
Di pagi hari yang cerah Miftah sudah terbangun dari tidurnya saat azan subuh berkumandang melalui ponselnya.
Ia bergegas melaksanakan sholat subuh lalu membersihkan tubuhnya sebelum keluar dari kamar.
Saat hendak berjalan ke arah tangga melewati kamar Firdaus, kebetulan Firdaus baru saja keluar dari kamarnya.
"Eh! Ratuku ternyata udah rapi aja," ucap Firdaus tersenyum sambil menutup pintu.
"Iya dong kak! masak masih acak - acakan kalau udah jam segini," batinnya balas tersenyum.
"Hehe! yaudah kalau gitu mari kita turun bersama," ajaknya sambil menarik tangan Miftah.
"Kaka kayaknya bersemangat banget hari ini, pasti ada apa - apa!" tebak Miftah menggelengkan kepalanya kesana kemari.
"Iya dong! karna sebentar lagi kita akan berangkat ke suatu tempat," beritahunya yang sontak saja membuat Miftah jadi penasaran.
"Wah! kemana itu kak?" tanyanya.
"Ada deh... Intinya ini rahasia! kamu gak boleh tau dulu," jawabnya sambil mencubit pelan hidung Miftah.
"Duh!" rintihnya mengusap batang hidungnya.
"Iss... Kak Firdaus ma kebiasaan nih suka cubitun hidung Miftah! kan sakit tau kak..." protesnya dengan tatapan tajam dan Firdaus hanya terkekeh.
"Lagian kamu gemesin banget sih Ratuku... Rajamu ini kan jadi gak bisa menahan diri untuk gak nyubitin kamu..." responnya memasang senyum Pepsodent.
"Tapi kan kira - kira dong Kaka..." resahnya.
"Iya deh iya... Maafkan Rajamu ini ya Ratuku..." ucapnya sambil mengedipkan matanya dengan senyuman menggoda.
Miftah yang merasa geli hati jadi tak dapat menahan senyumannya yang begitu lebar.
"Huh! oke deh! awas aja kalau sampai di ulangi lagi," ancamnya sambil menunjuk dengan satu jari telunjuknnya.
Kini mereka sudah sampai di meja makan, terlihat papa dan mama yang masih asyik mengobrol bersama sambil menunggu kedatangan mereka.
"Eh! mantu mama udah turun ternyata, mama lumayan lama lho nunggu dari tadi." seru sang mama sambil menatap penuh kehangatan terhadap Miftah.
"Miftah minta maaf ya ma! pa! karna lama turunnya," responnya merasa tidak enak.
"Sudah... Tidak masalah kok Miftah... Lagian mama hanya becanda kok tadi," jujurnya sambil menyengir kuda.
"Ya ampun mama... Suka banget deh jahilin mantu papa," tegur sang papa.
"Je... Orang mama cuma mau becanda sama mantu tercantik mama, emang gak boleh yah pa?" sewotnya yang hanya di acuhkan oleh suaminya.
"Sebel deh! malah di kacangin!" ambeknya.
"Lagian mama sih..." respon sang papa.
__ADS_1
"Huh! kayak papa gak pernah aja gangguin mantu mama yang cantik ini," dengus istrinya memalingkan tatapannya ke arah lain.
"Ma... Pa... Udah dong jangan berantem lagi ya... Miftah tau kok kalau mama cuma becanda," ucap Miftah menenangkan keduanya.
"Makasih banyak sayang... Kamu emang mantu mama tersayang deh! gak kayak si papa! sayang mama kalau ada maunya doang," cibirnya sambil memanyunkan bibirnya.
"Eiss... Mama jangan asal ngomong ya, apa mama lupa siapa yang dari kemarin panik banget sama mama waktu ikut bertarung?" peringat sang papa sambil menatap tajam istrinya.
"Tatap aja terus yang besar! kalau bisa mata papa sekalian aja di keluarin dari tempatnya," geramnya.
"Emang gak takut hah?" tanyanya.
"Untuk apa mama takut sama hantu abal - abal kayak papa! yang ada papa yang takut sama mama nantinya, karna mata papa yang udah copot itu akan mama rebus pakai air mendidih terus mama kerasin deh biar jadi bola pingpong." racaunya yang entah mendapatkan ide dari mana dan belum tentu hasilnya sesuai apa yang di ucapkan.
"Kan - kan! mama pasti udah mulai ngaur ini," respon suaminya sambil memegang dahinya.
Miftah dan Firdaus hanya mampu menghembuskan napas pelan saat melihat perdebatan papa dan mama.
Miftah yang teringat tentang Permata langsung bertanya pada Firdaus.
"Oh iya kak! Kak Permata sama kak Fahman kemana ya? kok gak kelihatan?" tanya Miftah.
"Kamu benar! kira - kira kemana ya mereka?" ucap Firdaus malah balik bertanya.
