
Hari ini adalah hari yang menegangkan bagi Miftah, hari dimana ia akan di hias menjadi seorang Ratu sungguhan dalam sehari.
Sejak kemarin rumah Firdaus tampak sangat ramai dengan orang yang sibuk mendekorasi di berbagi sisi rumah.
Entah berapa puluh orang yang di sewa untuk membuat pelaminan, hiasan taman bahkan sampai ke dalam rumah dengan anak tangga.
Masalah makanan mereka sudah lebih dulu memesan untuk acara besoknya.
Miftah masih duduk di atas kursi dengan tenang, sedangkan perias pengantin yang mendadaninya tampak sangat fokus untuk membalut mahkotanya dengan beberapa helai kain yang begitu putih bersih.
Tak lupa ia memberikan sedikit hiasan di pinggiran kerudung agar terlihat lebih menawan lagi.
"Krek!" suara gagang pintu sudah terbuka.
Kini terlihatlah dua orang wanita yang tak kalah cantik meski pun termakan usia yang tak bisa di bilang sangat muda lagi.
"Ya ampun putri mama!" seru Rosalia berjalan ke arah Miftah.
"Masya Allah mantunya mama... Yang paling cantik pokonya," heboh Dahra sambil memegang pipinya.
"Hehe anaknya siapa dulu dong... Rosalia," girangnya.
"Eh! mantu siapa dulu dong... Dahra," ucapnya tak mau kalah.
Mereka tampak sedikit berebut untuk membawa Miftah turun bertemu dengan Firdaus.
"Mama... Nyonya... Tolong jangan rebutan ya... Kan bisa satu di sebelah kanan Miftah sedangkan yang satunya di sebelah kiri Miftah," usulnya yang membuat mereka mengangguk lalu melakukan apa yang di sarankan olehnya.
Mama Firdaus yang kesal karna Miftah malah memanggilnya nyonya jadi mendemonya.
"Isss... Mantu mama kok manggilnya malah nyonya sih..? Kan mama maunya di panggil mama juga..." ambeknya.
"Hehe! maaf ya ma... Habisnya Miftah bingung kalau mama Miftah sama mama dua - duanya ada sini..." responnya.
"Lagian Rosa sih! ikut - ikutan panggilannya mama, kamu mami aja udah." putus Dahra.
"Enak aja kamu Dahra, aku kan maunya juga di panggil mama. Kalau mami aku kurang suka," resahnya.
"Kenapa kurang suka? kan sama - sama nama panggilan untuk ibu," herannya.
"Ya gak suka aja, kamu aja kalau enggak yang ganti jadi mami." putusnya.
Miftah yang sudah malas mendengar apa yang di ributkan oleh mama kandungnya dan mama mertuanya mencoba berpikir lagi bagaimana caranya agar mereka dapat kembali akur.
Tanpa perlu menunggu waktu yang lama akhirnya ia pun menemukannya.
__ADS_1
"Oh iya ma, gimana kalau Miftah panggil mama dengan penggilan Mamda?" tanyanya sambil melihat ke arah mama Firdaus.
"Mamda? apa itu sayang?" responnya malah balik bertanya.
"Mamda itu singkatan dari mama Dahra ma... Panggilan sayang Miftah untuk mama..." ucapnya meyakinkan.
"Wah... Panggilan yang bagus kalau gitu ma... Oke deh! mulai sekarang kamu panggil mama Mamda aja ya..." angguknya setuju.
"Syukurlah kalau Mamda suka Miftah jadi senang mendengarnya," responnya sambil tersenyum.
"Iya sayang... Mamda pasti senang kok," ucapnya sambil melingkarkan tangannya di sebelah tangan Miftah.
Rosalia sebenarnya sedikit cemburu dengan Dahra, pasalnya Miftah hanya memberikan panggilan istimewa hanya untuk Dahra saja.
"Sayang... Apa mama gak dapat panggilan istimewa juga darimu? mama kan juga mau," pinta mamanya memohon.
"Ya ampun mama... Kan mama ibu kandungnya Miftah... Jadi lebih baik mama aja... Gak perlu di tambah tambahin lagi," jelasnya.
"Gitu ya sama mama kandungnya sendiri?" kesalnya.
