Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 102


__ADS_3

    Usai makan, Firdaus hanya berbaring sambil memainkan ponselnya. Sedangkan Miftah sedang menaruh kembali piring juga gelas kotor keatas nampan besarnya untuk ia bawa ke dapur.


     Ketika Firdaus melihat jam di poselnya ia sangat terkejut.


     "Lho! Ratuku! ini udah jam berapa... Apa kamu gak telat berangkat kerjanya?" tanya Firdaus saat melihat jam yang telah menunjukkan pukul sepuluh pagi.


     "Enggak papa... Kaka pokoknya gak usah khawatir! hari ini Miftah libur khusus buat jagain Kaka aja," ucapnya sambil tersenyum lebar dengan satu mata yang ia sipitkan.


     "Apa kamu tidak merasa kasian? lagian kamu udah susah payah semalam mendapatkan barang bukti tersebut! Kenapa gak mau cepat - cepat serahin?" tanya Firdaus.


     "Kaka... Barang bukti itu gak terlalu penting dibandingkan kesehatan Kaka... Lagian gara - gara Kaka bantuin Miftah! Kaka jadi sakit," jawabnya sedih.


     "Ya ampun... Kaka gak parah banget kok sakitnya... Harusnya tadi Kaka tidak memintamu untuk menyuapi Kaka..." ucapnya merasa bersalah.


     "Tak apa - apa Rajaku... Udah... Nanti kalau udah duduk berapa menit abis makan bobo ya..." ucap Miftah sambil memegang pipi Firdaus dengan satu tangannya.


     Seakan disetrum tubuh Firdaus jadi begitu kaku, matanya seperti terhipnotis dengan tatapan penuh ketulusan yang teduh dari Miftah.


     "Iya! itu pasti kok! tumben kamu mau panggil Kaka Raja! biasanya kamu hanya mau memanggil Kaka," herannya.


     "Ya... Gimana ya jawabnya... Karna mood ku lagi bagus aja," jawabnya asal.


     "Is kamu... Aku itu serius tau... Biasanya meskipun kamu lagi senang kamu masih saja memanggilku Kaka kecuali dalam keadaan terpaksa," ucapnya mencoba mengingatkan.


     "Hahaha udah... Gak usah dibahas lagi... Anggap aja hadiah ya... Ketika Kaka sakit..." ucapnya.


     "Kalau aku tau kamu bisa bersikap sangat manis dan begitu lembut begini hanya karena aku sakit, lebih baik aku ingin sakit selalu saja..." ucap Firdaus yang membuat Miftah terkejut mendengarnya.


     "Kaka! Kaka bicara apa sih? sudah tau kesehatan itu sangat di inginkan oleh semua orang! lah Kaka malah meminta kembalikannya! kalau begitu Miftah gak mau bersikap seperti tadi lagi deh!" geramnya.


     "Eisttt... Kaka hanya becanda kok... Canda Ratuku... Oke... Ya udah... Lebih baik kamu kerjakan apa yang ingin kamu kerjakan ya... Kaka mau tidur... Good bobo dulu..." ucapnya sambil tersenyum lebar.


     "Good bobo... Good bobo... Ada - ada saja si Kaka ciptaannya," responnya sambil terkekeh pelan.


     "Hahaha," Firdaus hanya menanggapinya dengan tawa.


     "Ya sudah kalau gitu Miftah mau taruh ini dulu yah Kaka..." pamitnya.


     "Oke..." respon Firdaus.


     "Tapi abis itu kamu kesini lagi yah..." pintanya.


     "Maaf kak... Miftah mau sholat Dhuha dulu... Kan masih ada waktu..." ucapnya.


     "Masya Allah... Emang Ratuku yang paling Sholehah ya..." puji Firdaus.

__ADS_1


     "Gak kok kak... Biar rezeki kita lancar," jawabnya.


     Biasanya Miftah memilih membungkam mulutnya. Cuman, karna ia tak mau membuat Firdaus berpikir apa yang ia lakukan nanti, lebih baik ia katakan saja. Toh! tak lama lagi Firdaus juga akan menjadi imamnya.


     "Kalau gitu nanti lagi yah Kaka... Maaf kalau nanti kesininya agak lama..." beritahunya.


     "Gak papa Ratuku... Aku juga mau sholat juga, lagian kondisi ku seperti nya sudah agak membaik." ucapnya.


     "Tapi Kaka masih terlihat pucat... Sanggup jalan gak?" tanya Miftah.


     "Sudah kamu pergi sholat terus... Kaka gak papa kok..." ucapnya dengan tatapan yang mencoba meyakinkan.


     "Ya udah nanti kalau perlu apa - apa telpon Miftah aja ya... Gak usah Kaka yang samperin Miftah..." beritahunya lagi.


     "Iya - iya Ratuku... Perhatian banget sih... Oke kalau gitu," responnya hingga membuat Miftah jadi salting sendiri dengan pipi yang sudah bersemu merah.


     "Itu pipimu kenapa?" tanya Firdaus sedikit menggodanya.


     "Eh! gak ada apa - apa! kalau gitu bye bye bye Kaka baik..." ucapnya lalu pergi dari hadapan Firdaus setelah menutup pintu dengan pelan.


     Diperjalanan menuju dapur, jantung Miftah tak berhenti berdetak kencang.


