Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 125


__ADS_3

"Permata! baru saja aku ingin menjemput mu tapi kamu malah berani berjumpa dengan pria lain," ucap Werdan berapi - api.


     Ia menarik kasar tangan Permata untuk berdiri disampingnya.


     "Ada apa ini? kenapa anda berlaku sangat kasar pada seorang wanita?" tanya pria itu merasa kasian ketika melihat Permata.


     "Itu bukan urusanmu," ucapnya acuh.


     "Dan kamu! kamu sudah bisa mengambil rumahmu kembali karna sebentar lagi Permata akan menjadi istriku," ucapnya sambil menunjuk kearah Rosalia.


     "Permata! kamu tidak becanda kan nak?" tanya Rosalia tak percaya.


     "Ambu... Aku minta maaf, ini semua demi ambu." ucapnya lalu berjalan pergi.


     "Kamu mau kemana sayang?" tanya Rosalia merasa sangat khawatir.


     "Kau tidak perlu banyak bertanya, Permata sudah membuat pilihan untuk menikahiku demi kamu! harusnya kamu itu bersyukur!" geramnya.


     "Pengawal! cepat bawa wanita ini kembali keruangannya," perintahnya.


     Anak buahnya hanya langsung menuruti perintah bos mereka, pria itu masih mematung ditempat.


     Ia tak menyangka jika gadis yang masih berusia sangat mudah itu mau menikah dengan pria tua meskipun berwajah tampan.


     "Tidak! aku tidak ingin semua kekayaan itu! kembalikan Permata padaku," pintanya.


     "Cih! sudah terlambat! besok kami akan resmi menjadi sepasang suami istri," jelasnya.


     "Tidak! tidak! Permata dengarkan ambu nak... Dengarkan ambu... Permata!!!" teriaknya.


     Tapi Permata benar - benar menulikan pendengarannya meskipun sebenarnya ia sangat ingin menjawabnya.


     "Ambu... Aku minta maaf... Aku hanya ingin melihat ambu bahagia tanpa adanya derita... Biarlah aku yang menanggung beban ambu sekarang, karna aku sangat menyayangimu ambu." batinnya merasa lirih.


     Kini Permata sudah masuk kedalam mobil tersebut.


    Mobil itu akhirnya melaju dan meninggalkan Rosalia yang masih mematung dengan linangan air mata.


     Pria itu jadi merasa penasaran dengan apa yang terjadi dengan wanita yang umurnya lebih tua darinya itu.


     Kalau tidak salah wanita ini seusia ibu kandungnya.


     "Hmm... Kenapa hatiku sangat ingin membantunya," batinnya merasa heran.


     Tanpa pikir panjang pria yang baru saja selesai makan di sebuah rumah makan yang ada didepan rumah sakit memilih untuk mengikuti kemana para pengawal pria tua tadi membawanya.


     Ia berjalan mengendap - endap karna tak ingin terciduk oleh para bawahannya.


     Langkah kakinya berhenti di samping sebuah tembok, ia mulai mengintip di kamar berapa mereka meletakkan wanita itu.


     Terlihat dari jauh jika mereka sudah melangkahkan kaki untuk pergi dari situ dan ini adalah kesempatan yang bagus untuk ia mengintrogasi wanita itu.


     "Assalamualaikum," ucapnya dan Rosalia hanya melihat kearahnya.


     "Maaf! jika saya telah mengganggu waktu ibu," ucapnya sopan.


     "Wa'alaikum salam, kamu pasti pria yang sudah menyelamatkan Permata ya?" tanyanya.

__ADS_1


     "Iya bu," jawabnya sambil mengangguk membenarkan.


     "Kemarilah," pinta Rosalia karna tak ingin terlalu membesarkan suaranya.


     Pria itu hanya menurut lalu bergegas menghampiri Rosalia.


     "Apakah tujuanmu datang kesini hanya untuk mengetahui tentang Permata?" tanyanya.


     Pria yang sempat mendengar nama gadis tersebut jadi paham kepada siapa nama itu di tuju.


     "Benar sekali bu," jawabnya.


     "Kamu ambil saja kursi itu lalu duduklah disampingku," unjuknya pada sebuah kursi yang di taruh di dinding pojok.


     "Baiklah bu," responnya lalu berjalan untuk mengambil benda yang ditunjukkan oleh Rosalia.


     Sebenarnya pria itu sempat terkejut saat niatnya dapat ditebak oleh Rosalia, tapi ia memilih diam dan berusaha bersikap biasa saja.


     Setelah ia duduk di kursi sambil menghadap kearahnya baru Rosalia membuka suaranya kembali.


     Ia mulai menceritakan semua kejadian awal sebelum Permata berjumpa dengan Werdan dan masalah sebelum ia ceraikan oleh Werdan.


