
Firdaus pergi menggunakan kapal yang cukup besar, ia pun keluar untuk menikmati hembusan angin yang menerpa kulit putih bersihnya.
Ia dapat melihat banyak orang yang sedang berpose di balkon kapal dan ada juga yang hanya berbicara saja.
Kini kapal sudah berlayar di tengah - tengah laut yang memperlihatkan isi di dalamnya saking jernihnya. Ikan - ikan kecil berenang dengan gesit di dalam sana.
Tiba - tiba saja perasaan Firdaus tidak enak, ada suatu hal yang memaksanya untuk menyebur ke dalam laut. Ia tak tau dorongan apa itu, tapi ini benar - benar membuatnya hendak mundur dan masuk kembali ke dalam kapal.
"Ada apa ini? Firdaus, apa kau gila? kau masih ingin hidup kan agar bisa bertemu anak dan istrimu? jangan lakukan hal yang tak mesti kau lakukan," batinnya pada diri sendiri.
"Namun semakin ia menolak keinginannya, dorongan itu malah semakin kuat hingga tiba - tiba saja ia menjadi tak sadar lalu mulai melangkah sendiri menuju ke ujung balkon dan...
Byuuuurr
Tubuh Firdaus benar - benar jatuh ke dalam laut, dan anehnya tak seorang pun yang menyadari hal itu. Mereka seperti tak mendengar apa pun.
"Ya ampun, ada apa ini? kenapa aku bisa ada di dalam laut?" batinnya sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Sial! meskipun aku sudah ahli dalam hal diving, tapi tetap saja berenang ke pulau kecil tanpa menggunakan alat renang pasti akan membutuhkan waktu yang lumayan lama." batinnya hendak berenang ke permukaan.
Sesampainya di atas ia terus saja berteriak - teriak sambil melambai, tapi tak ada satu pun yang meresponnya. Hingga tiba - tiba ia bisa merasakan air laut yang bergetar dan kapal yang mulai bergerak tak seimbang dari kejauhan.
"Gawat! kenapa kondisi kapal seperti itu? aku harus segera berenang menjauh," batinnya.
Tak berapa lama kemudian terdengar suara ledakan yang cukup kencang di tempat kapal tersebut berlayar.
"Apa? suara apa itu? apa jangan -jangan-" ucapannya terpotong.
"Ya Allah, apa engkau tadi baru saja menyelamatkanku dari ledakan kapal yang begitu tiba - tiba? atau memilih membiarkan aku mati tenggelam dengan anggota tubuh yang masih utuh ini nantinya?" sambungnya tak habis pikir.
Jujur! kondisi tubuhnya saat ini belum terlalu membaik, jadi untuk berenang saja tenaganya mungkin sudah tak mencukupi lagi.
"Semoga saja di sini tidak ada ikan yang ganas seperti hiu apa lagi paus, aku benar - benar bingung sekarang harus bagaimana. Katanya jarak tidak terlalu jauh lagi, tapi haruskah aku melewati jalan kapal yang sudah meledak berkeping - keping itu? kembali? itu rasanya mustahil." gumamnya sambil memegang dahinya yang mulai berdenyut.
__ADS_1
Karna tak ingin pikir panjang ia akhirnya mulai mengikuti kata hatinya untuk berenang ke arah yang berlawanan dari kapal tersebut.
Sudah tiga jam Firdaus terus berenang dan mengatur napasnya berulang - ulang, hidungnya kini bahkan sampai memerah.
"Ya Allah, apakah aku benar - benar tidak di izinkan untuk bertemu istriku lagi? bahkan anakku yang kini sudah berusia lima tahun saja tak pernah aku tatap bagaimana wajahnya secara langsung."
"Ya Allah, apa ujian yang aku dapatkan ini di akibatkan oleh dosa - dosa yang telah aku lakukan selama ini?"
"Ya Allah, aku sebenarnya sangat merindukan mereka. Tolong izinkan aku bertemu dengan mereka, sekali saja aku tatap mereka lalu engkau cabut nyawaku tidak masalah. Aku hanya ingin mengobati rinduku saja ya Rab," harapnya sambil menunduk.
