Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 49


__ADS_3

     Kini Miftah sedang berada di kamarnya sambil menatap langit malam yang terlihat sangat sepi tanpa kehadiran dua benda yang biasanya selalu bersinar dan saling memancarkan cahaya untuk memanjakan mata manusia yang kagum akan kekuasaan sang Ilahi.


     Ia sangat teringat kejadian saat makan bersama tadi siang bersama keluarga Firdaus yang membuatnya jadi merasa memiliki keluarganya kembali.


     Ia juga baru tau bahwasanya Firdaus itu adalah anak tertua dari empat bersaudara jadi ialah yang harus membangun perusahaan sang papa untuk pertama kalinya sedangkan adik - adiknya masih sibuk mengejar mimpi mereka masing - masing diluar negri.


     Ingatannya saat bersama keluarga Firdaus mampu membuatnya tak berhenti merekahkan senyuman dibibirnya.


     "Miftah kamu duduk aja disini bersama Firdaus nanti, biar mama duduknya sama papa aja." jelas sang mama karna mereka hendak makan dimeja bundar yang hanya memiliki empat kursi.



     "Ini pasti mama yang sengaja menyuruh bi Ati untuk mempersiapkan meja ini agar hubungan ku dengan Miftah jadi semakin dekat," pikir Firdaus yang masih mematung setelah turun dari kamarnya dilantai atas.


     "Biasanya mama lebih suka makan dimeja panjang tapi kenapa sekarang malah rela memilih meja bundar hanya untuk membuatku dekat dengannya?" pikirnya lagi.


"*Jangan - jangan mama sudah benar - benar tertarik dengan Miftah," tebaknya tak terima*.


     "Ma... Tumben mama pake meja bundar? biasanya kan mama lebih suka pakai meja panjang tempat biasa kita makan bersama itu," selidik Firdaus ingin memastikan apakah tebakannya benar.


     "Lho... Kenapa emang? justru dengan begini kalian kan bakal lebih akrab jadi mama rela kok kalau harus makan dimeja bundar," jawabnya sambil tersenyum lebar.


     "Bukan begitu ma... Tapi - " ucapan Firdaus terpotong oleh sang papa.


"*Firdaus cepat duduk disamping Miftah! apakah kamu tega membuat kami menahan lapar begitu lama hanya karna menunggu mu duduk?" geramnya*.


     "Oke!" responnya singkat lalu langsung duduk dengan ekpresi dingin.


"*Mukanya kenapa ditekuk mulu Firdaus," tegur mama yang sudah muak melihat raut wajah putranya yang tidak menunjukkan rasa senang sama sekali*.


     Miftah sebenarnya merasa tidak enak juga pada Firdaus tapi saat itu ia lebih memilih diam agar Firdaus tidak semakin terlihat muram.


     "Nah Firdaus! ayo pimpin baca doa makannya seperti biasa," suruh sang papa dan Firdaus hanya menurut karna memang itu tugasnya ketika sempat makan dirumah bersama keluarga tercintanya.


     "Bismilla..hirrahma..nirrahim.. , Alla..humma barik lana..fi..ma razaqtana..wa qina..adza..ban nar.. , Ya Allah berkahilah kami pada apa yang telah Engkau karuniakan dan lindungilah kami dari siksa neraka , Amiiin." doanya lalu mengusap wajahnya dan yang lain juga mengikutinya setelah mengucapkan kalimat Amin juga.

__ADS_1


     Kini suara dimeja makan terasa begitu sunyi yang terdengar hanyalah suara dentingan garpu dan sendok, usai makan mereka tak langsung pergi tapi memilih berbincang terlebih dahulu.


     "Miftah kamu tau gak? diantara semua anak mama yang paling mirip dengan papanya cuma Firdaus," ucap sang mama sambil tersenyum.


"*Dan ia juga termasuk pria yang tidak suka dibantah seperti papanya, Firdaus lebih banyak menuruti sifat papanya yang kadang suka keras kepala gitu tapi walau pun begitu papanya Firdaus punya sifat yang setia lho..." sambungnya sambil melihat kearah sang suami yang membalas senyumannya*.


     "Tapi ma, perasaan Firdaus memiliki sifat yang penurut." elak Miftah seakan tak percaya dengan apa yang mama Firdaus katakan.


"*Hahaha," tawa sang mama sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan*.


     "Kenapa mama ketawa? apa yang Miftah tadi katakan salah ya?" tanyanya bingung.