     "Jadi ia sebenarnya masih harus menyelesaikan kuliah satu tahun lagi?" tanyanya.


     "Bener sekali," jawabnya.


     "Tapi sebelumnya, kenapa ibu tidak melaporkan saja sikap pak Werdan yang telah banyak menipu ibu dan para korban lainnya?" tanyanya merasa heran.


     "Maaf! saya tidak punya keberanian! saya sangat lemah untuk menghadapinya, ia mempunyai banyak orang - orang licik yang dapat dengan mudah memutar balikkan fakta hanya karna uang curiannya dan uangku didalamnya." jelasnya lagi.


     "Sekarang ibu tidak menginginkan apa pun lagi selain keselamatannya," ungkapnya dengan mata yang sudah berkaca - kaca.


     Dengan penuh keyakinan pria itu mulai berkata "bu, ibu tidak perlu khawatir! jika masalah Permata biar kan saya saja yang akan mengurusnya."


     "Kamu serius? padahal kita tidak pernah kenal sebelumnya," tanyanya tak percaya.


     "Aku serius bu, lagian ibu dan Permata juga seperti itu kan?" tanyanya dan Rosalia hanya mengangguk membenarkan.


     "Oh iya! bisakah kamu memperkenalkan dirimu pada saya?" tanyanya.


     "Tentu saja," jawabnya.


     "Perkenalkan! nama saya adalah Fahman Abadan. Saya anak kedua dari keluarga Alterio. Kami empat bersaudara," jelasnya.



     "Kamu serius anaknya pak Alterio?" tanyanya tak percaya.


     "Iya, saya serius." jawabnya.


     "Ya ampun... Saya sudah berapa tahun kerja disana," jelasnya.


     "Benarkah?" kini malah pria itu yang bertanya.


     "Iya! kamu benar, dan sekarang katanya yang memimpin perusahaan itu adalah anak pertamanya yang bernama Firdaus Alfajar." jelasnya.


     "Wah... Benar sekali! itu nama Kaka pertama saya," beritahunya.

__ADS_1


     "Ternyata benar ya," senangnya.


     "Iya ibu benar," responnya.


     "Lagian saya juga baru mendarat di Indonesia hari ini untuk menghadiri pernikahannya," jelasnya.


     "Memangnya selama ini kamu dimana?" tanyanya.


     "Saya selama ini sudah bekerja di Inggris bersama salah satu teman saya," jawabnya.


     "Wah... Kamu sangat hebat Fahman," puji Rosalia.


     "Tidak juga bu," responnya.


     "Kamu sangat tidak suka di puji seperti anak saya," beritahunya.


     "Benarkah?" tanyanya.


     "Benar! namanya Miftahul Jannah." beritahunya.


     "Oh... Kalau begitu gimana kalau ibu ikut saya aja," ajaknya.


     "Kemana?" tanyanya.


     "Kepernikahan Kaka pertama saya," jawabnya.


     "Tapi saya masih belum bisa keluar dari sini, padahal saya merasa jika tubuh saya sudah sedikit membaik." sedihnya.


     "Tak apa! biar saya saja yang meminta salah satu dokter untuk memulangkan ibu," ucapnya.


     "Kamu serius?" tanyanya.


     "Aku serius bu," responnya sambil mengangguk.


     "Makasih," ucapnya merasa senang.


     "Sama - sama. Dan dengan begini ibu juga bisa langsung ketemu dengan papa saya untuk menjelaskan kenapa ibu sudah lama tidak kembali bekerja," responnya.


     "Saya tidak tau harus berkata apa lagi, intinya saya hanya bisa berkata terima kasih karna saya juga tidak mau lagi menginjakkan kaki kerumah saya jika itu dinilai bahwa saya telah melepaskan putri angkat saya." ungkapnya merasa sangat sedih.


     "Iya bu, lagian siapa juga yang mau menyerahkan anaknya pada sembarangan orang. Apa lagi jika ibunya sudah tau sifat asli dari orang tersebut," ucapnya sambil menatap teduh mata Rosalia.


     "Iya kamu benar," responnya balas menatap mata pria itu.


     Akhirnya pria itu izin pamit untuk memanggil seorang dokter khusus, setelah diperiksa kembali ternyata Rosalia memang sudah bisa untuk tak lagi menginap dirumah sakit.


     Usai mencabut impusan yang ada di tangan Rosalia pria itu langsung membayar biaya pengobatan Rosalia selama berada dirumah sakit sebelum Werdan.


     Karna Werdan hanya akan melunasi semuanya jika Permata sudah benar - benar menjadi istrinya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇

__ADS_1


__ADS_2