Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 104


__ADS_3

     Sesampai didepan kebun, senyuman Miftah langsung merekah tanpa dipinta.


     "Ya ampun Kaka... Padahal ini baru berapa hari, tapi bibit yang kemarin itu sudah tumbuh menjadi pohon... Bahkan pohonnya telah berbunga banyak lagi... Pastinya gak bakalan lama untuk dipanen," senangnya.



     "Benar banget Miftah," ucap Sekar yang sejak tadi sudah menunggu kedatangannya dan Rangga.


     "Kak Sekar sama kak Rangga ternyata sangat handal juga yah dalam urusan mengurus tanaman," puji Miftah sambil berjalan disamping bedengan.


     Tak jarang, tangannya juga ikut memegang daun - daunan yang masih berembun itu.


     "Oh iya! apakah kamu tidak masuk kerja hari ini?" tanya Rangga yang baru saja sadar jika Miftah sudah jarang ada dirumah ketika pagi sampai sore hari.


     "Tidak," hanya itu responannya.


     "Kenapa?" ucap Sekar ikut bertanya.



     "Aku gak bisa tinggalin Kak Firdaus yang sedang sakit... Lagian kak Firdaus sakitnya juga karna aku," beritahunya.


     "Emangnya bos sakit apa?" tanya Rangga yang baru tau kabar tersebut.


     "Iya! memangnya bos Firdaus sakit apa?" sambung Sekar.


     "Kak Firdaus dari semalam seperti nya terkena demam akibat hujan - hujanan usai mengantarkan ku kesuatu tempat," jawabnya sambil menghembuskan nafas pelan.


     "Oh iya! dasar bodoh! kan kita yang ambilkan motor untuknya semalam," ucap Rangga sambil terkekeh pelan.


     "Je... Aku gak ikut - ikutan bodoh ya... Karna yang semalam disuruh itu kamu bukan aku," respon Sekar sambil menatap malas kearah teman nya itu.


     "Emang aku mengatakan hal itu arahnya ke kamu? sorry ya... Enggak!" elaknya.


     "Iya deh iya! terserah kamu aja deh! aku sedang malas untuk berdebat," ucap Sekar acuh tak acuh.


     "Hey! jangan pada ribut napa," ucap Miftah sambil menepuk tangannya dan mereka sampai terkejut dibuatnya.


     "Ya ampun Mif... Terkejut aku," ucap Sekar yang hanya direspon cengiran kuda oleh Miftah.


     "Oh iya! Miftah lupa," ucap Miftah sambil memukul pelan dahinya.


     "Apanya yang lupa?" tanya mereka bersama.


     "Cie... Cie... Kompak ni," goda Miftah sambil menunjuk kearah Sekar dan Rangga secara bergantian dengan jari telunjuknya.


     "Hanya kebetulan," respon Rangga.


     "Iya hanya kebetulan," sambung Sekar.


     Mereka sama - sama memasang wajah datar untuk saat ini.


     "Hmmm... Oh iya! kalian tau gak aku semalam kemana?" tanya Miftah mulai mencari topik untuk menghentikan hawa panas tersebut.


     "Tidak!" jawab mereka secara bersamaan.


     "Aku itu semalam ke Restoran," beritahunya.


     "Sama kak Firdaus kan? pasti mau kencan," tebak Rangga.


     "Is... Bukan..." elak Miftah.

__ADS_1


     "Lah! terus kalau bukan buat kencan pasti makan aja kan?" ucap Sekar ikut menebak juga.


     "Bukan hanya makan aja tau..." resah Miftah.


     "Terus ngapain juga..?" tanya Rangga.


     "Miftah mau cerita, tapi ceritanya bukan disini." responnya.


     "Maunya dimana?" tanya Sekar.


     "Disofa yang ada dibelakang rumah tu," unjuknya dan mata mereka secara serentak mengarah kearah jari telunjuk Miftah.


     "Emang gak bisa cerita disini aja tah?" tanya Rangga.


     "Bukan gak bisa... Tapi aku pegel kak, kalau sambil berdiri." keluhnya.


     "Ya udah deh... Ayo kita ke sana," ajak Sekar.


     Miftah hanya tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.


     Sesampai disofa Miftah mulai duduk diantara Rangga dan Sekar.


     "Nah! kamu mau cerita apa?" tanya Rangga.


     Setelah menghembuskan nafas berat, baru Miftah mengangkat suara. Lalu ia mulai menceritakan apa yang terjadi secara detail tanpa ada yang terlewat sedikit pun.


     "Syukurlah kalau kamu sudah berhasil mendapatkan barang bukti itu," ucap Sekar setelah mendengar apa yang Miftah ceritakan.


     "Tapi kamu serius besok akan memperlihatkannya secara terang - terangan didepan papamu?" tanya Rangga.


     "Pertanyaan macam apa itu! dasar bodoh! apa kamu mau papa Miftah nanti malah membuka hati pada wanita itu jika Miftah memperlambat memberitahu kejadian yang sebenarnya," geram Sekar tak habis pikir dengan keraguan temannya itu.


     "Bukan itu maksudku Sekar..." resahnya.


     "Menurutku jika Miftah memberitahunya mendadak, pasti akan sulit baginya untuk menerima keadaan. Meskipun papa Miftah percaya jika dia adalah anaknya, tapi tetap saja dihatinya akan tersimpan keraguan." jawabnya.


     "Jadi bagaimana menurutmu?" tanyanya lagi.


