
Sesampai di bandara Zamrud langsung mencari - cari sosok gadis yang sudah lama ia rindukan itu. Tapi tak kunjung ia temukan juga, hingga akhirnya matanya menangkap sosok seorang wanita yang memakai baju potong merah dengan celana jins hitam juga jilbab hitam berjalan ke arah orang tuanya.
Mata Zamrud sampai berbinar melihatnya, sedangkan gadis itu masih tidak menyadari kehadirannya karna sibuk membalas pelukan orang tuanya yang sudah lebih dulu datang.
"Zaldira!" seru Zamrud hingga membuat sang pemilik nama melihat ke arahnya.
"Kak Zamrud," ucap Zaldira tak percaya jika Zamrud akan menyusulnya juga di bandara setelah ia memberitaunya.
Ibu dan ayah Zaldira yang paham langsung melepaskan pelukan mereka dari putri kesayangan mereka yang sudah tampak begitu sukses sekarang.
"Zaldira akhirnya kamu kembali, aku sangat merindukanmu dan sungguh bahagia karna masih dapat melihatmu." senangnya sambil memeluknya erat.
"Iya Kaka, Zaldira juga kangen banget sama Kaka tau... Apakah Kaka sehat?" tanyanya tanpa melepaskan pelukan, ia menompang kan dagunya di ceruk leher Zamrud yang tubuhnya sedikit menunduk.
"Alhamdulillah Kaka sehat Zaldira, bagaimana denganmu?" tanyanya balik.
"Alhamdulillah Zaldira juga sehat kok kak, syukurlah kalau Kaka sehat Zaldira jadi turut merasakan senang kak." responnya lalu melepaskan pelukannya dari Zamrud sambil tersenyum lebar.
"Lho, ternyata Kaka beneran masih memakainya?" kaget Zaldira sambil memegang Syal yang masih melingkar di leher Zamrud.
"Iya dong... Kan Kaka sebelum Zaldira berangkat sudah pernah bilang, kalau Kaka akan terus memakainya sampai kamu kembali biar Kaka bisa selalu mengingatmu." peringatnya.
"Ya ampun Kaka... Kamu sungguh sosweet tenyata," gemas Zaldira sambil mencubit kedua pipinya pelan.
"Ya Kan Kaka biasa kayak gitu kalau sama kamu," gombalnya.
"Alah Kaka kebiasaan kalau ngomong pinternya gombal doang," cibir Zaldira lalu tertawa di akhir ucapannya.
Orang tua Zaldira dan orang tua Zamrud jadi turut merasakan kebahagiaan anak - anak mereka itu. Mereka juga sudah menyiapkan tanggal pernikahan untuk mereka berdua, karna memang umur mereka yang sudah bisa di bilang sangat cukup untuk membina rumah tangga bersama.
Sekarang umur Zaldira sudah beranjak dua puluh tiga tahun, sedangkan Zamrud sudah beranjak dua puluh delapan tahun. Otomatis jika nanti mereka menikah, selisih umur mereka hanya berbeda lima tahun.
Merasa sadar jika kelakuan mereka tak hanya di perhatikan oleh orang lain, tapi juga orang tuanya mereka jadi menunduk malu.
Tanpa membuang waktu lagi mereka meminta untuk langsung pulang ke rumah, orang tua Zaldira yang awalnya menaiki taxi kali ini untuk menjemput putrinya tak lagi memesan taxi untuk pulang karna sudah di tawarkan oleh orang tua Zamrud.
Di sepanjang perjalanan orang tua mereka mulai membahas masalah pernikahan putri dan putra mereka yang sudah tampak malu - malu di kursi barisan ketiga paling belakang.
__ADS_1
"Gimana Zamrud, apa kamu siap menjadi imam?" tanya papanya.
"Kalau Zamrud siap - siap aja pa, cuma tergantung Zaldiranya aja pa mau apa enggak jika cepat - cepat." jawabnya hingga membuat Zaldira menatap ke arahnya.
"Isss... Apaan sih Kaka, kalau Zaldira ma gak masalah mau cepat apa enggak yang penting kan bisa nikah sama Kaka." ucapnya serius hingga mengagetkan Zamrud dan yang lainnya begitu pun orang tua Zaldira.
"Kamu yang benar nak?" tanya ibu Zaldira.
"Iya Bu Zaldira benar, lagian kalau emang merasa udah cocok dan ada rezeki untuk menikah kenapa mesti di tunda - tunda?" sambungnya lagi membuat yang lainnya mengangguk mengerti.
