
"Sudah kuduga, ternyata kau bakal datang juga ke mari istriku," ucapnya sambil tersenyum miring dengan kedua tangan yang ia masukkan kedalam kantong celananya.
"Ups! aku lupa jika kamu sudah menjadi mantan istriku," sambungnya sambil menutup mulutnya dengan satu telapak tangannya.
"Mau apa kau kesini?" tanya Rosalia yang sudah terbakar api amarah saat melihat sosoknya yang sangat tidak merasa bersalah itu.
"Kau malah bertanya hal itu padaku? heh! harusnya aku yang bertanya itu padamu," ucapnya santai lalu mulai mendekati Rosalia.
Dengan sigap Permata langsung menghalangi langkah kaki pria itu.
"Tunggu! kalau anda mendekati ambuku hanya untuk menyakitinya maka aku tidak akan pernah bisa menerimanya," hadangnya.
"Heh! gadis manis, nyalimu besar juga ya sampai berani menahan langkah kakiku ini." ucapnya sambil memegang dagu wanita itu dan menatapnya dalam.
"Lepaskan tangan anda dari daguku! sungguh perbuatan yang tidak sopan," geramnya merasa geli dengan tatapannya.
"Hmm... Tidak sopan ya? aku hanya memegang dagumu saja bukannya memperlakukanmu seperti ini," ucapnya lalu dengan cepat mengecup bibirnya.
Permata sangat terkejut saat mendapatkan perlakukan seperti itu, tanpa sadar ia langsung mendorongnya kebelakang.
"Hey! berani sekali kamu mendorongku," geramnya.
"Tapi aku suka juga gadis yang kasar sepertimu dibandingkan wanita lemah yang mudah ditipu itu," hinanya sambil menunjuk kearah Rosalia.
"Plak!" sebuah tamparan mendarat dengan sempurna dipipi pria tersebut.
"Sudah kubilang jika kau berniat untuk menyakiti ambuku aku tidak akan pernah menerimanya dan kau pantas mendapatkan tamparan itu," ucapnya lalu berjalan kearah Rosalia untuk memeluknya.
"Dengar ya! aku tidak akan membiarkanmu menyakiti ambuku walau hanya melalui lisanmu! camkan itu," geramnya dengan tatapan tajam.
"Dan kau berani - beraninya mencium wanita yang bukan mahrammu! aku yakin banget kalau kamu adalah pria yang suka bergonta ganti wanita," tebaknya dan Werdan hanya tertawa.
"Memangnya kenapa jika aku suka bergonta - ganti wanita hah? apakah itu salah jika uang yang aku miliki mampu membuatnya tunduk dibawah kakiku," sombongnya.
"Dan mungkin saja kamu adalah salah satu dari sekian banyaknya wanita itu," ucapnya sambil tersenyum miring.
"Cih! aku sama sekali tidak sudi melayani pria hidung belang sepertimu," responnya.
"Menarik! sepertinya kamu bisa menjadi wanitaku," putusnya tanpa meminta persetujuan.
__ADS_1
"Jaga ucapan anda! setelah dengan mudahnya anda mengambil ciuman pertama saya lalu anda ingin memiliki saya," komennya.
"Bukannya itu sebuah tanda bahwa kamu sudah tidak suci lagi dan saya harus mempertanggung jawabkannya?" tanyanya sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Werdan! sudah cukup! jangan pernah kamu libatkan Permata dalam urusan kita ini, dia tidak termasuk sama sekali." ucap Rosalia mulai membuka suara lalu berusaha untuk bangkit setelah pelukannya dengan Permata merenggang.
"Tidak termasuk katamu? jika dia sudah berani ikut campur dalam membantu utusan pribadimu otomatis ia sudah ikut terlibat dalam urusan kita ini," ucapnya kekeh pada pendiriannya.
"Omong kosong! itu sama sekali tidak benar! ia hanya mengikutiku saja, dan dia juga bukan anak kandungku, kami baru saja bertemu beberapa jam yang lalu." beritahunya dengan harapan jika Werdan akan mengasihaninya.
Padahal karna ucapan itu keinginan Werdan untuk memiliki Permata jadi bertambah besar karna dia bukan dari darah daging Rosalia.
"Bagus sekali jika kalian tidak mempunyai hubungan darah, jadi aku semakin ingin memilikinya, bibirnya juga sangat manis." ucapnya sambil memegang bibirnya sendiri usai kecupan singkat dan sedikit hisapan.
"Dasar pria yang menjijikkan," geram Rosalia hendak memberikan pelajaran akibat ucapan Werdan yang tiada remotnya.
"Mau apa kamu? ingin membalas perbuatannya akibat kata - kataku?" tanyanya lalu tanpa ba bi bu mulai menampar pipi Rosalia begitu kencang hingga Rosalia terjatuh.
