Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 183


__ADS_3

     Kini mereka sudah sampai di sebuah rumah yang tak kalah mewah di bandingkan rumah orang tua Firdaus.


     "Maaf ya Jannah, papa tidak bisa mengantarkanmu sampai kedalam karna hubungan kami selama kejadian suram beberapa tahun lalu telah membuat kami tak berani lagi saling bertegur sapa." ucap papa Firdaus.


     "Iya papa gak masalah kok, lagian papa juga sudah meminta izin pergi sama mama hanya sebentar. Masalah pulang biar Jannah naik taxi saja nanti ya pa," responnya.


     "Baik Jannah, hati - hati ya nak. Semoga keinginanmu dapat berjalan dengan lancar ya," harap sang papa.


     "Amiiin pa," responnya lalu keluar dari pintu mobil.


     Suasana di luar rumah besar itu tampak begitu sunyi, bahkan Jannah saja sempat bingung untuk berpikir bagaimana cara ia masuk kedalam sana.


     Tiba - tiba saja seorang satpam datang lalu langsung bertanya tentang tujuannya untuk datang kemari.


     Ia tanpa pikir panjang memilih berbohong, bahwa ia adalah salah satu teman Miftah saat masa bersekolah dulu dan benar - benar memiliki urusan penting dengan orang tuanya.


     "Baik, kalau begitu harap mbak menunggu sebentar karna saya harus meminta izin dulu kepada tuan dan nyonya." ucapnya.


     "Baik pak, sekali lagi makasih banyak ya pak." responnya sambil menyatukan dua telapak tangannya.


     "Sama - sama mbak," angguknya lalu berlalu pergi meninggalkan Jannah di luar pintu pagar seorang diri.


     Tak berapa lama kemudian pak satpam pun datang kembali dan mengizinkannya masuk ke dalam.


     "Wah... Mbak sangat beruntung sekali ya, biasanya ada banyak orang yang datang tapi tak satu pun dari tuan dan nyonya yang mengizinkan mereka masuk." beritahu pak satpam.


     "Memangnya kenapa sampai begitu pak?" tanya Jannah sedikit penasaran.


     "Ya saya kurang tau juga sih mbak, tapi setau saya mereka sedang sangat menjaga diri dari para mata - mata keluarga pak Alterio yang hendak mencari tau keberadaan putri mereka yang sedang di sembunyikan jauh dari tempat ini." beritahunya hingga membuat Jannah terkejut bahkan sampai mematung sesaat.


     "Mbak, mbak." ucap pak satpam mencoba menyadarkannya.


     "Eh iya pak! makasih banyak ya atas informasinya," responnya lalu memilih langsung pamit dari hadapannya.


     "Gawat! jika apa yang dikatakan oleh pak satpam itu memang benar, pasti akan sulit bagiku untuk mempertemukan Firdaus dengan Miftah nantinya. Ya Allah... Tolong bantu lancarkan urusanku ini ya Rab..." harapnya yang kini sudah sampai di depan pintu rumah keluarga Askari.

__ADS_1


     Jujur saja! kini tubuhnya sudah sedikit bergetar, namun ia sedang mencoba untuk menenangkan dirinya.


     "Tok tok tok," suara ketukan pintu mulai terdengar usai ia mengetuknya perlahan.


     Tanpa menunggu waktu lama seorang wanita paruh baya yang mungkin adalah seorang ART telah membukakan pintu untuknya.


     "Temannya non Miftah ya?" tanyanya tanpa perlu di beritahukan.


     "Iya benar sekali Bu," jawabnya sambil mengangguk tak lupa ia memancarkan senyuman tipisnya.


     "Baik, kalau begitu silahkan masuk ya. Tuan dan nyonya sedang menunggu kedatangan mbak di ruang tamu." ucapnya sambil mengulurkan tangannya ke depan.


     "Terima kasih," hanya itu yang Jannah katakan lalu ia langsung bergegas menuju ke ruang tamu.


     "Maaf tuan, nyonya. Ini adalah temannya non Miftah yang ingin bertemu dengan tuan dan nyonya." beritahunya sambil sedikit membungkukkan badannya.


     "Oh, baiklah bi Rena. Terima kasih ya, anda boleh kembali berkerja." respon Rosalia yang sejak tadi masih asyik menonton tivi.


     Kini ia mulai mengambil remot tivi untuk mematikan acara kesukaannya terlebih dahulu karna ada tamu di rumahnya.


