Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 113


__ADS_3

  Setelah merasa tenang Permata mulai melonggarkan pelukannya dari Rosalia meskipun sebenarnya ia sangat ingin berlama - lama dalam posisi seperti itu.


     "Oh iya! sekarang kemana tujuan ibu?" tanyanya.


     "Sudah... Panggil saja ambu ya..." tawarnya dan Permata dengan ragu - ragu mencoba memanggil wanita yang baru dikenal olehnya beberapa jam yang lalu dengan sebutan itu.


     "Baik a - ambu," ucapnya terbata - bata dengan kepala yang sudah menunduk.


     "Sudah biasa saja sayang..." ucapnya hingga membuat pipi Permata terasa sedikit panas.


     "Kalau begitu ambu pamit dulu ya... Karna ambu masih ada pekerjaan dirumah Ambu sendiri," izinnya.


     "Tunggu! apakah ambu akan pergi kesana jalan kaki?" tanyanya.


     "Mau bagaimana lagi... Uang ambu semuanya tertinggal dirumah," jawabnya.


     "Hmm... Bagaimana kalau ambu pakai uang Permata dulu," tawarnya.


     "Eh! tidak perlu sayang... Lagian kamu udah baik banget lho sejak tadi, buktinya kamu udah mengizinkan ambu mandi dan meminjamkan baju ganti pada ambu... Ditambah makanan yang sudah kamu masak memiliki cita rasa yang sangat enak," tolaknya lembut.


     "Makasih banyak ambu... Tapi tetap saja... Sepertinya ambu adalah seorang pasien yang melarikan diri ya?" tanyanya hingga membuat Rosalia terkejut karna tepat sasaran.


     "Bagaimana kau tau nak?" tanyanya.


     "Ambu ini ada - ada saja, tidak perlu memasang mimik seperti itu... Itu kan baju pasien yang ada di rumah sakit Alhura. Letaknya pun tak jauh dari sini, dulu ambuku juga pernah dirawat disana." jelasnya.


     "Benarkah?" tanyanya dan Permata hanya mengangguk.


     "Tunggu dulu ya ambu... Permata akan mengambil uangnya terlebih dahulu," ucapnya lalu pergi kekamar.


     Dari luar terdengarlah seperti bunyi pecahan kaca hingga membuat Rosalia terkejut lalu masuk kedalam.


     "Permata! apa yang terjadi nak?" tanyanya setelah membuka pintu tanpa permisi saking paniknya.


     "Eh! ambu, maaf sudah membuat ambu terkejut." ucapnya merasa tidak enak.


     "Ambu izin masuk ya," pintanya.


     "Jangan ambu," cegahnya berusaha menutupi benda apa yang tadi sempat ia pecahkan disamping tempat tidur.


     "Lho! kenapa?" tanyanya merasa curiga.


     "Gak papa ambu... Ambu duduk aja dulu diluar ya... Sebentar lagi Permata akan kesana," pintanya.

__ADS_1


     Tanpa pikir panjang karna rasa penasaran yang begitu dalam membuat Rosalia memberanikan diri untuk masuk kedalam, dan ia begitu terkejut saat melihat benda apakah yang telah dipecahkan oleh Permata.


     "Ya ampun Permata... Kenapa kamu pecahkan celenganmu?" tanyanya cemas sambil melihat beberapa uang logam dan kertas yang berserakan dilantai.



     "Tidak ambu, aku memecahkan tabunganku karna berniat untuk membeli sesuatu," elaknya.


     "Kamu bohong! ambu yakin sekali kalau kamu ingin memberikan uang itu untuk ongkos ambu pulang kan?" tebaknya.


     Permata hanya diam, jujur. Sebenarnya hanya inilah tabungan terakhirnya untuk biaya kuliahnya nanti dari hasil kerja kerasnya sebagai seorang baby sister.


     "Nak... Ambu tau pasti uang ini sangat berarti untukmu... Lagian rumah ambu juga gak terlalu jauh kok dari sini," ucapnya berusaha meyakinkan meskipun ia tau jika ia hanya berbohong agar Permata tidak perlu memberikan uangnya.


     "Ambu... Permata kan cuma hari ini saja bisa melihat ambu... Kita gak tau kedepannya apa masih bisa bertemu atau tidak... Jadi selagi masih ada ambu... Permata sangat ingin membantu," beritahunya.


     Rosalia sangat terharu saat melihat kemurahan hati Permata yang sangat baik kepadanya meskipun baru bertemu, ia tau di usianya yang seperti ini pasti masih sangat haus kasih sayang dan bimbingan.


     Ditambah sang ibu yang sakitnya tak menentu membuatnya sedikit kepikiran untuk membantu sang ayah agar dapat membiayai pengobatan ibunya.