"*Bukan gitu sayang... Mama hanya bingung aja... Gak biasanya Firdaus itu mau nurut sama orang lain... Sama papanya aja kadang akhir - akhir ini suka ngeyel," jawab sang mama*.


     "Masak ia sih ma?" tanyanya masih belum yakin.


"*Iya sayang... Kamu gak percaya karna Firdaus mungkin telah banyak menuruti keinginan mu ya..." tebak mama*.



     "Ma... Sudahlah... Jangan gangguin Miftah lagi... Firdaus memang agak ngeyel sama mama dan juga papa tapi entah kenapa jika dengannya Firdaus jadi penurut," jelasnya.


     "Itu tandanya kamu udah punya rasa sama Miftah! makanya kamu jadi begitu," ucap sang mama sambil menatap penuh harap pada Firdaus.


"*Iya sih... Mungkin apa yang mama katakan benar!" responnya berusaha untuk tenang agar lisannya tak dapat menyakiti Miftah jika sebenarnya ia masih belum memiliki rasa sama sekali untuknya sampai sekarang*.


     "Oh iya Firdaus! ngomong - ngomong kapan acara pernikahannya diadakan?" tanya sang mama.


"*Entah! Firdaus masih belum memikirkan kapan hari itu ditentukan," jawabnya*.


     "Oh iya! bagaimana kalau tiga hari lagi.


"*Usul papanya yang membuatku jadi sangat terkejut*.


__ADS_1


"*Apa tiga hari lagi? secepat itu kah?" heranku tapi Firdaus hanya mengangguk saja sambil berkata "terserah papa sama mama aja deh! Firdaus ngikut aja," responnya seperti tak peduli*.


     "Pa... Apakah itu tidak terlalu cepat? kita kan harus mempersiapkan nya dulu... Lagian pestanya pasti mewah... Otomatis membutuhkan waktu yang lumayan lama," komen mama.


"*Anak kita pun masih pada diluar negri semua... Satu di Inggris, satu di Jerman dan satu lagi di Arab," sambungnya*.


     "Benar juga! kan gak mungkin mereka absen dihari pernikahan Kaka tertua mereka," ucap sang papa membenarkan perkataan istrinya.


"*Ya sudah kalau begitu pernikahannya akan kita adakan minggu depan! apakah kalian keberatan?" sambung papa sambil bertanya kepada Miftah dan Firdaus*.


     "Miftah gimana yang baiknya aja pa," jawabnya.


"*Firdaus juga begitu," ikutnya*.



"*Baiklah kalau begitu... Sekarang kalian kembali istirahat aja yah..." respon sang papa*.



"*Makasih ya pa... Kalau begitu Firdaus sama Miftah pamit dulu yah ma... Pa..." izinnya dan mereka hanya mengangguk sedangkan Miftah yang masih duduk terdiam jadi terkejut saat Firdaus tiba - tiba menarik tangannya untuk ikut dengannya keatas*.


     Sesampai diatas Miftah meminta Firdaus untuk melepaskan genggaman tangannya.


"*Kaka! kenapa Kaka main tarik - tarik terus tanganku?" dengusnya sambil menatap tajam kearah Firdaus*.


     "Lagian kamu bengong sih!" alasan Firdaus.


"*Lah! terserah aku dong kaka... Yang penting kan aku gak ganggu yang lainnya," protes Miftah yang merasa tidak puas dengan jawaban Firdaus*.


     "Kaka! aku seperti nya merasa ada hal yang aneh dengan Kaka! kenapa sikap Kaka jadi terasa berbeda denganku ketika ada mama dan papa? kenapa? Kaka hanya memberikanku kehangatan disaat aku hanya bersama dengan kaka! sebenarnya apakah Kaka benar - benar mencintaiku atau tidak? kalau Kaka gak cinta sama aku lebih baik kita batalin aja pernikahan ini," ungkap Miftah yang sudah tidak tahan dengan perubahan sikap Firdaus yang mampu berubah begitu cepat saat ia telah menginjakkan kaki dirumah ini.


     Firdaus sangat terkejut saat mendengarkan kata - kata Miftah, ia sangat khawatir jika Miftah benar - benar ingin melakukan hal yang dapat menghancurkan segala kerja kerasnya yang tinggal sedikit lagi untuk mencapai puncak kemenangan.


     Miftah yang kini sedang melihat kearah langit malam hanya mampu bertanya - tanya alasan perubahan sikap dari Firdaus yang begitu cepat.

__ADS_1


__ADS_2