Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 63


__ADS_3

     Mama Firdaus kini sudah menutup buku hitam yang penuh dengan daftar menu, lalu memandang mereka satu persatu. Ia ingin meminta jawaban setelah memberi mereka waktu sepuluh menit.


     "Bagaimana? apakah kalian sudah menemukan makanan apa yang kalian inginkan?"


     Yang lain hanya diam, mereka masih saja mematung kecuali Zamrud dan Wahyu. Mereka tampak begitu santai, meskipun buku mereka masih terbuka.


     "Miftah kamu mau makan apa sayang?"


     Raut bingung masih tampak jelas diwajahnya, ia lagi - lagi kembali membuka buku yang berisi daftar menu lalu menutupnya karna merasa tak sanggup memilih.


     "Miftah... Kok kamu diem aja sayang?"


     Miftah hanya menyengir kuda didepan mamanya. Sang mama jadi merasa heran dengan sikapnya, lalu mata sang mama kini sudah tertuju kepada Zaldira yang memiliki ekpresi wajah tak jauh beda dari Miftah.


     "Kalau kamu mau makan apa Zaldira?"


     Zaldira merasa sedikit terkejut, dan berusaha untuk tetap tenang.


     "Anu nyonya! Zaldira... Zaldira... Zaldira..."


     "Iya! Zaldira! terus?"


     "Ini... Ini..."


     Zamrud yang sudah gemas sekaligus geram kepadanya langsung saja memberitahu nyonya dan saat itu juga Zaldira bagai dibawa oleh angin peting beliung.


     "Ini nyonya! Zaldira bingung mau pilih yang mana! soalnya harga makanannya bikin jantung lompat."


     Nyonya yang mendengar ucapan Zamrud jadi terkejut, mereka ternyata segitu merasa tidak enak dengannya dan sangat tak ingin membuatnya sulit. Meskipun sebenarnya uang segitu masih tak ada apa - apanya untuknya.


     "Pasti kamu mempunyai alasan seperti Zaldira juga ya?"


     Miftah hanya diam. Dia tak berani membalas tatapan mamanya, kini ia bahkan sudah menunduk dalam.


     Lain halnya dengan Zaldira, matanya kini tak berhenti mengobarkan api peperangan pada Zamrud yang seenak jidat membocorkan kegelisahannya.


     Zaldira mulai mengambil ponselnya lalu mengetikkan sesuatu disana, jarinya tampak seperti menekan begitu kuat papan ketikan untuk menyalurkan rasa kesalnya yang sudah tertahan sejak tadi.


     - Zaldira -


Kaka! Kaka benar - benar tidak punya perasaan rupanya! berani - beraninya Kaka seenaknya membocorkan kegelisahan ku sejak tadi! 😤😤😤


     Wahyu yang tak sengaja melihat chat siapa yang dibuka Zaldira dari jauh mulai memperingatkan Zamrud.


     "Hei Zam! sekarang kamu bersiap - siaplah! ponselmu tadi berdering kan? coba buka! itu pasti dari Zaldira, kira - kira... Ancaman apa lagi yah yang akan kamu dapatkan darinya nanti,"


     Zamrud yang mendengar ucapan Wahyu jadi sedikit ngeri. Ia sudah berusaha mencari suasana tenang, tapi tetap saja itu tak bertahan lama.


     Dengan perasan cemas. Mau tidak mau akhirnya Zamrud memilih untuk membuka kiriman pesan dari gadis yang kini sedang ia cemaskan akan nasibnya kedepan.


     Saat membaca pesan darinya ia merasa seperti tersambar, lalu dengan tangan bergetar ia langsung membalas pesan tersebut.


     - Zamrud -


Kan Kaka hanya berniat membantumu dari pengulangan kata yang tidak ada ujungnya 😅