     Setiap hari tugas Bi Rena juga mengganti koran yang biasa di letakkan di sini untuk menjadi bacaan pak Askari di kala waktu senggang.


      "Silahkan duduk," ucap pak Askari pada Jannah yang masih berdiri di samping sofa.


     Jannah pun menurut dan duduk dengan sopan di hadapan mereka.


     "Rena, tolong buatkan minuman untuk tamu kita ya." ucap Askari sedikit berteriak.


     Bi Rena dengan sedikit tergesa - gesa mulai menghampiri tuannya untuk berkata baik tuan lalu kembali lagi ke dapur.


     "Jadi, apakah benar kalau kamu ini adalah temannya Miftahul Jannah? putri kami? Dan siapa namamu?" tanya Rosalia.


     "Sebelumnya saya minta maaf kalau saya bukanlah teman dari putri ibu. Nama saya adalah Nurjannah, istri dari Firdaus Alfajar yang kedua." jujurnya.


      Saat mendengarnya nama Firdaus di sebutkan darah pak Askari jadi mendidih seketika.

__ADS_1


     "Jadi apakah tujuanmu datang ke sini untuk mencari perhitungan pada putriku, karna Firdaus masih belum bisa memperlakukanmu selayaknya akibat ia masih cinta pada putri kami? tidak akan ku biarkan!" ucapnya dengan penuh penekanan.


     "Maaf pak, tujuan saya sama sekali tidak untuk mencari perhitungan dengan putri bapak." responnya berusaha tenang.


     "Tapi sayang! saya memang sedang tidak ingin mendengarkan penjelasan apa pun tentang pria brengsek yang sudah menyakiti putri saya, bahkan hampir membunuhnya juga sebelum pertemuan kami dengan keluarganya terjadi." geram pak Askari.


     "Jadi lebih baik kamu segera pergi meninggalkan rumah ini, benar - benar memalukan sempat mengaku - ngaku sebagi temannya putri kami." usir pak Askari sambil menunjuk ke pintu keluar.


     "Sayang mohon sama bapak, untuk berkenan mendengar penjelasan saya terlebih dahulu." harapnya berkaca - kaca.


     "Kan saja sudah bilang!!! kalau saya sedang tidak ingin mendengar penjelasan apa pun tentang pria brengsek itu!!!" gertaknya akhirnya.


     "Saya mohon, saya tidak peduli setelah bapak mendengarkan apa yang saya sampaikan ini bapak akan paham atau tidak. Tapi setidaknya tolong hargai kerja keras saya yang bisa sampai masuk ke rumah ini," pintanya dengan berani.


     "Baik, kalau sampai penjelasanmu masih tak berarti untuk saya dan istri saya. Saya harap kamu berkenan untuk pergi dan tak akan pernah kembali lagi kesini. Bahagiakan saja pria yang tak memiliki perasaan itu sebisamu," ucapnya yang terasa begitu menusuk dada Jannah.


     "Baik pak! akan saya lakukan. Sebelumnya terima kasih karna bapak telah mengizinkan saya untuk menjelaskannya," responnya berusaha tersenyum.


     "Sudah jelaskan saja," sambung istrinya tak sabar untuk mendengar apa yang akan di sampaikan oleh Jannah nantinya.


     "Baik, sebelumnya saya sudah berkata jika saya memang istri kedua dari seorang Firdaus Alfajar. Tapi saya yakin kalau ibu sama bapak sama sekali tidak mengetahui apa yang menyebabkan Firdaus sampai rela menikahi Miftah dan apa alasannya sesungguhnya usai mengambil kehormatannya," beritahunya.


     "Jadi kamu juga tau tentang masalah itu?" tanya Rosalia.


     "Ya tentu saja aku tau, mungkin putri ibu belum mengatakan kejadian pasca ia baru melarikan diri dari pantai saat malam pernikahan pertama mereka."


     "Ia hanya berkata jika Firdaus berhiatan namun ia sendiri belum mengenali namaku pada saat itu, hanya aku yang semakin mengenalinya karna saat tidur Firdaus sering memanggil namanya." jelasnya.


     Pak Askari dan Rosalia mulai tertarik untuk mendengarkan apa yang Jannah katakan, itu jelas terlihat dari tatapan mereka yang mulai tampak serius pada Jannah.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆

__ADS_1


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2