     "Ya ampun... Kenapa jantungku malah gejedak - gejeduk gini lagi yah? udah ma kenceng banget... Aku tadi hampir gak bisa kuasai diriku lagi..." ucapnya pelan.


     Sang bibi yang melihat wajah cemas dari Miftah hanya mempu bertanya setelah mengambil alih tampan yang ada ditangan Miftah, hingga membuat Miftah yang sedikit melamun merasa sangat terkejut.


     "Non... Non kenapa cemas begitu? hati - hati... Non bisa saja menjatuhkan benda kaca ini... Nanti non malah kenapa - napa..." peringat bibi ikutan cemas.


     "Oh... Gak ada bi... Miftah tadi hanya sedang memikirkan sesuatu," ucapnya mencari alasan.


     "Apa itu non?" tanya bibi lagi, hingga membuat Miftah harus kembali menggunakan otak cantiknya untuk berpikir.


     "Anu bi... Kak Firdaus tadi kan gak enak badan... Jadi sempat kepikiran aja... Miftah sangat ingin kak Firdaus cepat sembuh biar bisa main bareng sama Miftah lagi! eh! maksudnya jalan - jalan gitu bi," ucapnya.


     Bibi hanya mengangguk paham.


     "Gak papa atu non... Lagian demamnya den Firdaus gak terlalu parah ini... Insya Allah den Firdaus bakal cepat sembuh kok! apa lagi kalau non Miftah yang bantu jaga," goda bibi hingga membuat Miftah kembali tersipu.


     "Ya ampun bibi... Bukannya mampu membuat jantungku tenang malah menambah saja... Hadeh... Mau gimana lagi! aku harus kembali merasakan olahraga detak jantung," batinnya merasa resah.


     Keresahan Miftah kini semakin lengkap dan terasa seperti disambar petir saat mendengar suara berat yang kini sedang berbicara kepadanya.


     "Oh... Ternyata ada yang rindu jalan - jalan dengan Raja nih! candu ya! semalam gak cukup mainnya?" tanya Firdaus yang benar - benar membuat Miftah sudah menunduk berat, pipinya terasa panas.


     "Ih... Bukan gitu..." ucapnya mencoba menjelaskan. namun, apa daya jika Firdaus sudah berpendapat A maka akan sulit jika diberi pendapat B.

__ADS_1


     "Terus apa?" tanyanya sambil mengangkat sebelah alisnya.


     "Enggak... Aku tuh-" Miftah masih memotong kalimat yang ia ucapkan, lidahnya terasa begitu kelu jika ia harus mengutarakan kalau ia tidak sanggup menahan detakan jantungnya saat bersama Firdaus tadi.


     "Ah lupakan! Kaka sendiri ngapain coba disini? bukannya tadi katanya mau mengerjakan ibadah sunah! terus kenapa malah ikut turun? lagian kalau ada apa - apa bukannya Miftah sudah bilang sama Kaka untuk telpon Miftah aja-" belum sempat Miftah menyelesaikan ucapannya, Firdaus langsung membuatnya kembali bungkam.


     "Syuttt..." ucapnya sambil menaruh jari telunjuknya tepat dibibir Miftah.


     "Bagus kamu udah diem," sambungnya.


     "Aku tuh kesini karna ada perlu dengan bibi... Makanya aku turun langsung... Masak ia harus nyuruh kamu... Toh! kamu belum tentu paham nantinya! tenang aja, sekarang intinya aku udah agak baikan." jelasnya sambil melipat kedua tangannya dibawah dada dengan tatapan mata menyipit.


     "Oh... Gitu yah! oke! Berarti kalau gitu aku gak perlu jaga Kaka lagi, karna Kaka udah sembuh! aku juga ada meeting dengan hpku," responnya lalu melangkah pergi dari hadapan Firdaus.


     "Eh! mau kemana?" tanya Firdaus.


     "Ya kekamar lah... Masih banyak kerjaan aku kak... Oke... Selamat menikmati kesembuhan Kaka..." ucapnya sambil melambaikan satu tangannya.


     "Ya ampun... Dasar bibir bodoh! kenapa kamu malah berkata itu tadi," umpatnya sambil memukul pelan bibirnya.


     Bisa Ati yang sejak tadi sudah pergi dari hadapan mereka ternyata memilih tak mau melihat dan mendengar, hingga memutuskan untuk langsung mencuci piring yang baru saja Miftah turunkan tadi.


     Firdaus yang kini tidak mau mengambil pusing memilih untuk langsung mendekati bisa Ati dan menanyakan keperluannya.


_____________________________________


Hai kaka semuanya... 🤗


Makasih ya... Karna sudah mau mampir ke Novel kedua Star... 😇


"KEBUN TERONG SIGADIS NARSIS"


Star sangat berterima kasih bagi Kaka - Kaka yang sudah mau memberi Ranting, like, vote bahkan sampai membaca dan mengomentari karya star... 🙏😊


Star sangat senang hingga jadi lebih semangat... 😄


Dimana bulan disitu bintang 😀


Dimana gelap disitu terang 🤣


Terima kasih bila tlah datang 😆


Star beri ucapan salam sayang 😘


Oke... Sampai jumpa di part selanjutnya ya...

__ADS_1


Makasih untuk Kaka - kaka yang selalu hadir...


   🍃🍃🍃🍃🍃  🙏🙏🙏  🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2