Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 127


__ADS_3

Di luar rumah terlihatlah pak Satpam yang sedang membukakan pintu gerbang untuk sebuah mobil berwarna biru Dongker.


     Sesampai didalam mobil tersebut berhenti didepan rumah yang megah.


     Fahman keluar dari dalam mobilnya. Ia juga menyuruh Rosalia turun untuk bertemu orang tuanya yang sudah berdiri diluar rumah sambil menatapnya dengan penuh senyuman.


     Sekar mulai mengambil alih mengemudi untuk membawanya ke garasi sedangkan Rangga sudah lebih dulu masuk kedalam rumah untuk mengambil kunci garasinya.


     "Ya ampun... Anak mama udah pulang aja," ucap sang mama sambil memeluk putranya yang sudah lama tak bisa bertatap muka dengannya.


     "Ia dong ma... Kan hari ini kak Firdaus akan menikah! tapi kenapa rumah kita masih sepi aja ya ma? apa aku salah hari?" tanyanya bingung.


     "Maafin mama ya sayang... Karna mama lupa kabarin kamu lagi..." jawabnya sambil memegang sebelah pipi putranya.


     "Memangnya ada hal apa ma?" tanyanya bingung.


     "Jadi pernikahan Kaka kamu harus di tunda dulu karna suatu hal," jawabnya.


     "Hal apa ma?" tanyanya lagi.


     "Nanti aja mama kasih tau kamu di dalam ya... Masak ia cerita sambil berdiri gini," jawabnya.


     Fahman hanya mengangguk meskipun di hatinya masih di selimuti rasa penasaran.


      "Oh iya Fahman! itu siapa yang berdiri dibelakangmu?" tanya papanya.


     Mama merasa sangat dongkol saat mendengar pertanyaan suaminya yang menuju pada seorang wanita cantik yang masih sibuk menundukkan kepalanya sejak tadi.


     Miftah merasa tidak asing saat melihat sosok wanita tersebut yang begitu mirip dengan mamanya, tapi ia tak bisa asal menebak sebelum melihat wajahnya.


     "Papa! papa kalau udah liat cewek cantik matanya tajam banget deh!" dengus sang mama sambil melipat kedua tangan dibawah dada.


     "Eh! bukan gitu ma..." ucap sang papa mencoba menjelaskan.


     "Bukan gitu apanya sih? alah! bilang aja papa tertarik kan?" tebaknya sambil memberikan tatapan tajam mematikan pada suaminya.


     "Ya ampun mama... Ya enggaklah... Papa itu cintanya cuma sama mama," jelasnya.


     "Alah omdo," ambeknya.


     "Apa lagi itu omdo," ucapnya bingung sambil menggaruk tekuknya yang tak gatal.


     "Omong doang papa..." geram sang mama.

__ADS_1


     "Itu doang kok gak pinter - pinter sih," sewotnya.


     "Ya papa mana ngerti sama singkatan zaman now itu ma," resahnya.


     "Makanya papa belajar biar tau," omel sang mama.


     "Udah pensiun! jadi gak perlu belajar lagi," ucapnya acuh.


     "Udah ah ma! papa lagian tanya itu cuma mau tau apa itu pasangan Fahman atau bukan," jelasnya lagi.


     "Iya deh iya..." respon sang mama.


     "Pa... Ma... Dengar dulu ya penjelasan Fahman," ucapnya mencoba membenarkan saat pertengkaran keduanya mereda.


     "Jadi ini adalah adalah satu karyawan papa yang dulu sempat bekerja di perusahaan yang papa pimpin sebelum jatuh ke tangan Firdaus," jelasnya.


     "Tapi sudah sebulan lebih karyawan papa ini tidak bisa masuk bekerja karna sakit, dan sekarang ia datang berkunjung untuk meminta maaf pada papa." jelasnya lagi.


     "Oh... Jadi gitu... Gak masalah kok... Lagian saya juga memaklumi jika alasannya karna sakit, apa lagi kalau sakit parah." responnya.


      Rosalia yang mendengar penuturan dari bosnya langsung mengangkat wajahnya sambil melangkah mendekat dan mengulurkan satu tangannya.


     "Makasih banyak pak Alterio," ucapnya sambil tersenyum.


     "Sama - sama," jawabnya  menyambut uluran tangan Rosalia.


     "Iya pak! ini saya," responnya.


     "Oh iya! kamu pasti juga mau menghadiri pernikahan anak pertama saya kan?" tanyanya sambil mengangkat sebelah alisnya.


