
"Tidak! Firdaus! kau tidak bisa diam saja, kau harus mengerjar istrimu itu." batinnya sibuk bertengkar dengan dirinya sendiri.
Namun pandangannya jadi tertuju pada Jannah yang juga sedang menangis deras bahkan ia sudah jatuh terduduk sekarang.
Berat sekali pilihan untuknya. Haruskah ia menolong Jannah terlebih dahulu, baru mengejar Miftah? tapi itu tidak mungkin karna pasti sudah terlambat.
Karna merasa sudah tak mungkin lagi akhirnya ia memutuskan untuk menghampiri Jannah saja.
"Jannah, apakah kau tidak apa - apa?" tanya Firdaus sambil mengulurkan tangannya tapi langsung di tepis kasar oleh Jannah.
"Maksudmu apa ini akhi? maksudmu apa? kenapa akhi sampai tega berbuat hal yang seperti ini pada Jannah? memangnya Jannah salah apa sama akhi hah? akhi minta Jannah untuk menjaga perasaan Jannah langsung Jannah turuti karna apa? apakah akhi tau?" tanyanya sambil menatap ke arahnya.
Firdaus bingung untuk menjawab apa, hingga ia hanya menggelengkan kepalanya kesana kemari.
"Tidak Jannah, aku tidak tau." responnya menguatkan diri.
"Tentu saja karena aku selalu menjaga perasaan akhi dan juga menyadari perasaan ku sendiri terhadapmu akhi, aku mencintaimu akhi." ungkapnya yang tak bisa membendung lagi perasaannya setelah sekian lama.
Firdaus benar - benar menyesal karna telah membuat dua orang wanita jatuh hati kepadanya, tapi ia sudah tidak mampu membalas rasa keduanya.
Apa yang di katakan Miftah memang ada benarnya karna ia sudah mempermainkan banyak perasaan wanita di luar sana tapi jujur itu bukan karna dirinya, mereka benar - benar murni menyukai Firdaus tanpa adanya paksaan.
Kini ia mencoba membantu Jannah untuk bangkit dari posisi duduknya, juga membantu membenarkan letak jilbabnya yang tertiup angin malam.
"Jannah! aku harap kamu mau mengerti, jika aku menikahi wanita tadi yang bernama Miftahul Jannah dulu bukan atas dasar Cinta. Tapi karna paksaan kedua orang tuaku akibat rasa tidak enak sebab aku sudah mencelakainya, hingga aku harus mempertanggungjawabkannya." jelasnya.
Tanpa mereka sadari, pembicaraan mereka masih di saksikan oleh sepasang mata yang sibuk bersembunyi di balik semak - semak yang tak jauh dari pantai.
__ADS_1
Ia bahkan sampai menutup mulutnya saking tak percaya dengan apa yang didengar olehnya barusan.
"Tapi jika karna paksaan harusnya kamu bisa menjelaskannya," responnya.
"Itu tidak mungkin Jannah, kamu tidak tau seberapa kerasnya orang tuaku jika sudah memutuskan sesuatu mereka sama sekali tidak ingin di ganggu gugat. Intinya aku sudah menikahinya, tak peduli berapa lama rumah tangga kami bertahan. Asalkan aku sudah mampu membuatnya menjadi istriku, maka papaku tak akan melepaskan jabatanku sebagai pemimpin di perusahaannya dulu." jelasnya lagi hingga Miftah benar - benar merasa di jadikan objek untuk menyelesaikan masalahnya saja tanpa memerhatikan perasaannya.
"Ternyata aku memang bodoh! sudah di sakiti beberapa kali, tapi masih saja termakan umpan hingga aku jadi semakin bucin terhadapnya." batin Miftah sambil mengetuk kepalanya pelan.
"Tapi kenapa perasaan dan kata - kata yang sempat ia katakan padaku itu terasa nyata kenapa? apakah ada alasan lain yang mendorongnya seperti ingin memperlakukanku dengan tulus?" tanyanya pada diri sendiri.
"Memang aku merasa sakit, bahkan hatiku mungkin sudah tak terbentuk lagi sekarang. Namun aku harus sadar, jika ia memang dekat denganku karna ada suatu hal saja." batinnya kembali menguatkan dirinya.
