
Disisi lain Permata yang baru saja memasuki kamar Rosalia hanya bisa memandang terkejut pemandangan disekelilingnya.
"Ada apa ini? kenapa ambu malah melempar bantalnya kelantai? dan rambut ambu juga sudah sangat acak - acakan," batinnya lalu langsung bergegas mendekati ambunya.
"Ambu... Ambu kenapa?" tanyanya lembut dan Rosalia yang mendengar suara Pertama bak orang yang baru sembuh dari penyakit buta.
"Permata! kamu dimana nak?" tanyanya melihat ke sana kemari.
Permata sangat sedih saat melihat kondisi ambunya yang penuh dengan rasa tertekan.
"Ambu... Permata disamping Ambu..." beritahunya hingga ambu melihat kearahnya lalu langsung memeluknya.
Terlihat jelas raut ketakutan dari wajahnya, tubuhnya saja sampai bergetar.
Permata mulai duduk dipinggir ranjang hingga Rosalia yang awalnya memeluk pinggangnya jadi memeluk lehernya.
"Ambu... Ambu tenang ya... Ambu gak boleh kayak gini..." nasehatnya berusaha menenangkan.
"Ambu takut nak... Ambu takut... Dia berhasil menemukan ambu... Dia pasti akan membunuh ambu karna kejahatan ambu dulu kepadanya..." jelasnya yang kini sudah menangis deras.
"Siapa ambu?" tanya Permata bingung.
"Anak Ambu Permata... Anak ambu... Dia pasti berniat untuk membunuh ambu... Itu jelas terlihat dari senyuman palsunya dan air mata buayanya," racaunya dan Permata hanya diam.
"Ternyata ambu mempunyai putri, ku kira ambu hidup sendiri juga." batinnya sedih.
"Tapi meskipun begitu karna aku sudah menganggap ambu sebagai ambu kandungku, maka aku akan terus menjaganya sebisa mungkin! termasuk menyerahkan diriku pada pria jahat tadi." batinnya lagi merasa sangat yakin.
"Demi kebahagiaan ambu agar tidak terlalu merasa tertekan aku sangat rela," batinnya untuk yang terakhir kalinya lalu mulai menatap mata Rosalia dalam.
"Ambu... Permata janji tidak akan ada satu pun insan yang akan melukai ambu! jadi ambu tenang saja ya... Ada Permata kok!" ucapnya meyakinkan dan Rosalia hanya mengangguk pelan.
"Oh iya! ambu belum makan malam kan?" tanyanya dan Rosalia hanya mengangguk lemah.
"Nah! kebetulan tadi Permata abis keluar buat beli bubur ayam untuk ambu," ucapnya sambil tersenyum.
"Mau permata suapin gak ambu?" tanyanya dengan senyuman yang masih belum luntur dari wajahnya.
Rosalia yang seperti orang yang belum sepenuhnya tersadar dari tidurnya lagi - lagi hanya mengandalkan kepalanya untuk memberi isyarat.
"Gak ada kipas ya?" ucapnya pelan sambil melihat ke sekeliling.
"Ya sudah, aku terpaksa harus meniup makanan yang masih panas ini... Padahal kan gak bagus kalau di tiup." ucapnya lagi lalu mulai meniup makanan yang sudah ada didalam sendok makan.
"Aaa..." pintanya sambil membuka sedikit mulutnya agar Rosalia mengikutinya.
__ADS_1
"Gimana ambu? enak gak? tapi masih agak panas ya?" tanyanya dan Rosalia hanya mengunyah lalu memandang kedalam Kap yang berisi bubur yang masih mengepul dengan tatapan kosong.
"Ambu... Ambu jangan melamun dong... Gak baik ambu..." peringatnya.
Tapi sebesar apa pun usaha Permata, Rosalia masih tetap pada kondisi semula hingga akhirnya Permata pasrah dan hanya membiarkan Rosalia melamun.
Saat bubur yang ada didalam kap habis, Permata hendak mengambil air minum tapi sayangnya ketika ia keluar untuk membeli bubur ia malah lupa membeli airnya juga.
"Ya ampun bagaimana ini? kenapa aku sampai lupa membeli air," resahnya lalu bergegas keluar kamar kembali.