     "Mif! lebih baik kamu mencoba dekati dulu pak Askari, lalu jika sudah baru kamu tunjukkan jati dirimu. Dengan begitu pak Askari dapat dengan mudah mempercayaimu," usulnya.


     "Tapi... Aku yakin banget kalau papa itu gak butuh waktu untuk mempercayaiku... Sejak dulu papa sangat sayang padaku dan mama... Buktinya! meskipun papa sudah menikahi wanita lain, tampaknya ia seperti belum menyentuhnya karna aku tidak pernah melihat nyonya bersama anaknya." ucapnya.


     "Hmmm tapi kalau emang keyakinanmu sudah mantap untuk membongkar semua kejahatan wanita itu untuk mengembalikan keluargamu yang sudah hancur dengan cepat, aku pasti akan mendukungmu." respon Rangga  sambil mengangkat satu kepalan tangannya.


     "Makasih banyak ya Kaka..." ucap Miftah sambil tersenyum.


     "Sama - sama Mif..." jawab Rangga membalas senyuman Miftah.


     "Kalau menurut kak Sekar gimana?" tanya Miftah meminta pendapat.


     "Ya kalau menurut Kaka ma lebih baik ya kamu bilang terus Miftah... Karna tidak bagus menahan - bahan bukti. Nanti mereka malah sempat mencari cara untuk mengelak," jawabnya.


     "Kaka benar! Tapi yang paling membuat Miftah tak menyangka hanya satu," ucapnya.


     "Apa itu?" tanya mereka bersamaan.


     "Mama... Mama..." jawabnya masih menjeda.


     "Mamaku sedang sakit... Dan aku yakin banget! kalau penyakit yang sedang mama rasakan sekarang bukanlah sebuah sakit biasa," ungkapnya.


     "Kenapa kamu bisa berpikir begitu?" tanya Sekar.

__ADS_1


     "Karna pria yang mama percayai tersebut hanya memanfaatkan kekayaan mama... Tapi ia tak akan pernah sudi mengurus mama dengan ketulusan," jawabnya.


     "Dasar lelaki sialan," umpat Rangga.


     "Hey! kamu sendiri sebenarnya laki - laki apa perempuan sih?" sewot Sekar.


     "Laki - lakilah! masak iya aku ini bencong," elaknya.


     "Lah terus kenapa kamu umpat lelaki itu?" tanya Sekar.


     "Itu wajarlah! dan dia pun memang pantas mendapatkan penghinaan dari orang lain karena sudah banyak mempermainkan hati wanita," jawabnya.


     "Kamu tau dari mana?" selidik Sekar.


     "Itu hanya tebakanku sih... Tapi abaikan sajalah," ucapnya tak ingin berdebat panjang dengan temannya itu.


     Mereka yang awalnya masih saling acuh jadi sama - sama terkejut saat mendengar suara isak tangis yang tak lain adalah Miftah.


     "Lho! kamu kenapa nangis..?" tanya Rangga bingung.


     "Gimana aku gak nangis kak... Aku tau banget mama itu gimana... Sejak dulu mama tampak sehat saja dan jarang mempunyai menyakiti dalam... Bagaimana tidak! mama adalah wanita yang sangat rajin memeriksa kesehatannya setiap sebulan sekali kerumah sakit! dan itu tidak pernah absen," jawabnya sambil berusaha menghapus linangan air matanya.


     "Mungkin karna mamamu punya penyakit yang serius! hingga membuatnya terpaksa mengecek rutin kesehatannya," tebak Sekar.


     "Jika memang benar begitu, pasti selama ini mama udah bohongi aku... Menutupi rasa sakitnya saat sudah dihadapan ku," sedihnya.


     "Sudah... Kamu tenang ya... Mamamu pasti hanya tak ingin kamu merasa khawatir," hibur Rangga.


     "Benar itu," sambung Sekar.


     "Kalian benar! kalau begitu aku mau pamit kekamar dulu ya... Aku akan mempersiapkan semua barang bukti sebaik - baiknya. Jadi nanti aku bisa fokus mencari keberadaan mama yang entah dimana," pamitnya.


     "Iya... Semangat ya... Jangan sedih lagi oke..." ucap Rangga sambil tersenyum lebar.


     "Lagian Miftah kan anak hebat! dan gak mungkin lemah," sambung Sekar.


     "Pasti! makasih dukungannya ya kak Rangga! kak Sekar! kalau gitu Miftah duluan ya... Assalamualaikum..." ucapnya untuk terakhir kalinya.


     Saat mereka telah menjawab "Wa'alaikum salam," baru Miftah berjalan menjauh.


_____________________________________


Hai kaka semuanya... 🤗


Makasih ya... Karna sudah mau mampir ke Novel kedua Star... 😇


"KEBUN TERONG SIGADIS NARSIS"


Star sangat berterima kasih bagi Kaka - Kaka yang sudah mau memberi Ranting, like, vote bahkan sampai membaca dan mengomentari karya star... 🙏😊


Star sangat senang hingga jadi lebih semangat... 😄


Dimana bulan disitu bintang 😀


Dimana gelap disitu terang 🤣


Terima kasih bila tlah datang 😆


Star beri ucapan salam sayang 😘


Oke... Sampai jumpa di part selanjutnya ya...

__ADS_1


Makasih untuk Kaka - kaka yang selalu hadir...


   🍃🍃🍃🍃🍃  🙏🙏🙏  🍃🍃🍃🍃🍃


__ADS_2