Kini meraka tinggal menentukan dulu kapan hari lamaran itu tiba baru berujung kepada pesta pernikahan.
🍆 Sebulan kemudian 🍆
Rumah Zamrud tampak ramai dengan kehadiran para tamu yang tak berhenti berdatangan, baru saja ia dan Zaldira menyelesaikan acara ijab kabul dan duduk di atas pelaminan.
Acara lamaran beberapa hari yang lalu telah berjalan dengan sangat baik, hingga tidak ada halangan lagi yang dapat menghambat pernikahan mereka.
Miftah, Firdaus dan Fajar juga semua keluarga Miftah dan pak Alterio turut hadir menyambut acara pernikahan Zamrud. Apa lagi orang tau mereka cukup dekat dan saling menjalin bisnis bersama untuk kemajuan perusahaan masing - masing.
"Ummi, yok kita salaman sama Om Zamrud mi. Fajar pengen banget di gendong lagi sama om," pintanya memohon.
Awalnya Zamrud hanya mengajak Fajar berbincang saat ia sedang sibuk dengan mainannya, lama kelamaan mereka tanpa akrab dan Zamrud juga tak segan - segan ikut bermain bersamanya.
Semenjak saat itulah mereka jadi sangat dekat, keluarga pak Alterio, pak Askari dan pak Zerdio begitu pun keluarga pak Zakri sering jalan - jalan bersama.
Entah itu ke kebun binatang, kolam berenang dan berbagai tempat wisata lainnya. Hubungan keluarga mereka kini jadi seperti saudara, Zaldira juga kebetulan baru menghadiahkan sebuah mobil berwarna biru kepada orang tuanya sampai mereka menangis terharu.
Ayahnya lalu di ajari cara mengemudikannya oleh pak Zerdio sampai selancar sekarang.
"Ummi, ayolah mi." rengek Fajar.
"Iya sayang... Kita ke om sekarang ya..." angguknya menuruti hingga Fajar jadi melompat kegirangan.
"Mas, aku mau antar Fajar dulu ya mas kepelaminan. Mas mau ikutan sekarang apa nanti sendirian?" tanya Miftah dengan baju gaun ungunya yang tak terlalu mewah.
Ia memang sengaja tak mau terlihat begitu mencolok di acara pesta pernikahan Zaldira, yang ada malah ia nanti yang di kira pengantinnya.
__ADS_1
"Tunggu mas lah... Ini tape mas dikit lagi mau habis sayang," pintanya.
"Yaudah mas cepetan ya, aku mau hampiri Fajar lagi. Kasian dia nungguin giliran untuk naik dari tadi, habisnya mas tumben kerjaannya makan mulu dari tadi. Entar kegendutan baru tau kamu mas," peringat Miftah.
"Gak bakal sayang," acuhnya.
"Hadeh... Terserah mas deh, yuk." ajaknya sambil menarik satu tangan mungil Fajar dan menggenggamnya kuat.
"Ini Abinya Fajar, dari tadi Abi kerjaan makan mulu tuh." omel Miftah.
"Udah mi... Yang penting Abi udah ada kan sekarang?" ucap Fajar yang tak ingin melihat keributan kecil orang tuanya.
"Tuh! putramu saja tau," unjuk Firdaus pada Fajar sambil terkekeh pelan.
"Entahlah," responnya lalu berjalan duluan ke arah panggung.
Zaldira yang melihat Miftah yang sudah naik ke atas panggung pelaminan jadi merasa begitu senang.
"Ya ampun Kaka makasih banyak ya udah mau sempatin datang," girangnya yang langsung memeluk Miftah lalu melepaskannya dan memegang kedua telapak tangannya.
"Sama - sama sayang... Masak iya ke acara adik terbaik Kaka aja gak datang sih," responnya hingga membuat Zaldira kembali merekahkan senyumannya.
"Om Zamrud!" seru Fajar yang langsung minta di gendong olehnya.
Zamrud yang sudah biasa juga tak perlu meminta izin pada Firdaus yang sudah memaklumi kedekatan putranya dengan dia.
Ia berbicara sebentar lalu kembali turun dari atas panggung, Firdaus juga tampak begitu kompak dengan gaun yang dikenakan oleh Miftah karna juga berwarna ungu. Begitu pun dengan Fajar, mereka sama - sama memakai kemeja ungu yang sudah di rancang khusus oleh mama.
Suasana semakin meriah dan lama - lama juga sunyi saat para tamu undangan sudah pulang kerumah masing - masing, akibat cahaya matahari yang terlihat semakin terik ketika siang hari.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇
__ADS_1