Kakinya hampir saja merasa keram setelah sejak tadi tak beristirahat sedikit pun saat berenang di kedalaman laut yang cukup menguji adrenalin.
"Gak! aku gak boleh menyerah sampai di titik ini saja, demi bisa melihat istriku bahkan putraku kembali aku harus berjuang sampai ke pulau itu." tekatnya lalu kembali berenang dengan sisa tenaganya.
Akhirnya ia bisa melihat lintasan kapal yang tak jauh lagi dari tempatnya.
"Akhirnya aku sampai juga, aku yakin sekali. Mungkin saja kapal yang aku tumpangi tadi salah jalan, hingga terjadi sesuatu yang mengakibatkan ia meledak." pikirnya.
"Ah! Firdaus, sekarang bukan saatnya untukmu berpikir lagi. Cepat lah berenang ke arah sana dan saat sudah dekat berteriaklah yang kencang agar orang lain dapat melihatmu," peringatnya pada diri sendiri.
"Ada apa dengan tenggorokanku? kenapa rasanya sakit sekali? suaraku saja tak bisa untuk keluar lagi," batinnya merasa heran.
Tapi ia tak kehabisan akal, ia mulai melepaskan salah satu sepatunya yang sudah basah di dalam air.
Dengan sekuat tenaga ia melempar sepatu itu ke arah seseorang yang sedang beristirahat di atas jembatan dan...
"Bhukkk,"
Sepatu itu mengenai sasarannya, dan pada saat itulah Firdaus tak sadarkan diri lalu tubuhnya mulai tenggelam masuk ke dalam air.
Seseorang tadi yang sempat melihat hal itu merasa panik dan memberitahu semua orang hingga mereka langsung terjun ke dalam air untuk menyelamatkan Firdaus.
Di dalam air Firdaus hanya mematung sambil terus meracau di dalam hati.
__ADS_1
"Setidaknya aku sudah berhasil berenang sampai di sini."
"Setidaknya aku sudah berusaha sampai di titik ini, di pulau yang menjadi tempat seharusnya aku menapakkan kaki."
"Aku tidak tau apakah aku berhasil atau tidak. Jika memang ini takdirku, mati di dalam air laut. Maka aku rela," batinnya yang mulai mengucapkan dua kalimat syahadat.
Mata Firdaus tiba - tiba saja kabur, ia juga jadi kesulitan untuk bernafas hingga akhirnya semuanya gelap. Ya! hanya kegelapan yang ia rasakan saat ini.
Seorang pria yang tampak memakai baju seragam petugas berhasil menangkap tangan Firdaus, ia mulai membawa Firdaus ke permukaan.
Ternyata mereka adalah polisi yang berjaga di sekitar jembatan.
Beberapa polisi lain sedang duduk di atas perahu untuk menyambut tubuh korban yang sudah lemas tak berdaya.
Saat ia sudah di baringkan di atas perahu Firdaus sempat sadar dan ia juga menyebutkan siapa namanya ketika salah seorang polisi bertanya kepadanya.
"Firdaus Alfajar?" pikir salah satu polisi itu dan ketika mengingat kembali ia begitu terkejut saat mengetahui jika ini adalah putra dari kenalannya yaitu pak Alterio.
Dulu mereka sempat bertemu di pantai ini dan komunikasi mereka juga masih berjalan baik. Ia sering juga melihat foto temannya dan putranya yang sangat tak asing wajahnya dengan pria yang tergeletak lemas ini.
Karna tak ingin membuang waktu, ia yang merupakan kapten di tempat tersebut langsung menyuruh beberapa anak buahnya untuk membawa Firdaus ke rumah sakit.
Sedangkan ia bergegas mengambil ponsel dan memotret terlebih dahulu wajah pria yang ia duga putra temannya itu.
Setelah telepon terhubung melalui wa besarta gambar yang baru ia kirim pak Alterio sangat syok dan menanyakan kondisi Firdaus.
Katanya mereka tak lama lagi juga akan menyusul ke sana untuk menjenguk putra mereka yang tak pernah mereka duga bisa mengalami nasib yang sungguh mengenaskan ini.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
__ADS_1
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