Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 191


__ADS_3

     Di sisi lain di sebuah pulau kecil yang di huni oleh beberapa penduduk yang hidup tentram. Seorang gadis tampak sedang sibuk bergulat dengan beberapa bumbu dapur.


     Tangannya juga sedang mengiris bawang merah dengan telaten. Sebuah senyuman terukir indah dari bibirnya, senyuman kebahagiaan yang sejak dulu sudah jarang terlihat.


     "Ummi," ucap seorang anak kecil yang sedang berjalan ke arahnya sambil mengucek matanya, ia sedang mengenakan baju tidur berwarna biru dengan gambar pesawat terbang.


     "Eh! anak ummi sudah bangun," respon Miftah yang baru saja selesai mengiris bawang lalu bergegas mencuci tangan menggunakan sabun supaya anaknya tidak merasakan perih jika ia menyentuhnya.


     "Ummi, apakah ini hari Minggu? kenapa sudah jam delapan pagi Ummi masih tidak membangunkan Fajar?" protesnya yang mulai memanyunkan bibirnya.


     "Maaf ya sayang... Memang hari ini bukanlah hari Minggu, tapi hari ini Ummi sengaja mau liburkan Fajar biar gak sekolah dulu sehari aja." jelasnya.


     "Lho, emang kenapa ummi? Fajar padahal pengen banget sekolah dan gak mau bolos sehari pun, Fajar pengen pinter Ummi. Biar bisa nyusul Abi di luar kota nanti, Fajar pengen banget ketemu Abi. Apa Fajar salah Ummi?" kalimat itu begitu saja terlontar dari bibirnya.


              🍆 Beberapa hari yang lalu 🍆


     Fajar memang masih kecil, ia baru saja masuk TK beberapa Minggu yang lalu. Tapi pikirannya sangatlah dewasa melebihi anak - anak pada umumnya.


     Fajar kecil dulu masih merasa biasa - biasa saja dan sangat bahagia saat hidup hanya dengan mamanya, tak pernah terbesit dalam pikirannya jika sebenarnya ada sesuatu yang kurang dalam keluarganya.


     Saat ia kerumah saudaranya biasanya ia tampak acuh ketika teman mainnya sedang bercanda dengan ayahnya masing - masing.


     Seiring bertambahnya usia barulah Fajar sadar jika sosok ayah yang seharusnya ada menemani pertumbuhannya tak pernah terlihat.


     Hingga suatu malam iya memberanikan diri untuk langsung bertanya pada ibunya.


     "Ummi," ucapnya sebelum tidur.


     "Iya sayang ada apa nak?" tanya Miftah sambil menyelimuti tubuhnya.


     "Ummi, apakah Fajar punya ayah mi?" tanyanya yang sempat membuat Miftah membeku di tempat.


     "Jika Fajar memang punya sosok ayah kenapa ayah gak pernah ada dalam hidup Fajar mi? wajah ayah aja Fajar gak tau mi, Fajar juga pengen kayak teman - teman Fajar. Mereka sering banget di ajak jalan - jalan sama ayahnya," sedihnya.


     Mata Miftah jadi berkaca - kaca di buatnya, baru kali ini putranya mengeluh soalnya ayah padanya. Apakah di sekolah ia jadi dibuli akibat hal itu?


     "Nak, kenapa kamu tiba - tiba bertanya tentang Abi? apa teman - temanmu ada yang mengejekmu ketika bersekolah?" tanya Miftah.


     Fajar langsung menggeleng cepat.

__ADS_1


     "Enggak mi, mereka gak pernah menjelekkan Fajar. Malahan mereka pernah ajak Fajar ikutan main sama ayahnya waktu Umi belum datang di ayunan TK, dan Ummi tau gak?" ceritanya yang berujung pertanyaan membuat kepala Miftah menggeleng memberikan jawaban dari gerakan tersebut.


     "Fajar jadi seneng banget Ummi, andai yang lagi dorongin ayunan Fajar itu bukan ayah teman Fajar, tapi memang Abi. Fajar pasti akan lebih bahagia lagi mi," sambungnya hingga membuat Miftah mulai duduk di pinggir kasur.


     "Sayang... Abi sedang ada kerjaan jauh banget dari rumah kita, dan Abi janji kalau nanti Abi kembali Abi akan belikan banyak mainan untuk Fajar ya." hiburnya.


     "Wah... Yang benar Ummi?" tanyanya tak percaya.


     "Iya dong sayang... Kan Abi itu sangat sayang sama Fajar, waktu kecil aja Fajar sering di cium sama Abi." jawab Miftah terpaksa berbohong.


     "Hah? yang benar Ummi? tapi Fajar kok gak pernah mengingat apa pun? padahal ingatan Fajar kuat Ummi," keluhnya yang tak ingin di respon panjang oleh Miftah hingga ia mencari cara agar putranya tak banyak lagi bertanya padanya.


