Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 101


__ADS_3

     Dikamar, Firdaus hampir jenuh menunggu kedatangannya. Sejak tadi, ia sibuk membolak - balikkan tubuhnya tak beraturan.


     Hingga akhirnya ia kembali terdiam dan membetulkan posisi tidur nya saat mendengar suara gagang pintu terbuka.


     "Krekkk,"


     Mata Firdaus tak lepas memandang keasal suara. Bibirnya hanya mampu memancarkan senyuman tat kala ia melihat Miftah datang sambil membawa makanan untuknya, tak lupa kuah bening yang ia inginkan.


     "Kaka... Apakah aku meninggalkan Kaka terlalu lama?" tanya Miftah merasa tidak enak lalu kembali melangkahkan kakinya setelah berhenti sejenak.


     "Lama? enggak kok!" elaknya.


     "Tapi kenapa kasur Kaka tampak lebih berantakan dari sebelumnya?" selidik Miftah sambil mengangkat sebelah alisnya.


     "Oh... Ini... Anu... Kaka kalau tidur emang agak rewel, alias gak mau diem! akhirnya jadi berantakan deh," bohongnya.


     "Masak iya!" ucap Miftah tak percaya.


     "Iya... Beneran Ratuku..." responnya sambil berusaha terlihat tenang agar ia tidak ketahuan hampir jenuh menunggunya sejak tadi.


     "Yaudah... Kalau Miftah kelamaan masaknya tadi hingga membuat Kaka menunggu sampai bolak sana bolak sini Miftah minta maaf ya..." ucapnya yang sontak saja membuat Firdaus begitu terkejut.


     "Hah? bagaimana dia bisa tau?" batinnya merasa heran.


     "Udah ah Kaka... Biasa aja... Lagian aku ini kan bukan anak kecil lagi kak... Yang gampang ditipu dengan hal seperti itu..." ucapnya hingga membuat Firdaus terdiam.


     "Iya deh... Kaka minta maaf... Kaka hanya tak ingin membuatmu malah merasa tidak enak... Harusnya kan Kaka yang begitu, karena kamu udah mau masakin kuah bening untuk Kaka..." ungkapnya.


     "Atu gak papalah kak... Lagian Kaka ini kan calon suamiku... Jadi sebelum aku benar - benar menjadi istri sahmu... Aku harus belajar dulu..." ucapnya hingga membuat hati Firdaus tersentuh saat mendengarnya.


     "Aku tau kamu memang Ratuku yang paling hebat dalam mengurusku..." pujinya.


     "Tidak kak... Jangan terlalu memuji... Lagian baru kali ini sepertinya aku melakukan hal yang berguna untuk Kaka..." elaknya merasa tersipu.


     "Enggak kok... Kamu memang yang terbaik! dan kamu akan selalu ada disini," ucapnya sambil menunjuk ketempat sang hati bersemayam.


     "Udahlah kak... Jangan terlalu banyak menggombal! lebih baik sekarang Kaka makan ya... Kaka pasti udah lapar," ucap Miftah yang sejak tadi sudah duduk ditepi ranjang Firdaus usai menaruh nampan diatas meja dekat kepala ranjangnya.


     "Udah gak lapar lagi kok..." ucapnya.


      "Hah? masak iya... Kan dari tadi Kaka belum makan," herannya.


     "Liat senyumanmu sejak tadi Kaka udah kenyang kok," ucapnya sambil menyengir kuda.


     "Is! dasar Kaka... Ada - ada aja coba," tawanya sambil memukul pelan bahu Firdaus.


     "Yaudah Kaka makan dulu sana," suruh Miftah.


     "Tapi Kaka lemas," ucapnya dengan nada sedikit manja.

__ADS_1


     "Hadeh... Ya terus?" tanya Miftah sambil memegang dahinya yang terasa pening.


     "Ya... Maunya sih... Disuapin," ucapnya lalu langsung memalingkan wajahnya kearah lain usai mengucapkan kalimat yang benar - benar membuat jantungnya berdebar tak beraturan.


     Ia tidak tau dengan dirinya, jika ia tak mengucapkannya rasanya ia tidak akan bisa merasa tenang. Tapi jika ia telah melontarkannya, ia harus menanggung malu.


     "Hahaha Kaka ini..." lagi - lagi Miftah hanya tertawa.


     "Iya... Miftah tau Kaka lemas... Gak seharusnya Miftah biarin Kaka makan sendiri," ucapnya yang langsung membuat Firdaus membulatkan matanya sempurna.


     Ia langsung memalingkan wajahnya kembali, berusaha kuat membalas tatapan mata Miftah yang begitu teduh menurutnya.


     "Jadi! kamu mau bantu suapin Kaka?" tebak Firdaus.


     "Ya iyalah Kaka... Masak Miftah malah suruh mama buat suapinin Kaka... Kan mama masih punya kesibukan sendiri... Lagian ada Miftah pun disini," responnya.


     "Kamu gak lagi becanda kan? atau pun aku emang udah ketiduran! terus mimpi kamu udah datang! terus mau suapin aku lagi," tanyanya memastikan sakit tak percayanya.


