Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 98


__ADS_3

     Miftah baru saja keluar dari Restoran. Beruntung nya hujan sudah sedikit reda. Dengan langkah lebar ia langsung bergegas untuk pergi ketempat lain yang letaknya tak jauh dari Restoran tersebut.


     "Dret... Dret... Dret..."


     Suara dering ponsel membuatnya harus berhenti ditengah jalan, dan saat ia melihat nama siapa yang terpampang disana ia langsung mengangkatnya.


     "Assalamualaikum kak," ucapnya.


     "Wa'alaikum salam! kamu dimana Ratuku? masih diRestoran gak? udah siap belum?" tanyanya cemas.


     "Alhamdulillah aku udah siap kak! ini aku pun udah keluar dari Restoran... Aku sekarang lagi berada didepan kafe didekat Restoran," beritahunya.


     "Oke! kalau begitu kamu tunggu aku didepan kafe aja ya... Biar gak kebasahan! meskipun hujannya udah ringan tapi gak bagus juga..." peringatnya.


     "Iya Kaka... Kalau begitu Miftah tunggu ditempat Kaka bilang tadi ya..." ucapnya setuju.


     "Baiklah Ratuku..." responnya lalu menutup telponnya.


     Miftah yang bajunya sudah dipenuhi oleh rintikan hujan, langsung berteduh didepan kafe.


     Tak berapa lama kemudian sosok yang ia tunggu pun datang.


     Ia menggunakan mantel hujan berwarna hitam.


     "Tinn... Tinn... Tin..."


     Suara klakson motor membuat Miftah melihat keasal suara dan ia hanya tersenyum.


     "Jangan kesini," cegah Firdaus.


     Langkah Miftah jadi terhenti sesaat. Ia merasa bingung. Kenapa Firdaus malah menyuruh nya berhenti? hingga akhirnya ia memilih menurut saja.


     Setelah menumpang motornya Firdaus langsung menghampiri Miftah, ia sedikit berlari hingga membuat Miftah jadi cemas dibuatnya.


     "Is Kaka... Gak perlu buru - buru... Nanti kalau Kaka kesandung gimana hah?" protesnya khawatir.


     "Cie... Ada yang cemas sama Rajanya nih..." godanya.


     "Is... Kaka... Aku tu serius tau..." ambeknya sambil memanyunkan bibirnya.


     "Iya deh iya... Yasudah... Kamu pakai saja ini ya..." ucap Firdaus sambil memberikan Miftah sebuah jas hujan berwarna ungu.


     "Makasih banyak ya Kaka..." ucapnya.


     "Sama - sama Ratuku..." responnya sambil tersenyum dan Miftah membalas senyumannya.


     Usai memakai jas hujannya, mereka langsung capcus untuk pulang kerumah.


Diperjalanan, hujan yang awalnya sudah reda malah semakin deras. Beruntung Firdaus ketika pergi menggunakan helm, jadi derasnya air yang turun tidak terlalu menganggu penglihatan matanya karna dilindungi kaca helm.


     "Apa kita tidak berteduh saja kak?" tanya Miftah sedikit membesarkan suaranya.


     "Gak perlu Ratuku... Lagian gak lama lagi kita bakal sampai kok," ucapnya menolak halus usulan Miftah.

__ADS_1


     "Ratuku! pegangan yang erat ya," beritahunya.


     "Apa?" tanyanya karna tak terlalu jelas ketika mendengar tadi.


     "Pegangan yang erat!" ucapnya lagi.


     "Iya! aku udah pegangan dibelakang," beritahunya.


     "Jangan disitu... Nanti tanganmu licin... Lebih baik peluk aku aja..." usulnya.


     "Peluk Kaka? yang benar saja! enggak ah," tolaknya mentah - mentah.


     "Didepan nanti ada banyak polisi tidur Ratuku... Kalau kamu gak mau dengarin aku, nanti kamu jatuh lho..." peringatnya.


     "Gak bakal kak... Orang aku genggam bagian motor belakang dengan kuat," elaknya.


     "Peluk gak!" paksanya.


     "Enggak!" tolaknya Miftah dengan suara lantang.


     "Peluk," perintah Firdaus lagi.


     "Is! gak mau..." tolaknya lagi.


     "Apa susahnya sih.... Orang tinggal peluk doang kok! lagian aku ini pakai jas hujan lagi," resahnya.


     "Kalau aku bilang gak mau ya gak mau kak... Jangan paksa aku pokoknya," dengusnya sambil memalingkan wajahnya kearah lain.


     "Terserah! tapi aku memaksa," perintahnya.


     "Kalau kamu gak mau peluk aku sekarang, aku bakal ngebut! dan aku gak tau apa yang akan terjadi untuk kedepannya," ancamnya yang sukses membuat tubuh Miftah bergetar hebat.


     "Eh! Kaka jangan macam - macam ya... Ini lagi hujan deras! jalanan pasti licin! kalau nanti kenapa - napa gimana? emang Kaka mau mati sia - sia?" cemasnya.


     "Makanya peluk," pintanya.


     "Huh!" Miftah hanya mendengus pelan, tangannya yang menggenggam besi belakang motor mulai beralih ke pinggang Firdaus.


