
Setelah masuk kedalam kamar dan mengunci pintu baru Miftah dapat menghembuskan nafas lega, ia sebenarnya sangat tidak suka yang namanya pertengkaran meskipun itu hanya sebuah adu mulut.
Namun, ia juga seorang manusia biasa yang tak selamanya mempunyai iman yang kuat, ada saja ujian yang memancing kesabarannya.
"Bubububhuk!!!"
Terdengar suara pukulan pintu yang sangat keras dari luar kamar, Miftah yang awalnya sudah duduk diatas kasur dan ingin menjatuhkan punggungnya jadi bangkit terduduk saking terkejutnya.
"Ya ampun... Siapa sih?" geramnya merasa kesal.
Tak berapa lama kemudian ia pun terdiam saat mengingat dengan siapa ia tadi dikejar dan lari bak orang dikejar setan.
"Apa jangan - jangan itu kak Firdaus," pikirnya yang kini sudah kembali bergetar dengan wajah yang pucat pasi.
"Kaka benar - benar kayak macan kalau marah," resahnya sambil menghembuskan nafas kasar.
"Miftah! cepat kamu buka pintunya atau aku akan mendobraknya!" ancamnya.
"Dobrak aja kalau bisa," tantang Miftah yang masih berada diposisi awal.
"Oh! kamu menantang ku ya?" tanya suara dibalik pintu.
"Ya! aku memang menantang Kaka!" responnya berusaha mengendalikan dirinya.
"Cepat buka pintunya! kau tau! aku sangat lelah! aku hanya berniat untuk mengambil jaketku saja," resahnya.
"Hah? jaket? apa aku gak salah dengar?" tanyanya sedikit meninggikan suara.
"Kamu jangan berpura - pura bodoh ya! bukannya aku tadi meminjamkan jaketku?" ucapnya merasa geram.
"Entah!" responnya yang kini lebih memilih mengacuhkan Firdaus.
Ia merasakan tubuhnya yang mulai panas dan saat ia melihat ke arah tubuhnya ia sangat terkejut, ia benar - benar lupa jika ia sempat menerima jaket pemberian Firdaus.
"Miftah!" seru Firdaus yang masih setia berdiri diluar pintu.
Miftah langsung bergegas untuk bangkit dan saat sudah berada didepan pintu langkah tangannya yang ingin meraih gagang jadi terhenti.
__ADS_1
"Kak! aku akan membukakan pintu ini! tapi Kaka harus berjanji untuk tidak akan menyakitiku," ucapnya.
"Terserah!" responnya lalu pintu kamar Miftah pun terbuka.
Miftah tanpa pikir panjang langsung melepaskan jaket pemberian Firdaus, lalu menyerahkannya kepada sang pemilik barang dengan kepala yang terus menunduk. Ia tak berani melihat kearah lawan bicaranya.
"Ini," ucapnya dan Firdaus hanya diam.
Tangan Firdaus bergerak lincah memeluk pinggang ramping Miftah hingga membuat Miftah jadi sedikit berteriak, jarak mereka sangat dekat. Deru nafas saja bisa mereka rasakan, disaat itu pula tatapan mata mereka salin bertemu.
Miftah hanya terpaku. Ia sudah seperti batu dibuatnya. Tak tau harus berkata apa. Bergerak saja ia sudah tidak kuat.
Mereka terus saja diam mematung hingga akhirnya Miftah memutuskan tatapan tersebut lalu mendorong tubuh Firdaus sedikit kuat hingga Firdaus hampir jatuh karnanya.
"Kaka! apa yang Kaka lakukan?" dengus Miftah dengan wajah yang sudah memerah, jantungnya saja masih tak berhenti untuk berdetak kuat.
Firdaus tak menjawab, ia hanya tersenyum miring lalu tanpa ba bi bu langsung merampas jaketnya yang tergantung dilengan kiri Miftah.
"Karna aku tak boleh menghukummu secara fisik maka aku hanya akan menghukum jantungmu," responnya sambil berjalan menuju ke arah kamarnya yang letaknya setelah kamar Miftah.
"Apa?" tanyanya masih tak mengerti hingga Firdaus jadi menghentikan langkah kakinya.
"Aku yakin kamu juga merasakannya kan?" ucap Firdaus malah baik bertanya.
"Merasakan apa?" tanyanya masih tak mengerti.
"Miftah! kamu jangan berpura - pura bodoh! jika kamu juga menyukaiku pasti jantungmu akan berdetak dengan sangat cepat saat kamu berada sangat dekat denganku," jelasnya.
