
Kini Miftah mulai mengajak Firdaus untuk melihat banyaknya buah terong di bagian tengah yang hampir matang.
Sesekali mereka bercanda gurau dan tertawa bersama, sedangkan Rangga dan Sekar cukup menjadi nyamuk penjaga yang hanya melihat pasangan bucin yang tampak tidak pernah bertengkar padahal tak jarang adu mulut itu sering terjadi.
Mudah bagi mereka menutupi kesedihannya dengan senyuman, memendam amarah dan saling mengerti benar - benar membuat hubungan jadi terasa lebih indah.
Sang mama dan papa yang baru saja keluar rumah dan ikut menuju ke kebun jadi terkekeh saat melihat putra dan mantunya sibuk berjalan ke sana kemari sambil bercanda tawa.
"Pa... Sepertinya mantu kita memang sosok wanita yang sangat cocok untuk menjadi pendamping putra kita ya pa," ucapnya menatap suaminya dengan tangan yang ia lingkarkan di satu pegelangan tangan suaminya.
"Iya ma... Mama benar, tapi apakah mama lupa jika dulu Firdaus itu sempat ingin menikah dengan seorang wanita yang satu pondok dengannya?" peringat papanya yang baru sadar akan keinginan Firdaus di masa lalu.
"Oh... Iya pa! mama ingat kok, tapi itu kan dulu... Liat saja sekarang, Firdaus tampaknya lebih berpihak pada Miftah." yakin sang mama.
"Iya sih... Tapi-" ucapan suaminya jadi terpotong.
"Tapi apa pa? intinya papa jangan sampai berniat untuk menanyakan hal itu pada Firdaus, apa lagi di depan mantu kesayangan mama. Mama gak mau mantu mama terluka batin nantinya, apa papa gak tega apa pa?" ancam istrinya yang sudah menatapnya tajam.
"Iya deh ma..." responnya pasrah.
"Lagian ya pa! waktu pernikahan Firdaus sama Miftah itu akan berjalan dua hari lagi, mama gak mau sampai batal hanya gara - gara hal ini." keluhnya.
"Iya mama... Papa gak akan tanya kok," ucapnya menyakinkan.
"Baiklah kalau begitu, kalau sampai Miftah tau akan hal itu mama akan marah dan gak bakal lagi mau berbicara dengan papa." ancamnya lagi hingga membuat sang suami mengembuskan napas panjang.
Miftah yang baru saja menyadari kehadiran mama dan papa jadi mematung sesaat sebelum membalikkan tubuhnya ke hadapan mereka.
"Eh! mama, mama ke sini juga?" tanyanya kikuk.
"Iyalah sayang... Mama kan juga mau tau kenapa Rangga memanggilmu ketika di meja makan tadi," jawab sang mama sambil tersenyum.
"Oh... Iya ma," responnya balas tersenyum.
__ADS_1
"Miftah," ucap sang mama yang membuat Miftah menoleh ke asal suara.
"Iya mama ada apa?" tanyanya.
"Buah terong ini kayaknya dua hari lagi mateng deh," tebak sang mama.
"Wah... Iya mama benar, dua hari lagi terong ini akan bisa kita panen ma dan kita bagi - bagikan kepada yang mau." usulnya.
"Nah! mama suka itu, kalau masalah berbagi kamu memang yang terbaik sayangnya mama." puji mamanya.
"Makasih banyak ya mama," responnya sambil menutup mulutnya dengan satu tangan akibat tersenyum Pepsodent.
"Sama - sama sayang... Tapi bagaimana kalau terong ini kita jadikan oleh - oleh bagi para tamu yang hadir," usul sang mama yang sontak saja membuat yang lainnya berkata "What?!!" secara bersamaan.
"Lho! kok kalian kayak orang kaget banget gitu?" heran sang mama.
"Ya ampun istriku tercinta... Kamu harus tau kalau yang datang ke tempat kita itu bukan orang kaleng - kaleng mama... Masak iya ada yang datang ke kondangan pemilik perusahaan ternama hadiah bingkisannya terong sih ma? yang benar saja," tolak papanya ragu.