     "Emmm... Sayang... Kamu sekarang sudah besar mana mungkin masih terlalu ingat lagi, sudah. Sekarang Fajar tidur ya, kalau enggak emang besok Fajar mau telat masuk sekolah?" peringat Miftah hingga membuat Fajar menggeleng dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


     Miftah akhirnya dapat bernafas lega kala itu, ia lalu keluar dari kamar putranya. Tanpa Miftah sadari ternyata Fajar sedang menangis di dalam selimutnya.


     "Abi, Abi dimana? Fajar pengen banget ketemu Abi, Fajar tau kalau Ummi tadi membohongi Fajar. Fajar yakin kalau dari kecil Fajar gak pernah di gendong sama Abi, apa Abi gak sayang lagi sama Fajar?" gumamnya seorang diri.


                              🍆 Saat ini 🍆


     Fajar kecil tampak masih sabar menunggu jawaban Umminya yang sudah senyam senyum sejak tadi.


     "Fajar anak Ummi, sebelum Ummi jawab pertanyaan Fajar boleh gak Ummi yang nanya duluan sama Fajar?" ucapnya meminta persetujuan.


     "Emm... Ummi mau tanya kalau Fajar itu sebenarnya rindu gak sama Abi?" tanyanya.


     "Fajar pasti rindulah Ummi saja Abi, kan Fajar udah pernah bilang kalau Fajar akan belajar rajin - rajin sampai pinter biar Fajar bisa nyusul Abi. Fajar kangen banget Ummi sama Abi," jawabnya cepat.


     "Benarkah? seberapa besar Fajar kangen sama Abi?" goda Miftah.


     "Pokonya besar lah Ummi," responnya serius.


     "Kalau sama Ummi?" tanya Miftah lagi.


     "Kan kalau Ummi Fajar emang selalu berada di dekat Ummi," jawabnya.


     "Jadi Fajar kangennya sama Abi aja ya?" ucap Miftah pura - pura merajuk.


     "Eh enggak Ummi, Fajar kangen sama Ummi dan Abi. Fajar pengen banget gandeng tangan Ummi dan Abi di pantai." responnya tak mau melepaskan pandangannya dari tatapan mata Miftah.

__ADS_1


     "Baiklah, kalau Fajar benar - benar kangen sama Abi dan pengen di gandeng tangan Abi dan Ummi kita ke pantai sekarang yok." ajak Miftah.


     "Tapi kan Abi gak ke sana Ummi," herannya.


     "Ada kok, karna Insya Allah Abi hari ini mau pulang ke rumah untuk ketemu saja Fajar, dan Fajar tau gak? kalau Abi selama ini juga udah kangen banget sama Fajar. Pengen meluk juga," beritahu Miftah sambil menoel hidung putranya.


     "Ummi gak lagi becanda kan Mi?" tanyanya masih tak percaya.


     "Enggan sayang... Ummi gak becanda, masih mau sekolah sekarang?" tanya Miftah yang langsung saja mendapatkan gelengan cepat dari Fajar.


     "Enggak Ummi, kalau untuk ketemu Abi Fajar rela kok gak sekolah." girangnya yang tak berhenti memancarkan senyuman manisnya.


     Cuuup


     Miftah mengecup dahi Fajar sebentar.


     "Ya sudah sekarang kita siap - siap aja yok," ajaknya.


     "Iya Ummi, nanti tolong ambilkan Fajar baju yang paling bagus ya Ummi. Biar Fajar terlihat ganteng di mata Abi," pintanya hingga membuat Miftah menggeleng di buatnya.


     "Anak Ummi kalau pakai baju aja tetap ganteng kok," responnya sambil mencubit pelan pipi Fajar.


     "Is Ummi... Ini kan untuk Abi," dengusnya sedikit cemberut dengan tangan yang sudah di lipat dua hingga membuat Miftah jadi semakin gemas melihatnya.


     "Iya sayang... Baik - baik, udah sana Fajar mandi dulu ya... Nanti Ummi ambilkan baju yang bagus." responnya.


     "Ye... Makasih banyak ya Ummi sayang," girangnya yang hendak meraih wajah Miftah.


     Miftah yang paham mulai membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke arah putra kecilnya itu.


     Tangan mungil Fajar mulai bergerak untuk menyentuh kedua pipi Miftah lalu mencium sebelah pipinya.


     "Oke Ummi dadah," sambungnya sambil melambaikan tangan dengan kaki yang berjalan mengarah ke kamarnya.


     "Dadah juga sayang," responnya ikut melambai sebentar lalu kembali melanjutkan aktivitas memasaknya yang sempat tertunda.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗

__ADS_1


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2