     "Baiklah! ambu akan terima uangmu asalkan kamu mau memberitau sebenarnya uang tabungan ini untuk apa," ucapnya selesai menghembuskan nafas pelan.


     Permata hanya diam, ia tidak sanggup untuk mengatakannya karna uang ini memang begitu berarti untuknya, tapi kehangatan yang selama ini hilang bisa ia dapatkan kembali dengan mudah dan ia tidak mau menerima itu semua dengan percuma.


     "Ambu... Untuk apa uang ini itu tidak penting... Yang penting ambu bisa pulang dengan cepat sebelum matahari terbenam..." jelasnya.


     "Maaf ambu... Tapi Permata berbuat seperti ini bukan untuk mengharapkan balasan... Dan Permata juga baru tau jika ambu itu adalah orang yang kaya raya," responnya.


     Rosalia hanya tersenyum menanggapi ucapan Permata lalu mengelus puncak kepalanya yang ditutupi hijab.


     "Permata sayang... Ambu tau jika niatmu tidak mungkin buruk untuk ambu... Tapi kali ini izinkan ambu membalas kembali kebaikanmu meskipun kamu menganggapnya tidak seberapa," ucapnya meyakinkan.


     "Tapi-" belum sempat Permata menyelesaikan ucapannya Rosalia langsung memotongnya.


     "Permata... Lagian sekarang ambu hanya tinggal sendiri... Ambu gak punya siapa - siapa lagi... Jadi dengan adanya kamu ambu pasti akan merasa lebih bersemangat," beritahunya lagi.


     "Maksudnya ambu?" tanyanya bingung.


     "Maksud ambu... Ambu ingin membalas kebaikanmu dengan mengangkatmu sebagai anak Ambu... Dan tinggal bersama ambu dirumah ambu saja..." tawarnya.


     Sebenarnya Permata sangat senang dengan tawaran Rosalia, dengan begitu ia jadi punya kesempatan untuk bisa selalu didekat Rosalia tapi ia masih merasa tak pantas.


     "Tapi Permata hanya gadis biasa ambu... Kenapa ambu malah memilih Permata sebagai anak angkat Ambu yang baru ambu kenali..?" herannya.

__ADS_1


     "Itu menjadi pertanyaan bagi ambu juga... Kenapa kamu mau membantu ambu? seorang wanita yang tampak seperti orang gila tapi kamu sudah bersikap layaknya seorang anak yang patuh pada ibunya," responnya hingga Permata jadi terdiam.


     "Tuh kan! kamu tidak bisa menjawab juga... Dengar ya! ambu itu tidak pernah melihat orang dari harta, paras, atau pun kepintarannya." ucapnya.


     "Lalu dari apa juga ambu?" tanyanya penasaran.


     Rosalia kembali tersenyum lalu mengarahkan telunjuknya tepat dimana sang hati yang dimiliki oleh Permata bersemayam.


     "Karna ambu hanya melihat dari kebaikan, ketulusan dan kesetian seseorang itu kepada ambu..." jawabnya.


     "Kalau begitu Permata mau ikut dengan ambu," ucapnya mantap.


     "Kamu serius kan?" tanyanya tak percaya.


     "Iya ambu... Permata serius..." jawabnya sambil tersenyum.


     "Kalau begitu mari kita berangkat sekarang setelah membereskan kepingan celengan ayammu yang terbuat dari kaca," ajaknya balas tersenyum.


     "Baiklah Ambu..." responnya lalu bergegas memungut uang yang masih berceceran.


     Setelah uang tersebut diambil, ia langsung berjalan keluar kamar untuk mengambil sapu  dan sodokan lalu menyapu kepingan kaca agar tidak mengenai tangannya.


     Selesai dengan urusan itu baru ia mulai mengemasi pakaiannya dan beberapa berkas penting untuk perkuliahannya nanti.


     "Permata... Kamu sudah siap belum nak..?" tanya Rosalia.


     "Ia Ambu... Sebentar lagi Permata siap kok..." ucapnya sambil tersenyum.


     Lalu ia pun keluar dengan sebuah tas berukuran sedang yang ia jinjing ditangan kanannya sedangkan di belakang punggungnya terdapat sebuah tas gendong yang berisi semua keperluannya untuk kuliah.



     "Permata... Sini biar ambu bawa aja tas jinjingannya." pintanya.


     "Eh! gak papa ambu... Ini kan berat..." tolaknya.


     "Sudah... Bawa sini aja," paksanya dan Permata tak mampu mencegahnya lagi.


     Akhirnya setelah Permata mengunci pintu rumahnya mereka pun berangkat menuju kerumah Rosalia.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗

__ADS_1


Makasih udah mau like, komen, hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2