Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 112


__ADS_3

Rosalia yang mendapatkan tatapan sendu memilih bertanya kepada gadis itu.


     "Nak... Kamu kenapa?" tanyanya.


     Seakan baru tersadar dari tidur gadis itu jadi terkejut saat mendapatkan pertanyaan dari Rosalia.


     "Eh! tidak apa - apa kok bu," ucapnya sambil berusaha untuk tersenyum.


     "Kamu tidak perlu berbohong begitu... Aku tau kamu pasti sedang memikirkan sesuatu, apakah ini baju mendiang ibumu?" tanyanya hingga membuat gadis itu diam sesaat sebelum menjawab.



     "I - iya," jawabnya terbata - bata.


     "Sudah... Kamu tidak perlu bersikap begitu ya... Kalau memang aku mirip dengan mendiang ibumu kamu boleh kok memanggilku dengan panggilan yang sering kamu panggil pada ibumu," ucapnya yang lagi - lagi hanya mampu membungkam mulutnya sehingga Rosalia harus mengipaskan tangannya beberapa kali dihadapan gadis itu.


     "Eh! iya bu," ucapnya kikuk.


     "Tuh kan! kamu pasti melamun lagi, gak boleh ya..." peringatnya.


     "Baiklah am-" belum habis ia berkata ucapannya jadi terhenti saat mendengar suara perut yang tak lain dari perut Rosalia.


     "Hahaha... Ternyata ibu lapar ya?" tanyanya sambil tersenyum.


     "Hehe! iya nih," jawabnya dengan pipi yang sudah memerah karna merasa malu.


     "Ya udah mari kita makan dulu, kebetulan saya juga sudah memasak sebelum pergi ke Musalla," ajaknya sambil tersenyum.


     "Maaf sudah merepotkanmu ya..." ucapnya merasa tidak enak.


     "Iya Bu... Gak papa kok," responnya.


     "Ibu duluan aja duduk dimeja ya... Makanannya sudah ada ditudung saji," beritahunya dan Rosalia hanya mengangguk sambil berkata "baik."


     Sebenarnya gadis itu tadi sedang mencoba memanggil Rosalia dengan sebutan 'Ambu' cuma karna suara perut yang tak di undang ucapannya jadi terpotong.


     "Nak... Kamu juga makan dong... Masak cuma ibu saja..." ucap Rosalia sambil tersenyum.


     Tak terasa matanya sudah berkaca - kaca hingga siap menumpahkan air bening dari dalamnya.


     Terbayanglah ia saat ibunya menyuruhnya makan. Padahal ibunya tau jika makanan itu tidak cukup untuk mereka berdua, sedangkan sang ayah lebih sering mendapatkan undangan untuk makan usai berdoa ditempat lain.


     "Ambu... Ambu saja yang makan makanan itu... Permata sudah kenyang ambu..." ucapnya terpaksa berbohong.


     "Nak... Mana mungkin ambu sanggup mengabiskan satu piring nasi ini... Dua sendok saja ambu sudah kenyang," responnya.


     "Tapi ambu... Ambu kan sedang sakit... Lebih baik ambu saja yang makan makanan itu..." ucapnya berusaha menolak.


     "Permata... Kamu juga makan dong... Masak ambu makan sendiri," sedihnya.


     "Ya udah kalau permata gak mau makan, ambu juga gak mau makan." ambeknya lalu menggeser satu piring yang berisi nasi dan sedikit lauk pauk kepinggir.


     "Eh! janganlah ambu... Ambu harus makan biar ambu cepat sembuh," pintanya lalu langsung mendekati ambunya.


     "Oke! tapi makan sepiring berdua ya..." pintanya memohon.


     Permata hanya bisa menghembuskan nafas pelan saat ibunya membuat ekperesi yang tak mungkin sanggup untuk di tolak olehnya.


     Sebelum duduk di kursi yang ada disampingnya ibunya, permata lebih dulu mengambil sendok di rak piring untuknya dan sang ibu.


     "Ambu, ini sendoknya." ucapnya sambil menyerahkan benda seperti dayungan perahu yang dalam diujungnya.


     "Makasih permata," ucap sang ibu.

__ADS_1


     "Sama - sama ambu," jawabnya sambil tersenyum.


     Mereka pun akhirnya makan bersama dengan hikmat, entah kenapa jika makan satu piring berdua dengan ibu rasa makanan tersebut akan lebih nikmat.


     "Kamu sepertinya sangat lahap makannya permata," ucap ibunya sambil terkekeh pelan.


     "Hehe! iya ambu, lagian permata juga bingung." responnya.


     "Lho! bingung kenapa?" tanyanya.


     "Gak tau kenapa makanan yang Permata makan sendiri itu gak se enak makan sepiring berdua dengan ambu," beritahunya.


     "Kamu ini ada - ada aja, sama aja Pertama." respon sang ibu masih terkekeh.


     "Ambu... Permata serius tau... Beneran! permata gak bohong," ucapnya dengan tatapan meyakinkan.


     "Iya deh... Ambu percaya," responnya hingga membuat Permata jadi merasa senang.


     Lamunannya tiba - tiba saja terhenti saat Rosalia memanggilnya untuk yang kedua kali.


     "Nak... Kamu kenapa bengong lagi..?" tanya Rosalia hendak bangkit dari duduknya tapi langsung di cegah olehnya.


     "Eh! ibu gak perlu bangun lagi ya... Saya akan langsung duduk disitu sekarang," ucapnya dengan tangan yang sudah ia angkat kedepan sejajar dengan bahu.


     "Baiklah kalau begitu ayo duduk sini," ajak Rosalia.


     Dengan langkah cepat ia langsung pergi menghampiri Rosalia.


     Sesampainya dimeja makan Permata mulai membuka tudung saji dan terciumlah aroma lezat dari masakannya.


