Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 54


__ADS_3

     Kini Miftah sudah berada digarasi motor bersama sang mama, keluarga Firdaus mempunyai dua buah garasi yang sangat besar, satu untuk menyimpan sepeda motor dan satu lagi untuk menyimpan mobil.


     Papanya Firdaus sengaja memisahkannya agar lebih mudah.


"Oh iya Miftah! bagaimana kalau kita perginya naik motor," usul sang mama.



"Tapi ma! bukannya mama sudah lama tidak naik motor lagi?" tanya Miftah sedikit khawatir.


     "Iya sih... Tapi emangnya kenapa? mama udah malas naik motor karna gak ada temannya! tapi kan sekarang udah ada kamu," ucap mama meyakinkan Miftah agar ia tidak perlu merasa cemas.


     "Tapi lebih baik mama minta izin ke papa dulu deh," saran Miftah.


Karna merasa belum ampuh untuk membujuk Miftah mama pun mulai mencari cara agar Miftah menyetujui permintaannya.


     "Gak perlu sayang... Papa gak bakal ngelarang mama lakuin apa pun asalkan mama gak jalan sama cowok lain nanti sampai rumah pasti mama kena semburan papa jadi kamu gak perlu khawatir... Toh semua motor ini papa belikan khusus untuk mama karna mama dulu suka main motor - motoran," jelasnya yang membuat Miftah terkejut.


     "Berarti mama bisa bawa motor Ninja dong!" tebak Miftah.


"Jangan kan motor Ninja! motor besar lainnya pernah mama coba walau pun belajarnya tetap dari papa sih," ucapnya yang sangat berharap jika ucapannya tadi dapat membuat Miftah merasa yakin.


     "Gara - gara kamu bilang motor gede mama jadi pengen naikin deh salah satu moge koleksi mama," jelasnya yang membuat Miftah terkejut dengan keinginan sang mama.


"Eh! jangan dong ma! oke - oke Miftah percaya sama mama meskipun mama udah lama gak naik motor," tahannya yang sudah merasa sangat cemas.


     "Nah... Gitu dong dari tadi, kan mama jadi merasa senang." senyum terbit dari bibirnya.


"Iya sih mama merasa senang tapi Miftah yang malah merasa gak tenang ma..." batinnya was - was.


     Karna Miftah telah menyetujui usulannya sang mama langsung menarik tangan Miftah untuk ikut dengannya kedalam dan Miftah dibuat terperangah dengan jumlah motor yang ada didalamnya.


     "Mama... Ini motor sebanyak ini untuk dijual yah ma? mana ada yang masih baru lagi," herannya.


Meskipun dia dulu termasuk dari keluarga yang dibilang cukup kaya juga tapi keluarganya lebih memilih membeli sesuatu yang sangat dibutuhkan dan sangat malas jika hanya mengoleksi saja, paling banyak hanya ada sepuluh sepeda motor dan lima yunit mobil mewah dalam satu garasi.


     "Hahaha, kamu ada - ada saja sayang... Mana mungkin ini untuk dijual... Mama hanya mengoleksinya saja kok! lagian mama kan emang demen banget gonta ganti motor," jawabnya yang merasa sangat terhibur dengan pertanyaan Miftah.


     "Oh iya! mama hampir lupa," ucapnya sambil memegang dahinya.


"Kamu bisa naik motor gak sayang?" tanya sang mama dan Miftah dengan perasaan malu hanya menggeleng karna sejak kecil ia belum pernah belajar cara memakai motor, lagian kakek dan neneknya dulu juga tidak mempunyainya.

__ADS_1


     "Ya sudah gak papa biar mama yang bakal bonceng kamu," jelasnya.


"Bagaimana kalau kita pakai motor ini saja," usul mama dan Miftah yang melihat merasa ingin pingsan ditempat.



Bagaimana tidak? motor yang mama inginkan adalah moge Kawasaki yang baru saja dikeluarkan.



     "Hai Miftah! kamu kenapa kayak orang mau melayang gitu?" tanya sang mama panik.


"Ma... Tolong jangan buat jantung Miftah mau copot ma... Itu udah kayak motor menuju sakaratul maut buat Miftah... Apa lagi mama kan kemarin itu baru sembuh... Jadi mama jangan bertingkah dulu ya..." ucapnya tak habis pikir.


     "Yah... Sayang sekali padahal mama pengen banget coba... Yaudah deh demi kamu mama bakal rela naik motor yang lain," ucap sang mama mengalah karna yang penting baginya sekarang adalah dapat menaiki motor kembali.