     Belum sempat ia mempertemukan kedua telapak tangannya, Firdaus langsung menarik keduanya hingga memeluk sempurna.


     "Kelamaan," protesnya.


     "Masih mending aku udah nurut ya," geramnya.


     "Iya tapi lama," ucapnya.


     "Au ah! bodo amat! labih baik aku lepas aja! mau Kaka ngebut kek ngebut aja silahkan! kalau mati tinggal dikubur! kalau masih hidup ya Alhamdulillah," celotehnya.


     "Gak takut apa ketemu malaikat maut? udah merasa cukup amalnya ya?" ucap Firdaus menakut nakuti Miftah.


     "Atu lagian kakanya gitu sih..." resahnya lalu mulai melonggarkan pelukannya, tapi Firdaus menahannya dengan satu tangannya yang tidak memegang stang motor.


     "Jangan dilepas," pintanya.

__ADS_1


     "Untuk apa lagi sih... Lagian tadi pak polisi tidurnya udah lewat kok saat kita masih asyik berdebat," protesnya.


     "Pokoknya jangan dilepas," pintanya memohon.


     "Tapi-" belum sempat Miftah menyelesaikan ucapannya Firdaus langsung memotongnya.


     "Ku mohon..." pintanya.


     "Iya deh... Tapi hanya untuk kali ini," ucapnya menyerah.


     "Makasih Ratuku... Aku sangat mencintaimu... Aku bahkan berharap hari pernikahan kita cepat datang biar aku bisa senantiasa memelukmu dan kamu tidak segan kepadaku," ucapnya yang langsung membuat Miftah terdiam sejenak.


     "Kamu wanita tercantik menurutku... Dan akan selalu begitu... Yang berhasil membuat detak jantung ini tak berhenti berdetak saat bersama mu... Meskipun aku terkadang tak sanggup mengendalikannya tapi aku menikmatinya... Dan itu adalah tanda jika hatiku benar - benar menyukai mu... Dan memilihmu sebagai pasangan dan bidadari terbaikku adalah suatu hal yang sangat tepat," ucapnya yang tanpa sadar sudah meluncurkan apa yang ada dihatinya dengan jelas.


     "Aku... Aku benar - benar sudah mencintaimu... Dan pelukan dibawah hujan ini benar - benar membuatku bahagia meskipun hanya sebentar saja," lagi - lagi ungkapan tersebut meluncur dengan mudah dari bibirnya.


     Miftah tak bisa lagi untuk berkata - kata. Ada perasaan terharu saat ia merasa benar - benar dicintai oleh seseorang. Ia sangat berharap itu benar - benar kenyataan. Dan ia sangat berharap jika pernikahannya dengan Firdaus adalah pilihan yang tepat.


     Tanpa sadar ia sudah meneteskan air matanya, kepedulian dan rasa kasih sayang yang Firdaus berikan membuat hatinya luluh meskipun dulu dia sempat memberi luka.


     "Aku juga mencintaimu kak... Aku juga berharap hari pernikahan kita datang dengan cepat... Dan aku tak akan segan memberikanmu pelukan," ucapnya yang kini telah memeluknya lebih erat.


     Firdaus sangat senang dengan apa yang ia dengarkan dari bibir Miftah, deretan giginya yang putih bersih turut terlihat saat ia tersenyum lebar.


     Suasana malam terasa begitu indah, tanpa peduli dengan cuaca saat kita sudah bersama dengan orang yang kita cintai. Apa lagi jika orang yang kita cintai juga balas mencintai kita dengan ketulusan.


     Motor Firdaus terus saja melaju, hujan yang sudah benar - benar reda kembali tanpa ada tetesan air membuat Firdaus lebih leluasa dalam mengendarai.


     Jalanan luas sudah tampak begitu sepi, karna malam pun sudah sangat larut. Miftah hampir saja tertidur dibelakang Firdaus, hingga ia memilih menyenderkan kepalanya pada punggung Firdaus untuk ia jadikan sandaran.


     Firdaus lagi - lagi hanya tersenyum sambil melihat Miftah dari kaca spion. Ia jadi merasa senang, karna Miftah juga membalas perasaan hatinya meskipun ia sering tidak mengakuinya saat mereka sedang bertengkar ringan.


_____________________________________


Hai kaka semuanya... 🤗


Makasih ya... Karna sudah mau mampir ke Novel kedua Star... 😇


"KEBUN TERONG SIGADIS NARSIS"


Star sangat berterima kasih bagi Kaka - Kaka yang sudah mau memberi Ranting, like, vote bahkan sampai membaca dan mengomentari karya star... 🙏😊


Star sangat senang hingga jadi lebih semangat... 😄


Dimana bulan disitu bintang 😀


Dimana gelap disitu terang 🤣


Terima kasih bila tlah datang 😆


Star beri ucapan salam sayang 😘


Oke... Sampai jumpa di part selanjutnya ya...

__ADS_1


Makasih untuk Kaka - kaka yang selalu hadir...


   🍃🍃🍃🍃🍃  🙏🙏🙏  🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2