     "Benar sekali pak! saya di undang oleh Fahman. Putra bapak," beritahunya.


     "Tak apa - apa Rosalia, lagian saya juga sudah mengundang semua karyawan saya untuk hadir di pernikahan putra pertama saya yang kini sudah menjadi bos diperusahaan tersebut selama beberapa tahun." jelasnya.


     "Iya pak! saya sudah mendengarnya tapi saya belum sempat bertemu dengannya meskipun sudah di pimpin olehnya," jelasnya.


     Miftah tak menyangka jika yang sedang berdiri dihadapan papa Firdaus adalah mamanya.


     Dalam hati ia sangat ingin memeluk mamanya tapi ia terpaksa mengurungkan niatnya karna ia takut mamanya akan menepisnya kembali.


     "Wanita itu? bukannya dia adalah mamanya Miftah," pikir Firdaus sambil memegang  dagunya.


     "Tapi hari pernikahan putra pertama saya sudah di pindah hari Rosalia, jadi kamu bisa berkenalan saja dengannya beserta pasangannya dulu." beritahunya lalu langsung mengarahkan tangannya kearah Firdaus dan Miftah.

__ADS_1


     "Oh gitu... Gak papa kok pak... Lagian baju yang saja pakai juga Fahman yang berikan," ungkapnya lalu berbalik menghadap kearah tangan yang di tujukan oleh bosnya.


     Matanya jadi membulat sempurna saat mengetahui siapa dua pasangan tersebut.


     "Miftah," ucapnya terkejut.


     Miftah masih mematung, ia tak berani berkata sepatah kata pun karna ia takut mamanya malah semakin membencinya.


     Fahman yang mendengar nama Miftah disebut oleh Rosalia merasa tak menyangka jika anaknya lah yang akan menjadi calon adik iparnya.


     "Akhirnya mama menemukanmu putriku," senangnya dengan mata yang sudah berkaca - kaca.


     Miftah merasa tak yakin, apa benar mamanya tadi memanggilnya dengan sebutan 'putriku' dan seandainya itu nyata ia pasti akan merasa sangat senang.


     "Kaka... Apakah aku sedang bermimpi? apakah selesai makan bakwan aku sudah tertidur lagi?" tanyanya pada Firdaus.


     Firdaus yang sangat paham dengan dengan apa yang dirasakan oleh Miftah langsung menjawab pertanyaannya meskipun ia masih merasa sedikit kesal dengan perlakuan mama Miftah pada putrinya kemarin itu.


     "Ratuku... Wanita yang sedang berdiri dihadapanmu ini benar - benar mamamu, dan beliau tadi sempat menyebut kalau kamu itu adalah putrinya." jelasnya hingga membuat Miftah berjalan mendekat.


     "Ma... Apakah ini mama?" kali ini ia memberanikan diri untuk menanyakan langsung pada wanita itu.


     "Iya sayang... Ini mama... Mama sangat merindukanmu... Mama minta maaf karna kemarin itu sudah bersikap kasar kepadamu, karna mama pikir kamu hanya ingin menghina mama saat mama sudah terpuruk." jelasnya.


     "Miftah gak mungkin melakukan hal itu pada wanita yang sudah susah payah melahirkan Miftah kedunia ini," responnya.


     "Karna sampai kapan pun Miftah akan tetap menyayangi mama, karna mau bagaimana pun Miftah juga anak dari darah daging mama sendiri." jelasnya ikut berkaca - kaca.


     "Ma... Bolehkan Miftah memeluk mama? Miftah sangat merindukan pelukan hangat mama..." izinnya dan Rosalia lah yang kini lebih dulu memeluknya.


     "Tentu saja boleh putriku! kamu adalah alasan mama bertahan sekarang," ungkapnya dan Miftah balas memeluk Rosalia.


     Pelukan mereka jadi semakin erat, ditambah isak tangis penuh haru yang sejak tadi sudah sulit untuk ditahan kini tumpah tanpa halangan apa pun.


     Mama dan papa jadi ikut merasa sedih, begitu pun dengan Fahman.


     Tapi tidak untuk Firdaus, ia sangat ingin menarik Miftah dari pelukan mamanya.


     Cuma ia tidak punya hak untuk hal itu. Karna dia adalah mama kandung Miftah sendiri, apa lagi jarak yang sudah lama memisahkan mereka ditambah ego masa lalu yang membuat mereka masih sedikit di hantui rasa gelisah.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗

__ADS_1


Makasih udah mau like, komen, hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2