"Rosalia... Rosalia, kamu itu lebih bagus gak pakai nama panggilan istimewa. Karna kamu kan udah istimewa sebab kamu wanita yang udah lahirkan putri secantik dan sebaik ini," jelas Dahra.
"Oke deh kalau gitu," pasrahnya.
Miftah dapat menarik napas lega karna melihat mama Firdaus dan mamanya jadi akur kembali.
Ini kali pertama bagi Askari menjadi seorang penghulu untuk putrinya, dan ini adalah momen yang sejak lama di tunggu olehnya di saat usianya yang tak lama lagi sudah hampir berkepala tiga.
Jantung Miftah semakin berdetak kencang tat kala langkah kakinya semakin dekat ke arah meja yang tak lama lagi menjadi suasana yang begitu menegangkan.
Jika salah pasti Firdaus harus mengulanginya lagi hingga Miftah terus berdoa agar Firdaus lancar mengucapkannya nanti.
Dari kejauhan mata Firdaus tak pernah lepas dari sosok seorang wanita yang memakai gaun yang dulu sempat di pilih oleh Miftah saat di toko sang mama.
Ia tampak begitu cantik dan anggun seperti seorang Ratu yang sering ia sebut saat berdekatan dengan Miftah.
Miftah di lepaskan oleh mama Firdaus dan mamanya saat hampir mendekati meja untuk berjalan sendiri.
Sebelum duduk ia sempat tersenyum terlebih dahulu pada Firdaus untuk menguatkannya agar lebih bersemangat.
Firdaus jadi terhipnotis dalam sesaat lalu kembali menyadarkan dirinya saat papa Miftah sudah membuka suara.
Sebuah kain putih panjang mulai di letakkan di atas kepala Miftah dan Firdaus secara bersamaan.
__ADS_1
"Bagaimana Firdaus? apakah kamu sudah siap?" tanya papa Miftah serius.
Sebenarnya bukan hanya Firdaus yang tegang, tapi papa Miftah juga karna ini pengalaman pertama baginya dalam menikahkan anaknya sendiri.
Setelah menghembuskan napas panjang barulah Firdaus dapat menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh papa Miftah.
"Insya Allah saya siap," jawabnya.
"Baiklah kalau begitu, kita mulai ya sekarang?" tanyanya lagi memastikan.
"Baik pa," jawabnya singkat lalu papa Firdaus mengulurkan tangannya ke hadapan Firdaus yang di sambut hangat oleh tangan lawannya.
Tatapan mata sang papa kembali memberi isyarat untuk langsung memulai atau tidak.
Firdaus yang sudah sangat paham langsung mengangguk pertanda ia sudah benar - benar siap.
Akhirnya setelah mengucapkan doa pelancar lisan di dalam hatinya baru papa Firdaus memulai proses ijab kabul.
"Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan pinanganmu. Putriku Miftahul Jannah dengan mahar Dua cincin berlian dan seperangkat alat sholat tersebut di bayar tunai!" ucapnya sedikit bergetar.
"Saya terima nikah dan kawinnya Miftahul Jannah binti Askari. Dengan mahar tersebut di bayar T U N A I."
"Bagiamana para saksi, sah?" tanya papa Miftah pada semua hadirin yang turut hadir.
"SAHH!"
Kini tampak sepasang kekasih yang sudah sah menjadi calon suami istri dan papa Miftah mengucapkan banyak rasa syukur karna telah di mudahkan melakukan ijab kabul.
Setelah itu di lanjutkan dengan membawa doa, baru Miftah sedikit memiringkan tubuhnya untuk mencium punggung tangan Firdaus karna sudah menjadi kewajibannya.
Firdaus juga turut mengecup dahinya Miftah hingga setelah itu tatapan mata mereka jadi bertemu.
"Alhamdulillah... Akhirnya kita bisa menjadi sepasang suami istri ya Ratuku, dan kau hari ini sangat cantik. Persis seperti seorang Ratu," puji Firdaus yang sukses membuat pipi Miftah bersemu merah.
"Makasih mas," jawabnya hingga membuat Firdaus tersenyum dengan panggilan barunya.
"Sama - sama istriku," responnya.
Akhirnya tiba saatnya mereka saling memakaikan cincin antara satu dan yang lainnya dengan penuh perasaan bahagia hingga tak bisa lagi untuk di ungkapkan dengan kata - kata.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
__ADS_1
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