Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 96


__ADS_3

  "Pa-pak Manajer," ucapnya terbata - bata.


     "Apa begini caramu memperlakukan tamu hah?" tanyanya sambil berusaha menahan rasa kesalnya.


     "Ma-maaf pak... Saya hanya ingin mengusir pencuri ini..." unjuknya pada Miftah.



     "Atas dasar apa kamu menuduh dia seorang pencuri? apa kamu punya bukti?" tanyanya lagi dengan tatapan tajam.


     "Saya minta maaf pak," ucapnya sambil tertunduk lesu.


     "Kamu sudah berapa kali ketahuan berperilaku bak seorang terpandang disini," geramnya.


     "Mulai detik ini juga! kamu saya pecat," putusnya sambil menunjuk tepat dihadapan wajah sipelayan dengan jari telunjuknya.


     "Apa? pak! saya kan hanya mencoba untuk waspada saja! siapa tau kecurigaan saya itu benar kan?" ucapnya membela diri.


     "Selalu itu yang keluar dari mulutmu! dan saat kamu dimaafkan kamu masih saja tidak berubah," responnya sambil menatap malas kearahnya.


     "Tapi pak! apa hanya karna perempuan culun yang terlihat bergitu memprihatinkan ini bapak tega memecat saya? kemarinnya saya berperilaku dengan orang terpandang saja bapak maafkan! apa jangan - jangan bapak suka lagi sama dia," tuduhnya.


     "Getriana! Kamu sudah benar - benar keterlaluan ya! dan apa yang kamu tuduh padaku barusan itu tidak benar sama sekali," elaknya.


     "Lalu! kenapa tiba - tiba aku dipecat begini hah?" ucapnya tetap kekeh dengan kedua tangan yang mengepal, matanya juga tak bosan membalas tatapan tajam Manajernya.


     "Sepertinya kamu memang sudah tidak waras lagi," resahnya.


     "Heh! berani - beraninya bapak mengatakan saya tidak waras, setelah bapak memecat saya bergitu saja tanpa memberikan saya kesempatan lagi." dengusnya sambil melipat kedua tangannya dibawah dada.


     "Getriana! apakah kamu sudah amnesia mendadak hah? kamu sudah sepuluh kali saya maafkan! bahkan saya sudah pernah bilang, jika kamu mengulanginya di yang kesebelas ini maka saya akan memecat mu dan akhirnya ini terjadi karna ulahmu sendiri." ucapnya mencoba mengingatkan.


     "Huh! memangnya apa untungnya aku peduli dengan ancamanmu itu! toh! sekarang aku juga sudah dipecat olehmu gara - gara wanita culun ini," geramnya.


     "Berhenti lah menghinanya Getriana! lebih baik sekarang kamu pergi atau aku akan memanggil para penjaga untuk menyeretmu keluar secara paksa," ancamnya.


     "Oh! bapak mengancammu? hahaha! Kamu sungguh wanita beruntung kali ini ya! karna berhasil membuat pak Manajer mati - matian untuk membelamu, kamu sudah seperti wanita yang haus rasa kasih sayang hingga berpenampilan culun agar mudah mendapatkan perhatian banyak orang! atau jangan - jangan kamu adalah wanita yang tidak mempunyai orang tua. Kalau pun ada mereka pasti sangat lemah dalam mendidik mu," remehnya sambil menumpangkan dagunya pada satu tangannya.


     Miftah merasa tertusuk saat pelayan tersebut dengan seenak jidat mengatai orang tuanya, luka yang sudah susah payah iya tutupi jadi kembali terbuka.


     "Bhukkk,"


     "Bhukkk,"


     "Bhukkk,"


     Tiga buah pukulan melayang tepat diwajah Getriana, darah mengalir dari bibirnya yang sedikit terbelah.

__ADS_1


     "Kurang ajar!!!" umpatnya.


     "Beraninya kau melukai wajah indahku," geramnya dengan kedua tangan yang sudah mengepal kuat.


     "Siapa suruh kau berani menghina kedua orang tuaku! kau saja tidak tau siapa aku! tapi dengan mudahnya kau menilai penampilanku," kesalnya berapi - api.


     "Hahaha memang faktanya begitu," tawanya meremehkan.


     "Itu sama sekali tidak benar," elaknya.


     "Kalau kamu masih berani menghina orang tuaku! aku jamin hari ini kamu tak akan pulang dengan selamat," ancamnya.


     "Iyyusss... Takut banget aqoh... Hahaha takut kepadamu itu tidak akan pernah," ucapnya sambil memasang tampang jijik untuk memanas - manasi Miftah.


     Saat Miftah ingin kembali memberikannya pelajaran, pak Manajer malah menahan gerakannya.


