
Jam telah menunjukkan pukul tiga malam, Miftah terbangun akibat suara bising alaram ponselnya. Firdaus juga ikut terbangun di buatnya.
"Mif, kamu pasang alaram ya?" tanya Firdaus yang masih setengah sadar.
"Iya mas, aku kan memang sering pasang alaram untuk jam segini dan sebelum subuh hari. Aku mau sholat Tahajjud mas, apa mas mau ikutan?" tanya Miftah.
"Mas pengen sih sayang... Tapi tubuh mas kayaknya masih agak lelah deh," jawabnya.
"Yaudah kalau gitu mas tidur lagi aja sama Fajar ya... Aku mau ke kamar mandi dulu," ucapnya.
Karna semalam Fajar telat tidur, jadinya ia tak menyadari sedikit pun suara bising dari bantal di samping Umminya.
"Iya sayang, Sholat yang khusyu ya," responnya.
"Insya Allah mas," ucapnya yang langsung bangkit dari kasur lalu bergegas untuk ke kamar mandi.
Fajar tidur di tengah - tenang Miftah dan Firdaus, di atas tubuhnya terdapat salah satu tangan orang tuanya yang tetap setia memberikan kehangatan kepadanya.
Karna tak ingin mengganggu tidur lelap putranya dan suaminya akibat nyala lampu di kamar, usai berwudhu Miftah lebih memilih Sholat di Mushalla kecil yang ada di dalam rumahnya.
Biasanya ia memang sering Sholat di situ bersama Fajar, namun karna sekarang sudah ada Firdaus jadi tidak mungkin karna ruangan itu memang sangat kecil.
Miftah melaksanakan Sholat Tahajjud dengan khusyu, ia melakukannya berulang kali sampai ia merasa tak terlalu sanggup dan menutupnya dengan sholat witir.
Mata Miftah kini telah mengarah pada jarum jam kecil yang ada di ruangan kecil itu, tak lama lagi azan subuh juga akan berkumandang.
Kali ini ia sengaja untuk tak langsung kembali tertidur, ia lebih memilih membereskan semua barang - barangnya agar Firdaus tak perlu menunggunya nantinya.
Tak lupa ia membereskan seluruh ruangan rumah sebelum meninggalkannya. Keringat sudah mulai bercucuran dari pelipisnya dan Miftah hanya menghapusnya dengan punggung tangannya berulang kali.
Matahari memang belum terbit, suhu di desa itu masih di bilang cukup dingin. Tapi tidak bagi Miftah yang sudah lebih dulu membakar lemak tubuhnya dengan berberes rumah.
Hingga akhirnya semua tugasnya pun selesai, ia tinggal memasukkan semua pakaiannya dan Fajar aja ke dalam sebuah koper berukuran sedang.
"Alhamdulillah... Akhirnya siap juga," ucapnya merasa senang.
"Allahuakbar Allahuakbar,"
Suara azan mulai berkumandang dari Musalla, Miftah melirik Firdaus sekilas yang masih tertidur bersama Fajar.
Ia langsung bangkit dan mengambil anduknya yang berwarna ungu tua, baru masuk ke kamar mandi untuk menghilangkan rasa lengket akibat peluh yang begitu mengganggunya.
Pagi ini ia juga memilih untuk keramas karna sudah dua hari rambutnya belum ia basuh juga.
__ADS_1
Firdaus yang mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi jadi membuka matanya, sebelumnya matanya sempat tertutup rapat lagi hingga ia mencoba mengerjapkan matanya berulang kali untuk menyesuaikan cahaya lampu kamar yang sangat menyilaukan.
Firdaus kini memilih bangkit dan duduk di pinggiran ranjang, ia menduga jika Miftah pasti sedang mandi saat ini.
"Ya ampun sayang... Apa kamu tidak dingin apa mandi dalam keadaan yang masih subuh buta begini?" batinnya merasa heran.
"Krek,"
Suara pintu kamar mandi pun terbuka, Miftah keluar dengan lilitan handuk menutupi dadanya. Rambut panjangnya yang berwarna hitam kecoklatan itu dibiarkan terurai dalam keadaan basah.
Firdaus melihatnya tanpa berkedip, Miftah tampak semakin ayu dan terlihat begitu segar setelah mandi.
"Mas," ucap Miftah yang merasa tak nyaman dengan pandangan Firdaus padanya.