Sebelum itu ia sudah lebih dulu pamit pada Rosalia yang seperti biasa hanya meresponnya dengan isyarat kepala.
Tanpa permata sadari ternyata gerak geriknya sejak tadi sudah di mata - matai oleh Werdan.
Werdan yang melihat kepergian Permata mulai menyempatkan diri untuk masuk kedalam kamar tersebut sambil menggunakan baju layaknya seorang Dokter.
Ia juga membawa sebotol air Aqua untuk Rosalia.
"Permisi Bu..." ucapnya sopan.
Rosalia tidak menjawab, ia hanya melihat kearah orang yang sedang berbicara padanya.
Rosalia yang sedang tidak terlalu sadar saking frustasinya mulai meraih pil tersebut.
Tapi ia hanya membiarkannya ada ditangannya.
"Kenapa tidak diminum?" tanya Werdan tak sabaran.
"Air," Rosalia baru mengangkat suaranya kembali.
"Oh! ini pas sekali saya membawanya," senangnya lalu memberikannya.
Rosalia langsung menelannya, dan itu membuat Werdan sukses menjerit didalam hatinya.
"Yes! akhirnya wanita bodoh ini kembali meminum pil beracunku," senangnya.
"Dulu aku masih berbaik hati memberikanmu pil yang akan membuatku merasakan sakit dalam jangka waktu panjang tapi sekarang dalam waktu dekat kamu pasti akan merasakan sakit yang luar biasa," batinnya merasa puas.
"Rosalia! cepatlah lenyap kamu dari dunia ini," batinnya lagi sambil tersenyum miring.
"Kalau begitu saya harus pergi dulu ya! karna setelah ini saya masih mempunyai urusan untuk mengoperasi seorang pasien yang terkena penyakit jantung," jelasnya.
__ADS_1
Rosalia hanya mengangguk lalu Werdan pun keluar setelah menutup pintu kamar tersebut terlebih dahulu.
Baru saja satu langkah kaki untuk pergi dari situ tiba - tiba segerombolan perawat datang sambil memanggilnya dengan sebutan dokter.
"Dok! Dok! Dok!" panggil mereka tanpa memberi jeda sedikitpun.
"Ampun deh kalian! dok! dok! dok! kalian kira aku anjing apa," batinnya merasa geram.
Untung saja ia memakai masker! Kalau tidak identitasnya bisa diketahui.
Kini ia mulai bersiap - siap untuk berakting layaknya seorang dokter sungguhan.
"Ekhem - ekhem! ada apa kalian memanggilku seperti itu?" tanyanya sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Ya ampun... Naikan alisnya begitu menawan..." ucap salah satu dari mereka.
"Ni orang pada ditanya juga bukannya dijawab malah bengong! maklum orang wajah tampan ma beda," batinnya merasa sombong.
"Hey! kalau kalian panggil saya tanpa ada keperluan apa - apa lebih baik saya pergi! karna saya sedang ada urusan," ucapnya hendak melangkah tapi mereka malah menahan kedua tangannya.
"Eh - eh dok! jangan pergi..." ucap mereka sedih.
"Iya terus ada hal apa hah?" tanyanya merasa sedikit geli ketika melihat wajah para perawat yang di buat - buat imut begitu benar - benar membuat perutnya jadi mual.
"Maaf pak! sebenarnya tujuan kami menuju bapak untuk meminta tolong. Salah satu pasien yang sudah sangat parah penyakit jantungnya harus segera di operasi secepat mungkin," jelas perawat satu.
"Iya pak! benar apa yang ia katakan," sambung perawat dua.
"Pokoknya bapak harus tolong pasien itu," ucap perawat tiga tak mau kalah.
"Tapi saya-" belum selesai ia berkata ucapannya malah dipotong.
"Sudahlah pak... Tinggalkan saja urusan bapak yang lain... Ini lebih penting pak... Nyawa orang lain soalnya," paksa mereka lalu mulai menyeretnya tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Werdan tak bisa berbuat apa - apa, sebesar apa pun ia melawan ia tetap akan kalah dari mulut para perawat yang super dzuper rewel ini.
Dalam hati ia hanya mampu merutuki ucapannya sendiri yang kini malah menjadi kenyataan usai berbohong pada Rosalia.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇
__ADS_1