     - Zaldira -


Emangnya aku udah izinin kaka? 😒


     - Zamrud -


Ya kan Kaka berinisiatif sendiri... Ya maaflah... 😐😫

__ADS_1


     - Zaldira -


Aku gak peduli!!! aku pokoknya kesel banget sama Kaka!!! 😠😣


     - Zamrud -


Ya udah... Kaka kan lagian udah minta maaf sama kamu 😥


     - Zaldira -


Bodo amat! I don't care! gak peduli! 😧


     - Zamrud -


😭😭😭😭😭


     - Zaldira -


Air mata emot palsu 😒


     - Zamrud -


Terus kamu mau Kaka nangis beneran? tapi mata Kaka lagi gak bisa nangis... 😰


     - Zaldira -


Aku gak butuh lihat air mata Kaka!!! bye!!! Kaka ternyebelin sedunia 😡😡😡


     - Zamrud -


Masak iya 🤔🤔🤔


     - Zaldira -


     - Zamrud -


Jangan gitu dong 🤗 kakamu ini nanti bakal sedih 😢


     - Zaldira -


Sekalian aja ku bunuh boleh gak? 😈


     - Zamrud -


Kamu gak lagi becanda kan? 😲


     - Zaldira -


Aku serius!!! bahkan senjataku udah pada berbaris nih 🔪🔪🔪🔪🔪😎


     - Zamrud -


😱😵😱😵😱😵😱😵


    - Zaldira -


☠️☠️☠️☠️☠️


     - Zamrud -


👻👻👻👻👻


     - Zaldira -

__ADS_1


💣💣💣💣💣


     - Zamrud -


🏃🏃🏃🏃🏃


     Zaldira yang merasa jika Zamrud sudah tak serius lagi memilih untuk mematikan ponselnya setelah keluar dari dunia cetan, ia masih benar - benar kesal dengan pria yang duduk disampingnya ini.


     "Ya ampun... Kenapa aku harus duduk didekatnya? sial banget sih hari ini," batin Zaldira sambil membuang pandangannya kearah lain.


     "Ceritanya ngambek nih?"


     "Huh! terserah aku! Kaka pikirin aja diri kaka sendiri! udah muak aku,"


     "Jangan gitu dong!"


     "Suka - suka."


     Zamrud hanya pasrah untuk saat ini, ia kembali menghadap kedepan depan penuh rasa bersalah, tapi jika ia tidak memberitahukan hal ini pada nyonya kan takutnya nanti disangka hal lain.


     "Ya sudah! biar mama aja yang tentukan makanan untukmu dan teman - temanmu," ucap sang mama tak ingin dibantah.


     "Tapi ma!"


     "Tidak ada tapi - tapian! sudah nurut saja."


     Miftah yang mendengar kalimat terakhir dari mamanya hanya mampu terdiam pasrah, toh! dia juga bingung untuk memilih yang mana, ia hanya tak ingin memberatkan mama, meskipun dia tau mama pasti sangat mampu membayarnya.


     "Pelayan!"


     Salah seorang pelayan yang kebetulan memegang buku pesanan langsung menghampiri meja mereka. Dengan cepat ia menghampiri sang mama yang sudah tak sabar ingin menyebutkan hidangan yang ingin dicicipinya.


     "Saya pesan lima porsi Steak Japanese Wagyu Rib Eye," sebutnya


     "Baik nyonya! pesanan anda akan datang sebentar lagi,"


     "Baiklah kalau begitu,"


     "Saya izin pamit nyonya,"


     "Silahkan."


     Setelah mendengar jawaban dari sang mama pelayan tersebut mulai membungkukkan sedikit badannya dengan tangan yang masih menggenggam buku kecil dan pulpen tinta.


     Zamrud yang sudah mengetahui makanan itu sedikit terkejut, tapi dia berusaha mencoba bersikap biasa. Lagian dia juga sudah sering memakan makanan dengan harga dan cita rasa yang terjamin memanjakan lidah meskipun uang di kantong akan langsung habis terkuras.


     Wahyu juga bersikap biasa kecuali Miftah dan Zaldira yang merasa tak asing dengan nama makanan itu usai membacanya tadi.


     Dengan gesit mereka kembali membuka buku yang berisi daftar menu dan setelah menemukan nama makanan yang tercantum dengan harga yang fantastis mata mereka yang awalnya menyempit jadi terbuka bergitu lebar, sedangkan mulut mereka sudah berusaha mereka bekap sekuat tenaga.


     "Du-du-du-dua juta," kejut Zaldira tak menyangka


     Sedangkan Miftah sudah lemas dibuatnya.


"Ma... Apakah harganya tidak terlalu berlebihan untuk sekali makan saja?" tanyanya mencoba memastikan apa yang didengarnya tadi.


     "Apanya yang berlebihan sayang?"


     "Harganya ma..."


     "Itu biasa sayang... Lagian itu makanan kesukaan mama... Kalian semua harus mencobanya juga sebagai rasa penghargaan mama... Karna kalian adalah anak - anak yang tak mau merepotkan orang lain... Sudah... Anggap saya ini hadiah dari mama ya... Besok - besok gak lagi kok,"


     Miftah mau tidak mau hanya mengangguk dan pasrah saja, sebenarnya ia ingin menolak dengan cara meminta pesanan yang lain. Cuman itu pun sudah terlanjur karna tak lama lagi pesanan mereka pasti akan sampai.

__ADS_1


     Lagi pula jika ia menolak pasti temannya yang lain juga akan mengikutinya, untuk sekarang ia memilih mengalah pada mama. Tapi untuk kedepannya ia akan usahakan ini tidak terjadi lagi jika terlalu sering, karna menurutnya itu hanya akan menghamburkan uang mamanya saja, yang lain pasti juga merasakan hal sama seperti apa yang Miftah rasakan cuma beberapa dari mereka masih bisa bersikap tenang.


__ADS_2