"Selamat tinggal Firdaus. Meskipun aku sangat menyesal karena baru saja aku memberikan kehormatanku kepadamu, haruskah kabar buruk yang datang begitu cepat di saat - saat indah seperti ini? ya Allah... Kenapa engkau uji aku dengan cobaan seberat ini? bagaimana pun juga aku masih tetap manusia biasa yang ada kalanya rapuh di setiap ujian yang engkau berikan." keluhnya sambil menutup matanya rapat.
Usai ia mengucapkan kalimat itu ia kini benar - benar melangkahkan kakinya menjauh untuk kembali mengambil barang - barangnya terlebih dahulu sebelum meninggalkan tempat itu.
Bisa ia rasakan jika di bagian intinya masih sedikit merasakan sakit, tapi mau bagaimana? ia tidak mungkin membiarkan dirinya istirahat untuk memberikan Firdaus kesempatan meluluhkan hatinya kembali, ia sudah tidak kuat.
Ia mengambil ponselnya. Ia sebenarnya bingung ingin menelpon siapa. Tidak mungkin ia langsung membuat mama dan papanya khawatir begitu saja terhadapnya.
Hingga suatu dorongan membuat tangannya menekan panggilan suara kepada Zamrud dan dengan kebetulan Zamrud langsung mengangkatnya tanpa memerlukan waktu yang lama.
"Kaka," ucap Miftah dengan suara parau.
"Lho Miftah, kenapa suaramu terdengar sangat parau seperti itu? apa kau baru saja selesai menangis? kenapa? apa Firdaus tidak membawamu ke tempat - tempat indah?" tanyanya bertubi - tubi.
"Untuk sekarang aku mohon agar Kaka tidak banyak bicara dulu, tolong jemput aku saja." pintanya memohon.
__ADS_1
"Baik, kalau gitu kamu kirimkan alamatnya di mana ya?" responnya hingga Miftah langsung menjawab baiklah secara cepat baru menutup ponselnya.
Kini Miftah masih saja berjalan menyelusuri jalan setapak dengan pandangan kosong, ia bergegas menuju ke jalan raya.
Suasana gelap yang begitu sunyi ini mengingat kembali tentang kejadian beberapa tahun silam saat ia kabur dari rumah akibat melihat pertengkaran orang tuanya yang sampai tega menjadikannya bulan - bulanan mereka juga.
Akibat rasa di bagian intinya semakin sakit Miftah jadi tak mampu lagi untuk berjalan, karna ini memang hal yang baru pertama kali baginya seumur hidupnya.
"Aku harus kuat," ucapnya menyemangati diri sendiri untuk bangkit kembali tapi tetap saja ia malah jatuh terduduk lagi.
Tiba - tiba sebuah mobil merah berhenti tepat di depannya, seorang pria keluar dari dalam sana. Itu jelas terlihat karna Miftah merasakan suara bantingan pintu yang cukup keras di hadapannya.
Ia sekuat tenaga mencoba mengadahkan wajahnya ke arah orang yang baru saja keluar dari mobil dan alangkah terkejutnya orang tersebut saat mengetahui siapa gadis yang sedang memandangnya itu dengan mata yang begitu sembab.
"Ya ampun Miftah. Syukurlah aku menemukanmu," ucapnya lalu bergegas menggendong Miftah tanpa mengeluarkan banyak pertanyaan lagi.
Miftah hanya pasrah saat Zamrud membopong tubuhnya. Toh! ia sekarang juga sudah tidak mempunyai banyak tenaga lagi untuk menolak agar berjalan sendiri saja.
Ia menaruh Miftah di kursi yang ada di samping tempat ia mengemudi, barulah ia mengambil koper yang di bawa oleh Miftah tadi kedalam bagasi mobilnya yang cukup besar.
Setelah di rasa tidak ada yang tertinggal barulah ia masuk ke dalam mobil untuk membawa Miftah pergi dari tempat tersebut.
Tempat yang ia pikir cukup indah, tapi kenapa bisa Miftah ingin pergi dari tempat tersebut? setaunya Miftah dan Firdaus sedang menikmati malam - malam pernikahan mereka di sini.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
__ADS_1
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