnya Miftah juga sudah lama merindukan Firdaus. Namun ia menahan semua rasa rindu itu karna bayangan masa pahit itu begitu kuat menghantuinya.
Tiba - tiba ia jadi teringat perkataan Firdaus saat di dalam mobil kemarin itu, intinya Firdaus juga pernah berkata jika suatu hari nanti tolong ketika ia mendapat suatu kabar buruk tentang Firdaus.
Firdaus ingin Miftah memahaminya tidak dengan apa yang di lihatnya, tapi dengan perasaannya.
Perasaan adalah kunci dari semuanya, yang dapat membuka pintu yang sempat tertutup rapat - rapat karna takut di sakiti kembali.
Lamunan Miftah jadi buyar saat Jannah kembali memanggilnya.
"Miftah, kenapa kamu hanya diam?" tanyanya.
"Eh! iya Jannah, kemungkinan besar aku sepertinya akan kembali kepada Firdaus. Tapi tolong jangan beritahu dia terlebih dahulu ya," pintanya.
"Benarkah? Alhamdulillah... Makasih banyaknya Miftah," girang Jannah dengan mata yang sudah berkaca - kaca meskipun hatinya bagai di tusuk seribu paku.
Sakit! bahkan sangat sakit, tapi tak dapat di lihat dengan mata terbuka. Hanya dapat mengetahui dari raut wajah yang terlihat penuh rasa kehilangan.
"Insya Allah Jannah, untuk sekarang iya mungkin. Tapi tetap saja berikan aku waktu untuk menjawab kepastian yang benar nanti malam," responnya.
"Baik Miftah," angguknya.
Setelah itu mereka pun jadi membahas hal lain, tak jarang mereka saling menceritakan tentang masa lalu mereka sampai mereka jadi tertawa bersama.
Miftah juga tak sungkan memberitahu di mana ia sekarang kepada Jannah.
Tak terasa azan ashar pun berkumandang, mereka mulai mengakhiri Vc.
Mereka kini tampak begitu akrab meski baru saja bertemu, sikap mereka yang mudah care dengan siapa pun membuat mereka tak butuh waktu lama untuk saling menyesuaikan diri.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇
__ADS_1