
Sesampainya di rumah mereka langsung keluar usai menyuruh Rangga dan Sekar memasukkan mobil ke dalam Garasi.
Mereka kini sudah melangkahkan kaki melawati ruang tamu.
Sang mama yang menyadari ke hadiran mereka meskipun sedang asyik - asyiknya menonton tivi memilih untuk mengabaikan acara yang biasanya tak ingin di lewatkan olehnya.
"Eh! putra sama mantu mama udah pulang aja, gimana? udah dapat gaun yang pas belum?" tanyanya bergairah.
"Alhamdulillah udah ma... Dan Miftah yakin banget kalau mama juga suka," responnya sambil tersenyum.
"Wah... Mama jadi penasaran deh kamu pilih yang mana sayang, coba mama lihat." pintanya mengulurkan tangannya.
Miftah pun memberikan bungkusan yang sedang di jinjingnya itu pada sang mama.
"Masya Allah... Kamu pinter banget ya pilihnya sayang... Gaun ini juga bahan bagus, sangat baru di pasaran dan jangan lupakan soal harganya yang lumayan fantastis." senangnya.
Miftah sangat terkejut saat mendengar apa yang mamanya katakan, ia benar - benar tidak ingin jika sang mama salah paham kepadanya dan mengira jika ia hanya mengincar hartanya alias cewek matre.
"Maaf ma, Miftah benar - benar gak tau kalau gaun inilah yang paling bagus dengan harga jual yang tinggi. Lebih baik nanti kita tukar sama yang lain saja ya ma... Takutnya rusak kalau Miftah yang pakai," usulnya cemas.
"Is... Kamu ini apa - apaan sih sayang? ini itu emang baju yang khusus mama rancang untuk calon mantu mama kedepannya sebelum kamu hadir, dan mama sangat senang deh! ternyata kamu juga memilih gaun ini, berarti kita sehati dong!" girangnya.
"Jadi ini memang mama rancang untuk Miftah? calon mantu mama?" tanyanya tak percaya.
"Iya sayangnya mama... Kamu gak percaya benget sih..." resahnya yang sudah berjalan lalu memeluk erat Miftah dengan satu tangannya sedangkan yang satunya masih memegang gaun.
"Maaf udah buat maka sedih... Miftah percaya kok sama mama," responnya balas memeluk sang mama.
Usai berpelukan Miftah pun izin pamit untuk istirahat di kamarnya, begitu pun dengan Firdaus.
"Kaka, baju pengantin Kaka siapa yang simpan ini?" tanyanya sambil menyerahkan satu bingkisan yang belum di buka.
"Simpan di kamarmu aja Ratuku... Takutnya kalau di simpan di kamar Kaka nanti malah lupa kakanya..." jawabnya.
"Yaudah deh kalau gitu, ini masih ada waktu untuk sholat Dhuha kak, kalau Kaka gak terlalu cepek jangan lupa untuk sholat Dhuha ya Kaka..." peringatnya.
Firdaus hanya tersenyum lalu mengusap puncak kepala Miftah yang di tutupi jilbab itu.
"Iya Ratuku, Kaka gak terlalu capek kok! orang cuma nyetir mobil sebentar saja, pasti kaka akan sholat Dhuha sekarang." responnya sambil tersenyum dan Miftah membalasnya.
"Baiklah kalau gitu Kaka... Miftah pamit masuk ke kamar duluan ya..." ucapnya hendak berbalik badan.
"Ratuku," cegahnya saat tubuh Miftah sudah sedikit menghadap ke samping.
__ADS_1
"Iya Kaka," responnya kembali menghadap kearahnya.
"Hehe! boleh gak sebelum masuk ke kamar kamu panggil Kaka dengan sebutan Rajaku?" tanyanya sedikit memelas dan bertingkah seimut mungkin.
"Ya ampun Kaka ini... Bisa - bisanya ya bersikap menggemaskan saat ada maunya," batinnya merasa geli di hatinya.
"Ratuku," ucapnya lagi.
"Iya Rajaku... Ada apa hmm..? Ratumu ini udah lelah... Jadi harus istirahat... Gak sayang yah sama Ratunya..." responnya berakting sedih.
Firdaus yang melihat hal itu hanya terkekeh sekejap lalu mengangkat suara.
"Iya deh iya... Yaudah sana istirahat abis sholat Dhuha," ucapnya mengizinkan.
"Makasih banyak ya Rajaku... Dadah calon imam," responnya sambil melambaikan satu tangannya hingga Firdaus jadi tersipu di buatnya.