     "Makasih ya ma," girang Miftah yang tanpa sadar sudah sedikit melompat sambil memeluk sang mama dan mama hanya terkekeh ketika melihat perubahan sikap Miftah yang bergitu cepat.


     "Hebat banget kamu ya... Giliran keinginannya terwujud rasa lemasnya langsung bye - bye," canda sang mama dan Miftah hanya diam saat tersadar akan tingkahnya yang seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan permen gratis.


     "Haha iya ma! Miftah emang gitu ma..." jujurnya.


"Gak papa sayang... Malah sikapmu yang seperti ini bisa menghibur mama..." ungkapnya hingga membuat Miftah jadi semakin merasa senang.


    Membayangkannya saja sudah membuat Miftah merasa mual bahkan bulu kuduknya sampai merinding apa lagi jika harus menaikinya, tapi syukurlah karna hari ini nasib baik masih berpihak kepadanya hingga ia bisa selamat dari keinginan sang mama yang menurutnya sangat mengerikan.


     "Jadi kita mau naik motor yang mana nih?" tanya sang mama untuk yang kesekian kalinya.


"Gimana kalau motor Vario aja ma," usul Miftah.



"Mau yang warna apa?" sang mama mulai bertanya lagi.



"Gimana kalau warna ungu ma?" usulnya lagi dan tanpa ba bi bu sang mama langsung mengambil motor sesuai keinginan Miftah lalu mengajak Miftah kedinding pojok dekat garasi.



     "Wah... Banyak benget ma hlemnya... Ada yang lucu - lucu lagi gambarnya," kagum Miftah lalu mulai melangkah lebih dekat kearah lemari kaca tersebut.

__ADS_1



     "Ya sudah kamu pilih aja yang mana yang mau kamu pakai," ucap sang mama sambil berjalan kearah lemari lalu mengambil helm yang berwarna hitam sedangkan Miftah lebih memilih helm yang berwarna ungu.




     Setelah selesai dengan urusan pilih memilih mereka pun mulai mengeluarkan benda yang mereka inginkan keluar dari garasi.


"Rangga sini sebentar," panggil sang mama pada salah satu bodyguard yang kebetulan lewat dihadapan mereka.


     "Iya nyonya ada apa?" tanyanya.


"Tolong kamu kunci kembali bagasi ini yah! lalu simpan kuncinya di tempat semula oke," perintahnya dan ia hanya mengangguk patuh sambil berkata "baiklah nyonya."


     Setelah memakai helmnya Miftah pun hanya berdiri sedangkan mama terus saja menunggu seseorang yang sudah lama tidak naik keatas motor.


"Lho! kok kamu diem aja sayang? ya naik dong! nanti kalau kamu gak naik - naik kita malah kelamaan lho sampainya," peringat mama.


     "Iya ma maaf! tadi Miftah belum disuruh naik sama mama jadi gak berani asal duduk aja... Kan gak sopan ma..." responnya.


"Ya ampun... Mantu mama sopan banget sih... Mama jadi senang deh! kirain mama kenapa kamu gak naik - naik ternyata karna hal itu toh!" ucapnya sambil tersenyum.


     "Iya ma... Maaf ya ma udah buat mama menunggu," responnya membalas senyuman.


"Gak usah minta maaf lah sayang... Kan kamu gak salah sama sekali, malahan itu salah mama karna gak nyuruh kamu buat naik." peringatnya.


     "Oke ma... Kalau begitu sekarang Miftah naik ya ma," beritahunya dan sang mama hanya mengangguk sambil berkata "iya... Naik aja sayang..." responnya.


"Udah siap?" tanyanya memastikan.



"Udah kok ma! mari kita capcus," seru Miftah sambil mengikuti gaya tangan Superman saat terbang.


     Sang mama hanya tertawa ketika melihat tingkah Miftah.


"Kamu ini selalu ada aja tingkah lucunya! mama semenjak ketemu kamu jadi sering sakit perut karna terlalu banyak ketawa," ucapnya sambil melajukan sepeda motor pelan lalu keluar dari gerbang setelah pak satpam membuka gerbang untuk meraka.


     "Enggak kok ma... Kadang - kadang Miftah suka ngaur aja kalau bicara," jujurnya.

__ADS_1


"Hahaha iya - iya... Mama percaya kok sama kamu..." respon sang mama sambil terus menjaga kefokusannya karna ia harus lebih hati - hati sebab baru mengendarai motor kembali.


     "Makasih ma," ucap Miftah dan mama hanya menjawab "sama - sama sayang..." sambil melihat kearah kaca spion dan Miftah ikut tersenyum disana, kini sepeda motor mereka sudah melaju semakin jauh dari perkarangan rumah untuk menuju ketempat tujuan.


__ADS_2