Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 88


__ADS_3

     Dipagi hari yang cerah Miftah mulai melakukan beberapa kesibukannya. Usai sholat subuh ia langsung turun untuk sarapan. Ia melihat semua anggota keluarga sudah lengkap dan hanya tinggal ia seorang.


     Hari ini Firdaus terlihat begitu pendiam, ia terus saja mematung menatap makanan yang ada dihadapannya, tampak sekali bahwa dirinya sedang tidak berselera untuk mengisi perutnya.


     "Firdaus... Ayo pimpin baca doanya... Miftah udah datang tu..." perintah sang mama yang langsung dilakukan tanpa menjawab.


     Suasana ruang makan terasa begitu sunyi hari ini, bahkan suara nyamuk pun sampai tak bisa mereka dengar. Usai menghabiskan sarapannya Miftah mulai menyalami kedua mertuanya lalu meminta izin pamit pada Firdaus yang hanya direspon dengan anggukan.


     Disepanjang jalan sebelum keluar rumah, Miftah terus saja bertanya - tanya tentang apa yang dialami oleh Firdaus. Tapi ia tak kunjung mendapatkan jawaban setelah berpikir cukup keras.


     "Tinnn... Tinnn..Tin.." suara klakson motor yang tak lain adalah ojol temannya membuat Miftah yang sibuk melamun jadi terkejut dibuatnya.


     "Hei! kamu kenapa sih? kayak orang lagi ada masalah berat aja! mukanya sampai cemas banget gitu," tanya Haris saat Miftah sudah berada dihadapannya untuk meminta helm.


     "Gak ada apa - apa kok! sudah... Lebih baik kita langsung jalan aja ya..." pinta Miftah.


     Sebenarnya perasaan Haris merasa tidak enak dengan Miftah cuma ia hanya ingin Miftah tenang terlebih dahulu, takutnya nanti ia malah semakin tertekan saat bercerita hingga mengganggu konsentrasinya saat bekerja nanti.


     "Oke... Gak papa kok! kamu tenangin diri kamu aja ya... Nanti kalau kamu udah tenang dan mau cerita sama aku silahkan aja ya..." tawar Haris lalu melajukan motornya.


     "Makasih ya Haris," ucap Miftah lemah.


     "Kenapa ya dengan kak Firdaus? gak biasanya Kaka kayak gini! Kaka kan paling males jika aku diami, tapi sekarang kenapa Kaka berubah begitu cepat? sebenarnya apa yang sudah terjadi hingga Kaka jadi seperti ini," batinnya yang kini masih diselimuti rasa cemas.


     Sesampai ditempat kerjanya Miftah langsung melepaskan helm yang ia gunakan lalu memberikannya kepada Haris.


     Haris yang sudah mengambil alih helm dari tangan Miftah hanya berusaha tenang sejak tadi, karna raut kecemasan masih belum luntur dari wajah temannya itu yang biasanya terlihat selalu ceria.


     "Apakah ia ada masalah dengan calon suaminya?" batinnya lalu langsung memutar stang motor kemudian mulai melaju ketempat pelanggan lainnya.


     Sesampai didalam, Miftah langsung masuk dan menuju ke arah kebun yang biasa ia awasi. Untung saja ia sudah paham bagaimana cara berpenampilan juga berdadan layaknya gadis culun kemarin. Kalau tidak, ia pasti akan merepotkan mamanya lagi.


     "Assalamualaikum pak Abraham," sapa Miftah yang kebetulan berpapasan dengannya.


     "Wa'alaikum salam Jannah... Cepat sekali kamu sampainya! kamu memang Mandor yang sangat rajin ya..." puji pak Abraham.

__ADS_1


     "Ah... Tidak kok pak... Hanya kebetulan saja saya pergi awal! mungkin besok - besok juga bakal telat," elaknya.


     "Hahaha! ada - ada saja kamu ini! yasudah! kalau begitu kamu langsung kerja saja! hari ini nyonya juga akan membantumu untuk mengawasi kebun, jadi bersikap baik dan sabar saja ya kalau beliau melakukan sesuatu yang membuatmu tidak senang." beritahunya.


     "Bapak tidak usah khawatir! saya paham kok pak! saya justru sangat berterima kasih karna bapak sudah mau mempercayakan pekerjaan ini kepada saya," ungkapnya.


     "Sama - sama Jannah," responnya.


     "Kalau begitu saya izin pamit dulu yah... Karna saya sedang ada bisnis juga dengan rekan saya diluar sana," pamitnya.


     "Iya pak! saya juga mau langsung kekebun belakang," ucapnya lalu mereka pun berpisah dan berjalan menuju ketempat tujuan mereka masing - masing.