"Hahaha Kaka lucu ya... Jangan sampai merah itu pipi," ledek Miftah lalu masuk ke dalam kamarnya.
Firdaus masih mematung di tempat dan baru tersadar setelah beberapa menit kemudian.
"Ya ampun... Gadis itu sangat pintar membuatku beku dengan ucapan dan senyuman manisnya," resahnya sambil menggelengkan kepalanya kesana kemari dengan satu tangan memegang dahi.
____________________________
Disisi lain Zaldira sedang duduk di atas kasur empuknya sambil memainkan ponselnya.
"Iya Bu... Zaldira kesana sekarang," responnya sedikit tergesa - gesa untuk menghampiri ibunya.
Kini ia sudah sampai di meja makan dengan tatapan yang terus tertuju pada ibunya.
"Ada apa Bu?" tanyanya lembut.
"Duduk sayang... Kita makan malam dulu," jawab sang ibu dan Zaldira hanya menurut.
"Oh iya Bu, ayah mana ya bu?" tanyanya setelah merasa ada yang kurang.
"Oh... Ayahmu masih sholat isya dulu sebentar, tadi abis ngaji." Jawab ibunya sambil menata beberapa makanan yang sudah di taruh dalam mangkuk dan pastinya masih hangat.
"Wah... Pasti enak banget ini," girangnya saat melihat lauk yang ibunya buat.
Tak berapa lama kemudian ayah Zaldira pun datang dan duduk di kursinya yang terletak di samping Istrinya.
"Zaldira udah di panggil belum Bu?" tanya suaminya yang baru saja tiba tanpa melihat kiri kanan.
__ADS_1
"Ayah ini pertanyaannya ada - ada aja deh! itu Zaldiranya udah di depan Ayah..." jawab istrinya sambil menghembuskan napas panjang saking tak habis pikirnya.
"Hehe! ya maaflah Bu... Orang ayah tadi gak liat..." ucapnya merasa malu dan Zaldira jadi ikutan terkekeh di buatnya.
"Iya deh... Terserah ayah aja," responnya tak ingin memperpanjang.
Sekarang meja makan sudah terisi penuh oleh satu keluarga kecil ini.
"Oh iya Za! ada hal yang ingin ayah sampaikan padamu nanti," beritahu ayahnya.
"Apa itu yah?" tanyanya sambil menatap ayahnya.
"Tapi ayah sama ibu sebenarnya kurang yakin kamu setuju apa enggak dengan rencana kami ini yang begitu mendadak," resahnya.
"Dan mau tidak mau, kamu harus menyetujuinya juga sebab pamanmu sudah mendaftarkanmu." sambungnya.
"Oh... Zaldira paham, pasti ayah sama ibu mau kasih tau tentang kuliah Zaldira kan? Zaldira yakin banget kalau Zaldira pasti di terima dan bisa masuk ke universitas itu," girangnya.
"Iya kamu memang di terima dan tak lama lagi akan masuk kekampus sayang..." respon ibu Zaldira.
"Alhamdulillah Bu... Berarti tak sia - sia Zaldira untuk terus beribadah dan meminta setiap saat pada Allah karena akhirnya bisa dikabulkan juga," syukurnya tak berhenti merekahkan senyuman.
"Sayang... Kamu dengarkan ibu dulu ya..." pintanya memberi isyarat jika nanti ia berbicara jangan di potong terlebih dahulu.
"Baiklah Bu, silahkan." responnya lalu mengunyah kembali makanannya.
"Kamu memang telah di terima kuliah Zaldira, tapi bukan di Indonesia." beritahunya secara hati - hati.
"Maksud ibu?" tanyanya sedang berusaha membuang pikiran buruk yang selama ini ia takutkan jangan sampai terjadi.
"Kamu masih kenal pamanmu yang tinggal di luar negri kan?" tanya ibunya hingga Zaldira jadi paham sekarang.
"Sebelum Zaldira jawab, Zaldira ingin ibu dulu yang menjawab pertanyaan Zaldira." pintanya yang kini sudah semakin serius.
"Pasti Zaldira lulus kuliah di luar negeri dan tak lama lagi usai lulus SMA akan terbang kesana untuk menuntut ilmu yang baru, benarkah itu?" sambungnya.
Ibunya mengangguk membenarkan begitu pun dengan suaminya, hal itu malah membuat mata Zaldira berkaca - kaca lalu bangkit untuk masuk kekamar tanpa memperdulikan nasinya tersebut.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
__ADS_1
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