"Ya jantungku memang berdetak! kalau enggak ya pasti aku udah is dead," responnya sambil membuang muka ke arah lain.
"Apa kamu tidak tau kecepatan detak jantung saat normal atau tidak?" tanya Firdaus tak habis pikir dengan Mifah.
"Ya aku taulah... Mana mungkin enggak... Ya kali aku gak tau... Kan aku gak sebodoh itu," ucapnya yang kini sudah paham dengan arah pembicaraan yang Firdaus ucapkan.
"Oh... Bagus kalau begitu! jika kamu sampai bilang gak tau juga! aku pasti akan mengulanginya lagi," responnya sambil menatap tajam ke arah Miftah.
"Tapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi! gara - gara Kaka bersikap seperti itu aku jadi tidak dapat mengontrol diriku dengan baik saat berada di dekatmu karna detak jantung ini kembali menyiksa saat tatapan mata kita bertemu," jujurnya.
__ADS_1
"Ya baguslah! berarti kamu memang benar - benar cinta kepadaku dan aku pun sudah sangat percaya saat sudah mendengarkannya sendiri," ucapnya sambil tersenyum sedangkan Miftah jadi terbakar api amarah.
"Apa? bisa - bisanya Kaka melakukan hal itu hanya untuk merasakan dengupan jantungku juga," batinnya merasa resah.
"Udah... Jan marah - marah... Kaka kan udah gak marah lagi sama kamu, masak ia kamu masih marah sama Kaka." peringatnya.
"Habisnya Kaka nyebelin banget sih!" responnya memanyunkan bibirnya.
"Gitu banget tu bibir," ucap Firdaus sambil terkekeh pelan.
"Huh! sudahlah! aku paling malas berdebat dengan Kaka! Kaka paling suka memancing," ucapnya mengalah.
"Ya bagus dong Kaka suka mancing! siapa tau dapat ikannya banyak," guraunya.
"Bodo amat!" respon Miftah acuh tak acuh lalu hendak masuk kekamar. tapi, sebelum masuk setelah tangan memegang gagang pintu ia sempatkan diri untuk melihat ke arah Firdaus meskipun hatinya sedang sangat dongkol.
"Kaka!" serunya.
"Iya! ada apa Ratuku? masih gak mau pisah denganku ya? kengen ya lari - larian kayak tarian India tadi," ucapnya dengan seribu kepedean.
"Ih! ya ampun... Baru kali ini aku nemu orang yang pedenya ya ampun... Bisa deh kayaknya dikasih seribu jempol! masak iya tarian semenyeramkan dikejar rampok tadi dibilang kayak India! tarian India ma indah! seru! lah ini! bagian mana yang bakal memicu rasa rindu alias kengen itu," resahnya.
"Ya bisa lah! kan dibisa - bisain," responnya sambil tersenyum lebar.
"Au ah! cepak aku ladenin kaka! intinya niat aku panggil Kaka tadi cuma mau bilang makasih aja karna udah mau pinjemin jaket Kaka untukku," ucapnya lalu langsung masuk kekamar tanpa menunggu jawaban.
"Orang belum jawab udah masuk aja," cibir Firdaus hingga membuat pintu kamar Miftah yang hampir tertutup itu jadi terbuka kembali dan Miftah hanya mengeluarkan kepalanya saja.
"Lha! malah nongol lagi hantunya! mana pala doang lagi," guraunya dan Miftah jadi semakin geram dibuatnya.
"Udah baik - baik kita masih mau nongol barang sedikit tapi tetap aja omongannya minta dilempar pake sepatu koboi," dengusnya.
"Hahaha! yasudah ya Ratuku... Jan didihkan air lagi yah... Rajamu hanya butuh sedikit hiburan dari ekperesimu... Pahala lho... Buat orang ketawa..." beritahunya.
"Nyenye... Bener banget... Saking bisa buat ketawa orang diri sendiri jadi berdosa dibuatnya ya..." ucap Miftah sedikit menganggukkan kepalanya sambil tersenyum terpaksa.
"Udah - udah perut Kaka udah sakit ketawa dari tadi! oke - oke! sama - sama Ratuku... Kalau begitu aku tidur duluan ya..." pamitnya sambil melambaikan satu tangannya ke arah Miftah dengan senyuman tak pernah berhenti merekah.
__ADS_1
"Iya," jawabnya singkat lalu langsung menutup pintu kamarnya agar cepat beristirahat, jujur saja. Ia masih sangat lelah akibat berlari tadi. Tapi ia bersyukur karna dapat mendahului Firdaus yang seperti orang yang ingin merampok.