"Iya apa yang papa bilang itu benar ma," sambung Firdaus.
"Ya kan gak papa kita sekali - sekali tampil beda dengan memberikan buah terong yang langsung di petik dari pohonnya, siapa tau kan ada yang suka dan mau berbisnis pohon terong dengan kita." jelas sang mama.
"Emangnya mama bisa tanam? pohon cabe aja yang mama tanam gak tumbuh akibat kedalaman gali lubang." cibir sang papa yang sontak saja membuat emosi istrinya meluap.
"Isss... Papa... Itu kan mama tanam pohon cabenya cuma ngasal tau... Dan kedalaman gali lubang untuk di taruh bibitnya... Akhirnya gak tumbuh deh jadinya," dengus istrinya merajuk.
"Iya deh iya... Papa Miftah maaf," ucapnya menenangkan.
"Gak mau," responnya acuh.
"Yaudah terserah mama aja deh," ucap sang papa ikut - ikutan acuh.
Firdaus yang awalnya kaget mulai mencerna kembali apa yang mamanya katakan walau sempat menolak.
__ADS_1
"Pa, kayaknya gak ada salahnya deh kita setujui perkataan mama, soalnya itu hal yang cukup bagus. Cukup jarang lho ada buah terong semengkilap ini," bela Firdaus terhadap sang mama.
"Nah! itu tuh baru putra mama, satu pikiran kita sayang. Beda sama papa yang kadang pikirannya suka melenceng sama maksud mama, gak sehati emang ya." resahnya sambil melihat kedua tangan di bawah dada.
"Bukan gak sehati mama... Tapi papa hanya mencoba menyampaikan pendapat papa aja..." elak sang papa.
Miftah yang tak ingin jika mereka nanti malah lama berdebat hanya gara - gara masalah terong jadi mengusulkan hal lain.
"Duh... Ma... Pa... Dari pada ribut kan lebih baik gini aja gimana, kalau untuk bingkisan kita siapkan hadiah yang lain aja untuk tamunya sedangkan buah terong kita jadikan hadiah tambahan bagi siapa yang mau mentik." ucap Miftah berusaha membuat mereka damai.
"Wah... Iya bagus banget itu idenya Miftah," senang sang papa dan mama ikutan mengangguk.
"Iya Miftah bagus juga sih itu, karna gak mungkin bingkisan kita hanya terong... Itu buat jadi bonus aja." setuju sang mama.
"Kamu memang pintar membuat mama dan papa jadi baikan kembali Ratuku," Firdaus lagi - lagi memberikan pujian padanya dan Miftah hanya menunduk malu saat melihat senyuman Firdaus yang begitu manis menurutnya.
Akhirnya setelah puas menyelusuri semua pinggiran kebun untuk mengecek semua buah, baru mereka masuk kedalam rumah kembali.
Sesampai di kamar jantung Miftah kembali berdengup saat melihat baju gaunnya yang sudah di taruh di sebuah patung baju milik sang mama yang kebetulan ada di simpan di gudang.
Setelah di bersihkan baru Miftah dapat menaruh bajunya tersebut dan tadi malam ia malah sibuk menatap gaun itu sambil membayangkan dirinya yang tak lama lagi benar - benar akan menjadi seorang istri dari pria yang sudah sempat di benci olehnya.
Namun, saat melihat kesungguhan Firdaus yang berubah demi dirinya hati Miftah menjadi luluh, hingga kini tanpa ragu ia telah membuka gerbang untuk Firdaus masuk kedalam perasaannya.
Dulu perasaannya masih ia kunci untuk siapa pun, ia bahkan sempat tak ingin menikah akibat takut berpisah seperti kehidupan orang tuanya. Tapi takdir berkata lain, takdir lebih dulu membuat luka dan rasa trauma di hatinya pulih seutuhnya.
Apa lagi semenjak ia tau jika perpisahan orang tuanya karna ada campur tangan orang lain membuatnya jadi mencoba mengerti jika itu bukan atas dasar keinginan orang tuanya semata.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
__ADS_1
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