"Jangan mimpi kau Rosalia! sekarang semua hartamu adalah milikku! termasuk gadis manis itu," unjuknya pada Permata.
"Atau karna aku sedang berbaik hati denganmu kau ambil saja rumah ini beserta isinya tapi izinkan aku membawanya," tawarnya.
"Anda benar - benar pria yang berhati busuk ya! tega sekali anda bersikap kasar terhadap wanita bahkan rela mengancamnya, padahal ini semua memang harta wanitamu sendiri." geramnya yang sudah berkaca - kaca lalu langsung menghampiri Rosalia untuk membantunya berdiri.
"Ambu... Ambu tidak apa - apa kan? sejak awal Permata memang sudah berfirasat buruk jika ambu tidak sanggup menjalani ini sendiri," ucapnya yang sudah berlinang air mata.
"Ambu katakan saja apa lagi yang ambu inginkan biar Permata bantu ambu mencarinya lalu kita langsung pergi dari sini," ucapnya tapi Rosalia yang sudah tidak sanggup lagi karna merasakan sakit kepala yang luar biasa langsung saja pingsan.
Permata jadi semakin merasa sakit hati, dulu ia pernah menangis seperti ini ketika ibunya hampir dilempar batu oleh seorang anak kecil karna mengganggunya bermain, padahal ibunya tidak menyakiti anak kecil itu.
Ibunya hanya tertawa sendiri sambil terus menunjuk kearah anak kecil itu.
"Dasar orang gila!" ucap si anak kecil dan tanpa pikir panjang langsung mengambil batu besar disampingnya untuk ia lemparkan pada ibu.
Beruntung ibunya sempat menghindar lalu pingsan ditempat usai berteriak ketakutan.
"Ambu... Ambu... Ambu bangun ambu..." ucapnya sedikit terauma.
"Ambu aku gak mau Ambu tinggalin aku lagi... Sudah cukup ambu kandungku yang pergi bersama ayah! tapi ambu jangan ikutan juga," ucapnya lagi yang kini sudah menangis sesegukan.
__ADS_1
Werdan hanya terdiam sesaat saat mengetahui jika orang tua gadis itu sudah tiada. Tapi karna egonya untuk memiliki gadis itu begitu kuat ia jadi sedikit buta dengan keadaan.
"Permata! sekarang coba pertimbangkan baik - baik usulanku ini," ucapnya mencoba memanfaatkan situasi.
"Diam! kau sudah mencoba membunuh ambuku," geramnya sambil menunjuk kearah Werdan.
"Aku benar - benar tidak akan memaafkanmu jika sampai ambuku kenapa - kenapa akibat ulahmu," geramnya.
"Permata tolong dengarkan aku," ucapnya berusaha bersabar.
Karna sudah sangat tersulut emosi ditambah masa kelam yang begitu membuatnya tertekan dan tak ingin kehilangan orang yang ia sayangi untuk yang kedua kalinya meskipun baru saling mengenal.
Permata bangkit, berdiri dihadapan Werdan. Ia mengadahkan wajahnya yang matanya sudah sangat bengkak dan merah.
"Kenapa anda begitu jahat? kenapa anda begitu jahat hah? emangnya ambu ada salah apa pada anda sampai anda tega berbuat seperti ini kepadanya! aku yakin banget kalau ambu itu wanita baik - baik," ucapnya sambil memukul dada bidang pria itu sekuat tenaga dan Werdan hanya membiarkannya.
Karna merasa lelah Permata pun berhenti memukuli Werdan.
"Kenapa kamu berhenti hah?" tanyanya santai.
"Pukul saja aku lagi," pinta Werdan.
"Permata! sekarang aku akan bertanggung jawab atas perlakuanku pada ambumu dengan membawanya kerumah sakit, tapi sekali lagi pikirkan dulu tentang tawaranku sekarang untukmu demi ambumu." ucapnya sedangkan permata masih menangis sesegukan.
"Jadilah istriku, maka aku akan memenuhi kebutuhan ambumu bahkan aku rela memberikan rumah ini kembali untuknya." bisiknya tepat ditelinga Permata yang tertutup jilbab.
"Tapi-" belum sempat Permata menyelesaikan ucapannya Werdan langsung memotongnya.
"Tenang saja! aku tidak akan meminta jawabanmu sekarang, aku akan memberimu waktu sampai ambumu tersadar dan ini adalah nomor ponselku jika kamu sudah menemukan jawabanmu." ucapnya sambil menyerahkan kartu nama yang berisi nomor ponselnya.
Dengan ragu - ragu permata mulai meraih kartu nama tersebut lalu Werdan memanggil sopir pribadinya agar membopong tubuh Rosalia untuk dibawa ke rumah sakit.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇
__ADS_1