
Kini mereka sedang berada dipinggir jalan raya untuk menunggu angkutan umum, tapi sudah setengah jam mereka menunggu, angkutan umum masih belum terlihat juga.
"Kok tumben ya angkutannya lama," ucap Rosalia merasa heran.
"Mungkin macet kali ambu," tebak Permata.
"Iya ya! apa lagi gak jauh dari sini ada jalan tol," responnya membenarkan.
Dari kejauhan kendaraan yang mereka tunggu - tunggu akhirnya muncul, hingga raut wajah yang merasa jenuh ditambah panasnya terik sang mentari jadi terobati dalam sekejap.
Setelah angkutan umum sedikit dekat, mereka pun melambaikan tangan pada sang supir yang langsung berhenti tepat dihadapan mereka.
Didalam mobil yang ada hanya mereka berdua.
"Oh iya bang! tumben munculnya lambat," komen Rosalia.
Meskipun ia adalah seorang yang kaya raya tapi ia pernah menaiki angkutan umum saat SD, SMP dan SMA.
Ia lebih suka menghabiskan waktunya dengan teman - teman dari pada harus di antar jemput tiap hari oleh supir pribadinya.
Dan sifatnya yang seperti itu juga menurun kepada Miftah.
Miftah adalah anak yang suka bergaul dengan siapa pun. Ketika kesehatannya sedang baik, ia lebih sering berangkat dengan teman - temannya saat masih SD.
Meskipun saat ia sakit ia harus mau diantar oleh mama atau pun papanya.
"Ini neng! tadi disana ada banyak polisi untuk periksa surat izin mengemudi pada setiap pengendara mobil atau motor," jawabnya.
"Oh gitu..." Ucapnya sambil mengangguk paham.
"Iya neng... Tapi neng - neng cantik ini mau kemana?" tanyanya masih tetap fokus pada jalan.
__ADS_1
"Mau pulang kampung bang..." respon Permata.
"Oh... Kalau begitu selamat bersenang - senang nantinya ya..." ucapnya.
"Iya bang..." jawab mereka serentak.
Kini mereka pun akhirnya sampai ketempat tujuan, tapi Rosalia sangat terkejut dengan apa yang ditulis dipagar depan rumahnya dengan kertas.
"Rumah ini telah di jual," bacanya dalam hati.
"Kurang ajar! apakah ini ulah Werdan," geramnya yang kini sudah mengepalkan tangannya.
"Maaf ambu... Apakah rumah yang pagarnya bertuliskan seperti ini rumah ambu?" tanyanya sambil menunjuk dengan jari telunjuknya.
"Eh! tentu saja bukan, maaf ya... Ternyata ambu salah ingat alamat rumah ambu..." ucapnya terpaksa berbohong.
"Oh iya Permata, didekat sini ada taman mini lho... Apa kamu mau main kesana?" tanyanya berniat untuk menjauhi Permata dari rumahnya itu.
"Wah... Mau banget ambu," responnya sambil tersenyum senang.
"Kalau begitu ayo kita kesana," ajaknya balas tersenyum.
Sesampai ditaman mereka dapat melihat anak kecil yang berlari kesana kemari sambil bermain mainan yang ada di sana, bahkan ada yang sibuk merangkak diatas rerumputan juga sebagai seorang bayi.
"Wah... Taman ini sangat bagus ya ambu, meskipun tidak terlalu besar," puji Permata.
"Tentu saja taman ini bagus... Karna dibersihkan setiap hari oleh petugas taman." Responnya sambil tersenyum manis kearah Permata yang juga balas tersenyum kepadanya.
"Oh iya nak... Apakah kamu mempunyai hp?" tanya Rosalia.
__ADS_1
"Tentu! tapi cuma hp layar sentuh biasa yang ada," jawabnya sambil menunduk.
"Udah gak papa... Kan yang penting masih bisa dipakai buat komunikasi," jelas Rosalia sambil menaruh satu telapak tangannya dibahu Permata.
"Baiklah kalau begitu, ini ambu hpnya," ucapnya lalu memberikan benda pipih itu usai mengeluarkannya dari dalam tas punggungnya.
Dengan lihainya jari - jemari Rosalia bermain untuk memilih angka lawan bicaranya nanti usai menerima ponsel tersebut.
Kini Rosalia sedang menunggu jawaban sang pemilik nomor yang sudah ia ketik tadi.
"Assalamualaikum..." ucapnya.
"Wa'alaikum salam... Maaf ini siapa ya?" tanya suara dibalik telpon.
"Aku adalah majikanmu dulu, Rosalia." Beritahunya hingga sang pemilik jadi terkejut dibuatnya.
"Ya ampun... Ternyata ini nyonya toh... Nyonya... Nyonya kemana aja? pantesan kemarin saat saya kerumah sakit tidak melihat keberadaan nyonya..." jelasnya dan Rosalia hanya menghembuskan nafas kasar karena ia sangat malas membahas tentang hal yang mampu membuat moodnya turun begitu cepat.
"Lho! nyonya kenapa?" tanyanya.
"Tidak ada apa - apa! lebih baik cepat kamu ceritakan apa - apa saja yang telah terjadi sebelum rumah ini di jual ke orang lain," pintanya tak sabar.
"Baik nyonya..." ucapnya patuh.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇
__ADS_1