     "Hahaha! ya ampun kaka... Ini itu gak mimpi tau... Miftah ma beneran..." ucapnya sambil menatap Firdaus lekat.


     "Pasti ini cuma mimpi," ucapnya masih tak percaya.


     "Lebih baik sekarang aku kembali memejamkan mataku! terus waktu buka mata aku udah sadar dan melihat kamu yang belum hadir di sampingku," ucapnya yang hendak melakukan apa yang ia katakan tadi.


     "Kaka! sudah kubilang Kaka gak mimpi tau..." resahnya lalu mencubit tangan Firdaus pelan.


     "Aduh! sakit tau..." rintih Firdaus.


     "Iya deh... Kaka percaya kok," pasrahnya.


     "Nah... Gitu dong... Kan enak jadinya," ucap Miftah sambil tersenyum lebar.


     "Lagian... Kamu kan gak kayak biasanya aja begini... Jadi wajar lah aku merasa ini hanya sebuah mimpi semata," ungkapnya sambil membalas senyuman Miftah.


     "Iya... Mana Kaka juga biasanya suka nyebelin! mana mau Miftah peduli," ucapnya acuh tak acuh.


     "Jangan gitu lah..." rengeknya.


     "Oke deh!" ucapnya kalau langsung mengambil sebuah piring, tak lupa sebelum itu ia menuangkan sedikit kuah bening dan beberapa buah sayur yang sudah ia cincang didalam seperti wortel dan kentang.


     "Yaudah... Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya usai meniup sedikit nasi yang berisi kuah dan lauk diatas sebuah sendok.


     "Sekarang aaa..." pinta Miftah menyuruh Firdaus membuka mulutnya dan ia pun jadi turut mengikutinya sebelum Firdaus menuruti keinginannya.


     Saat sesendok nasi berhasil masuk dan dilahap oleh Firdaus, Miftah hanya mampu tersenyum senang.


     "Oh iya kak? gimana rasanya? apa ada yang kurang?" tanya Miftah memastikan.


     "Hemmm! kuah bening bikinanmu enak banget! beneran! gak ada yang kurang! pas! pokoknya aku suka! dan... Kamu dapat dua jempol dari aku," ucapnya sambil mengacungkan dua ibu jarinya tepat dihadapan Miftah.

__ADS_1


     "Syukurlah kalau Kaka suka... Seandainya gak enak... Miftah gak bakal masak lagi... Biar bibi aja... Nanti nafsu makan Kaka jadi berkurang lagi," sedihnya yang sejak tadi merasa cemas saat Firdaus hendak memberikan penilaian kepadanya.


     "Ya jangan gitu dong! kalau ada yang kurang kamu perbaiki aja... Aku malah makin lahap makannya kalau Ratuku yang masakin..." ucapnya hingga membuat Miftah kembali memancarkan senyumannya hingga memperlihatkan deretan gigi putihnya yang bersih dan rapi.


     "Oke! kalau gitu Miftah bakal lebih semangat lagi," serunya.


     "Nah! gitu dong! itu baru Ratuku," ucapnya sambil mencubit pelan batang hidung Miftah.


     "Is! Kaka kebiasaan nih," ucap Mifyah.


     "Habisnya kamu gemesin banget sih..." jujurnya.


     "Mana ada! Kaka kan emang suka gitu," resahnya.


     "Iya deh... Kaka minta maaf ya..." ucapnya.


     "Iya... Untung aja Kaka lagi sakit! kalau enggak udah Miftah omelin pasti," ucapnya.


     "Hahaha! Kaka udah kebal dengan omelanmu! jadi biasa aja," sombongnya.


     "Alah! yang benar... Eh! udah lah lupakan, lebih baik Kaka habiskan dulu sarapan Kaka nih." ucap Miftah sambil mengarahkan piring tersebut kearah Firdaus.


     "Ya disuapin dong," pintanya lagi.


     "Oh iya ya! lupa," ucapnya sambil menyengir kuda.


     "Hadeh... Kamu ini!" ucap Firdaus lalu suasana tampak hening saat Firdaus hanya diam dan menikmati masakan Miftah dengan hikmat.


_____________________________________


Hai kaka semuanya... 🤗


Makasih ya... Karna sudah mau mampir ke Novel kedua Star... 😇


"KEBUN TERONG SIGADIS NARSIS"


Star sangat berterima kasih bagi Kaka - Kaka yang sudah mau memberi Ranting, like, vote bahkan sampai membaca dan mengomentari karya star... 🙏😊


Star sangat senang hingga jadi lebih semangat... 😄


Dimana bulan disitu bintang 😀


Dimana gelap disitu terang 🤣


Terima kasih bila tlah datang 😆


Star beri ucapan salam sayang 😘


Oke... Sampai jumpa di part selanjutnya ya...

__ADS_1


Makasih untuk Kaka - kaka yang selalu hadir...


   🍃🍃🍃🍃🍃  🙏🙏🙏  🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2