     Ada kuah kangkung dan ikan teri lado yang ia buat sebagai pendampingnya.




     "Iya bu... Maaf jika makanannya tidak enak ya..." ucapnya dengan tangan yang bersedekap.


     "Ah! kamu ini, belum juga dirasa udah bilang gak enak aja." responnya sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.


     "Iya kan dari pada terlalu membanggakan diri," ucapnya hingga membuat Rosalia mengangguk membenarkan.


     "Ini piringnya bu," ucapnya setelah mengambil dua buah piring dari rak.


     "Makasih," ucapnya sambil tersenyum.


     "Sama - sama bu," jawabnya.


     Kini mereka pun langsung makan dengan hikmat.


     Usai makan Rosalia mulai membuka topik pertanyaan pada gadis itu.


     "Oh iya! bisakah ibu tau siapa namamu?" tanyanya.


     "Tentu saja bu, namaku adalah Permata." beritahunya.


     "Masya Allah! nama yang bagus, semoga kelak kamu juga bisa menjadi sosok gadis seperti namamu." doanya.


     "Amiiin ya Allah..." responnya sambil tersenyum lalu mengusapkan kedua tangannya kewajah.


     "Terus apakah benar ini baju ibumu?" tanyanya dan Permata hanya mengangguk mengiyakan.


     "Iya bu, itu baju ambuku." jawabnya.

__ADS_1


     "Oh... Jadi kamu memanggil ibumu dengan sebutan ambu," responnya sambil mengangguk.


     "Iya bu," ucapnya.


     "Kalau untuk ayah apa?" tanyanya lagi.


     "Kalau untuk ayah aku biasa memanggilnya abah," jawabnya.


     "Terus kenapa ambu dan abahmu bisa memutuskan untuk menikah setelah sang abah mengetahui kekurangan ambumu?" tanyanya penasaran.


     "Kalau tidak salah menurut cerita yang ku dengar dari ambu begini," jawabnya.


     Ayah permata dulunya adalah anak dari saudagar yang kaya raya, cuma mereka terkenal dengan kesombongan mereka yang selalu memandang rendah orang yang tak sederajat dengan mereka.


     Sedangkan ibunya hanyalah seorang anak dari penjaga Musalla yang tak pernah bosan mengajarkan anak kecil mengaji.


     Ayahnya dulu adalah seorang pria yang belum bisa membaca Al - Qur'an, jadi ia tertarik untuk belajar pada ayah ibunya.


     Pertemuan awal mereka terjadi saat sang pria tak sengaja singgah ke kamar mandi Musalla untuk membuang hajatnya.


     Entah kenapa saat mendengar suara ayahnya mengaji membuat hati pria itu tersentuh, hingga memilih menunggu didalam mobil sampai pengajian itu selesai.


     Setelah merasa sepi ia pun masuk kedalam Musalla untuk berjumpa langsung dengannya.


     Semenjak hari itu mereka menjadi akrab dan saat ayah ibunya sakit ia tak segan - segan menjenguknya hingga bertemulah ia dengan ibu.


     Mereka jadi jatuh cinta pada pandangan pertama lalu memutuskan untuk menikah setelah tiga kali pertemuan.


     Sebelum menikah ayahnya sempat berkata jika putrinya memiliki sedikit gangguan jiwa yang kadang muncul kadang tidak.


     Tapi putrinya sangatlah Sholehah, penyakitnya hanya kambuh saat dia benar - benar stres.


     Dan pada saat itulah sang putri harus dikurung didalam kamar agar tidak berkeliaran ke mana - mana.


     Palingan ia hanya berteriak lalu berhenti ketika lelah.


     Sempat ada kendala saat mereka hendak melangsungkan pernikahan.


     Ibu dan ayah pria itu awalnya tidak mengizinkan mereka hidup bersama, tapi setelah pria itu menjelaskan bagaimana ia bisa berubah menjadi lebih baik, mau tidak mau orang tuanya menyetujuinya dengan berat hati.


     Akhirnya mereka pun bisa menikah dengan baik dan selama pernikahan itu sudah terjalin mereka dianugerahkan seorang anak yang diberi nama Permata.


     Rosalia jadi terdiam saat Pertama selesai menceritakan tentang orang tuanya yang kini sudah tiada.


     Setiap seminggu sekali ia akan sempatkan diri untuk berkunjung ke makam mereka.


     "Kamu yang sabar ya..." ucap Rosalia lalu memberikan pelukan hangatnya pada gadis itu.


     Gadis yang kini sudah menangis deras mulai membalas pelukan Rosalia.


     Ia tau jika ia kini bukanlah gadis kecil lagi, tapi tubuh yang besar bukan berarti sudah begitu kuat untuk menanggung semua beban yang ada di dalam hidupnya.


     Dengan orang tua yang sudah lebih dulu dipanggil oleh sang Ilahi, membuatnya harus berpura - pura kuat meskipun dalam sujudnya ia senantiasa menangis dan mengeluh kepada-Nya.



Star sangat berterima kasih bagi kaka - Kaka yang sudah mau like, vote, dan berkomentar disetiap partnya. Bahkan sampai memberikan hadiah pada karya biasa Star ini... 🤗😇😆


Atas dukungan Kaka - Kaka selama ini melalui apa pun Star sangat berterima kasih ya Kaka...


Satu like pun begitu berharga 🙏😭


Sekali lagi makasih untuk Kaka - Kaka yang udah setia mendukung karya Star ketika Star selesai Up sampai ke episode sekarang ini 🤧

__ADS_1


Moga Kaka - Kaka semuanya sehat selalu ya... Dan dilancarkan urusannya, kadang star suka gak nyangka ketika liat dukungannya 😢


__ADS_2