     "Sudah... Kamu tidak perlu terlalu menghiraukannya... Dia memang begitu... Sepertinya baru - baru ini ia sedikit tertekan karna suatu hal... Sehingga ia jadi tidak terlalu waras," beritahunya hingga membuat Miftah berusaha untuk memakluminya.


     "Penjaga! penjaga!" panggilnya lalu tak berapa lama kemudian mereka pun datang.


     "Iya pak! apakah ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.


     "Tentu saja! saya ingin kalian membawa wanita ini pergi jauh - jauh dari kawasan ini," perintahnya.


     "Baik pak Manajer," ucap mereka patuh.


     "Lepaskan! aku bilang lepaskan gak? apa kalian tuli ya? lepaskan bodoh," geramnya.


     "Diam! lebih baik kamu cepat ikut kami atau pak Manajer akan semakin murka kepadamu," peringat salah satu dari mereka.


     "Sudah aku bilang kalau aku gak mau pergi dari sini! kalian ini tuli apa - apa sih," ucapnya meronta - ronta.


     Akhirnya para penjaga tersebut mau tidak mau harus menyeretnya secara paksa untuk keluar dari gedung tersebut.


     Saat mereka sudah sedikit menjauh dari pandangan mereka, baru sang Manajer melihat kearah Miftah kembali.


     "Oh iya! maaf ya atas kelancangan pelayanan kami tadi, dia memang sudah sangat keterlaluan sejak dulu." ucapnya.


     "Sudah lah pak... Lagian dia pun sudah pergi... Kalau begitu bisa tidak saya memesan satu meja yang tempatnya tidak jauh dari sang nyonya yang baru datang tadi," pintanya.


     "Ya sebagai tembusan gitu akan hal ini..." sambungnya sambil menyengir kuda.


     "Baiklah... Santai aja... Kalau begitu saya akan mengusahakannya dulu," ucapnya.


     "Oke pak! oh iya! makasih ya pak karna sudah mau membelaku," ucapnya tulus.


     "Tidak masalah... Karna itu sudah menjadi kewajiban ku sebagai seorang Manajer untuk membantu para tamu lainnya agar merasa nyaman saat berkunjung," ucapnya.

__ADS_1



     "Iya pak, kalau begitu saya akan tunggu bapak dikursi kosong itu saja ya..." beritahunya sambil menunjuk dengan jari telunjuknya tepat dimeja kecil tersebut.


     "Baiklah kalau begitu! nanti para pelayan saya akan datang menghampiri mbak dan langsung menyuruh embak untuk ketempat yang mbak pinta tadi," ucapnya sambil tersenyum.


     "Terimakasih banyak pak," ucapnya sambil menyatukan kedua tangannya seperti tari indah.


     "Sama - sama! saya pamit ya," izinnya.


     "Oh! silahkan pak," responnya membalas senyumannya pak Manajer tersebut.


     "Untung pak Manajer nya baik dan tak memandang rendah hanya karna penampilan. Lah dia! baru jadi pelayan aja gayanya udah kayak orang terpandang. Kalau beneran udah kayak Ratu negara aja kali," batinnya yang masih saja merasa dongkol dengan kejadian yang baru saja ia lewati beberapa menit yang lalu.


     Tapi ya begitu kalau kita berkunjung ketempat yang sangat mewah, tidak banyak orang terlalu peduli dengan keadaan sekitar karna mereka hanya sibuk dengan urusan mereka masing - masing.


     Keajadian tadi saja dianggap tontonan belaka oleh mereka, saat tak sengaja berlalu dihadapan mereka.


     Namun, Miftah jadi sangat bersyukur. Karna dengan sikap mereka yang dingin seperti itu, pasti juga tidak mau membuang - buang waktu hanya untuk membicarakan tentang pertengkarannya tadi.


     Dalam sekejap ruangan kembali sunyi, hanya terlihat para pelayan yang sibuk bergegas kesana kemari untuk mengantarkan pesanan para pengunjung lainnya.


_____________________________________


Hai kaka semuanya... 🤗


Makasih ya... Karna sudah mau mampir ke Novel kedua Star... 😇


"KEBUN TERONG SIGADIS NARSIS"


Star sangat berterima kasih bagi Kaka - Kaka yang sudah mau memberi Ranting, like, vote bahkan sampai membaca dan mengomentari karya star... 🙏😊


Star sangat senang hingga jadi lebih semangat... 😄


Dimana bulan disitu bintang 😀


Dimana gelap disitu terang 🤣


Terima kasih bila tlah datang 😆


Star beri ucapan salam sayang 😘


Oke... Sampai jumpa di part selanjutnya ya...


Makasih untuk Kaka - kaka yang selalu hadir...


   🍃🍃🍃🍃🍃  🙏🙏🙏  🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2