     Sesampai dibelakang para pekerja kebun mulai menyambutnya satu persatu.


     "Selamat pagi Bu Jannah," sapa mereka.


     "Pagi juga Bu...," balasnya sambil tersenyum.


     Miftah kini mulai sibuk mengatur para pekerja kebun dengan sangat teliti. Mereka tidak pernah membantah apa yang Miftah katakan, bahkan mereka sangat senang jika di arahkan oleh Miftah karna ia memperlakukan mereka dengan sangat baik tanpa membeda - bedakan.


     Itulah yang membuatnya banyak dikagumi oleh para pekerja kebun lainnya, mereka merasa sangat bersyukur memiliki mandor seperti Miftah.


     Dari kejauhan Miftah bisa melihat seorang wanita paruh baya yang datang sambil membawa kipas tangan ditangannya.


     Ia terlihat sibuk mengipasi wajahnya yang terlihat sangat putih karna menaruh make up begitu tebal.


     "Hai kamu! kenapa masih ada sampah disini hah? kenapa kerja  begini aja gak pada becus sih?" celotehnya pada salah seorang pekerja yang sedang sibuk menyapu pekarangan kebun.


     Para pekerja itu terlihat gemetar dan langsung bergegas untuk memungut sampah yang niatnya hanya ia kumpulkan sebentar.


     Miftah yang melihat hal itu langsung berjalan menghampiri nyonya yang masih memandang sinis pada pekerja tersebut.


     "Maaf nyonya! mereka bukannya abai. Tapi mereka memang sedang menyapu lalu menumpukkan semua sampah ini disatu tumpukan ini agar mudah mereka pungut nantinya," beritahu Miftah setelah membungkukkan sedikit badannya.


     "Heh! kamu ini siapa lagi! berani - beraninya menegur saya! saya ini nyonya ditempat ini dan kebun ini adalah milik suami saya," sombongnya.

__ADS_1


     "Heh! seandainya kamu tidak merebut suami orang kamu juga gak bakal memiliki kebun ini dari hasil kecentilanmu pada papaku tau!" batinnya merasa geram.


     "Maaf nyonya! bukannya saya tidak menghargai nyonya! saya tau jika nyonya adalah seorang istri dari pemilik kebun ini! tapi sifat nyonya yang seperti itu hanya akan membuat para pekerja tidak nyaman dengan anda bahkan sampai merasa tertekan," jelasnya.


     "Aku gak peduli! suka - suka aku dong ingin mengatur mereka seperti apa," ucapnya sambil mengarahkan kipas lipatnya yang telah tertutup dihadapan Miftah.


     "Nyonya! saya yakin! jika dihadapan suami anda! pasti anda akan bersikap lemah lembut dengan para pekerja ini! tapi kenapa saat dibelakang suami! anda malah bersikap semena - mena? bukannya itu sama saja dengan tidak jujur?" komen Miftah yang langsung membuat sang nyonya terdiam.


     "Sebenarnya siapa wanita ini? kenapa dia sangat berani kepadaku? bahkan ia seperti telah mengetahui seluk beluk kehidupanku! aku harus mencari tau dulu sebelum beradu mulut lebih panjang dengannya, awas kamu! lain kali aku tidak akan melepaskanmu, untuk hari ini karna aku sedang baik hati aku lebih memilih kembali keruanganku." batinnya sedikit jengkel dengan sikap Miftah.


     Ia pun langsung meninggal tempat tersebut dengan gaya sombongnya, tak lupa kipas lipat yang sudah ia lebarkan kembali. Miftah hanya mampu menggeleng - gelengkan kepala saking tak habis pikir dengan sikap sang nyonya, lalu ia kembali fokus mengontrol setelah menenangkan pekerja yang kena semburan sang nyonya tadi.


_____________________________________


Hai kaka semuanya... 🤗


Makasih ya... Karna sudah mau mampir ke Novel kedua Star... 😇


"KEBUN TERONG SIGADIS NARSIS"


Star sangat berterima kasih bagi Kaka - Kaka yang sudah mau memberi Ranting, like, vote bahkan sampai membaca dan mengomentari karya star... 🙏😊


Star sangat senang hingga jadi lebih semangat... 😄


Dimana bulan disitu bintang 😀


Dimana gelap disitu terang 🤣


Terima kasih bila tlah datang 😆


Star beri ucapan salam sayang 😘


Oke... Sampai jumpa di part selanjutnya ya...


Makasih untuk Kaka - kaka yang selalu hadir...

__ADS_1


   🍃🍃🍃🍃🍃  🙏🙏🙏  🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2