Mama dan papa yang awalnya hendak berperang mulut kembali jadi teralihkan saat mendengar ucapan mereka.
"Ya ampun... Kalian benar! mereka dari tadi belum kelihatan satu pun," respon sang mama yang hendak bangkit untuk melihat putranya dan Permata.
"Mama mau lihat Fahman sama Permata sayang... Mau ikut mama?" tawarnya.
"Iya ma! aku ikut," angguk Miftah segera bangkit untuk menyusulnya.
Mereka berjalan bersamaan menuju ke arah kamar Fahman terlebih dahulu dan mengetuknya pelan.
"Fahman sayang... Kamu udah bangun belum Fahman?" tanya sang mama.
Tapi tak ada responan dari dalam sana, hingga akhirnya ia memutuskan untuk kembali mengetuk sampai Bi Ati yang tak sengaja lewat di situ memilih menghampiri sang nyonya.
"Maaf nyonya! sepertinya den Fahman sudah tidak ada lagi di kamarnya," beritahunya sambil menunduk.
"Lho! memangnya dia kemana bi?" tanya mama bingung.
"Saya juga kurang tau nyonya, tadi saya tidak sengaja melihat den Fahman dan non Permata keluar rumah menggunakan sepeda motor." jawabnya.
"Ya ampun anak itu... Kalau udah dekat ya... Main cap cus aja terus tanpa pamit sama mama papa dulu! apa lagi sama Firdaus," resahnya sambil menggelengkan kepalanya kesana kemari saking tak habis pikirnya.
"Baiklah kalau begitu bi, makasih atas infonya ya bi." ucapnya sambil tersenyum.
"Sama - sama nyonya! saya pamit mau lanjut kerjain tugas nyonya," izinnya sedikit membungkukkan badannya untuk berjalan kearah dapur.
__ADS_1
Mereka Kini Kembali ke meja makan dengan wajah yang muram, dan itu bukan Miftah melainkan mama.
"Gimana ma? ada Fahman di dalam? apa jangan - jangan dia sakit," tebak sang papa cemas.
"Sakit apaan! orang dari tadi Fahman udah pergi sama Permata, tanpa pamit sama mama." ambeknya yang mulai mengambil piring lalu menuangkan nasi dalam jumlah yang lumayan banyak.
Saat Dahra merasa sangat kesal, ia lebih sering melampiaskannya dengan cara makan - makanan yang mampu membuatnya begitu kenyang.
"Ma... Apa itu gak kebanyakan hmm?" tanya sang papa heran.
"Enggak! papa kan tau sendiri porsi makan mama kalau lagi kesel! udah ah! sekali - kali ini, gak perlu pakai acara cemas banget segala." responnya yang benar - benar tak ingin di ganggu.
Akhirnya sang papa memilih diam, karna tak ingin melanjutkan perdebatan yang tiada ujungnya itu.
"Mif! kamu sekarang cepat habiskan makanan kamu, abis itu kita berangkat terus." ucap Firdaus sedikit berbisik.
"Kaka... Sebenarnya kita mau kemana sih?" tanyanya yang sudah sangat penasaran.
"Makanya makan terus... Nanti kamu juga tau," jawabnya sambil senyam senyum sendiri.
"Baiklah," responnya sambil mengangguk patuh lalu mulai mengambil piring untuk menuangkan nasi beserta beberapa lauk pauk di atasnya.
Tanpa mereka sadari ucapan mereka sejak tadi tidak luput dari pendengaran sang mama yang begitu tajam.
"Fahman sama Permata udah pergi! apa kalian juga berniat untuk tinggalin mama?" tanyanya sambil menabrakkan kedua alisnya berulang kali.
Firdaus hanya menyengir kuda lalu bangkit untuk menghampiri sang mama dan membisikkan sesuatu.
"Kamu yang benar Firdaus?" tanyanya girang.
"Iya lah ma... Masak iya Firdaus tega bohongin mama! ini serius! bahkan dua rius malah! biar mama cepat gendong cucu," jawabnya sambil memainkan alisnya.
"Hahaha tau aja kamu kalau mama udah kepingin banget! yaudah mama izinin kalian pergi nanti, semoga dapat yang pas ya!" doanya.
"Amiiin... Makasih banyak ya ma," respon Firdaus hingga membuat Miftah bahkan papa Firdaus jadi menatap bingung ke arah mereka.
"Ada apa sih ma?" tanya sang papa usai mengunyah suapan pertamanya.
"Kepo aja," jawabnya ketus.
"Si mama," resah papanya dan memilih untuk lanjut makan saja.
Usia makan Firdaus dan Miftah pun pamit pada mama dan papa Firdaus, tak lupa mereka menyium punggung tangan keduanya sebelum melangkah pergi dari hadapan mereka.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
__ADS_1
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