"Eh! maaf," responnya lalu menundukkan kepalanya karna merasa malu.
"Kan jadi malu, makanya kalau lihat aku itu biasa aja mas." cibirnya yang kini sudah berjalan ke lemari pakaian.
"Kamu cantik sih sayang," bisik Firdaus yang entah kapan sudah berada di belakang tubuhnya dan itu membuat Miftah begitu terkejut.
Hampir saja Miftah menjatuhkan pakaian yang baru saja ia pilih barusan.
"Isss... Mas ini sukanya ngagetin aja, udah sana ambil wudhu mas." suruh Miftah.
"Mas! aku lagi ada wudhu tau mas, nanti kalau mas pegang aku batal. Mas ini kebiasaan deh," dengus Miftah hingga gerakan tangan Firdaus berhenti.
"Hehe, maaf." responnya sambil terkekeh pelan.
"Hadeh... Kalau gitu cepat lah mas ambil wudhu," suruh Miftah lagi.
"Siap sayang," responnya sambil mengedipkan satu matanya.
"Ih! dasar mas genit," geramnya.
"Gak papa kan kalau sama istri sendiri? emangnya sama istri orang apa?" jelasnya.
"Terserah mas aja, pusing Miftah." acuhnya lalu kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.
Miftah yang sudah selesai berbenah kini juga sudah rapi dengan mukena putihnya.
"Esst, udah siap aja calon istri." goda Firdaus.
"Hahaha mas ini ada - ada aja, kan emang udah beneran jadi istri." tawa Miftah.
__ADS_1
"Oh iya ya, boleh minta Kiss gak?" gurau Firdaus.
"Oh... Mas mau minta tinjuan lima jari ya?" tantangnya.
"Eh! enggak kok sayang... Becanda mas ma... Cepat banget kebakar api emosinya," tolak Firdaus cengengesan.
"Lagian gak lucu yah mas... Kalau Miftah ada wudhu mas suka banget gangguin Miftah kayak gitu, jadi pingin nabok tau mas. Tapi sayang nanti malah batal," jujurnya.
"Hehe, silahkan kalau mau nabok mas gak papa kok." pancingnya.
"Mas, jangan buat Miftah hilang kendali ya mas. Dan Miftah setelah ini gak akan pikirkan masalah runtuh wudhu lagi, setelah itu Miftah akan wudhu kembali dan sholat di Mushalla kecil saja." peringatnya yang sukses membuat Firdaus terdiam dan tak ingin semakin mengomporinya.
Kini meraka sholat dengan tenang, hingga rakaat terakhir.
Usia sholat tanpa membuang waktu Miftah bergegas bangkit menuju dapur, ia memilih memasak nasi goreng saja.
Sedangkan Firdaus di tugaskan mengurus Fajar yang baru saja bangun dari mimpi indahnya.
Firdaus yang baru selesai memandikan Fajar jadi terkejut saat melihat isi lemari putranya yang sudah tampak kosong, hanya tersisa berapa potong baju saja di dalam sana.
"Apa mungkin Miftah sudah mempersiapkan segalanya? tapi kapan? kalau tadi malam gak mungkin, apa jangan - jangan setelah ia sholat Tahajjud? wah... Pantas saja ia tampak lelah dan memilih mandi awal, ia pun jadi agak sensian." batin Firdaus.
"Abi... Baju Fajar mana? Fajar dingin bi," ucapnya dengan bibir yang tampak sedikit pucat karna kedinginan.
"Eh iya, maaf ya nak Abi lupa. Sekarang lebih baik Abi pakaikan Fajar minyak kayu putih sama bedak baby dulu ya... Biar tubuh Fajar jadi wani, mau ya?" tanya Firdaus yang langsung di angguki olehnya.
"Pinter," sambung Firdaus lalu mulai melakukan tugasnya itu.
Siap dengan urusan Fajar barulah ia pergi ke dapur dan melihat nasi goreng yang begitu harum sudah tersedia di atas meja dengan telur mata sapi.
"Wah... Mantap nih," girang Firdaus yang perutnya mulai berbunyi.
"Iya ni, kelihatannya memang enak banget ya. Lagian masakan Ummi gitu lho Bi..." senangnya lalu ikut duduk di kursi biasa.
Kali ini Firdaus yang memimpin doa makan, setelah itu mereka mulai menyantap makanan masing - masing yang telah Miftah bagi sesuai ukuran.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
__ADS_1
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